Waktu demi waktu telah berlalu. Puluhan hingga seratus lebih jam sudah keduanya habiskan untuk bersama mengenal satu sama lain. Setiap moment sebelum menikah terasa begitu berharga bagi Adimas maupun Ara, keduanya mulai mengikat diri untuk berkomitmen bersama dan siap untuk berumah tangga sehidup semati dalam suka maupun duka.
Persiapan pernikahan Ara dan Adimas sudah matang sempurna mulai dari perlengkapan hingga mas kawin. Bahkan, kedua ibu mereka pun tak menyangka bahwa anak-anaknya bisa mempersiapkan ini semua kurang dari satu setengah bulan dan hari yang dinantikan pun tiba tanpa terasa.
Iringan musik sudah terdengar di dalam sebuah gedung hotel tempat mereka sewa untuk melangsungkan pernikahan tersebut. Dekorasinya begitu cantik, sampai kerabat yang datang memuji selera Ara dan Adimas dalam memilih dekorasi pernikahan tersebut. Para penerima tamu dengan senyum ramah menyapa para tamu yang datang dari pihak Ara maupun Adimas.
Ara mengundang teman-teman kuliahnya saat mengejar S1 dulu, ia sebetulnya juga mengundang teman luar negeri namun kemungkinannya kecil sekali bagi mereka untuk datang. Sedangkan Adimas tentu saja mengundang teman sejawatnya sesama dokter di rumah sakit maupun yang dulu berkuliah dengannya di satu kampus yang sama.
Sudah banyak orang yang menunggu untuk dilangsungkan Ijab Qabul bersama. Adimas dan rombongan sudah datang terlebih dahulu memasuki hall dan disambut oleh banyak orang.
"Ganteng banget ini, Pak Dokter. Gak nyangka aja udah nikah aja kamu, mana gak pernah cerita kalau ternyata udah ada calon istri. Takut diembat temen ya?" goda salah satu teman Adimas hingga membuatnya tersenyum malu.
"Duh, iya nih. Padahal kayaknya mba-mba perawat di rumah sakit suka cari perhatian ke dokter Adimas. Taunya...," ucap Kenzo dengan nada gantung yang semua orang tau kelanjutan kalimatnya.
Mereka tertawa bersama saat bercandaan dengan pengantin pria tersebut yang sedang mencoba meredakan kegugupannya. Tidak bisa dielak bahwa Adimas cemas jika salah mengucap seperti kebanyakan orang yang masih pertama kali menikah. Meskipun pernikahannya tergolong dadakan, Adimas dan Ara sempat mengikuti kelas pra-nikah agar tidak sembarangan menilai pernikahan.
Di sisi lain, Ara masih dirias oleh make up artist dengan dandanan yang tidak begitu nyentrik dan masih tergolong flawless. Alasannya memilih riasan seperti itu karena dia sudah terbiasa make up bergaya Korea selama berkuliah di negara itu.
Gaun kebaya sederhana yang dia pilih untungnya begitu serasi dengan riasannya. Ada juga Heena berwarna merah di tangannya yang memiliki motif rumit namun cantik.
Tidak henti-hentinya sang MUA memberikan pujian atas kecantikannya hari ini. Sentuhan akhir sudah diberikan pipinya yang semerah peach di atas kulitnya yang berwarna putih pucat dan lipstick merah muda pun menambah pancaran aura bidadarinya.
"Geulis pisan. Pantes aja calon suaminya suka sama Neng, saya aja sampai kagum," puji sang MUA di depannya.
"Aduh ... makasih, Mba. Saya jadi malu," balas Ara yang tidak bisa menyembunyikan rasa malu setelah dipuji.
Setelah siap dengan dirinya sendiri, Mira datang menjemput untuk membawanya ke hall karena sebentar lagi acara akan segera dimulai. Dia tertegun dengan penampilan putri semata wayangnya tersebut, sangat cantik dan manis. Mira pun ikut memuji Ara dan senyum malu sekaligus sedihnya Ara tak dapat dia bendung.
Kemarin akan menjadi hari terakhirnya tidur di kamarnya dan tinggal bersama Mira. Untuk selanjutnya, ia akan pindah ke rumah baru bersama Adimas yang letaknya di dekat rumah sakit tempat calon suaminya itu bekerja.
Suara musik mengirinya langkahnya menuju ke tempat Ijab Qabul sedikit membuat rasa gugupnya bertambah. Ara menjadi pusat perhatian. Dia menjadi tokoh utama dalam acara hari ini, bersama dengan Adimas menjadi tokoh utama lainnya. Ia berjalan perlahan hingga tiba di samping Adimas. Adimas merasa jatuh cinta dengan kecantikan Ara, dia terlihat seperti perempuan polos dan manis di matanya.
Penghulu mulai menjabat tangannya dan mengucapkan kalimat yang harus Adimas ucapkan. Di depan dua saksi dan keluarga beserta tamu undangan, Adimas dengan lancar mengulangi ucapan dari Penghulu dalan sekali ucap.
Sorak gembira dan ucapan 'Alhamdulillah' secara serentak terdengar. Usai dibacakan doa dan Adimas mencium kening Ara, kini keduanya sudah sah menjadi pasangan suami-istri.
"Akhirnya temen aing yang satu ini bisa sold out," celetuk Darren bangga.
Mavin memukul lengan Darren yang seenaknya ceplas ceplos di depan muka umum. "Kalau mau ngomong gitu ya nanti dulu. Ini masih rame." Sesungguhnya, Darren yang ngomong tapi Mavin yang merasa malu.
Beberapa tamu undangan tertawa kecil, lalu melanjutkan acara dengan salam-salaman terlebih dahulu sebelum Ara dan Adimas berfoto bersama dengan buku nikah kemudian harus berganti pakaian untuk resepsi yang diselenggarakan hari itu juga. Foto singkat dengan ibu-ibu mereka dan juga Dana sebelum ke resepsi perlu diabadikan.
Ara langsung kembali ke ruang gantinya dan berganti menjadi gaun pengantin yang tidak terlalu lebar bawahnya dan terlihat sederhana namun ada kesan mewah dipandang. Rambutnya yang semula disanggul simpel diubah menjadi setengah terurai dan ada pita mutiara cantik beserta hiasan rambut lainnya yang menambah kesan indah.
Untuk Adimas, dia tak perlu memakan waktu lama dalam berganti pakaiannya. Kini, dia mengenakan tuxedo yang terlihat pas di badannya. Saat keduanya dijejerkan di panggung pelaminan, nampak ada keserasian satu sama lain.
Satu persatu tamu menyalami sang pengantin baru dan berfoto bersama sebelum menuruni panggung. Ucapan selamat satu per satu diberikan dengan suka cita, tak sedikit yang berkata semoga keduanya diberikan momongan segera—seandainya orang-orang tau bahwa Ara sedang hamil di usia kandungan 2 bulan saat ini.
"Kamu gak pa-pa 'kan?" Adimas bertanya—takut jika Ara mengalami kecemasan berlebihan di atas panggung.
"Eng—Enggak pa-pa. Tamu undangan dari keluarga kita sebentar lagi selesai," balas Ara mengangguk-angguk kecil sebagai respons ia baik-baik saja untuk saat ini.
Sapaan hangat kembali terpampang di wajah mereka, bergantian dari tamu keluarga kini sudah beriringan dari teman-teman Ara yang satu per satu memeluk temannya tersebut dan memberi ucapan selamat kepadanya. Mereka tidak lupa membawa hadiah untuk pernikahan Ara, beberapa terkejut jika suami Ara bukanlah Jovan.
Iya, ada yang mengetahui bahwa Ara berpacaran dengan Jovan. Bukan waktu yang singkat hubungan yang berjalan lebih dari 4 tahun tersebut. Dan hubungan kandas itu pun menjadi memori pahitnya. Tuhan telah memberikannya pengganti Jovan yang lebih baik dan lebih dewasa.
Selesai dari teman-teman Ara, kini berpindah ke rekan sesama dokter dari Adimas. Mereka kebanyakan sudah membawa istri beserta anak yang sudah remaja usianya. Ada juga beberapa perawat senior yang datang dan teman dari tenaga kesehatan yang dia rasa diundang secara cukup.
"Bro, nanti istri lo bisa kumpul sama istri-istri kita biar enak gitu. Anggep aja perkumpulan istri dokter sejenis istri pejabat," kata Kendo. "Sekalian dia bisa minta saran sama yang udah nikah lama dan nikah baru juga biar gak kaget aja sama peran dia."
"Kalau keadaan dia udah membaik baru boleh buat ikutan kumpul, ya. Buat bulan-bulan terdekat belum bisa," balas Adimas.
"Gampang. Kalau dia gak bisa ke sana ya istri-istri kita aja yang ke rumah baru lo. Ngerumpi cantik sebagai istri dokter, suami mereka aja demen ngegosip di kantin rumah sakit," timpal Dennis mendapat cubitan kecil dari sang istri. "Aww! Sakit ayang."
"Mulut kamu bisa diem gak? Mau tidur di luar kamar lagi hah?" ancam Istri Dennis.
"Iya, iya, Ayang. Duh, jangan galak-galak kalau di sini atuh, ini masih di nikahan temen kalau udah selesai boleh puas marahin aku," kata Dennis.
"Ya udah, ayo turun dulu kita kalau udah salam-salamannya. Pulang ini kamu bawa belanjaan dari swalayan. Awas aja kalau sampai kamu kabur kayak duku pakai alasan rapat sama dokter lain!" Istri Dennis sudah bodo amat dan mengambek hingga turun dari panggung pelaminan.
Dennis yang tidak enak pada kawannya meminta maaf karena sang istri sedang hamil muda sehingga emosinya sedang naik turun dan sensitif, lalu menyusul untuk menangkan wanitanya.
Tidak banyak pengunjung yang melihat jadi Adimas merasa lega karena tadi bukan sebuah keributan, hanya pertengkaran kecil nan tersirat antara suami istri. Adimas jadi ikut membayangkan rumah tangganya nanti, apakah akan dihiasi perdebatan kecil yang umumnya lazim terjadi di sebuah bahtera pernikahan?
Belum, Adimas akan memikirkannya nanti. Pasti Ara pun juga sama, namun tidak sejauh itu dia memikirkannya. Ia percaya, rumah tangga dengan pertengkaran kecil akan menjadi hal wajar. Adu mulut karena perbedaan pendapat dan diselesaikan secara baik-baik. Setidaknya tidak membuat mereka bertengkar hebat sampai membuat mereka berpisah. Ara sudah berprinsip akan menikah sekali dalam seumur hidup.
Ada jeda setelah menyalami satu persatu tamu yang kembali datang. Beberapa kali Ara minum dalam jumlah kecil, menghilangkan kegugupannya. Ia pun keringat dingin dan menyekanya dengan tisu dengan menepuk-nepuk area yang berkeringat itu.
"Masih capek?" Adimas sedang memastikan keadaan Ara, terlihat keadaan istrinya yang sedang hamil itu mulai kelelahan. "Kamu mau udahan? Nanti aku bilang ke Ibu kalau masih capek."
Ara menggeleng. "Enggak, aku gak pa-pa. Kita lanjut sebentar lagi aja gak masalah. Aku masih kuat," ucapnya.
Tidak bisa lelaki itu larang, Ara—meskipun sedikit pucat—masih tetap ingin berada di panggung pelaminan. Rasa mual masih bergejolak, ia ingin muntah namun tidak boleh dilakukan sekarang. Pakaian simple ini pun mulai terasa tak nyaman karena keringat mulai membasahi punggungnya. Padahal kebaya yang ia kenakan sebelumnya lebih tak nyaman karena terasa sempit.