Kalila menoleh kembali ke arah belakangnya yang mana mobil Matteo sudah tidak terlihat di perempatan jalan tempat pria itu menurunkannya tadi. Kalila mengembuskan napasnya lega. Baguslah. Pria itu tidak perlu tahu tempat tinggalnya. Kalila melanjutkan langkah kakinya untuk pulang. Walaupun wajahnya tenang, pikirannya berkecamuk sibuk.
Dari mulai ayahnya yang meminta dia untuk melunasi utang-utang pria itu sendiri, sikapnya yang kasar pada Atlas sesaat sebelum dia pulang dari pesta pernikahan tadi, dan Matteo yang datang dari antah-berantah untuk membantunya.
Ini semua salah dan terlalu mendadak untuk Kalila.
Tapi yang harus ia pikirkan paling pertama adalah ayahnya. Kalila bingung bukan main—sekalipun tadi dia menolak mentah-mentah, tapi dia juga tidak bisa berbohong bahwa dia sedikit khawatir pada ayahnya. Sebenarnya, berapa banyak utang pria itu hingga Kalila harus membantunya? Kalila juga sedikit berandai-andai jika dia tidak membantu ayahnya, apa pria itu akan dalam masalah? Apa Kalila akan di-cap menjadi anak tidak tahu diri lagi?
Kalila berdecak dan memejamkan matanya. Sial, kenapa ayahnya harus tiba-tiba datang dan membuatnya semakin bingung? Kalila sudah cukup bingung dengan kehidupannya yang sulit sejak orang tua dia bercerai. Kalila harus dewasa sebelum waktunya, dipaksakan oleh keadaan. Dia tidak bisa menanggung semuanya sendiri.
Perdebatan batinnya membawa Kalila pada satu kesimpulan; dia akan menunggu. Jika ayahnya kembali memohon lagi padanya, itu berarti memang masalah yang dimiliki pria itu sangat besar dan mungkin dia memang harus membantunya. Tapi jika tidak, maka Kalila juga tidak akan bertanya-tanya lagi soal permohonan pria itu.
Pikirannya yang berkecamuk membuat Kalila tidak sadar bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya. Segera ia keluarkan kunci dari saku rok yang dia pakai dan membuka pintu rumahnya. Sepi. Itulah yang ia rasakan pertama kali.
Kalila mungkin tidak pernah terlihat sedih di depan orang lain, namun ketika dia sendiri seperti sekarang, dia selalu merindukan ibunya. Kalila tidak pernah merasakan satu keluarga yang utuh. Ibunya tidak pernah memperlihatkan kasih sayang padanya, mungkin ibunya berpikir bahwa kehadirannya hanya membawa petaka. Namun, Kalila tetaplahh anak dari wanita itu. Dia tetap saja merindukan ibunya sekalipun sang ibu tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya.
“Tidak, ini bukan saatnya untuk sedih.” Adalah kalimat yang selalu membuat Kalila sadar, sekalipun dia menangis meraung-raung, hal itu tidak akan membuat ibunya tiba-tiba kembali dan memeluknya.
Itu hanya delusi.
Kalila memutuskan untuk membersihkan diri dan menenangkan dirinya juga karena hari ini sangat lelah. Membutuhkan cukup lima belas menit untuknya membersihkan diri. Kalila merasa lebih baik dari sebelumnya sekarang.
Gadis berambut sebahu itu turun menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuknya dan Atlas. Hari ini dia tidak akan bekerja, jadi dia bisa membuatkan makan malam untuk kakak tirinya, karena selama ini, Atlas-lah yang selalu membantunya membuatkan makanan.
“Kalila.”
Kalila terlonjak di sela-sela kegiatannya memasak karena suara itu. Dia menoleh ke belakang tubuhnya dengan was-was. Dia berdecak ketika melihat Atlas melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya. “Kamu mengagetkan aku.”
Atlas hanya mengendikkan bahunya tidak terlalu peduli. “Kamu biasanya tidak gampang terkejut.” Lelaki itu mencomot udang yang baru saja Kalila goreng.
“Atlas, cuci tangan,” peringat Kalila sedikit sebal pada kakaknya. Namun tentu saja, Atlas tidak terlalu mendengarnya.
Atlas memilih duduk di hadapan meja makan, dengan tatapan mengarah kepada Kalila yang sedang mempersiapkan piring-piring untuk mereka. “Tadi, apa yang Ayah bicarakan?” ujar lelaki itu. Kalila tahu sebenarnya Atlas sudah menahan-nahan diri untuk tidak bertanya, mengingat dia tadi sempat berlaku kurang ajar dengan meninggalkan Atlas sendirian.
“Tidak ada.” Alangkah lebih baik jika Atlas tidak mengetahui—
Sial.
Kalila melihat tatapan menuntut dari Atlas dan itu membuatnya ragu dengan keputusannya sendiri. Jika Atlas ingin mencari tahu, maka dia tidak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Alias, dia akan terus mendesak Kalila agar mau mengatakan yang sejujurnya padanya.
“Duduklah,” ujar kakaknya dengan nada dingin. Atlas memang tidak pernah berlaku kasar padanya, namun melihat lelaki itu terlalu tenang ketika mencoba untuk mengintimidasinya, ternyata sangat menyeramkan.
Kalila menurutinya. Dia duduk di hadapan Atlas.
“Kamu tahu kalau kamu bisa mempercayaiku atas apapun, ‘kan, Kalila?” tanya Atlas dengan tatapan intens pada Kalila. Kalila mengangguk dengan patuh. “Nah, kalau begitu, kamu tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, maka kamu bisa menceritakannya padaku, bukan? Aku bukan orang asing, Kalila. Kita sudah tinggal lama dan sudah seharusnya kalau kita saling mengandalkan.”
Kalila menundukkan kepalanya. Dia memutus kontak mata dari Atlas. Tidak baik untuk jantungnya. “Ayah …” Perlahan, Kalila mencoba untuk mengangkat suara. “… meminta tolong padaku.”
Atlas tetap menatapnya dan menganggukkan kepalanya mendengar hal itu. “Apa itu?” tanyanya dengan sabar. Dia yakin ada sesuatu antara adiknya dan ayahnya hingga membuat Kalila menjadi gugup seperti ini.
“Dia ingin aku melunasi utang-utangnya.”
Atlas mengeryitkan dahinya. Tunggu, dia tidak pernah tahu hal itu. Dia tidak pernah tau kalau ayahnya pernah memiliki utang. Bahkan ayahnya saja tidak pernah menafkahi mereka berdua, bagaimana mungkin ayahnya memiliki utang yang bahkan uangnya tidak pernah mereka rasakan?
“Apa?” tanya Atlas tidak percaya. Pantas saja Kalila terlihat marah tadi, karena Atlas saja tidak terima mendengarnya.
“Iya, dia menyuruhku untuk melunasinya, aku tidak tahu bagaimana maksudnya, tapi … katanya temannya akan membantu dia jika aku mau dikenalkan pada temannya itu.” Walaupun perkataan Kalila berbelit, tapi Atlas tetap bisa mengerti apa maksud dari semuanya, dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Kalila, jika kamu tidak ingin membantunya, maka kamu boleh menolaknya.” Atlas berbicara dengan nada pelan, namun dengan penuh ancaman.
Tidak akan sudi dia membiarkan adiknya masuk ke dalam rencana ayah mereka sendiri.
“Apa?”
“Kamu boleh menolaknya. Aku tahu kalau sebenarnya kamu tidak mau, bukan?”
Kalila tidak mengangguk, tapi dia tidak bisa mengelak bahwa yang dikatakan Atlas adalah benar. “Bagaimana jika aku di-cap durhaka, Atlas?”
“Ayah kita lebih berdosa karena sudah menelantarkan kita, Kal.”
“Aku akan membantu kamu, jadi kamu tidak perlu takut.” Atlas melanjutkan ucapannya, kali ini dengan tangannya yang terulur untuk menggenggam tangan Kalila. Ini semua yang membuat Kalila menyukai Atlas secara tidak wajar. Ungkapan guardian angel adalah ungkapan yang tepat untuk Atlas. Lelaki itu selalu bisa membuatnya tenang, sekaligus membuatnya yakin bahwa Atlas adalah tempat yang paling aman untuknya.
“Kamu tidak perlu khawatir juga. Besok, aku akan mengajak Ayah bertemu dan menanyakan soal ini langsung.” Gila saja, apa ayah mereka hanya ingin menjual Kalila demi kepentingannya sendiri?!
***
“Matty.”
Matteo baru saja keluar dari kamarnya ketika kakaknya mendatanginya. Wajah Anna terlihat tidak bersahabat seolah dia baru saja bertemu dengan mantan suaminya.
“Kenapa?” tanya Matteo dengan curiga.
“Kamu harus berhati-hati.”
Matteo mengeryitkan dahinya. Dia berlalu meninggalkan Anna untuk menemui ibu dan ayahnya, tidak begitu mengindahkan Anna yang kini menatapnya tajam. “Matteo, dengarkan aku dulu!”
“Ada apa, Anna?” erang Matteo sebal.
“Aya sepertinya memiliki rencana buruk pada kamu.”
***