Chapter 11

1142 Kata
Hari ini, Kalila akan menjalani try-out dari sekolahnya guna mempersiapkan para murid di sana untuk menghadapi ujian nasional yang sepertinya akan dilaksanakan kurang dari tiga bulan lagi. Seharusnya, semalam Kalila belajar agar hadil dari tes ini memuaskan, namun sayangnya dia tidak melakukannya. Semalam, pikirannya berkecamuk memikirkan soal ayahnya. Tidak dapat ia sangkal bahwa ia mengkhawatirkan ayahnya. Bagaimana jika ayahnya diburu orang lain karena tidak bisa membayar utangnya sendiri? Kalila sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Sekalipun dirinya mencoba untuk tidak peduli pada ayahnya sendiri, dia tidak bisa mengindahkan pikiran buruk soal nasib ayahnya. “Kalila Beatrice.” Kalila terlonjak ketika namanya dipanggil. Dia mendongak dan melihat guru yang ditugaskan mengawas ujian kelasnya itu menatapnya garang. “I-iya?” Kalila merasakan semua perhatian teman sekelasnya, menjurus ke arahnya. “Sudah selesai? Sedari tadi kamu diam saja,” ujar guru tersebut berkata sinis padanya. Padahal, mereka sama-sama tahu bahwa ujian baru berlangsung tiga puluh menit, tidak aakan ada murid yang berhasil mengerjakan semua soal dengan benar dalam waktu segitu. Kalila mendengus diam-diam. “Belum, Bu.” Dia menggeleng sambil menundukkan kepalanya. “Kerjakan dengan benar. Tes ini bukan hanya untuk melamun, Kalila, tapi untuk dikerjakan.” Untungnya, tidak ada satupun teman kelasnya yang tertawa ketika melihat Kalila dimarahi oleh gurunya sendiri. Kalila melirik ke arah Zoe—sahabatnya—yang duduk tidak jauh darinya. Zoe hanya tersenyum sendu, ikut merasakan malu yang kini mendera Kalila. Kalila tidak peduli dengan hasil tesnya karena dia sama sekali tidk fokus ketika mengerjakannya. Pikirannya bercabang. Dalam hati, ia mengumpat, sungguh kedatangan ayahnya benar-benar membuat hidupnya yang sudah kacau, menjadi lebih kacau. Jika tahu akan seperti ini, Kalila akan lebih memilih untuk tidak bertemu dengan ayahnya sampai waktu yang tidak ditentukan. Toh, selama ini Kalila bisa hidup sendiri. Tanpa ayah dan ibunya, dia bisa berdiri di kakinya sendiri, menghidupi kebutuhannya, dan tetap hidup sampai sekarang. Jika saja Kalila tidak memiliki sopan santun pada ayahnya, mungkin tempo hari dia akan mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan ayahnya sama sekali. Jadi, ayahnya bisa berhenti untuk mengganggu hidupnya. “Kal, ada sesuatu yang mengganggu kamu?” Terlalu fokus pada permasalahan yang dialaminya, membuat Kalila lupa bahwa ada Zoe yang ikut berjalan di sampingnya. Gadis ceria itu entah berceloteh apa sejak tadi, karena Kalila benar-benar tidak memerhatikannya. Kalila hanya mengangkat sebelah alisnya dan menggeleng. “Tidak, aku hanya kelelahan.” “Kamu kelelahan karena belajar? Ayolah, Kal, kamu tidak perlu belajar untuk mendapat nilai yang bagus.” Zoe mengerang kesal. Andai saja kepintaran dari sahabatnya ini bisa ditularkan barang sedikit saja, pasti Kendy sudah senang bukan main. Kalila terkekeh dan kembali menggeleng. “Aku tidak belajar.” Zoe memang sahabatnya, namun untuk masalah ayahnya ini, Kalila rasa tidak baik jika harus menceritakannya mentah-mentah pada gadis itu. Zoe sudah tahu bahwa keluarganya memang berantakan, dan Kalila tidak butuh satu hal lagi untuk diceritakan yang akan menambah kesan buruk pada keluarganya dari pandangan Zoe. “Bohong,” elak Zoe. “Oh iya, tempo hari, sepupu kamu menikah, ya?” Kalila mengeryitkan dahinya pada Zoe. “Bagaimana kamu tahu?” Karena pasalnya, Kalila sama sekali tidak menceritakan apapun soal pernikahan Aya pada sahabatnya itu. “Aku melihat postingan di laman i********: Kakak kamu. Damn, Kal, Kakak kamu itu sangat tampan.” Kalila terdiam. Satu hal lagi yang tidak akan pernah ia ceritakan pada Zoe soal dirinya dan keluarganya adalah perasaan tidak wajar yang dia miliki pada Atlas. Kalila bisa membayangkan bagaimana respon Zoe ketikaa tahu apa yang ia rasakan pada Atlas. Kemungkinan paling buruk adalah Zoe yang tidak mau berteman lagi dengannya karena menganggap Kalila memiliki sindrom aneh. Kalila bergidik ngeri membayangkannya. “Well, dia memang tampan.” “Sepertinya jika aku menjadi kamu, mungkin aku akan jatuh cinta padanya.” Kalila terdiam. Benar apa kataya, bukan? Dia hanya tersenyum miring. “Tidak, aku tidak jatuh cinta padanya.” “Ya … tentu saja, kamu tidak diperbolehkan jatuh cinta pada kakak kamu sendiri.” Sial, ucapan Kalila sungguh menampar dirinya. *** Di jam istirahat kedua, Zoe dan Kalila bermaksud untuk makan siang di kantin karena setelahnya, mereka akan ada kelas geografi yang akan membuatnya sangat mengantuk. Jadi, Zoe bersikeras untuk memakan makanan pedas yang akan membuatnya terjaga—Kalila tertawa mendengar rencana sahabatnya itu. “Kalila Beatrice.” Ketika mereka sudah akan menyantap makanan yang sudah mereka beli, seseorang mendatangi mereka berdua dan memanggil Kalila. Kalila menatapnya dengan bingung. “Iya?” “Kamu dipanggil ke ruang guru. Ada yang ingin bertemu,” ujar murid yang mendatanginya itu. Kemudian dia berlalu begitu saja, tidak membiarkan Kalila bertanya siapa yang ingin menemuinya. “Kamu mau ke sana?” tanya Zoe yang sudah menyantap makanannya santai. “Mau aku antar?” tawarnya. Kalila mulai memikirkan siapa gerangan tamu itu. Dia menggeleng pada Zoe, tidak ingin mengganggu acara makannya. “Aku pergi sendiri saja. Kamu tidak apa-apa harus makan sendiri?” Kalila tahu kalau sahabatnya itu tidak suka dilihat sendirian di tempat umum. Zoe akan canggung dan merasa tidak nyaman. Namun kali ini, gadis itu mengangguk dan menyuruh Kalila untuk pergi. Kalila melangkahkan kakinya cepat ke ruang guru. Dia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari siapa tamu yang mencarinya. “Oh, Kalila!” seru salah seorang guru. “Itu ayah kamu. Beliau ingin bertemu.” Sial. Sial. Sial. Tiga kali Kalila mengumpat dalam hati karena ternyata tamu itu adalah orang yang paling tidak ingin Kalila temui. Tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut, Kalila tahu apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya, tapi sungguh—apa harus ketika Kalila masih di sekolah? Tidak bisakah ayahnya untuk menunggu sampai Kalila pulang ke rumah? “Baik, Pak. Terima kasih.” Kalila menundukkan badannya dengan sopan dan undur diri untuk menemui ayahnya. Sang Ayah yang duduk sambil menundukkan kepalanya, mendongak ketika melihat sepasang sepatu sekolah di hadapannya. “Kal?” “Ayah, lebih baik kita jangan bicara di sini.” Kalila melirik ke sekitarnya dengan pandangan awas. Dia takut jika ada salah satu guru yang mendengar percakapan mereka nanti. Tony Mathias mengangguk. Dia bangkit dari duduknya dan membawa anaknya untuk pergi ke luar gedung sekolah. “Ada apa?” tanya Kalila ketika mereka sudah berada di tempat yang aman. Setidaknya, Kalila bisa yakin tidak akan ada yang akan mendengar percakapan mereka. “Kalila, Ayah mohon bantu Ayah.” Kalila memejamkan matanya sejenak ketika kalimat pertama yang dikatakan ayahnya benar-benar membuatnya bimbang. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan mempertimbangkan untuk membantu ayahnya jika pria itu kembali menemuinya, dan ternyata benar, ayahnya kembali menemuinya. “Apa yang bisa aku bantu? Well, aku akan menyisihkan sebagian upah kerjaku untuk—” “Terlalu lama, Kal. Ayah butuh segera. Orang yang Ayah utangi adalah teman Ayah yang akan Ayah kenalkan pada kamu.” Mata Kalila memincing. Sial, dia telat menyadari. “Ayah hanya ingin menjualku, bukan?” “Kalila.” Kalila merasakan sakit di hatinya. Terasa sekali bagaimana hatinya remuk menyadari hal itu ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN