Chapter 14

1195 Kata
Sepuluh menit setelah keduanya kembali melanjutkan acara salam-salaman dengan para tamu yang masih saja datang, dari arah pintu terlihat sepasang tamu yang membuat tangan Ara berhenti bergerak. Keringat dingin semakin banyak berkucur di pelipisnya. Kenapa... kenapa ada orang itu? Ara merapatkan diri ke Adimas, memeluk lengan lelaki tersebut dengan takut-takut. Gelagat yang gak biasa membuat Adimas cemas, arah pandangnya mengarah ke sumber membuat istrinya takut. "Kenapa ...?" tanyanya, masih memandang sepasang tamu yang mulai bergerak ke arah panggung. "Biasanya kamu takut karena satu orang—orang yang bikin rasa bersalah selalu muncul. Apa mungkin, dia itu ... mantan kamu? Iya kah? Ara, kamu tidak perlu takut. Saya ini suami kamu, saya akan menjaga kamu dari siapapun yang berusaha membuat kamu takut. Tenanglah, tenang. Ada saya, suami kamu." Genggaman tangan Adimas eratkan, sudah semestinya ia memberikan dorongan kekuatan dan semangat kepada istrinya dan menghilangkan sedikit demi sedikit ketakutan itu. Hanya sementara ini yang bisa ia lakukan, di depan seluruh tamu ia ingin Ara terlihat baik-baik saja. Sepasang tamu yang juga akan menikah itu—Jovan dan Nayla—mendekat dengan gandengan mesra yang keduanya tunjukan terang-terangan di depan Ara. Mira melihatnya dari jauh menjadi tidak suka. Ia dulu pernah berharap mantan kekasih putrinya itu menjadi menantunya, sayangnya harapan itu pupus begitu saja setelah hancurnya Ara ditinggal nikah sang mantan dengan wanita lain. Langkah demi langkah ditapakkan Jovan mulai meresahkan hati Ara, tak kuasa eratannya genggaman tangan kepada Adimas didominasi dengan kekhawatiran. Begitu Jovan sudah berada tepat di hadapan mantannya tersebut, dia melirik kecil ke arah Nayla dengan wajah penuh kesenangan—melihat penderitaan Ara datang saat menatap dirinya. Baginya, datang ke pernikahan orang yang pernah mengisi hari-harinya dulu ini merupakan sebuah kehormatan, meskipun ia sedikit terkejut saat berita perniakahan Ara terdengar sampai ke telinganya. "Selamat ya untuk pernikahan kalian ...," ucap Jovan terjeda sejenak, menatap penampilan Ara sedikit berbeda dari biasanya. "...wow, ternyata setelah melakukannya denganku, kamu bisa menikah dengan orang lain." Jovan benar-benar sedang mencoba merendahkan Ara di depan Adimas. Tatapanya berganti menuju ke Adimas yang tengah menahan emosinya. Dokter muda itu melihat Jovan bukan manusia yang sehat akalnya, rupanya memperlihatkan kelicikan dan ia ingin sekali menganggap Jovan tak waras. Tepukan kecil diberikan di bahu Adimas, masih dalam senyum licik. "Lo keren banget mau nikah sama yang bekasan gue. Gak usah munafik kalau misal incer harta mantan gue ini, gue tau kok," ucapnya tenang namun tangannya itu segera ditepis kasar oleh Adimas. "Saya munafik? Silakan berkaca dengan diri anda sendiri. Mau saya menikah yang anda anggap 'sudah bekas' itu sudah menjadi hak dan pilihan saya. Oh— saya bukan mengincar harta, saya memiliki banyak uang jika anda ingin tahu. Rumah yang saya bangun dari hasil kerja keras selama kuliah dan juga pekerjaan saya sebagai seorang dokter. Kalau anda masih memandang hal-hal berdasarkan sterotipe masyarakat dengan remeh, lebih baik tinggalkan kami berdua yang sudah resmi menikah dan biarkan istri saua tidak berhubungan apapun dengan anda lagi." Tenang, ia bersikap tidak ingin mengajak berkelahi Jovan terang-terangan di hari pernikahannya. Biarlah sang mantan Ara menganggapnya hanya membual semata, nyatanya Adimas sama sekali tidak seperti yang dikatakan oleh Jovan. Gigi Jovan menggertak kecil, ia lalu melirik tajam Ara yang terlihat gemetar hebat—sebuah pemandangan yang membuatnya sedikit lebih tenang. "Oke, gue hanya berpesan bahwa yang sudah menjadi bekas rasanya tidak akan sama lagi. Kalau itu keputusanmu, silahkan saja. Gue lebih suka calon istri saat ini yang sangat sempurna, dibandingkan dia yang berhasil memberikan mahkotanya kepada gue." Sama halnya dengan lelaki itu, Nayla pun memberikan senyum miringnya kepada sepasang pengantin tersebut sebelum pergi turun dari panggung. Tentu saja, ia tidak berpikir berbeda daripasa Jovan. Mereka ditakdirkan menjadi satu, manusia yang menyukai penderitaan orang lain. Nayla pun begitu membenci Ara yang dulu menjadi penghalangnya dalam menjalin hubungan dengan Jovan, meskipun statusnya saat itu adalah selingkuhan bukan pacar utama. Perginya dua orang yang nyaris membuat emosi Adimas meledak, kini fokusnya kepada Ara yang mulai terlihat lemas dan hampir saja pingsan. Keringat sudah bercucuran dengan mata sayu yang akan memejam sebentar lagi. Adimas memanggi beberapa orang untuk membantunya dalam mengurus Ara, terutama Mira. Dengan sigap ia membawa air putih dan minyak angin supaya kondisi Ara bisa memulih. Acara pun menjadi terhenti saat itu juga ketika kondisi Ara mulai memburuk dan harus segera dibawa ke dalam salah satu kamar hotel. Benar-benar mengkhawatirkan. Setelah membaringkan Ara di atas ranjang, Adimas mulai mengendurkan beberapa bagian dress yang dianggap sedikit mengganggu jalannya pernapasan. Tangan perempuan itu dipijat-pijat pelan supaya merasa lebih rileks. Ditambah Adimas memutar lagu yang digunakan untuk refleksi mandiri. "Bu, Adimas mau bicara dulu sama Ara. Ibu dan yang lain bisa tunggu di luar dan memberitahu tamu tentang kondisi Ara yang tiba-tiba drop, Adimas bisa tangani ini sebentar." Rendah, ia memohon dengan sangat agar mereka bisa membiarkan dirinya dan Ara berdua di dalam kamar tersebut. "Baiklah. Tolong buat anak ibu kembali pulih, nanti untuk tamu-tamu biar Ibu yang urus semua," kata Mira lembut, membuatnya terdengar lega. Sesudah orang-orang meninggalkan kamar hotelnya dan tersisa ia beserta sang istri, Adimas mulai membelai lembut surai indah yang dihiasi pita manis di kepala Ara. Ia mencoba melakukan anamnesa dengan kondisi istrinya sekarang— besar dugaan Ara mengalami serangan panik. Keringat diseka kecil-kecil dengan tisu, beberapa kali tangan Adimas menepuk pipi Ara supaya dalam keadaan sadar terlebih dahulu. Jalan napas istrinya masih belum stabil, sedikit tercekat dan tertekan. Jika kondisinya terus menerus seperti ini akan membuat Ara semakin dalam keadaan tidak bagus. Panic attack biasanya berlangsung maksimal 10 menit, dan apabila harus ada obat untuk menenangkan kondisi tersebut. Adimas memutuskan menggunakan teknik perilaku kognitif dengan masuk ke dalam pikiran Ara dan membawanya ke arah realistis untuk lebih tenang. Biasanya, teknik ini banyak digunakan saat pasien-pasiennya mengalami hal serupa. Sekitar 15 menit kemudian Adimas berhasil membuat keadaannya tenang. Mata Ara sudah terbuka, perlahan gangguan paniknya berkurang, dan kepalanya masih sedikit terasa pusing. Adimas membantunya untuk berbaring setengah duduk sambil kembali memijat tangan itu pelan dan nyaman. "Sudah lebih baik?" tanya Adimas masih cemas. "M-masih agak pusing." Ara memegangi kepalanya dengan tangan sebelahnya yang menganggur. "Acaranya pasti—" Adimas dengan cepat memotong, "Kamu gak perlu cemas, semua sedang ditangani oleh ibu. Yang penting untuk sekarang kamu fokus biar tidak terkena serangan panik lagi. Orang tadi pun sudah pergi, kamu bisa tenang." "M-maaf ... maaf kalau aku jadi mengacaukan pernikahan kita. Sungguh, tadi itu secara tiba-tiba saja terjadi," ucap Ara terbata-bata. "Sstt, tenanglah." Desisan kecil, tangannya beralih mengusap lengan Ara yang tidak terhalang oleh sehelai kain. "Tidak, ini bukan salahmu. Semua sudah terjadi bukan atas kehendak kita maka jangan merasa bersalah, oke? Hari ini hari bahagia kita dan jangan kamu teteskan air mata hanya karenanya, dia sudah menjadi masa lalumu, dan aku menjadi masa sekarang dan masa depanmu." Aku menjadi masa sekarang dan masa depanmu. Bolehkan Ara menangis mendengarnya? Namun, ia tidak bisa, Adimas sudah melarangnya menangis untuk hari ini. Riasan wajahnya yang cantik nanti akan menjadi kacau. Wajahnya terpatri harapan hanyalah agar senyum bahagia saja yang ia tunjukan. "Sudah, sudah. Kamu istirahat saja. Nanti malam kita sudah pindah ke rumah baru, dekat dengan rumah sakit tempatku bekerja. Kamu tidak boleh kelelahan, kasihan bayi kamu, Ara. Dia juga butuh istirahat. Saya mohon, lupakan kejadian tadi siang." "Iya, Mas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN