Chapter 28

1138 Kata
Kalila datang ke sekolahnya dengan perasaan yang sangat tidak menentu. Dia tidak bisa melepaskan pikirannya dari ucapan Atlas padanya tadi pagi. Juga, ketika Atlas mencium pipinya dengan ringan. Sebenarnya, bukan hal yang aneh ketika Atlas melakukan skinship padanya. Yang aneh adalah ketika Atlas melakukan itu setelah Kalila tahu bagaimana perasaan kakak tirinya yang sebenarnya. Kalila memang menyukai Atlas—salah, mencintainya—tapi, bukan ending yang seperti ini yang dia harapkan. Aneh, memang. Kalila sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sekarang. “Oi!” Kalila terkejut ketika Zoe menepuk pundaknya cukup keras. Kalila berdecak sambil mendelik sinis ke arahnya. “Apa?” tanyanya sebal. “Kenapa kamu melamun? Ada masalah?” Zoe termasuk sahabat yang sangat peka terhadap sahabatnya sendiri. Dia selalu menanyakan apa yang terjadi pada Kalila ketika melihat tingkah laku Kalila yang berbeda dari sebelumnya. Namun tentu saja, Kalila tidak bisa mengatakan apa yang terjadi padanya langsung pada Zoe. Dia hanya menggeleng. “Tidak apa. Aku hanya kurang tidur saja.” Zoe berdecak. “Kamu harusnya tahu kalau kita ada presentasi dan kamu malah kurang tidur?” Kalila membalalakkan matanya. Sial! “Presentasi?!” Gila! Dia belum mempersiapkan apapun untuk presentasi nanti. Alih-alih mempersiapkannya, Kalila justru hebooh sendiri dengan masalahnya. “Kamu lupa?” Zoe juga ikut terkejut melihat respon dari Kalila. Kalila mengangguk pasrah. Dia akhirnya menaruh kepalanya malas di atas mejanya. Entah bagaimana presentasinya nanti berjalan. Satu hal yang Kalila sadari, ternyata memiliki masalah yang banyak dalam satu waktu tidak akan membuat hidupnya menjadi lebih baik. Presentasi kelompok Kalila dimulai di menit pertama pembelajaran dimulai. Kalila kotar-katir sendiri karena belum menghapal materinya. “Kamu di slide delapan sampai sepuluh.” Salah satu teman kelasnya mengingatkan Kalila. Kalila menjawabnya dengan anggukan pasrah. “Permisi.” Namun, sesaat sebelum mereka memulai presentasi, salah seorang guru piket di sekolahnya menghampiri kelasnya. “Saya ingin bertemu Kalila.” Kalila mengeryitkan dahinya. Salah satu temannya mendorong pelan tubuh Kalila agar segera pergi menemui guru tersebut. “Iya?” tanya Kalila dengan nada yang lembut. “Ayo ikut Ibu.” Untuk pertama kalinya, Kalila seorang siswi yang paling tidak suka dipanggil ke ruang guru, bersyukur ketika guru piket ini menyuruhnya untuk ikut dengannya. Kalila melirik Zoe yang berada di tempat duduknya dan Kalila menyunggingkan senyuman miring pada sahabatnya. Kalila mengikuti langkah kaki guru tersebut. “Kalila.” “Iya?” Kalila mendekatkan tubuhnya ke arah gurunya. “Tamu yang akan datang ke sekolah kita adalah Pak Matteo Aarav.” Tubuh Kalila menegang seketika. Dia tidak tahu apakah dia harus menolak atau menerima saja ajakan dari gurunya. Jika dia mengiyakan, maka dia akan bertemu dengan Matteo dan dia tidak akan tahu apa yang harus ia katakan pada Matteo. Jika tidak, dia harus berpresentasi di depan kelasnya yang Kalila sendiri tidak tahu materinya. “Oh, baik.” Hanya itu yang bisa Kalila katakan. Dia masih bingung bagaimana nanti merespon kepada Matteo. Kejadian terakhir mereka bertemu sudah pantas membuat suasana di antara mereka menjadi sangat canggung, bukan? “Ada donasi lagi dari beberapa donatur, dan Pak Matteo juga ikut hadir. Sebagai Ketua Yayasan, harus ada bentuk simbolik penerimaannya, Kalila, dan kamu yang menjadi perwakilan.” Guru tersebut menerangkan sebelum dia mendorong pintu aula dan semua tatapan mata langsung tertuju pada Kalila. Sial. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. “Duduklah.” Gurunya memberikan salah satu kursi yang berpisah dari jajaran kursi yang lain. Kalila mengangguk dan duduk dengan degup jantung bertalu-talu. Dia melirik beberapa orang di sana, salah satunya Matteo. Pria itu menatapnya dengan tajam. Kalila tidak tahu apa arti tatapannya. Namun, Kalila juga tidak dapat menahan diri untuk mengatakan bahwa Matteo sangat tampan pagi ini. Dia memakai jas warna hitam dengan kemeja putih, juga celana bahan berwarna hitam. Alisnya tebal dan tatapannya sangat tajam. Rahangnya yang membentuk sempurna menambal nilai plus dari penampilannya. Kalila beberapa kali melirik ke arah pria itu. Dan ketika itu juga kegugupan dalam dirinya bertambah karena Matteo tidak pernah mengalihkan pandangan darinya. Tiba-tiba Matteo bangkit dan berjalan ke arah podium. Dia memberikan sepatah dua kata dan tepuk tangan meriah mengakhiri pidatonya. “Kalila,” bisik guru yang tadi menjemputnya. Kalila langsung menegakkan punggungnya dan menoleh pada sang guru. “Ayo, ke depan.” Guru tersebut menarik lengan Kalila dengan lembut. Kalila berdiri di samping Matteo dan ketika pria itu menghadap ke arahnya lalu mengulurkan tangannya, Kalila benar-benar gugup. Sangat gugup. “Senyum, Kalila.” Matteo tersenyum padanya. Mungkin dia bermaksud untuk menenangkan Kalila, tapi dia sama sekali tidak membantu. Kalila justru semakin tidak tenang di tempatnya. Setelah sesi pemotretan sebagai bentuk simbolik bahwa donasi sudah diterima, Kalila duduk kembali di tempatnya. Menunggu orang-orang di sana beserta guru-gurunya pergi meninggalkan ruangan, Guru yang tadi menjemputnya, berbicara dengan Matteo. “…oh, boleh, Pak…” Kalila mulai menaruh rasa curiga ketika guru tersebut menoleh ke arahnya. “Kalila!” Hampir saja Kalila mengumpat ketika dia mendengar namanya dipanggil. Sial sekali. Kenapa harus dia lagi?! “Kalila, kemari.” Kalila tidak memiliki pilihan lain selain menghampiri gurunya dan Matteo. “Pak Matteo ingin melihat-lihat sekolah ini dan juga pembangunan yang masih berjalan. Bisa kamu antar Pak Matteo untuk melihatnya?” Kalila menatap Matteo bingung. Kenapa harus dia? Apa Matteo sengaja menjebaknya di keadaan yang tidak dia sukai? “Kalila?” Kalila tersentak. Dia sempat lupa bahwa gurunya itu masih ada di sana. “Ah, iya, Bu. Baik.” Awas saja, Matteo yang kini tersenyum miring menyadari keadaannya yang sangat tidak mengenakkan, akan mendapatkan balasannya. *** “Jadi, ini laboratorium …” Kalila menjelaskan satu per satu ruangan yang mereka lewati dengan Matteo. Penjelasannya sangat singkat dan dirasa tidak perlu, karena Matteo dapat melihat sendiri ruangannya. Hal itu sengaja dilakukan oleh Kalila sebagai bentuk balas dendam pada Matteo. Matteo menoleh ke arah belakang tubuhnya dan dia tahu bahwa tidak akan ada guru yang tiba-tiba menghampiri mereka. “Aku tahu.” Matteo menyela ucapan Kalila dan menggenggam tangan gadis itu. Kalila tersentak dan dia langsung menepis tangan Matteo. “Apa-apaan?!” Kalila memekik tertahan. “Aku bisa melaporkan Bapak pada pihak berwajib karena Bapak sembarangan menggenggam tangan aku!” Matteo tidak takut dan alih-alih was-was, dia hanya tertawa menanggapi ocehan gadis itu. “Kenapa? Aku bukan pria asing buat kamu, ‘kan, Kal? Harusnya kamu tidak se-heboh itu.” Kalila mencebikkan bibirnya, meledek pria di sampingnya itu. “Sama saja! Ini lingkungan sekolah dan aku tidak mau menambah-nambah beban masalahku hanya karena Bapak menggenggam tanganku tadi.” Matteo mengendikkan bahunya. Namun, dia tidak mendengar protes dari Kalila dan kembali menggenggam tangannya. “Pak Matteo, Anda benar-benar menyebalkan.” “Memang.” “Dan Anda harusnya masuk penjara.” Matteo tertawa. “Karena aku mengajak kamu jalan-jalan?” Kalila mengangguk. “Dan karena Anda menggenggam tangan seorang gadis yang jauh lebih muda dari Anda. Anda pedofil.” Matteo tidak terganggu dengan gerutuan Kalila. Entah sadar atau tidak sadar, tapi genggaman mereka bertahan. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN