Matteo menghampiri ibunya yang sudah menunggu untuk makan siang bersama di kafetaria kantornya. Langkah Matteo sedikit tergesa-gesa melihat ibunya sudah duduk dan mulai menyantap makanannya dengan gerakan yang sangat elegan. Matteo tidak ingin membuat ibunya menunggu, namun meeting yang baru saja ia laksanakan dengan timnya, membuat dia mengingkari janjinya. “Mama.” Matteo duduk di hadapan Irish dan membuat wanita paruh baya itu mendongakkan kepalanya.
“Matty, sudah selesai rapatnya?” tanya Irish melirik sekilas anaknya.
“Sudah. Maaf membuat Mama menunggu lama.” Matteo berujar dengan sedikit penyesalan. Ibunya memang tidak akan marah padanya, namun Matteo tahu ibunya tidak akan suka jika dia terlambat seperti ini.
“Tidak apa. Duduklah,” ujarnya dengan nada yang sangat tenang. Matteo selalu senang melihat gerakan tegas dan raut wajah ibunya yang dingin, yang dibaliknya ada sifat tenang yang hanya ia tunjukkan untuk keluarganya saja.
“Mama, ada apa?” tanya Matteo penasaran. Masalahnya, ibunya tidak pernah mengajaknya untuk makan siang bersama di sela-sela waktu bekerja Matteo. Ibunya selalu mencari waktu luang mereka untuk mengajak bertemu.
“Aya menghubungi Mama.” Irish dengan gaya paling tenang yang pernah Matteo lihat, mengatakan sesuatu yang membuat jantung Matteo mencelos begitu saja.
“Apa?!”
Irish terkejut. Namun, dia tidak menunjukkannya. Dia hanya mendongak kembali untuk menatap anak laki-lakinya. “Kenapa kamu sangat heboh, Matt? Dia hanya menghubungi Mama.” Matteo jadi malu sendiri. Dia kembali duduk di tempatnya dengan relaks. “Katanya, kemarin kalian bertemu.”
Matteo mengangguk. Bibirnya mungkin tertutup rapat, namun d pikirannya sekarang, sedang berkecamuk karena dia mulai menanyakan kenapa wanita itu menghubungi ibunya. Lebih tepatnya, apa maksudnya?
“Untuk apa kalian bertemu, Matty? Mama kira, kalian sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya.”
Matteo berdecak pelan. “Memang tidak, Mama. Dia tiba-tiba saja menghampiri aku di tengah jam kerjaku. Aku tidak memiliki pilihan selain menerima dia sebagai tamu.” Matteo meencoba membela diri. Dia tidak mungkin membiarkan ibunya sendiri berpikiran macam-macam soal dirinya.
“Begitu, ya.” Irish bergumam sambil kembali memakan makan siangnya. “Tapi, kenapa Aya menghubungi Mama seolah kalian kembali berteman dekat dan akan bertemu kembali?”
Sungguh, lama-lama Matteo tidak bisa membiarkan Aya membuat ibunya salah paham. “Aku tidak tahu, Mama. Aku tidak memiliki niatan untuk kembali padanya, bahkan berkenalan dengannya saja aku tidak mau.”
Irish tersenyum melihat anaknya yang panik sendiri. “Matty, sepertinya Aya menyukai kamu. Masih menyukai kamu.” Terdengar tidak masuk akal, dan Irish hanya ingin membuat anaknya berjaga-jaga agar tidak mendapatkan masalah dengan suami dari Aya.
“Dia sudah menikah, Mama. Lagipula, aku tidak akan melakukan apapun jika dia menyukai aku. Dia yang pertama meninggalkanku, dan sekarang tiba-tiba saja datang dan menemuiku juga Mama? Aya sangat aneh.”
Irish menganggukkan kepalanya karena setuju dengan anak lelakinya. “Mungkin, dia memiliki satu hal untuk dibicarakan?”
Matteo mengendikkan sebelah bahunya tidak peduli. Dia sudah diperingati oleh dua orang wanita yang berarti dalam hidupnya; Anna dan Ibunya, Irish, soal Aya yang sepertinya ingn sekali mengganggu dia. Maka, Matteo akan berhati-hati.
***
“Ayah akan hancur jika kamu tidak mau membantu Ayah, Kalila.” Tony seolah membutakan matanya ketika melihat anaknya terisak pelan di hadapannya setelah mendengar bahwa Tony kembali memohon padanya untuk mau membantunya.
“Apa Ayah tidak memikirkan kehidupanku juga? Oh, tunggu, bahkan hidupku sudah hancur sebelum ini. Ayah tidak perlu bertingkah seolah Ayah yang paling menderita di sini.” Kalila bersidekap di depan d**a. Dia mencoba untuk kuat setengah mati, mengindahkan fakta bahwa dia juga sekit hati mendengar ucapan ayahnya yang seolah meremehkannya.
“Ayah tahu. Tapi urusan Ayah lebih mendesak—”
“Maksud Ayah, utang yang harus Ayah bayar lebih penting daripada sikap Ayah yang menelantarkan anak Ayah sendiri?” Kalila tidak tahu dosa apa yang sudah ia lakukan hingga akhirnya memiliki Ayah paling berengsek seperti Tony. Seorang pria yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya, namun dengan tidak tahu dirinya muncul secara tiba-tiba dengan memohon untuk dibayarkan utang-utangnya.
Apa boleh Kalila meminta untuk mendapatkan Ayah yang lebih baik dari Tony Mathias?
Tony menghela napas. “Jika tidak ada Ayah, kamu tidak akan ada di sini sekarang. Jangan sombong, Kalila.”
Sungguh, Tony memang berengsek. Dia butuh Kalila, namun ketika Kalila tidak terima, dia mencoba mengais harga dirinya yang hancur dengan bersikap lebih sombong.
“Ayah, apa Ayah serius? Ayah membutuhkan aku tapi Ayah tidak mau menanggung malu?” Kalila tersenyum miring. Aneh sekali. Jika Tony benar-benar bersikap seperti ini seumur hidupnya, mungkin Kalila akan tahu alasan kenapa ibunya memilih untuk meninggalkan ayahnya empat tahun yang lalu.
Tony mendengus. Percobaan kedua tidak berhasil. Dia membalikkan dirinya dan bermaksud untuk meninggalkan anaknya begitu saja.
“Oh, that’s it?! Ayah pergi?!” Bukan berarti Kalila tidak ingin Ayahnya pergi kembali, kehadiran ayahnya tidak akan mengubah apapun. Namun, Kalila hanya ingin kejelasan dari ini semua. Dia tidak ingin kembali diganggu oleh ayahnya yang menginginkan dia untuk membantunya melunasi utang pria itu. Dia ingin menyelesaikannya sekarang juga atau tidak sama sekali.
“Ayah sudah cukup tersiksa, Kalila. Ayah terlilit utang dan itu karena ibu kamu yang meninggalkan Ayah begitu saja seolah Ayah adalah sampah. Selama hampir empat belas tahun ini, kami mencoba berusaha sekuat mungkin agar tetap bersama untuk kamu.” Walaupun tidak menjadi orang tua yang baik. “Tapi apa nyatanya sekarang? Semua usaha Ayah untuk tetap bersamanya sekalipun terpaksa, rasanya sangat sia-sia.”
“Jadi, siapa yang paling tersiksa? Kamu ingin mengadu nasib dengan ayah kamu sendiri?”
Kalila terdiam, menundukkan kepalanya dan menghindari kontak mata dengan ayahnya sendiri adalah hal yang tepat sekarang.
“Kamu ingin membantu Ayah?”
***
Di sinilah Kalila berada, di restoran mahal tempat ayahnya akan mengenalkan dia dengan temannya yang katanya akan melunasi utang-utang ayahnya. “Diamlah dan jadi gadis penurut, dengar?”
Kalila mengangguk. Seharusnya dia tidak menyetujui ajakan ayahnya. Namun, entah karena rasa iba atau ayahnya yang berhasil playing victim hingga akhirnya Kalila yang merasa bersalah. Dalih seperti; ayahnya adalah orang yang harus ia hormati, dia tidak boleh bersikap durhaka pada orang tuanya sendiri, dan Tony Marthias mungkin akan hancur jika Kalila tidak membantunya sekarang—membuatnya terdorong untuk membantu ayahnya.
Bodoh.
Satu kata yang mewakilkan semuanya.
“Tony,” ujar seseorang yang baru datang ke bilik mereka—yap, sebelumnya Tony memesan satu ruangan privasi di restoran itu hanya untuk mereka bertiga.
Seorang pria yang hampir seumuran dengan ayahnya duduk di hadapan Kalila setelah sebelumnya bersalaman dengan Tony. “Jadi, ini anak kamu?”
“Iya.”
Kalila mengeryitkan dahinya tidak nyaman ketika pria itu menatapnya dengan tatapan … lapar? Kalila bergidik membayangkannya.
“Cantik.”
Tolong, Kalila benar-benar takut sekarang. Dia melirik ayahnya diam-diam yang terlihat sangat tenang, seolah pria di hadapannya ini tidak merasa bahwa temannya menjadikan putrinya sendiri sebagai objek. Sialan. Kalila sudah termakan oleh jebakan pria itu sendiri, dan ini bukan pertanda yang baik!
“Aku akan meninggalkan kalian berdua.”
Kalila membelalakkan matanya. “Ayah?!”
***