Chapter 8

1153 Kata
Tidak ada alasan khusus kenapa Matteo ingin mengantarkan Kalila. Itu hanya murni karena dia sedikit khawatir pada gadis itu setelah melihatnya meninggalkan pesta dengan langkah besar dan ekspresi muka yang tidak bersahabat. Matteo tidak tahu apa yang menimpanya, tapi Matteo hanya ingin memastikan dia aman, walaupun gadis itu menolaknya mentah-mentah. “Apa kamu baik-baik saja?” Di sinilah mereka berada, di mobil Matteo dengan Kalila yang sedari tadi memilih diam saja dan tidak bersuara. Matteo kembali berpikir, apakah tindakannya ini terlalu berlebihan? Apa benar, jika ada orang lain yang melihat, maka dia akan berpikir yang macam-macam? “Iya.” Kalila berujar pelan. Dalam hatinya, dia bersikeras untuk tidak mengatakan apapun pada pria di sampingnya ini. Mereka adalah orang asing dan memang seharusnya seperti itu. Dia tidak boleh lagi terlihat bersama Matteo, ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir. Matteo hanya menghela napas dan menganggukkan kepalanya. “Kamu keluarga dari pengantin wanitanya?” tebak Matteo demi mengusir kecanggungan di antara mereka. Dia tidak boleh menyesal sendiri karena sudah mengajak gadis ini untuk pulang bersama dia. “Iya.” Kalila tidak tahu harus membalas apa lagi. Menurutnya kata ‘iya’ dan ‘tidak’ adalah yang terbaik. Lagipula, kenapa pula pria di sampingnya ini harus mengajaknya berbicara? Bukankah lebih baik mereka diam saja sampai tempat tujuan? “Oh, aku juga.” Matteo membalas. “Pengantin wanitanya adalah mantan kekasihku.” Kalila yang sedari tadi enggan untuk menoleh ke arah Matteo dengan tatapan terkejut. “Tunggu, apa?!” “Kamu tidak tahu?” tanya Matteo melirik sekilas. Dia tidak berpikir apa-apa lagi ketika melihat respon Kalila yang terdengar terkejut. “Kenapa?” Matteo bertanya kembali ketika Kalila masih saja terkejut. “Dia … sepupuku.” “Sepupu?” Ayolah, kebetulan apa lagi ini? “Bagaimana bisa kamu berpacaran dengan sepupuku, Pak Matteo?” Kalila membenci fakta bahwa mereka sering sekali berhubungan secara tidak sengaja. “Sudah lama. Aku lupa masa-masa saat aku berpacaran dengannya.” Matteo berujar dengan cukup santai. Berbeda dengan Kalila yang sebal bukan main. Kalila tidak peduli bagaimana bisa Matteo berpacaran dengan Aya, tapi yang menyebalkan adalah pria itu yang ternyata tidak asing untuknya. “Kalila.” Kalila menoleh kembali tanpa menjawab. Dia hanya menatap Matteo dengan tatapan bertanya. “Sepertinya, kamu tidak dekat dengan keluarga kamu, ya?” tebak Matteo yang membuat Kalila memutar bola matanya jengah. Dia tidak ingin kembali teringat tentang keluarganya yang benar-benar tidak ia sukai—dan tidak menyukainya. “Kenapa kamu bertanya begitu?” Matteo mengendikkan sebelah bahunya. “Karena kamu terlihat asing di pesta sepupu kamu sendiri.” Kalila membenarkan ucapan Matteo dengan berdiam diri. Dia tidak berniat untuk mengiyakan secara langsung. “Keluargaku terlalu kompleks.” Hanya itu yang bisa Kalila ucapkan. Rasanya juga bukan pilihan yang bagus jika dia menceritakan soal keluarganya kepada pria di sampingnya ini. Matteo hanya menganggukkan kepalanya. “Di sini saja.” Kalila menyuruh Matteo untuk berhenti di jalan besar yang lumayan jauh dari rumahnya. Dia lebih memilih untuk berjalan kaki ke rumahnya dari pada membiarkan Matteo untuk mengetahui alamat rumahnya. Tidak, dia tidak mau. “Okay.” Matteo berujar dengan santai. “Sampai jumpa.” Kalila mengangguk walaupun dalam hati dia berharap tidak akan bertemu dengan Matteo Aarav kembali. Selain pria itu sangat menyebalkan, Kalila memiliki perasaan tidak enak jika dia terlalu dekat dengan pria itu. Pokoknya, Matteo adalah pria yang harus ia hindari! Titik. *** Sementara itu, di tempat sebelumnya, Anna masih berada di pesta pernikahan itu. Dia sengaja menghampiri pengantin wanita, Aya—yang kini tersenyum ketika melihat dia mendatanginya. Ketika Aya berhubungan dengan Anna, wanita itu yang berstatus sebagai kakak dari Matteo, tidak pernah dekat dengan kekasih dari adiknya. Anna hanya tahu bahwa mereka pernah berpacaran dan Aya meninggalkan adiknya yang malang. “Selamat atas pernikahannya, ya,” ujar wanita yang pernikahannya sendiri baru saja kandas padahal baru berjalan beberapa bulan. Anna mengulurkan tangannya untuk menyalami Aya. Aya menerimanya dengan senyuman manis. Dia mendekat ke arah Anna dan sesekali melirik suaminya yang sedang mengobrol dengan orang lain. “Bagaimana kabar Kakak?” tanyanya sopan. “Baik.” “Matteo datang kemari, ya?” Ups, Anna mencurigai percakapan mereka berdua. Dia tidak yakin Aya hanya bertanya soal kedatangan Matteo. Dia yakin ini lebih dari sekadar Matteo Aarav. “Iya. Kami datang karena Mama Irish tidak bisa datang kemari.” Anna secara tidak langsung mengingatkan kalau sebenarnya Matteo tidak berniat untuk kemari jika saja ibu mereka memiliki waktu. “Ah iya, benar. Tante Irish sudah mengatakannya sebelumnya, aku lupa.” Aya berujar canggung. Apalagi dengan Anna yang sedikit kaku dan seolah tidak suka ketika dia menanyakan soal Matteo. “Matteo juga baik-baik saja, ‘kan? Kami belum sempat bertemu tadi. Ah, lebih tepatnya, dia tidak menghampiri aku.” Anna tersenyum dan mengangguk. “Dia sangat baik-baik saja. Dia fokus pada pekerjaannya sekarang dan mengurangi prioritasnya untuk mencari wanita. Entahlah, mungkin dia trauma.” Sungguh, Anna tidak bermaksud untuk menyindir Aya, dia hanya ingin mengatakan yang sebenarnya. Sedikit kesal juga ketika dia baru saja ingat bahwa wanita ini meninggalkan adiknya dan dengan kurang ajarnya mengundang dia sekeluarga. “Baguslah.” Aya mengangguk sambil tersenyum. “Dia pasti akan menemukan wanita yang tepat.” Anna membalasnya dengan anggukan juga. “Selamat atas pernikahan kamu, by the way.” Anna melirik suami Aya yang berdiri tampan jauh dari mereka sambil mengobrol dengan tamu lain. Namun, Anna sedikit tidak percaya jika Aya meninggalkan adiknya untuk dinikahi dengan pria itu—maksudnya, Matteo lebih baik dari pada pria itu. Oh, maaf jika pemikiran Anna sedikit jahat. Aya tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis. Membuat Anna sedikit curiga lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? “Oh iya, apa kamu tahu kapan jadwal Matteo kosong?” “Kenapa?” tanya Anna sedikit memincingkan matanya. Aya menggaruk pelipisnya dan menggeleng kecil. “Tidak, aku hanya ingin bertemu. Aku memiliki urusan yang belum selesai dengannya.” “Kamu sudah memiliki suami sekarang, dan jika ingin bertemu dengan pria lain, maka kamu harus menemuinya dengan izin suami kamu.” Anna berkata seolah dia adalah istri paling penurut dan sangat menghormati suaminya, melupakan fakta bahwa pernikahannya sendiri hancur lebur bahkan saat masih seumur jagung. “Aku hanya ingin bertemu dengannya. Tidak akan ada masalah yang terjadi, bukan?” Anna menghela napas. Bagaimana dia harus mengatakan dengan gamblang bahwa akan lebih baik Matteo tidak pernah bertemu dengan Aya lagi dari pada adiknya itu nanti mendapatkan masalah? “Tapi aku juga tidak ingin suami kamu marah pada adikku karena menganggap bahwa dirinyalah yang mengundang istrinya untuk bertemu.” Anna tidak menyukai Aya. Itu kesimpulan yang bisa ia tangkap dari pertemuannya dengan Aya. Ternyata keputusan yang paling benar ketika Matteo tidak lagi mencintai Aya. Aya menggeleng. Dia cukup bebal walaupun wajah Anna sudah terlihat seolah ingin mencakarnya. “Sampai jumpa, Kak Anna.” Anna terdiam. Bersidekap di depan dadanya dan menatap wanita itu dengan kesal. Sial. Matteo tidak boleh berhubungan dengan mantannya lagi atau dia mungkin akan terkena masalah. ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN