Chapter 26

1178 Kata
Tiga hari kemudian, Matteo dapat bernapas dengan bebas karena ternyata Aya tidak lagi mengganggunya. Wanita itu juga tidak datang lagi ke kantornya untuk urusan yang tidak jelas sama sekali. Matteo berpikir, bahwa dia memang sudah suskes mengusir wanita itu. “Matty.” Lamunan Matteo buyar ketika ibunya tiba-tiba saja datang ke kantornya. “Mama?” Dia langsung bangkit dari duduknya untuk menyambut Sang Ibu. “Ada apa Mama kemari tiba-tiba?” Biasanya, Irish selalu memberitahu dia terlebih dahulu jika ingin datang ke kantornya. Tidak pernah tiba-tiba seperti ini. Mereka selalu menentukan jam pertemuan mereka dan Matteo akan berusaha sebisa mungkin untuk tepat waktu. Karena walaupun ibunya kini sudah tidak begitu aktif dalam menjalankan perusahaan keluarganya bersama suaminya, Irish tergolong cukup sibuk dengan berbagai pertemuan lain di luar urusan perusahaan. Irish tersenyum tipis dan duduk di hadapan Matteo. “Mama hanya ingin memberitahu kalau perusahaan induk akan mengadakan perayaan malam ini.” Matteo tidak bergabung dalam perusahaan orang tuanya. Alih-alih meneruskannya, Matteo malah bekerja di perusahaan lain sebagai pimpinan arsitek. Jadi, dia tidak pernah tahu-menahu soal kegiatan di perusahaan induk orang tuanya. “Oh, baiklah,” ujarnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mama bisa memberitahu aku lewat pesan saja. Tidak perlu kemari.” Irish berdecak. “Kebetulan Mama lewat sini tadi, Matty. Sekalian saja Mama mampir.” Matteo kembali mengangguk-anggukan kepalanya. “Oh, Mama bertemu dengan Zee tadi.” Matteo terkejut, Dia tidak ingat kalau dia pernah memberitahu ibunya soal hubungannya dulu dengan Zee. Tunggu, apa dia memang sudah mengatakannya? Tapi kapan? Matteo mulai berandai-andai. “Dia semakin cantik, ya, Matty. Anaknya juga sangat lucu.” Irish berkomentar tanpa menatap wajah putranya dan malah mengeluarkan ponselnya. “Mama penasaran kapan dia akan melangsungkan pernikahannya dengan Regan.” Matteo mengeryitkan dahinya. “Dari mana Mama tahu soal hubunganku dengan Zee?” “Anna.” Sudah ia duga! Anna sialan! “Ma, jangan membahas dia lagi.” “Oh, kamu cemburu?” Irish melirik Matteo sekilas dan kembali berfokus pada ponselnya. Dia menghela napas. “Lagipula, jika kamu memaksa untuk memiliki hubungan dengannya, Mama rasa itu tidak akan berhasil. Ada anak mereka di tengah-tengahnya. Itu berarti Regan akan tetap menghubungi Zee sekalipun itu hanya menanyakan anak mereka.” Irish mengibaskan tangannya di hadapan wajahnya. “Sudahlah, tidak perlu kamu stuck pada wanita yang tidak akan menjadi milik kamu.” Matteo tersenyum kecut. Bahkan sampai sekarang, Mama-nya masih menganggap dia mencintai Zee. Walaupun tidak salah, tapi itu membuat Matteo sadar bahwa dirinya cukup menyedihkan. “Tidak. Aku baik-baik saja.” Irish mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baguslah. Memang sepertinya akan lebih bagus jika kamu mencari wanita lain.” Irish menunjuk Matteo dengan tegas. “Kecuali Aya,” lanjutnya. Matteo mendengus sebal ketika mendengar nama wanita itu lagi. “Siapa juga yang ingin berhubungan dengan wanita gatal ketika dia sudah tahu milik orang lain?” Irish menggelengkan kepalanya sambil menghela napasnya. “Mama tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan. Anna mengatakan kalau dia juga masih mengganggu kamu.” Ah, untunglah kali ini Anna tidak membicarakan hal-hal aneh mengenai dirinya. Matteo mengangguk. “Tapi, sudah beberapa hari ini dia sama sekali tidak menemuiku. Syukurlah.” Matteo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya. “Oh, Anna juga mengatakan kalau kamu sedang mengincar perempuan lain?” Irish menebak. “Mama setuju dengan itu, tapi Mama harap kamu tidak menganggapnya sebagai balas dendam kamu karena tidak mendapatkan Zee.” Matteo kembali menegakkan punggungnya. “Tunggu, apa sekarang Anna menjadi mata-mata Mama?” Sialan, Anna. Setelah ini, tolong ingatkan Matteo untuk menghajar kakaknya itu yang gemar memberitahu apapun pada ibunya. Irish tertawa kecil. “Well, kamu tidak pernah bercerita apapun pada Mama. Jadi, terkadang Mama sengaja bertanya pada Anna. Dan seperti yang kamu tahu, Anna selalu memberikan informasi yang tidak Mama minta.” Cih! Matteo sebal dengan sikap kakaknya yang seperti itu. “Dan katanya, perempuan yang kamu incar itu umurnya jauh dengan kamu. Apa benar?” Irish masih fokus pada ponselnya. Jadi, dia tidak bisa melihat ekspresi anaknya yang berubah-ubah, dari tenang menjadi panik dan akhirnya kembali terkejut dengan semua pernyataan yang dikatakan oleh ibunya. “Mama!” Irish mengeryitkan dahinya dan ketika dia menoleh, dia terkejut melihat anaknya yang terlihat marah. “Kenapa?” tanyanya polos. “Bagaimana Mama tahu hal itu?” Sungguh, Matteo tidak ingin lagi menceritakan masalah pribadinya pada Anna. Wanita gila itu benar-benar! Matteo tidak akan menyesal karena sudah mengatakan kakaknya sendiri gila. “Anna menceritakannya, Matty. Bukankah tadi Mama sudah mengatakannya?” Irish menjawab dengan tenang. “Well, Mama tidak akan masalah dengan itu. Sama sekali tidak. Kamu boleh berkencan dengan siapapun yang kamu mau—ya, asalkan itu perempuan. Tenanglah, Mama tidak akan melakukan apapun pada wanita pilihan kamu sendiri.” Matteo mendengus. “Aku tidak mengatakan kalau aku akan menjadikan dia pasanganku.” “Tidak ada yang bilang seperti itu, Matty. Mama hanya mengatakan kalau kamu sedang mengincar. Di mana letak kesalahpahaman kita?” Sial. Matteo merasa dipojokkan. Baiklah. Matteo mengalah. “Anna sepertinya tidak akan menikah, jadi hanya kamu harapan Mama untuk memiliki cucu. Tapi, tenang saja, Mama tidak akan memaksa kamu juga. Kamu bebas memilih jalan hidup kamu.” Matteo mengeryitkan dahinya. “Anna tidak akan pernah menikah?” Walaupun Matteo ragu bahwa kakaknya itu akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini—mengingat Anna kini tidak dekat dengan siapapun—tapi mendengar bahwa Anna tidak akan pernah menikah, membuatnya sedikit terkejut. “Tidak tahu. Tapi, dia pernah menyinggung hal itu dengan Mama.” Matteo menatap ibunya khawatir. Dia merasa, bukan hal yang mudah bagi seorang Ibu untuk membiarkan anaknya tidak menikah dan itu berarti tidak akan memberikan cucu biologis padanya. “Mama, tidak apa-apa?” Irish menaikkan kedua alisnya. “Mama? Ah, Matteo, kamu terlalu sensitif. Mama tidak akan menuntut apapun dari kalian. Jika kalian ingin memilih jalan hidup yang sedikit berbeda dari orang lain, maka tidak apa-apa. Tugas Mama hanya memastikan kalian baik-baik saja. Tugas Mama bukan untuk memaksakan kehendak Mama sendiri.” Matteo mengangguk-anggukkan kepalanya. Bersyukur sekali dia memiliki ibu pengertian seperti Irish. “Mungkin, batalnya pernikahan dia dan Regan yang membuat dia seperti ini.” Irish menghela napas. “Mungkin saja. Tapi, segala sesuatu yang dipaksakan memang tidak baik, bukan? Bayangkan saja, seumur hidupnya, Kakak kamu itu hanya mencintai satu pria dan tidak pernah melirik pria lain. Dan lihatlah sekarang, dia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.” Matteo menganggukkan kepalanya. “Memang, semuanya tidak bisa dipaksakan dan berjalan harus sesuai kehendak kita.” Irish setuju dengan anak lelakinya itu. “Mama pergi dulu. Ayah kamu mengajak Mama untuk makan siang.” Irish bangkit dari duduknya dan mengambil tas yang berada di sampingnya. Matteo ikut bangkit dan tersenyum pada ibunya. “Mama tidak ingin mengajak aku?” candanya sambil mendekat ke arah ibunya. Irish berdecak dan menggeleng tegas. “Ayah kamu baru saja pulang dari Hong Kong, Mama tidak ingin momen Mama dengan Ayah kamu itu terganggu karena kehadiran kamu, ya.” Matteo tertawa kecil dan memeluk ibunya sekilas. Tidak disangka bahwa Irish Peony yang terkenal sangat dingin, bisa juga bercanda di hadapan anaknya. “Hati-hati. Hubungi aku jika Mama perlu sesuatu.” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN