Chapter 2

1200 Kata
Ara baru selesai mandi dan rasanya sangat segar ketika air sudah membasahi seluruh tubuhnya dan membersihkan kotoran yang ada. Dia sudah berkeringat sejak dua jam yang lalu namun baru sempat mnadi saat menyelesaikan dua bab di cerita barunya setelah setengah ceritanya sudah dibuat. Ini adalah bagian dari konflik. Dia masih kembali mereview ulang naskahnya —takut jika ada typo atau salah pemilihan kata. Penerbit yang dia incar ini sebelumnya sudah pernah menolak naskah pertamanya karena beberapa plot hole.  Saat sudah mengklik save, ponsel Ara bergetar diiringi nada notifikasi pesan masuk. Dia melihat nama Jovan ada di layar sambil mengirimkan sesuatu dan Ara harus membukanya. Ara tersenyum-senyum jika kekasihnya itu mengirimkan pesan apapun. Dia pun membuka pesan dan mengklik download gambar tersebut. Namun senyuman di wajahnya perlahan mengendur dan menghilang —berganti menjadi tatapan bingung dan marah. Apa maksudnya Jovan mengirimkan ini?                    Jovan Erlangga & Nayla Sancia Denzello                              Wedding Announcement                                             Invite you                           Jakarta, 15th February 2019 Bahu Ara langsung lemas dan matanya berkaca-kaca tak percaya dengan apa yang dia baca melalui layar ponselnya. Jovan akan menikah? Tapi kenapa?Jadi, dia membohonginya tadi pagi? Mendadak sekali, ini bahkan masih siang. Langsung saja Ara menelpon lelaki itu untuk meminta kejelasan. Dia tidak terima jika Jovan tiba-tiba seperti ini. Haruskah Ara kembali berburuk sangka padanya dan memaki lelaki yang sudah mengisi hidupnya selama ini? "Jovan, jelasin maksud kamu? Kamu mau menikah dengan orang lain dua minggu lagi? Are you kidding me?" cecar Ara dengan berbagai pertanyaan. "Listen, Baby. Jujur aja, aku emang udah lama lamar Nayla karena dia bikin aku nyaman. Kita delapan tahun pacaran tapi kamu gak pernah ngerti aku, gak pernah tau apa yang aku inginkan." Jovan nampak santai menanggapi pertanyaan Ara tanpa mengelak. "Salahku apa, Jov? Apa yang aku gak ngerti tentang keinginanmu? Selama ini bukankah aku selalu membelikanmu barang yang kamu inginkan?" Nadanya sudah mulai tidak bisa menahan kecewa. "Aku selama ini menginginkan hal semalam. Iya —bercinta denganmu. Tapi kamu selalu menolak. Selalu. Dan yeah, memang semalam aku sudah mendapatkannya darimu secara —eum.. paksa? Tapi kuakui kamu sangat hebat tadi malam. Sayangnya, semua itu sudah terlambat, Ara Sayang. Aku udah menyebar undangan dan jangan macam-macam dengan pernikahanku. Nayla memiliki banyak relasi yang bisa membuatmu tak berkutik," jelas Jovan yang sangat meruntuhkan hati Ara dan bahkan mengancamnya. "Hubungan kita.. kamu tidak memikirkan hubungan kita, Jov? Sudah sejauh ini dan bahkan aku berharap kita akan segera menikah." "Oh, hubungan kita? Tentu saja, detik ini juga aku memutuskan untuk putus denganmu. Sudah kan? Jangan hubungi aku atau Nayla akan marah. Take a care, baby. Terima kasih pernah memberiku kebahagiaan terutama semalam. Bye.." "b******n! Kamu b******k, Jov. b******k!" Bip! Ara langsung memutus sambungan dan melemparkan ponselnya ke sembarang arah hingga benda tersebut sudah hancur layarnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Mendengar suara tangisan anaknya dari dalam kamar mambuat Sinta, Mama Ara langsung menghampiri anaknya. Dia terkejut melihat Ara sudah menangis di bawah meja sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Tangisan itu semakin keras hingga suaranya sudah mulai habis. Wajah itu belum pernah Sinta lihat sebelumnya —sama sekali. Betapa Ara terlihat begitu hancur dan terlihat menyedihkan disaat yang sama. "Ara, kamu kenapa? Ada apa?" tanya Sinta berjongkok di depannya dan menghapus air mata itu. "Jovan.. Jovan, Ma.. dia brengsek.." Ara sesenggukkan pelan, matanya sudah memerah dan rambutnya teracak-acak. "Aku hancur, Ma.. hancur.. Jovan tega menghianatiku. Selama ini yang aku lakukan semuanya sia-sia untuknya." Sinta mengelus kepala Ara dan menenangkannya. Setelah anak satu-satunya itu keluar, Ara langsung memeluk Mamanya dan kembali menangis dalam diam. Dia tidak ingin mengecewakan Sinta yang sudah lama menantikan dirinya menikah dengan Jovan, namun kenyataan sudah berkata lain. Jovan sendiri yang menghancurkan impian indah sang Mama. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ara kecewa dengan dirinya sendiri. Kecewa telah membohongi Mamanya namun dia tak berani mengatakan hal yang sejujurnya. Sinta akan mengamuk dan takut sakit karena shock apalagi wanita paruh baya tersebut memiliki riwayat jantung. Yang bisa Ara lakukan sekarang adalah mencoba tenang dan melawan kebrutalan dalam dirinya. Hari dimana Jovan memberinya kabar pernikahan membuat Ara murung dan mengurungkan diri selama dua hari lamanya. Dia tidak makan ataupun minum, bahkan untuk menyentuh laptopnya untuk melanjutkan cerita pun tidak. Emosinya sudah ada dititik rendah dan sulit untuk distabilkan kembali. Bukan buta karena cinta, dia hanya sangat kecewa pada Jovan. Jovan tak semanis dugaannya, tak sebaik yang dia kira, dan tak sejujur yang dia percayakan. Semuanya palsu. Menikah. Padahal Ara ingin Jovan dan dia sudah berada di atas panggung pelaminan dengan pakaian pengantin yang serasi. Lalu mereka memiliki anak-anak yang begitu lucu setelahnya dan membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang. Hingga mereka pada akhirnya merasakan hari tua bersama-sama dan hidup bahagia hingga akhir hayat. Itu semua hanya dalam cerita dongeng yang tidak akan pernah Ara dapatkan. Tak ada orang yang mau menyayanginya dengan tulus karena rupa Ara tak secantik wanita lain namun dia ini wanita yang cerdas makanya dia bisa lulus S2 di Luar Negeri. Dengan gelar master dan predikat summa c*m laude ternyata tidak cukup untuk Jovan. Lelaki memang haus akan nafsunya. Hari ketiga Ara keluar dari kamar seperti mayat hidup yang tak ada nyawanya. Dia memang sudah mandi dan makan, tetapi pandangannya selalu kosong tanpa tujuan. Tak peduli bagaimana sekitarnya menatap, dia masih terlihat sangat kacau. "Ara, Mama mau ke luar sebentar untuk mengambil uang dulu. Kamu.. gak pa-pa kan Mama tinggal? Mama pasti cepat kembali." Sinta menyentuh pundak anaknya yang hanya menatap lurus ke arah tv dan kepala Ara hanya mengangguk. "Jaga diri baik-baik ya, Mama cuman pergi sebentar aja." Sebetulnya Sinta tidak yakin untuk meninggalkan anaknya sendirian di rumah, takut Ara melakukan hal-hal aneh. Namun, dia harus keluar untuk urusan mendesak. Setelah Sinta keluar dari rumah, Ara melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 20.03 WIB. Sudah jam segini dan dia mematikan tv lalu beranjak dan mengambil jaketnya. Dia keluar dari rumah tanpa memberitahu sang Mama dan mengendarai sepeda gunung mendiang sang Papa untuk pergi entah kemana. Dia tidak tau arah tujuannya, kakinya hanya mengayuh dan terus mengayuh. Kayuhan sepedanya mulai melambat dan berhenti di sebuah jembatan layang yang cukup sepi dilewati orang-orang. Tempat sempurna baginya. Ara turun dari sepeda dan berdiri di pembatas jembatan. Jalanan kota masih ramai dengan mobil-mobil yang berlalu lalang dan Jakarta memang sangat indah dengan warna lampu di gedung-gedung setinggi cakrawala. Ditambah langit hari itu cerah dan menampakkan bintang serta bulan sabit sempurna. "Bagaimana bisa aku hidup? Hatiku sudah sangat kecewa," gumamnya lalu dia tertawa —untuk menertawakan dirinya sendiri. "Miris ya kamu, Ra. Banyak orang yang bisa berkhianat namun yang paling besar menghianatimu justru pacarmu sendiri." Ia tidak mengerti. Hari yang orang lihat terlihat bagus justru bagi Ara adalah sebuah ejekkan. Dia tidak suka melihat semua nampak bagus disaat hatinya sedang kacau balau. Kakinya naik satu langkah lebih tinggi di pijakan jembatan. "Kalau aku mati, bukankah bagus?" Bibirnya tersenyum —menyiratkan banyak hal. Angin malam mulai mengibaskan rambutnya yang mulai memperlihatkan mata merahnya lagi. Kedua tangan sudah dia rentangkan lebar-lebar, satu kakinya kembali naik ke pijakan yang lebih tinggi. Begitu dia sudah siap untuk menjatuhkan diri dari atas jembatan layang tersebut, ada tangan lain yang berhasil menahannya sebelum dia mengoleng ke depan. Ia terkejut dan matanya membelalak karena tubuhnya ditarik mundur. Hatinya kesal, percobaan bunuh dirinya gagal. "Berhenti, jangan mati." ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN