Seminggu setelah pengobatan pertamanya di rumah sakit, baik Ara maupun Sinta sudah merasakan tanda-tanda perubahan yang baik di diri Ara. Dia jauh lebih bisa mengontrol emosinya meski kadang-kadang sudah ingin menangis atau marah. Obat yang diresepkan Adimas menstimulasinya agar lebih tenang dan terkontrol emosinya.
Sebagai seorang ibu, Sinta tentu saja ingin yang terbaik untuk putri satu-satunya tersebut. Ara adalah harta yang berharganya sekarang sejak sang suami telah meninggalkan keduanya untuk selamanya karena serangan jantung.
Tubuh Ara pun semakin berisi seperti semula daripada sebelumnya sangat kurus dan terlihat seperti tulang saja. Kalau diingat, padahal Ara ini tidak pernah mengalami stress yang berat seperti kemarin. Dan Sinta tau jika Jovan bukanlah pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidup Ara.
Selain rutin meminum obat, setiap malam jika ada kegelisahan dalam diri Ara muncul, perempuan tersebut mencoba mengobrol dengan Adimas -meminta saran dan konsultasi lebih untuk masalah kesehatannya.
***
Sabtu ini hari libur, Adimas tidak ada acara apapun karena sudah sibuk tiga hari belakangan dan sekarang sudah jatahnya untuk istirahat. Lelah menjadi hal biasa jika dia mendapatkan pasien yang sedikit brutal seperti kemarin di salah satu rumah sakit jiwa di pusat kota.
"Adimas, kamu gak mau cari istri aja to? Libur gini mending kamu cari calon pendamping aja," tutur Mira, ibu Adimas yang sudah berkepala lima namun wajahnya masih saja terlihat awet muda.
Telinga Adimas sudah bosan mendengar Mira selalu memintanya mencari calon istri. Karena memang Adimas sudah berumur mau 28 tahun, jadi wajar saja kalau sudah digebrak-gebrak untuk mencari pendamping hidup. Di kampung Mira, seusia Adimas bahkan sudah memiliki anak dua.
"Ibu ini, Adimas kan masih sibuk, Bu. Belum cari yang pas juga buat istri nanti. Adimas juga masih mau membahagiakan Ibu dan Dana dulu," balas Adimas tidak mau memusingkan diri.
"Apa mau Ibu jodohkan saja dengan anak temennya Ibu? Dia cantik dan masih muda juga loh," tawar Mira yang langsung diberi gelengan oleh Adimas sebagai bentuk penolakan keras. "Terus kamu maunya gimana? Ibu kan pengin juga nimang cucu."
"Tunggu sebentar lagi ya, Bu. Adimas janji akan segera mencari calon yang pas untuk Adimas. Kalau saja Kak Adara masih hidup --dia pasti sudah menikah dan punya anak yang lucu," perkataan Adimas membuat luka lama hadir kembali.
Mira juga merindukan putri sulungnya, Adara Jihan. Ketika mengingat kasus kematian Adara yang mengenaskan gantung diri di pohon dekat sungai, Mira mengutuk laki-laki yang memperkosa putrinya tersebut karena enggan bertanggung jawab. Karma memang tak lama kemudian datang. Lelaki yang memperkosa Adara mengalami kecelakaan dan lumpuh total di kedua kakinya sehingga tak dapat berjalan normal seperti sedia kala.
Sekarang di rumahnya hanya ada dua anak laki-lakinya saja. Dia sudah bercerai dengan mantan suaminya karena perbedaan keduanya tak dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Meskipun begitu, sebagai seorang Ayah dari anak-anaknya, Wisnu, selalu memberikan uang bulanan untuk kebutuhan mereka karena masih bagian dari tanggung jawabnya
Kalau dibilang sepi memang selalu sepi saat siang hari, ketika malam barulah rumah akan lebih ramai. Danara --adik Adimas, sudah mau masuk ke semester 5 di jurusan Ilmu Komunikasi. Jadi kadang dia pulang malam kalau ada urusan organisasi dulu.
"Heh, mahasiswa apaan bangun siang. Ck, ck," ejek Adimas melihat Dana baru keluar dari kamar dengan menguap khas orang bangun tidur.
"Semalem ngerjain tugas dosen. Jadi baru tidur jam dua pagi, terus subuh bangun juga sebentar buat sholat dan tidur lagi deh," balas Dana menghampiri ibu dan kakaknya. "Kakak gak mau jalan-jalan gitu? Nonton yuk ke bioskop. Ada film baru."
"Film apa?"
"Train to Busan 2."
"Eh, udah keluar beneran?"
"Beneran. Makanya yuk."
Sudah lama Adimas tidak menonton film di bioskop apalagi dengan adik laki-lakinya yang suka mencari promo diskon makanan ini. Dia pun mengiyakan dan meminta Dana segera bersiap-siap.
Dana senang akhirnya ada waktu bersama dengan kakaknya yang hobinya sibuk di klinik atau di rumah sakit mengurusi pasien-pasien yang suka membuat Dana sendiri takut. Pernah saat dia mengunjungi kakaknya di rumah sakit jiwa -tempat kakaknya pertama kali bekerja, Dana malah dikejar orang gila hingga naik ke pohon.
Makanya dia kapok berkunjung ke rumah sakit jiwa atau berakhir seperti hari itu. Kalau rumah sakit biasa dia masih oke aja.
Butuh waktu 20 menit Dana bersiap dengan style andalannya serta Adimas dengan kemeja putih yang gemar dia pakai, mereka pun berangkat menuju ke bioskop terdekat. Tidak lupa berpamitan dulu dengan Mira sebelum pergi.
Jakarta hari itu cukup macet karena hari libur. Banyak yang memilih pergi jalan-jalan juga daripada berdiam di rumah karena hari minggu pun akan lebih ramai daripada hari ini. Makanya, Dana juga memanfaatkan waktu senggang Adimas karena minggu biasanya keduanya juga sibuk untuk mengurusi kegiatan masing-masing di dalam kamar.
Sesampainya di bioskop, Dana langsung menuju ke loket dan memesan dua tiket. Untung saja tiket tersisa masih ada dengan seat kursi yang strategis unthk menonton film zombie kesukaan mereka.
"Kamu mau beli popcorn sama minuman? Nanti kakak ke tempat yang jual makanan kalau kamu mau," Adimas menawarkan pada Dana yang hobi makan.
"Mau lah. Yang ukuran large buat popcorn sama minumannya Fanta aja. Gak usah pesen yang lain, itu aja udah cukup buat kita berdua, Kak," ucap Dana yang diangguki oleh Adimas.
Lelaki itu segera menuju ke tempat yang menjual makanan di dalam bioskop dan memesannya segera atau dia bisa terlambat menonton bioskop. Sambil menunggu pesanannya diberikan, Adimas mengeluarkan dompetnya untuk pembayaran melalui kartu debit miliknya karena lupa membawa uang cash.
"Dokter Adimas?"
Karena seseorang memanggil namanya otomatis Adimas menoleh ke arah samping -sumber suara itu berasal. "Loh, Ara? Kamu lagi di sini, ya?"
"Iya. Saya diajak sepupu saya buat ke sini. Katanya minta ditemenin nonton film," jawab Ara menunjuk perempuan yang sedang memesan tiket di ujung. "Dokter sendirian?" Ia bertanya karena hanya ada Adimas saja yang di situ.
"Oh, saya diajak adik buat nonton juga."
Karena pesanannya sudah disajikan dan Adimas pun membayarnya langsung, dia pamit untuk kembali ke Dana yang sudah menunggunya di bibir pintu masuk karena film akan segera dimulai.
"Saya pamit dulu ya. Mari."
"Mari, Dok."
Seusai itu, dia benar meninggalkan Ara yang juga sedang memesan makanan yang sama dengan dokter itu. Adimas yang sudah bersama dengan Dana memasuki bagian dalam bioskop yang berisikan kursi dan layar besar untuk menonton.
Dana memilih tempat yang pas sehingga mereka nyaman menonton film bergenre thriller ini. Makanan mereka dia letakan di samping supaya tidak jatuh karena jika dia menaruhnya di bawah akan ditendang orang yang lewat. Sedangkan minumannya masih dipegang oleh Adimas.
Sembari menunggu film dimulai, Dana iseng bertanya karena tadi sang kakak sedang bercakap dengan Ara dan terlihat cukup akrab.
"Eh, Kak. Tadi pacarnya Kakak ya?" tanya Dana tersenyum jahil.
"Bukan, itu pasien kakak. Jomblo gini dibilang punya pacar kecuali kamu tuh yang udah punya pacar," balas Adimas dengan datar.
Dana tidak langsung percaya. "Gak ah, pasti itu pacar kakak. Lagipula, kakak kelamaan gak nikah-nikah makanya aku sama Ibu sering suudzon kan setiap Kakak chat atau gak sengaja bawa temen perempuan ke rumah walaupun rame-rame," timpalnya hingga membuat ia mendapatkan jitakan pelan dari Adimas.
"Kamu tuh gak usah aneh-aneh, kakak masih single. Doa in aja segera dapet pasangan yang pas buat jadi istri kakak nanti," tandasnya.
Kepala Dana yang sakit terkena jitakan ia elus pelan dengan lembut. "Ck, yang jadi istri kakak harus sabar soalnya kakak doyan jitak kepala adeknya." Dana kesal karena itu benar-benar sakit dan berdenyut kecil. "Kalau masalah cocok, tadi cocok aja sih yang jadi pasiennya kakak. Dia emang kenapa?"
"Tebak sendiri. Kakak jadi dokter bukan buat sembarangan kasih tau yang dia lagi alami," jawab Adimas yang selalu tau akan profesinya meski sang adik suka iseng bertanya hal-hal seperti itu.
"Eumm-," Otak Dana mencoba berpikir keras. Mau menebak benar atau salah, dia ragu kalau Adimas akan menyetujui tebakkannya atau tidak.
"Depresi karena gagal nikah?"
"Uhuk!"
Tumben Adimas kaget kalau Dana benar menebak. "Tebakan kamu kok bener?" Adimas curiga kalau Dana tau isi pikirannya.
"Kan cuman iseng-iseng. Biasanya cewek depresi gak sih kalau emang ditinggal nikah? Biasanya kalau udah lama pacaran atau aslinya udah siap disah-in aja cuman cowoknya batalin mendadak," ungkapnya berdasarkan cerita dari teman-teman kampusnya yang kalau gabut curhat masalah pacar atau menikah.
"Bisa jadi. Tapi bener sih kamu nebaknya. Kebanyakan pasien kakak juga karena gagal menikah, sampai mereka gak kuat dan akhirnya masuk ke rumah sakit jiwa karena otak dan pikiran gak bisa dijalani dengan normal lagi. Fase dimana mereka mulai berhalusinasi. Tapi beruntung, dia belum depresi yang beratnya sampai gak bisa bedain kenyataan sama halusinasinya, jadi dia paham setelah kakak kasih dorongan," jelas Adimas.
"Nah, karena pasien Kakak tadi gagal nikah dan kakak masih jomblo, gimana kalau kalian aja yang menikah?"
Adimas menatap tajam Dana. "Kamu tuh-"
Belum sempat membalas, sudah ada suara dari petugas yang mengintruksikan untuk semua penonton harap diam atau mengecilkan volume suaranya serta mematikan ponsel supaya tak ada satupun yang merekam di dalam ruangan karena melanggar peraturan dan beresiko dikeluarkan secara paksa dan ponsel bisa disita. Film sudah akan dimulai dan Adimas mengurungkan niat memarahi Dana yang seenaknya bilang begitu.
Masalah menikah masih menjadi topik perbincangan di rumahnya. Entah ibunya ataupun Dana sama-sama ingin Adimas segera menikah. Karena dia pun sudah bekerja selama 2 tahun dan sudah memiliki rumah sendiri hasil menabungnya selama kuliah, dia memang sudah mantap berumah tangga. Tinggal bagaimana nanti Adimas mencari pasangannya.
Dan tentang Ara ---sejak menjadi pasiennya, Ara memang sering menghubunginya. Keduanya menjadi cukup dekat dalam waktu kurang dari seminggu. Kalau ditanya perasaannya terhadap perempuan itu, jelas Adimas belum memiliki perasaan apapun. Masih hanya perasaan seorang dokter yang terkadang iba terhadap pasiennya.
Namun, dia masih terkagum bagaimana Ara sering bercerita jika dia berusaha keras melawan masalah kesehatan mentalnya. Itu kembali mengingatkannya pada Adara meski pada akhirnya Adara menyerah.
Adimas berharap itu tidak terjadi pada Ara. Perempuan tersebut harus tetap hidup dan melanjutkan hidup sesuai jalan yang ditempuh.