Adimas baru selesai mengadakan pertamuan dengan rekan sesama dokter spesialis kejiwaan. Harusnya memang pertemuan tersebut diadakan malam namun banyak faktor pertimbangan yang dilakukan akhirnya mereka mengadakannya seusai jam praktek di rumah sakit masing-masing. Pembahasannya melihat angka gangguan jiwa di wilayah tersebut yang semakin tinggi, terutama depresi.
Sebagai dokter, dia miris jika banyak orang mengalami gangguan depresi. Bermacam-macam tahapan depresi, dari ringan, sedang hingga berat. Sebagian besar kasus bunuh diri dikarenakan depresi berat yang dialami oleh korban.
Malam itu, dia menepikan mobilnya dan mencari tempat makan sederhana untuk mengganjal perut. Kalau di rumah pasti semuanya sudah habis. Lagipula, memang salahnya sendiri bilang ke Ibu untuk tidak masak untuk makan malam.
"Laper banget. Katanya Mavin yang pernah lewat daerah ini ada tempat makan enak tapi mobil gak bisa masuk." Akhirnya dia memarkirkan mobilnya di parkiran di depan bank yang sedang tutup.
Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sambil menelpon Mavin untuk mencari tempat makan tersebut. Takutnya Adimas salah tempat atau nyasar.
"Vin, ini tempatnya dimanaan? Kan ada jalanan nih terus tinggal lurus aja gitu? Tempatnya ada tulisan apa?" tanya Adimas masih berjalan kaki.
Jalanan tersebut awalnya memang ramai dengan orang-orang hingga Mavin berkata untuk Adimas belok kiri dan melewati jembatan layang. Maklum saja, Mavin saat itu melewatinya menggunakan motor jadi rasanya cepat.
"Tempat makannya namanya Crab's house. Enak bro di sana, kita bisa milih kepiting berbagai jenis dan bisa diolah apa aja. Mau sushi atau apa bisa request. Itu sebenernya deket jalan gede. Tapi kalau mau ke sana pake mobil, muternya lama! Capek sendiri dah," ujar Mavin kembali menjelaskan.
"Oke deh. Makasih."
Belum saja Adimas matikan, Mavin sudah memutuskan sambungan dan diiringi suara teriakan istri Mavin sebelum benar-benar putus sambungan.
Adimas hanya geleng-geleng kepala melihat keheranan rumah tangga teman-temannya yang cukup unik. Dia sendiri saja yang belum merasakannya dan masih mencari sosok yang pas untuk dia lamar dan nikahi.
Kembali kakinya berjalan sesuai arahan dari Mavin. Entah karena memang hari sudah malam atau faktor lain, jalanan yang dia lewati sepi. Hanya ada lampu penerangan di pinggir jalan dan dia bisa melihat bahwa jalanan menanjak -itu berarti dia benar akan melewati jembatan layang.
Saat jalanan menanjak, dia mulai mendengar berisiknya mobil-mobil di jalanan bawah lewat. Ada yang membunyikan klakson atau suara kebut.
Hanya langkahnya melambat melihat seorang perempuan berdiri dipinggir jembatan dengan kaki sudah naik lebih tinggi. Saat dua tangan sudah direntangkan, Adimas sudah tau tujuan perempuan tersebut. Akhirnya Adimas berlari dan menarik tangan perempuan ke arahnya dimana perempuan itu sudah hampir akan menjatuhkan diri ke bawah.
"Berhenti, jangan mati."
Ara menoleh ke arah Adimas saat usahanya gagal. Dia melepaskan genggaman lelaki itu dengan kasar dan menahan emosinya.
"Jangan menghalangiku. Aku sudah menyerah untuk hidup." Ara mulai kembali menangis, air matanya tidak bisa izin untuk turun begitu saja. "Tolong.. biarkan aku bertemu Papaku di surga. Aku ingin bertemu dia."
Adimas tanpa permisi memeluk perempuan tersebut, seraya berkata. "Orang bilang kalau seseorang yang mengalami hari berat memerlukan sebuah pelukan. Maaf jika saya memelukmu tanpa izin. Jangan mati, hidup ini masih memerlukan orang sepertimu. Sebuah nyawa harus dijaga, bukan untuk dicabut."
Ara membalas pelukan tersebut, dia menangis hingga membasahi kemeja milik Adimas. Dokter muda tersebut tidak keberatan akan hal itu, justru dia biarkan sampai Ara merasa tenang.
Orang yang gagal bunuh diri dan melemparkan emosinya tidak patut dimarahi atau dibalas dengan emosi yang lebih tinggi. Mereka harus ditenangkan dan dengarkan keluh kesah dari dalam hatinya. Karena berat jika seseorang mati di hadapannya langsung -Adimas tidak mau kejadian dulu kembali terulang di depan matanya.
Butuh waktu yang lama sampai Adimas lupa pada tujuannya untuk makan hanya demi Ara. Dia membawa Ara ke tempat yang lebih aman, serta membawa sepeda itu juga dengan sebelah tangan.
"Kamu bisa melampiaskan apa yang ada dihatimu. Ceritakanlah jika memang itu membuatmu lebih tenang, saya orang yang bisa kamu percayai. Jangan khawatir, rahasiamu akan aman," kata Adimas meyakinkan diri. "Perkenalkan, saya Adimas Chandrasurya. Saya dokter spesialis kejiwaan sekaligus Psikiater. Saya tidak menganggap semua pasien gila, tetapi menganggap mereka membutuhkan saya."
Mendengar kalau Adimas adalah seorang dokter, Ara tidak langsung mempercayainya. Toh banyak orang yang bisa mengaku seperti itu demi mengikat kepercayaan orang lain. "Bisakah kamu menunjukan buktinya kalau kamu adalah dokter?" pintanya.
Tanpa ragu, Adimas menunjukkan kartu identitasnya dan tertera bahwa profesinya adalah seorang dokter. Sekarang Ara percaya namun dia masih merasakan perasaan yang tak dapat diutarakan.
Karena dia masih berpikir secara tidak jernih, sulit menyampaikan apa yang ada di pikirannya karena sudah kalut dengan rasa takut. Dirinya begitu hina, dan tidak pantas untuk hidup. Tetapi sorot mata Adimas begitu tenang, dia sangat memaklumi jika Ara belum bisa bercerita.
"Mungkin bukan sekarang-," Adimas menghela napas dan tersenyum. "Jika kamu merasa masih tertekan, coba sibukkan dengan hal-hal yang kamu suka. Atau jika tidak keberatan, pergilah ke Psikiater kalau memang kamu masih merasa tertekan. Saya lihat, kamu mengalami masalah yang berat. Pandanganmu kosong, tubuhmu sangat kurus dan pikiran kacau. Besok adalah jadwal praktek saya, kamu datang ke rumah sakit A. Tidak perlu takut, kamu tidak gila."
"Terima kasih atas saranmu. Aku memang sedang mengalami tekanan karena ditinggal pacarku menikah. Semua rencanaku gagal."
"Ditinggal memang berat. Tetapi ditinggal menikah tidak lebih berat daripada ditinggal selama-lamanya. Jangan putus harapan ya? Saya yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik."
"Mau saya antarkan pulang?" Tawar Adimas membuat Ara sedikit terkejut. "Saya yakin kamu tidak mungkin pulang sendirian menaiki sepeda. Takutnya kamu bisa kena kecelakaan jika melamun lagi. Beritahu saja alamatnya."
"Apa tidak apa-apa?"
Adimas mengangguk, dia tidak tega membiarkan seorang perempuan pulang sendirian di malam seperti ini. Mengingat ibu kota begitu keras dan berbahaya. Tangannya mempersilahkan Ara untuk ikut dengannya. "Mari saya antarkan."
Adimas mengulurkan tangannya untuk mengajak Ara pulang sebelum hari semakin larut, kota Jakarta semakin berbahaya jika semakin malam. Ara pun mengiyakan dan ikut pulang menggunakan mobil milik Adimas. Sepeda miliknya ditaruh di bagian belakang yang cukup luas jika sofanya dilipat.
Perjalanan mereka hanya dipenuhi oleh suara musik dari music box milik Adimas yang memutar lagu-lagu keroncong. Seleranya memang tak semodern orang-orang sekarang. Tapi dia cukup menikmatinya.
Dua puluh menit lebih perjalanan ditempuh sampai sempat terjebak kemacetan karena ada kecelakaan di tengah jalan membuat Adimas harus mencari jalan lain. Akhirnya mereka sampai di alamat rumah Ara. Hingga begitu perempuan tersebut keluar dari pintu mobil, dia sudah disambut oleh Mira dengan sebuah pelukan yang sudah cemas dengan hilangnya Ara. Dia memastikan bahwa putrinya tak memiliki luka sedikitpun.
"Terima kasih sudah mengantarkan anak saya," kata Mira pada Adimas dengan tulus.
"Sama-sama. Saya tidak tega untuk membiarkannya pulang sendirian tadi, jadi akhirnya saya antarkan. Mohon untuk hati-hati ya," balas Adimas berbalik tersenyum.
"Apa nak Adimas mau mampir dulu?" Mira menawarkan namun Adimas menolak karena sudah semakin malam. Dia pun harus beristirahat untuk kembali bekerja besok. Selain itu masih ada yang harus diurus malam ini untuk adiknya.
"Saya pamit dahulu. Terima kasih atas tawarannya, Bu. Mungkin lain kali saja jika sempat. Permisi." Adimas kembali masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan jalanan tersebut.
Saat perjalanan pulang, dia masih fokus ke jalanan yang masih saja ramai namun pikirannya malah memikirkan Ara. Perempuan itu mengingatkannya dengan mendiang Adara, kakak Adimas. Mata dan bibir itu benar-benar persis membuat Adimas tidak mungkin melihat hal yang sama untuk kedua kalinya.
Peristiwa yang tidak akan pernah Adimas lupakan saat b******n yang telah memperkosa kakaknya justru sudah memiliki istri. Dia tega membuat kakaknya depresi karena hamil —dimana lelaki yang menghamili Adara tak mau bertanggung jawab.
Sampai sekarang Adimas masih dendam meski dua tahun yang lalu kabarnya lelaki itu sudah bebas dari kurungan penjara.
***
Sudah jam sembilan pagi, Ara tiba di rumah sakit dan usai mendaftarkan diri sebagai pasien baru. Banyak pasien baru maupun lama yang mengantri di bangku panjang menunggu gilirannya dipanggil. Petugas di sana sangat ramah dan tidak terlihat heran atasnya yang menuju ke poliklinik kejiwaan.
Hari itu, pasien di Spesialis Kejiwaan memang tidak banyak karena jarang juga yang mau datang ke dokter Spesialis Kejiwaan atau Psikiater tersebut meski mengalami masalah mental. Masih banyak yang salah persepsi bahwa Psikiater hanya menangani orang gila. Itu memudahkan Ara yang hari itu sudah merasa gelisah hatinya karena gejala depresinya masih ada. Mungkin karena hari itu juga hari pernikahan Jovan dan Nayla.
Seusai dipersilahkan masuk oleh salah satu perawat, Ara masuk perlahan-lahan dan melihat Adimas dan kacamatanya duduk di meja dokter. Adimas menyambut dengan senyuman dan mempersilahkan Ara duduk di hadapannya.
"Bagaimana kabarnya, Ara?" tanya Adimas membuka percakapan.
"Masih belum membaik," jawab Ara memperlihatkan wajah murungnya.
"Apa berat badanmu menurun dan akhir-akhir ini sering menyendiri seperti di dalam kamar atau semacamnya?" Adimas bertanya seputar untuk memastikan gejala masalah mental Ara.
Ara mengangguk lesu. "Aku tidak tahu. Tiga hari lagi mantanku menikah, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Rasanya sangat sakit.."
"Coba pertama tarik napas dulu dalam-dalam," instruksi Adimas mencontohkan terlebih dahulu dengan menarik napas. "Lalu, keluarkan perlahan-lahan sambil menutup mata. Rasakan hembusannya sedikit demi sedikit."
Ara mulai mempraktekan yang dikatakan oleh Adimas. Pertama-tama, dia menarik napas dalam-dalam sampai yang dia mampu dimana paru-paru menampung jumlah oksigen secara maksimal. Kemudian dua matanya ditutup, ia hembuskan napasnya perlahan-lahan sampai habis melalui mulut.
Rasanya jauh lebih baik dan tenang setelah melakukannya. Ara melakukannya tanpa memikirkan Jovan, dia hanya berfokus pada tarikan dan hembusan napas saja.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Lebih tenang."
Adimas tersenyum. "Ini cara sederhana untuk menenangkan diri melalui napas. Selain itu coba memijat jempol dan telunjuk untuk mengurangi rasa cemas dan rasa takut. Seperti ini." Kembali, dia mempraktekkan cara-caranya yang membuat Ara paham.
"Selain itu, Ara. Mengubah pola pikir negatif menjadi posirif itu sangat perlu untukmu. Jika ada yang kamu masih cemaskan, bisa ceritakan lagi padaku. Saya sebagai dokter juga perlu mendalami penyebab lebih lanjutnya," ujar Adimas sudah siap.
Walau awalnya sedikir ragu, Ara mulai menceritakan awal mulanya dia merasa tertekan seperti ini. "Aku cenderung memiliki emosi yang kadang tidak selalu baik, tidak lelalu terlihat ramah. Aku baru pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan S2 ku di sana. Memang hubunganku dengan pacar menggunakan LDR karena jarak memaksa. Kemarin-," Lidah Ara kelu untuk mengatakan point masalahnya.
"Kemarin? Lanjutkan saja, saya tidak akan menghakimi setiap ucapan pasien." Tenang Adimas.
"Kemarin, aku dan dia melakukan hal diluar nikah. Itu bukan keinginanku dan kita melakukannya saat dia mabuk. Sorenya dia justru.. mengirimkan undangan pernikahannya kepadaku. Jujur saja, aku jadi merasa hina setelah itu," jelas Ara menahan tangisnya yang tertahan di tenggorokan.
Begitu rupanya. Adimas mengerti kecemasan yang ada di dalam perempuan tersebut. Tidak sedikit para perempuan akan merasakan hal yang sama yang dirasakan, bahkan banyak yang takut karena para pria jika seusai putus menyebarkan video yang tidak pantas tersebut ke publik.
Sementara Ara antara lega namun masih ada perasaan takut setelahnya. Dia malu menceritakan hal itu sejujurnya karena memang rasanya hina sekali. Padahal dia selalu memegang prinsip dan tak pernah melakukan hal di luar prinsipnya.
"Tidak ada perempuan yang hina, kecuali dia tidak bisa menghargai dirinya sendiri secara sengaja. Jangan dengarkan kata orang jika mereka mencelamu dengan kata-kata yang tidak pantas. Tubuhmu, otoritasmu. Jika masalahmu adalah orang menganggapmu murahan, kamu tidak seperti itu. Kasus korban pelecehan seksual banyak menyudutkan pihak korban, sudah sepantasnya korban dilindungi bukan diacuhkan."
"Aku takut tidak bisa menikah jika mengatakan hal ini pada calon suamiku kelak."
"Sudah seharusnya suami kamu kelak mengetahui segala tentang dirimu dan menerimamu apa adanya, bukan ada apanya. Setiap perempuan itu cantik, pasti ada orang yang akan menaruh hati selain dari aspek kecantikan. Pegang kata-kata saya. Jalan hidup bukan cuman lurus, masih ada cabang jalan dengan berbagai hal yang bisa dilalui oleh masing-masing jalan."
"Benarkah?" Adimas sekali lagi mengangguk.
"Saya punya kakak perempuan, dia juga suka menebarkan hal positif makanya saya seperti ini. Saya suka menerima energi darinya. Kamu mengingatkan saya padanya," Pada akhirnya Adimas berterus terang meski tidak semua diungkapkan. "Ara, kamu gak boleh lukai diri kamu, oke? Jantung kamu berusaha keras berdetak agar kamu hidup —jangan sia-siakan setiap detaknya."
Ara memegangi dadanya sebelah kiri untuk merasakan detak jantungnya. Tersenyum begitu iramanya terasa oleh telapak tangannya.
Apa yang dikatakan Adimas benar, di sana ada yang bekerja keras untuknya hidup. Sementara dirinya —hanya karena seorang laki-laki dia merasa tertekan dan ada dititik bawah. Namun, masih tidak mudah bagi Ara untuk mencoba kembali ke kondisi semula.
"Dokter benar, dia bekerja untukku. Detaknya seolah ingin aku supaya tetap hidup dan bernapas. Mereka bekerja untukku bukan, Dok?" Senyuman tipis itu bisa Adimas lihat begitu tulus, ada rasa bahagia jika melihat pasiennya sudah mulai menurunkan rasa kekhawatiran. "Apa.. boleh aku berkonsultasi pada dokter untuk menangani kecemasanku?"
"Saya tidak bisa menghilangkan apa yang kamu rasakan, hanya kamu seorang yang bisa menghilangkannya. Tetapi saya akan coba mengurangi dengan memberikan dorongan saja. Saya ini masih manusia biasa, bukan Tuhan yang berkehendak atas segalanya, dan saya hanya membantu sebagai sesama manusia," ungkap Adimas.
Kemudian tangannya bergerak menuliskan beberapa resep untuk Ara. Coretan khas seorang dokter di atas kertas resep itu langsung diserahkan usai melihat kembali hasil diagnosanya.
"Diminum sesuai dosis dan waktunya, ya. Kurangi memikirkan hal yang bisa memicu depresimu kembali. Coba sibukkan diri seperti menonton youtube, menggambar, atau hobi yang kamu suka. Rutin istirahat dan jaga kesehatan juga, makan yang teratur, dan jangan stress. Itu point pentingnya."
"Terima kasih, Dokter Adimas."
"Sama-sama. Untuk kontak saya, bisa hubungi nomor ini." Adimas menyerahkan kartu identitasnya. "Disitu ada jam praktek saya di rumah sakit maupun di rumah. Hubungi saja kalau memang kamu butuh konsultasi lagi."
"Sekali lagi, terima kasih."
***