Chapter 5

1800 Kata
Jaket tipis yang dibawa Ara memang menjadi pilihan bagus sekaligus buruk. Keluar dari ruangan usai film berakhir, justru yang dia hadapkan adalah hujan deras di luar gedung itu. Dia dan Ina -sepupunya, ke sini menggunakan kendaraan umum. Jadi mereka harus menunggu hujan reda jika ingin pulang. Sudah 30 menit berlalu namun tak ada tanda-tanda hujan akan reda, ini membuatnya semakin resah jika tidak segera pulang. "Ina, kalau pesan Grab cukup gak uangnya?" tanya Ara. "Enggak," balas Ina yang cemberut pada hujan. "Uangnya cuman cukup buat naik angkot sama KRL aja. Uang Ina lainnya masih di rumah. Kita berdua sama-sama gak bawa kartu ATM. Duh, gimana ya." Ucapan Ina memang benar. Kalau ditotalkan, sekitar 70 ribu untuk sampai ke rumah Ara karena meskipun di google dekat, namun jalanan Jakarta ini bisa dilebih jauhkan jika menggunakan aplikasi tersebut. Makanya mereka jadi hemat uang aja daripada menggunakan aplikasi ransportasi online. Benar-benar sangat mahal. Ara juga terbiasa menggunakan transportasi umum seperti bus dan kereta karena saat berkuliah di Korea, ia sering menggunakan dua transportasi tersebut karena nyaman. Opsi satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu hujan reda. Sayangnya, langit seolah tidak mau menunjukan tanda-tanda cerah dalam waktu dekat. Ditambah hujan semakin turun dengan lebat. Semua orang harus sabar menunggu sampai hujan reda atau gerimis. "Ina, mau kemana?" tanya Ara heran saat sepupunya malah masuk ke dalam bioskop lagi. "Tadi temen chat kalau ngajak Ina pulang bareng. Tapi dia cuman bawa motor, satu lagi. Ina coba ke dia dulu nanya ada boncengan lagi gak buat Ara," jawab Ina lalu menghilang dibalik kerumanan. Tersisa Ara diantara orang-orang lain yang masih berteduh di sana. Ina lama sekali pergi untuk menemui temannya tersebut. Entah berapa lama gadis itu akan kembali, nampaknya Ara sudah mulai gelisah ditinggal sendirian saja di sana. Ditambah orang-orang semakin banyak yang berdiri di dekatnya. Seorang pria tidak dikenalnya berdiri epat di sampingnya sambil mengisap rokok. Ara benci bau tersebut, dia tidak suka jika ada orang merokok tidak tau tempat seperti ini. Padahal sedang hujan, sempat-sempatnya merokok di dekat kerumunan orang. Tiba-tiba saja tangan lelaki tersebut menempel sembarangan ke area sensitif Ara dibagian bawah membuat perempuan tersebut terjengit kaget. Dia refleks bergeser menjauh supaya tidak dekat-dekat dengan pria tersebut. Tetap saja, pria itu tidak kapok dan kembali bergeser ke arah Ara dan melakukannya sebanyak dua kali. Ara sangat tidak nyaman, dia ingin mundur tetapi dibagian belakangnya terdapat banyak orang dan di depannya persis ini sudah mepet dengan batas antara hujan dan tempat kering. Baju Ara sudah sedikit basah karena cipratan hujan. Belum lagi Ina tak kunjung kembali, semakin resah jika Ara terlalu lama di sini dan di dekat pria tersebut. Sebuah tangan akhirnya menariknya mundur dari kerumunan dan membawanya ke tempat parkiran. Tentu saja Ara sempat kaget sebelum akhirnya menyadari kalau orang yang menariknya ini adalah Adimas. Mereka berhenti saat di samping mobil lelaki tersebut. "Maaf saya tiba-tiba tarik kamu, soalnya ada temen kamu yang minta bantuan saya tadi," tutur Adimas lalu Ina muncul dari sisi lain mobil. "Araaaa," Ina langsung memeluknya dengan perasaan khawatir dan cemas. "Duh maaf banget. Tadi temenku ternyata udah pulang. Terus ada om-om aneh bilang mau ngincer cewek pakai jaket pink sama celana kulot. Pas aku sadar, itu cuman ada kamu di sana!" Ia menjelaskan dengan napas memburu. "Terus, kenapa kamu bisa minta bantuan sama dia?" tanya Ara menunjuk pada Adimas. Ina mengatur napasnya dulu sebelum melanjutkan, "Tadi aku lihat orang ini kayak gak asing. Pernah lihat gitulah, kayaknya dokter di rumah sakit yang sering aku kunjungi. Dan mukanya kek orang baik jadi aku minta tolong aja lah reflek." "Oh gitu ternyata. Ya udah, sekarang aku gak pa-pa. Tapi tadi emang sempet bagian belakangku dipegang sama dia, padahal aku udah geser tempat," imbuh Ara sedikit takut jika mengingatnya. "Kamu gak pa-pa kan? Maksudnya —itu.." Ucapan Ina sedikit menggantung tidak bermaksud untuk membahas masalah kecemasan Ara di depan orang lain, dan Ina tidak tau jika Adimas ini dokter yang menangani Ara. "Aku gak pa-pa, udah baik kok. Ayo kita balik nunggu hujannya reda terus pulang. Mamaku pasti bakal khawatir kalau kita kelamaan keluar meskipun tau kita gak bisa pulang karena kejebak hujan deras," yakinnya pada sepupunya tersebut. "Punten, teteh. Gimana kalau bareng aja?" tawar Dana yang mendapat pelototan dari Adimas. Maksud adiknya itu sebetulnya baik, tapi ada alasan tersirat yang Adimas tau apa. "Kita bukan orang jahat, Teh. Saya masih sayang Ibu, masih muda juga. Belum dapet pacar, gak mau jadi orang jahat lah." Memang tampangnya sih gak ada muka jahatnya sama sekali, justru Dana terlihat lucu saat berbicara tadi. Padahal dia terlihat sudah seperti mahasiswa semester tua. "Gak pa-pa nih kita numpang kalian? Takut repotin aja gitu," balas Ara menanyakan lagi. "Boleh atuh. Kan teteh sama kakak saya udah kenal, jadi ya saya tawarin buat anter pulang gak salah kan?" Perkataan Dana membuat Adimas kembali menolot, dan Ina terbingung. "Kalian udah saling kenal?" Dia menatap Ara sama Adimas bergantian. "Dia dokter yang tadi pagi aku ceritain, Na." Ara mengulas senyum kecilnya. "Ini dokter Adimas, dia juga yang waktu itu tolong aku yang udah kacau banget keadaannya." Mulut Ina menganga setelah dijelaskan sedikit, dia baru paham dan baru melihat sosok dokter yang berjasa untuk sepupunya. Meskipun sebentar dalam menangani Ara, Ina sangat bersyukur karena Ara bercerita betapa berharganya kedatangan Adimas dalam hidupnya sedikit mengubah pikirannya menjadi lebih baik lagi. Cukup oke sih wajah dan proporsi badan Adimas, dia nampak lebih keren jika menggunakan setelan jas putih dokternya. Bukan karena Ina penggila profesi yang selalu berkontak dengan pasien tersebut, ini karena dia sering menonton drama korea bertema rumah sakit. "Ra, dia udah nikah belum?" bisik Ina pelan di dekat daun telinga Ara. Ara meliriknya heran. "Gak sopan tanya begitu, Na. Mau dia udah nikah atau belum bukan urusan kita," komentarnya. "Bener juga sih." "Mari masuk. Kita jamin gak akan ngapa-ngapain kalian apalagi bawa kabur. Orang ganteng harus ganteng juga hatinya, hehehehe," Dana mempersilahkan dua perempuan tersebut naik dan duduk di kursi bagian belakang. Setelah semua orang naik ke mobil Adimas, mereka mulai meninggalkan gedung bioskop dan menerjang hujan yang sudah membasahi jalanan ibu kota. Selain diguyur hujan yang berpotensi menyebabkan banjir, kemacetan di jalan menjadi hal lumrah dan ciri khas ibu kota negara Indonesia tersebut. Kalau Jakarta tidak ada kemacetan akan menjadi hal aneh bagi seluruh masyarakat apalagi penduduk Jakarta sendiri yang akan merayakan lenggangnya jalanan. Dana memutar badannya menghadap Ara yang duduk tepat di belakangnya. "Teh, mau tanya. Teteh masih kuliah atau udah lulus? Soalnya masih muda. Kepo aja hehehehe." "Saya udah lulus, bulan lalu baru pulang setelah kelulusan. Umur saya juga 25 tahun." Ara berujar. "Emang kuliahnya dimana?" tanya Dana lagi. Adimas hanya menggeleng heran, tidak mengerti kenapa adiknya jadi sekepo ini semenjak Adimas berkata bahwa Ara adalah pasiennya. Adeknya siapa sih? Kak Dara aja gak kek gini. "Pas ngejar S1 nya di Bandung terus lanjut S2 nya di Seoul National University buat ambil jurusan Landscape Architecture," jawab Ara membuat Dana menggumam kagum karenanya. Usia Ara ini tidak jauh dengannya, sekitar beda 3 tahun dengan Dana yang baru akan menginjak usia 22 tahun —untuk tahun depan. Kuliah hingga S2 saja sudah membuat Dana terkagum-kagum, apalagi yang melanjutkan studinya di luar negeri. Di negeri berisikan idol Korea dan aktor kesukaannya. Dana ini meskipun berwajah bad boy, sesungguhnya itu rupa yang tidak sengaja diturunkan dari Ayahnya. Padahal hobi dia nonton drama korea untuk menemaninya mengerjakan tugas kuliah. "Keren, Teh, aku juga mau lanjutin kuliah di luar negeri. Cuman ini aja masih semester 5, suka ngeluh tugas dosen yang sukanya gak ada otak. Pasti pas teteh kuliah juga ngeluh kayak gitu kan? Dosen tuh suka kenapa sih kasih tugasnya aneh-aneh." Sumpah, Adimas jadi pengin lakban mulutnya Dana yang mendadak curhat gini di depan Ara sama Ina. Kan jadi gak enak gitu. "Maaf ya, Ra. Adik aku agak cerewet. Maaf kalau bikin kamu gak nyaman, saya nanti marahin dia." "Enggak pa-pa, Dok. Adiknya lucu, saya juga gak masalah dia tanya-tanya ke saya. Kali aja memang dia pengin cairin suasana," balas Ara disusul senyuman tipis. Obrolan berlanjut saat Dana masih terus bertanya-tanya pada Ara, sementara Ina sendiri masih sibuk dengan ponselnya. Tepatnya Mama Ina menelpon anaknya untuk bertanya kapan mereka akan pulang, kemudian dilanjut Ina menanyakan perihal beasiswa yang akan dia ambil serta kesempatan double degree di luar negeri. Ina ini telat berkuliah selama dua tahun, umurnya pun sama seperti Dana.  Tetapi karena sudah akrab dengan Ara jadi dia tidak memanggil Ara dengan sebutan kakak. Hujan mulai reda bertepatan mobil Adimas berhenti di depan rumah Ara. Adimas mengeluarkan payungnya yang ia taruh di sampingnya dan dia mengantarkan dua perempuan tersebut untuk berteduh di balon rumah Ara. Dana tidak ikut turun karena hanya ada satu payung yang Adimas bawa. Sehingga dua kali ia mengantarkan mereka secara bolak balik. Lengannya sedikit basah karena cipratan air hujan. "Mau mampir dulu, Dok?" "Terima kasih. Saya harus pulang juga." "Ini masih hujan." "Tidak masalah. Saya permisi." Hanya memberikan senyum sebagai tanda pamit, Adimas bergegas kembali ke mobilnya. Tidak butuh waktu lama setelahnya mobil tersebut meninggalkan rumah Ara dengan kecepatan biasa. Ara dan Ina hanya memperhatikan mobil tersebut yang semakin menjauh hingga akhirnya hilang karena jarak yang sudah tak terkira. Keduanya kemudian masuk ke dalam dan Mira nampak cemas saat anaknya belum pulang dari bioskop. Entahlah, semenjak Ara menjerit karena ditinggal pacarnya menikah, Mira jauh lebih khawatir daripada biasanya. "Mama cemas sama kamu, Ra. Takut kenapa-napa kayak kemarin," cemas Mira. "Ara gak pa-pa, Ma. Tadi cuman kejebak hujan makanya gak bisa ke stasiun. Mau pesen Grab tapi gak ada uang cukup. Lagipula, Ara sama Ina kok jadi Mama gak perlu cemas," yakinnya menggenggam tangan Mira. "Iya, Mama tau. Namanya juga naluri seorang Ibu, tidak ada seorang Ibu yang tidak khawatir pada anaknya. Terutama anak perempuannya, kamu cuman satu-satunya milik Mama." Tidak ada yang salah dengan perkataan Mira, semua itu memang benar. "Oh iya, tadi pulang naik apa?" Mira bertanya kemudian. "Kita ditawarin sama orang. Kebetulan dia ternyata dokternya Ara —agak gak enak sih sebenernya, tapi karena ditawarin jadi ya udah kita ikut," bukan Ara yang menjawab, melainkan Ina. Mira tidak terlalu kaget dengan orang tersebut. Mira mengangguk-angguk paham. "Ternyata ada hal baik yang terus berdatangan setelah kamu ketemu sama dokter Adimas. Mama bersyukur sekali," jujurnya. "Ma, aku mau ke kamar dulu ya? Mau mandi sama ganti baju," kata Ara yang diangguki oleh Mira. "Oh iya, boleh. Ina nanti bantu Tante ya masak buat makan malam? Kamu hari ini nginep dulu di sini, udah lama juga kan gak main." Mira langsung mengajak Ina untuk duduk di ruang tengah. Sementara Ara langsung menuju ke kamarnya. Dia jadi kepikiran dengan obrolan dengan Dana, adik Adimas, yang nampak ingin mrngakrabkan diri dengan Ara. Pernyataan Dana yang masih menjadi pikirannya ini sempat membuatnya sempat terkejut. "Teh Ara sama Kak Adimas cocok. Dana setuju aja kalau kalian menikah. Teh Ara pinter, Kak Adimas udah mapan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN