Jovan bersandar di kursi empuk milik EXN Corp, sebuah perusahaan milik Papanya yang kini sudah diwariskan kepadanya. Sebuah senyum puas terukir di wajahnya, tak menyangka bahwa seluruh isi ruangan ini sebentar lagi akan menjadi miliknya dan sebentar lagi ia akan menikah dengan kekasih yang dia cintai, yaitu Nayla.
Beberapa kali ia memutar kursi, menghadap ke arah luar kaca bening yang memperlihatkannya isi kota dari gedung lantai 8 tersebut. Bertahun-tahun ia memimpikan ada di posisi ini dan setelah dia menetapkan tanggal pernikahan dengan Nayla, maka seluruh perusahaan akan jatuh ke tangannya.
Rasanya Jovan beruntung, Nayla bukanlah perempuan bodoh seperti Ara yang bisa dia minta apapun hingga mahkota berharga dia ambil dengan mudah dengan berlagak orang mabuk.
Nayla, dia seorang perempuan cantik, kaya raya, pintar dan terlebih lagi anak seorang Mafia yang memiliki banyak relasi yang siap melindungi Jovan dari musuh-musuhnya. Terutama musuh di dunia perusahaan. Keluarga Nayla bukan sembarang Mafia, mereka sudah menjalankan pekerjaan tersebut dari Perang Dunia II dan menjadi salah satu yang terkuat.
Hubungan Nayla dan Jovan sudah jalan sejak lama, tepatnya ketika Jovan mulai bosan dengan kehidupan Ara yang hanya seputar berkuliah saja. Terlebih saat keduanya LDR, Jovan sudah berada di titik bosan yang paling dalam.
Satu tujuannya dari dulu akhirnya tercapai; melakukan hubungan intim dengan Ara. Rasa nikmat saat penyatuan keduanya masih dapat Jovan rasakan sampai detik ini. Tetapi, dia tidak boleh kembali suka padanya sebab Nayla akan membunuhnya jika tau ia kembali suka pada mantan kekasihnya.
"Hai, Sayang." Suara lembut menyapa telinga Jovan begitu pintu ruangannya mulai terbuka.
Seorang perempuan yang tidak lain adalah Nayla datang dengan sebuah senyum bahagia mendekati kekasihnya. Gaun sebatas paha dan belahan d**a yang nampak membuatnya terlihat seksi. Itu bisa membuat Jovan merasa panas hanya dengan melihat penampilannya saja.
"Baby, gimana gaun pernikahannya? Mau ganti lagi?" tanya Jovan saat Nayla duduk di pangkuannya dan merangkul bahunya. "Mau apa, hm? Bilang aja. Pasti akan aku turutin. Apa sih yang enggak buat kamu?"
"Aku mau Diamond and Tanzanite Cluster Necklace. Itu salah satu kalung yang pengin aku beli dan aku pakai di hari pernikahan kita nanti. Boleh ya, Beb?" pinta Nayla dengan mata puppy.
"Oh, boleh dong. Nanti aku suruh orang-orangku untuk beli kalung itu langsung dari tokonya. Kalau sampai gak ketemu, aku bakal tetep nyuruh mereka cari ke seluruh penjuru dunia buat cari kalung itu. My baby Nayla tidak boleh tidak mendapatkan apa yang dia inginkan," jawab Jovan membuat Nayla tersenyum lebih lebar lagi.
"Aaa, makasih sayang. I love you."
"Love you too, Babe."
Lalu tanpa aba-aba Nayla langsung menempelkan bibirnya ke Jovan, keduanya saling terlarut dalam ciuman itu hingga rasanya lebih nikmat. Ciuman tersebut bertambah panas, dan Jovan mengangkat tubuh Nayla hingga ke atas sofa ruangan.
Dia melepaskan ciuman mereka sejenak, berjalan menuju pintu dan mengunci pintu tersebut rapat-rapat hingga tak ada seorangpun yang akan masuk.
Ia kembali ke aktivitasnya mencium bibir Nayla yang begitu manis dan candu. Lidah mereka beradu. Nayla mengalungkan tangannya ke leher Jovan. Satu tangan Jovan begitu nakal langsung menurunkan bagian atas pakaian perempuan tersebut hingga dua benda kenyal bisa ia remas.
Ciuman Jovan turun hingga ke leher. Tangannya masih asik memainkan dua gunung yang begitu indah di tubuh Nayla, perlahan ia meremas sampai bibirnya sendiri kembali turun ke sana dan menghisap pelan. Nayla mendesah, merasakan sensasi yang ia rasakan ketika berhubungan intim dengan Jovan.
Permainan Jovan semakin liar, dia mulai memainkan bagian bawah dan sensitif milik Nayla. Gerakannya perlahan hingga semakin cepat. Tak kuasa perempuan tersebut mendesah, memanggil nama Jovan dengan nada yang sangat disukai lelaki itu.
Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menahan keinginannya, Jovan langsung pada permainan inti dan menyatukan miliknya dalam sekali masuk.
Keduanya hanya menikmati kegiatan tersebut selama beberapa waktu, ditemani dengan sunset dari gedung lantai 8 dan suara yang tidak akan terdengar karena ruangan tersebut kedap surara. Keringat membasahi tubuh mereka dan udara dingin dari AC tak mampu meredamkan panas keduanya.
Tok.. tok.. tok..
Tiga suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka yang sudah memuncak. Jovan berdecak dan ia serta Nayla buru-buru merapikan pakaian mereka sebelum orang yang berada di luar tahu apa yang tadi dilakukan.
Seolah tidak terjadi apapun, pintu dibukakan oleh Jovan dan lelaki tersebut sedikit terkejut dengan kedatangan Ryno, Papanya, dengan kemeja putih dan jas yang dia gantungkan di lengannya. Lelaki tua tersebut tersenyum hangat kepada Nayla dan duduk di sofa ruangan tersebut. Tujuan kedatangannya ke sana tak diketahui sama sekali oleh Jovan.
"Gimana dengan ruangan ini? Kamu suka?" tanya Ryno basa basi.
"Aku suka, Pa. Suka sekali. Ruangannya sesuai sama yang ada di pikiranku. Ternyata jauh lebih besar," jawab Jovan kembali memandang seluruh ruangan. "Ah, iya. Papa ada apa ya ke ruanganku?"
"Papa berencana membawa adik kamu kembali ke rumah kita setelah sekian lama," jawab Ryno.
Seketika raut wajah Jovan menunjukan rasa tidak suka atas rencana Ryno, dia masih membenci adiknya. Rasa benci yang sulit dihapus hingga detik ini karena masa lalu mereka yang tidak akur dan menyebabkan salah satu dari mereka kecelakaan.
Adik Jovan sudah belasan tahun tinggal dengan Oma mereka di kota lain. Sebagai seorang Papa, Ryno merasakan hubungan kedua putranya tidak pernah membaik tahun demi tahun. Maka dari itu, Ryno ingin membawa kembali putra bungsunya ke rumah utama—setelah lama dia hanya bisa menengok si bungsu dua kali setahun.
"Aku gak setuju," respons Jovan.
Sudah Ryno duga. Kalau seperti ini, keluarga mereka tidak akan diselimuti keharmonisan. Lagipula, sebentar lagi Jovan akan menikah dan istri Ryno, Bella, ingin mereka berempat kumpul bersama sebagai keluarga lengkap.
"Jovan, tolong ... kali ini setujulah dengan rencana Papa untuk membawa adikmu ke rumah. Mamamu juga merindukan anaknya yang lain. Papa sudah mengalah dan menerima permintaanmu agar dia saja yang tinggal di rumah Oma. Papa mau tahun ini kita berkumpul sebagai keluarga yang lengkap," pinta Ryno memohon dengan sangat.
Si b*****t itu kalau bocorin rahasia gue gimana? Selama ini emang aman-aman aja Papa kalau habis kunjungin dia di rumag Oma, cuman gue masih gak tenang, Jovan membatin kekhawatirannya.
Dulu, ada kesalahpahaman yang membuat Ryno akhirnya memilih mengalah pada Jovan ketimbang putra satunya. Biarlah dia dianggap tak pilih kasih, namun pada awalnya bukan maksud seperti itu. Semua masih berjalan normal sesuai keinginan Jovan hingga detik ini, iya begitulah.
Mata Ryno kali ini berkaca-kaca, berharap Jovan mau mulai menerima adiknya sendiri yang sama-sama sudah tumbuh menjadi dewasa. Ryno bisa menjamin bahwa sifat keduanya yang bertolak belakang akan melangkapi satu sama lain meskipun ia sendiri tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.
Nayla yang sedari tadi hanya memperhatikan bingung untuk memberikan suaranya. Ia tahu mengenai kebencian Jovan pada saudara kandungnya sendiri, dan karena hal itulah Nayla juga membenci saudara Jovan atas cerita karangan yang begitu luar biasa menguras emosinya sendiri. Tak pernah Nayla tahu kepribadian orang yang ia benci, namun segala sesuatu yang Jovan katakan selalu dianggap benar.
"Dia boleh tinggal tapi cuman dua hari," kata Jovan setelah menimbangkan perasaan Ryno dan Bella.
"Dua hari? Tapi—"
"Kalau Papa gak mau, aku bakal bakar gedung ini," ancam Jovan dengan tegas dan ia tidak main-main dengan ucapannya.
Lelaki tua di hadapannya hanya bisa menghela napas lalu menganggukan kepalanya. "Baik, Papa setuju. Dia akan tinggal selama dua hari. Tapi ingat, Papa akan tetap membuatnya tinggal di kota ini karena itu sudah menjadi keputusan Oma juga."
Kalimat terakhir tak bisa membuat Jovan berkutik sedikitpun. Kekuasaan tertinggi perusahaan memang masih dikuasai Papanya yang tunduk kepadanya, namun jika menyangkut Oma, semua akan berbeda. Jovan bukan hanya akan kehilangan pekerjaannya namun seluruh warisan jika sang Oma mengatakan 'tidak' sekalipun.
Ryno pamit pergi dan Jovan merasa tertekan atas hadirnya kembali sang saudara kandungnya. Meski berbeda rumah tapi mereka berada disatu kota, hati Jovan MASIH tidak akan tenang.