Chapter 25

1136 Kata
Matteo tidak suka bertengkar dengan lelaki yang umurnya jauh lebih muda darinya. Jika dia meladeni amarah lelaki itu, maka dia tak ayal tidak lebih dari seorang berengsek. Matteo mengalah. Dia mundur satu langkah dan mengendikkan bahunya. “Cih! Padahal aku hanya membantu adik kamu ketika kamu tidak ada untuknya. Harusnya, kamu berterima kasih padaku.” Matteo membalikkan badannya dan berlalu begitu saja. Dia tidak berpamitan lagi pada Kalila yang sekarang hanya meliriknya dan juga lelaki itu bergantian dengan tatapan takut. “Pak Matteo.” Langkah Matteo terhenti ketika mendengar suara Kalila. “Terima kasih.” Matteo tidak menggubrisnya dan tidak juga menoleh ke belakang. Namun, tanpa Kalila tahu, Matteo tersenyum kecil. Sementara itu, Atlas langsung menarik tangan adiknya hingga Kalila hampir tersungkur jika lelaki itu tidak menahannya. Atlas segera menutup pintu rumahnya dan menghimpit Kalila di antara tubuhnya dan pintu tersebut. “Atlas!” Kalila memberontak tidak suka. Sebelah tangan Atlas yang mengukungnya tepat di samping kepalanya, juga tangannya yang mencengkram pergelangan Kalila, membuatnya ketakutan. Atlas memang tempat paling nyaman dan aman untuknya berkeluh kesah, tapi Kalila tetap saja tidak suka Atlas yang seperti ini. “Atlas, lepaskan!” Kalila mencoba untuk melepaskan cekalan Atlas di tangannya. Namun, sia-sia. Tenaga Atlas jauh lebih kuat dari Kalila. Cengkramannya yang menguat dan Kalila yakin sebentar lagi pergelangan tangannya akan memerah, adalah bukti bahwa Kalila memang lemh. “Tidak, sebelum kamu mendengarkan kata-kataku.” Suara Atlas begitu menyeramkan di telinnga Kalila. Kalila mulai menangis. Sudah dua kali dia melihat amarah kakaknya yang berapi-api, untuk masalah yang Kalila sendiri tidak mengerti kenapa Atlas harus marah. Kenapa kakaknya marah-marah seperti orang kesetanan saat Kalila diantar oleh Matteo? Bukankah Atlas tidak harus semarah ini? Kenapa? “Dengar, Kal!” Lamunan Kalila buyar ketika Atlas mencengkram kuat kedua pipinya. Kalila kini bisa dengan jelas melihat bagaimana wajah Atlas ketika emosi sedang menguasainya. “Aku tidak suka ketika kamu diantar oleh pria itu! Apa aku kurang jelas mengatakannya kemarin, Kal?! Apa kamu suka melihat aku emosi hanya karena masalah sepele?!” Kalila menggeleng cepat. Dia benar-benar takut sekarang. Ingin sekali dia berteriak untuk meminta tolong pada orang lain, tapi dia juga sadar bahwa tidak akan ada yang peduli. “Kal! Kamu dengar aku?!” Kalila terisak. Dia mengangguk gugup. “Atlas, sakit …” lirihnya. Atlas berdecih dan tersenyum miring. Dia melepaskan cengkramannya dari Kalila. “Jika sekali lagi aku melihat kamu bersama dia, Kal, aku akan menghancurkan kamu dan pria itu.” Atlas berbalik dan meninggalkan Kalila begitu saja dengan perasaan hancur dan syok. Kalila terisak dan membiarkan diriya terjatuh. Dia memeluk tubuhnya sendiri dan mengerang putus asa. Seharusnya tidak seperti ini. Dia harusnya bisa lebih kuat dan tidak tunduk pada Atlas. Dia harusnya bisa melawan kakaknya itu. Yang terpenting, harusnya dia bisa menolak ketika Matteo akan ikut campur kembali pada kehidupannya. Ini semuanya salahnya, bukan? Kalila terlalu lemah. Dia hanya gadis tidak berguna yang berharap untuk bisa menjadikan kehidupannya lebih baik. Nyatanya tidak, Kalila tidak bisa mewujudkan hal itu. *** Matteo masih tidak bisa menghentikan pikirannya pada Kalila. Dia menyesal karena tidak bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada seorang pria yang menghadangnya di jalan? Dan kenapa kakaknya begitu protektif padanya? Pikiran-pikiran itu membuat Matteo tidak fokus hari ini ketika rapat dengan para investor. Yap, Aya kembali muncul di hadapan wajahnya seolah dia tidak tahu malu. Padahal, sudah jelas bahwa Matteo tidak suka dengan keberadaan Aya yang hanya membuat ricuh saja. Beberapa orang di kantornya juga beberapa kali Matteo dengar bahwa mereka membicarakan kedatangan Aya yang tidak tahu malu. “Matteo.” Matteo memejamkan matanya sekilas dan menghembuskan napasnya. Dia membelakangi Aya sekarang sehingga Aya tidak bisa melihat ekspresinya. “Ada apa?” tanyanya dingin tanpa membalikkan badannya. Rapat sudah usai dan untunglah tidak ada yang melihat mereka berdua selain asisten dari Matteo yang memang selalu mengikuti Matteo kemanapun. “Bisa kita bicara?” Matteo berdecak. Dia harus menolaknya— “Matt.” Namun nyatanya, wanita itu malah memegang pergelangan tangannya. “Please.” Tatapannya memohon pada Matteo sehingga dia berpikir Matteo tidak akan tega untuk menolak permintaannya ini. “Matt?” Matteo menghela napas. Jika dia melepaskan genggaman tangannya dari Aya sekarang, dia mungkin akan terlihat bersikap kasar. Dan Matteo ingin sekali mengumpati rasa tidak tega-nya pada siapapun dan membuatnya kembali meladeni orang yang menyebalkan baginya. “Apa yang ingin kamu bicarakan?” Aya terlihat gugup. “Bisa kita bicara di tempat yang lebih privat?” Matteo kembali mengalah dan akhirnya dia membawa Aya ke ruangannya. “Ada apa?” tanyanya. Dia duduk di kursinya dan menatap Aya dengan keryitan di dahinya. “Aku harap kamu mengatakannya dengan cepat dan tidak membuang-buang waktuku.” Aya mengangguk. “Baik.” Dia terlihat menarik napas dalam-dalam. Seolah menyiapkan dirinya sendiri untuk mengatakan apapun yang akan ia katakan pada Matteo. “Aku minta maaf, Matteo. Atas apa yang terjadi tempo hari. Aku tahu kalau suamiku tiba-tiba kemari dan memarahi kamu untuk alasan yang tidak jelas. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu, aku mengira kalau dia hanya akan melanjutkan pembicaraan dengan kamu. Tapi ternyata …” Matteo berdecak. “Kamu membuang-buang waktuku,” ujar Matteo sebal. “Dengar, sekalipun kamu meminta maaf, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku sangat tidak menyukai kamu, Aya. Kamu tiba-tiba datang lagi ke kehidupanku dengan status baru kamu dan kamu tidak memikirkan apa dampaknya. Mungkin kamu tidak sadar, tapi hal itu hanya membuat namaku menjadi buruk di mata orang lain.” Aya menundukkan kepalanya. “Maaf, Matteo. Tapi, aku juga tidak mengerti kenapa—” “Kenapa suami kamu marah?” tebak Matteo. Dia memutar bola matanya dan berdecih pada Aya. “Kamu pikir saja sendiri, suami mana yang mau menerima ketika istrinya mendekati orang lain, Aya? Pernahkah kamu berpikir bagaimana jika kamu yang berada di posisi suami kamu sekarang?” Matteo tidak habis pikir dengan Aya. Bagaimana mungkin dia menganggap ini semua sepele? “Aku tidak pernah mencintainya, jadi aku tidak peduli—” “Sekalipun kamu tidak peduli, seharusnya kamu tidak perlu membawa-bawa aku ke dalam permasalahan dan perasaan tidak menentu yang kamu rasakan sekarang.” Matteo menatap wanita itu dengan sangat sinis. “Aku tidak bisa melupakan kamu, Matteo. Sama sekali tidak bisa. Aku terpaksa menikah dengan Nino dan hanya dengan cara dekat dengan kamu lagi-lah yang membuat aku bahagia.” Aya mendongak, menatap Matteo walaupun dia ketakutan setengah mati. “Matt?” tanyanya kembali ketika Matteo sama sekali tidak menjawabnya. “Hentikan, Aya. Apapun yang kamu lakukan sekarang sangatlah tidak logis dan hanya akan membuat kamu tersakiti. Aku tidak akan luluh hanya karena kamu mengatakan kalau kamu tidak bahagia. Aku bukan seseorang yang memiliki kewajiban untuk membuat kamu selalu bahagia.” Aya tertegun. Dia tidak menyangka kata-kata Matteo akan sangat menamparnya. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan tersenyum pada Matteo. “Dan kamu pikir aku akan menyerah semudah itu?” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN