Hubungan Kalila dengan Atlas menjadi tidak terlalu baik akhir-akhir ini. Mereka lebih sering menghindar satu sama lain, seolah di rumah itu mereka tinggal sendiri-sendiri dan menghapus eksistensi masing-masing. Kalila masih tidak ingin memaafkan Atlas dengan mudah mengingat apa yang sudah dilakukan lelaki itu menurutnya sangat keterlaluan. Hanya karena diantar oleh Matteo dan Atlas berani hampir melukainya kembali? Kalila rasa itu sangat berlebihan.
Sementara itu, Atlas masih belum bisa mengendalikan emosinya, karena setiap kali dia mengingat kejadian itu, dia kembali kesal karena berpikir Kalila tidak bisa menolak kehadiran Matteo. Atlas benci dengan fakta itu, tapi dia juga tidak bisa menampik fakta bahwa dia menyesal.
Sikapnya keterlaluan dan Atlas sangat sadar akan hal itu. Namun, sepertinya gengsi yang dimilikinya setinggi langit dan dia tidak bisa langsung meminta maaf begitu saja. Ditambah—saat dia memerhatikan Kalila, sepertinya adiknya itu masih sangat marah padanya. Atlas hanya tidak ingin menambah-nambah keruhnya suasana di antara mereka.
Saat Kalila keluar dari kamarnya saat akan pergi ke sekolah, tidak sengaja dia berpapasan dengan Atlas yang sama juga keluar dari kamar lelaki itu. Tatapan mereka terpaku diam untuk beberapa detik, kecanggungan mulai terasa dan itu sangat menyebalkan.
Kalila mendengus dan memutus kontak mata mereka terlebih dahulu. Dia mendahului Atlas dan pergi ke meja makan.
“Kal.”
Kalila tidak menggubris. Dengan cepat dia memanaskan makanan yang sudah ia siapkan dari malam di kulkasnya. Dia membelakangi Atlas sambil menunggu makanannya matang.
“Kalila.”
Kalila tidak pernah mau membalikkan badannya. Dia memilih untuk diam saja dan melipat kedua tangannya di depan d**a, menunjukkan pada Atlas bahwa kali ini, dia benar-benar marah padanya.
“Kal, bisa kita bicara?”
Cih! Bicara? Silakan saja bicara pada punggung Kalila. Kalila tidak akan menggubrisnya.
“Kalila Beatrice, aku serius. Jika kamu ingin masalah di antara kita selesai, maka kita juga harus cepat membicarakan ini.”
Kalila berdecak keras dan akhirnya membalikkan badannya. Dia menatap Atlas dengan sebal. Lelaki itu menyuruhnya untuk segera membicarakan masalah mereka seolah memang Kalila yang salah. Kalila tidak suka sikap Atlas yang seperti ini. Dia heran kenapa lelaki ini menjadi lelaki yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal!
Melebihi Matteo Aarav!
“Dan membiarkan kamu melakukan hal yang kurang ajar lagi padaku, Atlas?! Begitu yang kamu maksud?!”
Atlas mengeryitkan dahinya. Tidak pernah sebelumnya dia melihat Kalila sangat marah seperti ini.
Apa tindakannya tempo hari patut mendapatkan balasan yang seperti ini?
“Kal, aku ingin membicarakan ini dengan baik-baik.” Bukankah Atlas bisa dibilang sudah berbaik hati karena dia rela menurunkan ego-nya demi Kalila? Atlas merasa, dia tidak bisa terima jika Kalila menjadi lebih galak darinua.
“Dan aku tidak mau berbicara baik-baik dengan kamu. Aku harap kamu mengerti, Atlas.”
Untungnya, makanan yang sedang dipanaskan oleh Kalila sudah siap tidak lama setelah itu. Kalila segera mengambilnya dan memasukkannya ke dalam wadah yang sudah ia siapkan. Dia tidak mengatakan apapun lagi dan meninggalkan Atlas sendiri.
“Aku akan sangat marah pada kamu jika kamu meninggalkan aku begitu saja, Kalila.”
Kalila menghentikan langkahnya. Nada suara Atlas benar-benar menyeramkan. Kalila mematung di tempatnya.
“Kal, aku hanya tidak suka kamu dekat dengan Matteo. Ah, tidak. Aku memang tidak suka ketika kamu dekat dengan pria manapun.”
Hal itu membuat Kalila mengeryitkan dahinya heran. Kenapa harus begitu? Kalila tahu Atlas hanya ingin melindunginya. Tapi, bukankah hal itu sangat berlebihan?
“Aku rasa, sebagai manusia, aku memiliki hak untuk memilih apa yang aku inginkan, Atlas. Aku bisa dekat dengan pria manapun, yang sekiranya aku menganggap mereka baik.” Kalila membalikkan badannya dan mendelik pada Atlas. Ada rasa puas dalam dirinya menyadari bahwa dia berhasil membuat Atlas membisu. “Kamu memang kakak aku, aku juga tahu kamu ingin aku tetap aman. Well, kamu memang kakak terbaik yang sudah mampu membuat aku merasa aman di dekat kamu. Setidaknya, sebelum kejadian ini semua. Tapi, Atlas, tidak semua yang kamu lakukan, bisa aku terima dengan baik. Kadang, sikap kamu sangat berlebihan dan aku sama sekali tidak menyukai hal itu. Aku harap kamu mengerti.” Kalila kini berbicara lebih halus. Rasa bersalah mulai menggerogotinya ketika melihat Atlas yang terdiam.
Ah, sial. Dia dan rasa bersalahnya memang sesuatu yang sangat menyiksa. Kadang, Kalila hanya ingin menghilangkan perasaan ini semua.
“Kal, aku …”
“Apa?” Kalila tidak sabar karena Atlas kini terlihat ragu. Pria itu gugup dan Kalila menyadarinya. “Apa, Atlas?” Dia mulai mendesak.
“Ada alasan kenapa aku tidak menyukai hal itu.”
Kalila mengeryitkan dahinya. Atlas hanya menunda-nunda waktunya dan itu sangat membuatnya kesal. “Bisakah kamu mengatakannya dengan gamblang dan jelas? Kamu benar-benar membuat aku sebal, Atlas!”
“Aku menyukai kamu.”
Satu kalimat yang terdiri dari tiga kata itu, berhasil membuat Kalila membisu. Sial sekali. Mungkin Kalila harus mengorek kembali telinganya karena sudah mendengar hal yang paling mustahil dia dengar di muka bumi ini. Kakaknya sendiri menyukainya? Sungguh, Kalila memang sudah gila.
“Aku menyukai kamu. Lebih dari adik. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini tumbuh, tapi … aku memang memiliki perasaan asing ini, Kal.” Atlas mendekat ke arah Kalila dan membuat tubuh Kalila menegang tanpa Atlas tahu. Jantung Kalila berdegup melewati batas normal.
Tidak mungkin!
Jadi, selama ini perasaannya berbalas?
“Aku tahu ini sangat mengejutkan untuk kamu, Kalila. Aku juga tidak memaksa kamu untuk langsung mengerti. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu bahwa alasan aku marah tempo hari hanya untuk masalah yang sepele, adalah karena itu. Aku yakin kamu pasti mengerti kenapa, bukan?” Atlas memeluk Kalila. Dan sialnya, kini Kalila tidak bisa menganggap pelukan dari Atlas itu adalah pelukan seorang kaka pada adiknya.
Dulu, Kalila pernah berandai-andai jikalau Atlas juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Apa itu akan menjadi hal paling membahagiakan?
Dan sekarang Kalila merasakannya. Kalila tahu bagaimana perasaannya.
Rasanya … sangat membingungkan. Kalila masih mencintai Atlas dan dia tidak tahu kapan dia bisa menghentikan perasaannya ini, tapi sepertinya … mendengar ucapan Atlas tadi, dia menjadi ragu. Apa yang mereka lakukan ini bisa dinormalisasikan? Bukankah ini salah? Mereka masih dalam satu darah, bukan? Walaupun beda Ibu … dan walaupun Kalila juga sudah memendam perasaan ini dari Atlas untuk beberapa lama.
“Atlas.”
“Hm?” gumam Atlas masih dengan memeluk Kalila, perlahan, Kalila melepaskan pelukannya dari Atlas. Dia menundukkan pandangannya dan tidak ingin menatap Atlas sekarang.
“Aku pasti membuat kamu gugup dan kaget, ya? Maaf, Kal. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi,” lanjut Atlas sambil menyentuh dagu Kalila, membuat Kalila menatapnya dengan tatapan sayu. “Aku harap, aku tidak membuat kamu takut.”
You did scare me. Atlas sudah membuat Kalila takut dari semenjak lelaki itu berlaku kasar padanya.
“Apa kamu berharap aku memaafkan kamu setelah tahu bahwa kamu memiliki perasaan berbeda?”
Atlas tersenyum. “Tidak. Tapi, setidaknya kamu tahu ada seseorang yang akan tidak terima kalau kamu dekat dengan pria lain.”
Atlas mencium pipinya.
***