Acara akad nikah sekaligus resepsi sukses dilaksanakan dalam satu hari, tepatnya pukul 15.00 para tamu sudah pergi dan keadaan hall hotel menjadi sepi. Perlengkapan sudah dibereskan dengan cepat oleh tim wedding organization, para keluarga pun sudah kembali ke rumah masing-masing dan akan mengunjungi pasangan pengantin baru itu esok harinya.
Malam ini Adimas dan Ara membereskan beberapa koper berisi pakaian untuk dimasukan ke dalam lemari baru. Ada juga perabotan baru yang belum diletakan di tempat yang seharusnya, mereka masih sibuk untuk menata-nata terutama Ara. Ia ingin membereskan semuanya malam ini agar capek sekaligus.
Ara duduk di lantai bawah yang sudah ada karpet bersih untuk memisahkan beberapa jenis bajunya dengan milik sang suami. Tangannya telaten saat merapikan baju-baju yang kusut menjadi rapi seperti semula, ia pun menggantungkan baju yang seharusnya digantung dengan hanger seperti kemeja dan jas dokter milik Adimas.
Sementara Adimas baru selesai mandi. Wangi sabunnya tercium harum begitu tiba di kamar, tampilannya sudah terlihat segar.
"Mau Mas bantu?" tawar lelaki tersebut tepat duduk di samping sang istri. Sepersekian detik kemudian ia merasa geli sendiri karena memanggil dirinya 'Mas' kepada Ara, meskipun itu menjadi hal yang sah-sahnya saja.
Ara menoleh sebentar lalu tersenyum kecil. "Boleh, Mas. Bantu masukan baju-baju Mas ke dalam lemari, ya? Siapa tahu ada beberapa baju yang dipisah secara khusus," tuturnya lalu memberikan setumpukan baju dalam jumlah tak banyak ke Adimas. "Ada lagi gak ya buat yang dipisah? Misal yang pakai hanger sama yang enggak."
"Kemeja putih aja yang dipakaikan hanger, sisanya dilipat biasa aja," ucap Adimas membuat Ara mengerti dan segera memisahkan antara kemeja putih dengan baju Adimas lain.
"Ah, iya buat dasi-dasi ditaruh di gantungan baju yang biasa aja. Biar mudah mengambilnya pas mau berangkat ke runah sakit," imbuhnya. Ara mengangguk dan kembali melakukan pekerjaannya dengan tenang namun tangannya masih saja gesit menata ini itu.
Kegiatan memisahkan dan menata pakaian membutuhkan waktu sekitar satu jam lamanya, dikarenakan selain untuk mengetahui baju yang dipakai Adimas saat bekerja di rumah sakit. Sebenarnya, alasan rata-rata baju yang dikenakan berwarba putih adalah karena itu warna netral.
Semua pakaian sudah dimasukan ke dalam lemari denhan rapi. Baik milik Ara maupun Adimas memiliki bagiannya masing-masing karena lemari tersebut seperti dua lemari tunggal yang dijadikan satu.
Kini, keduanya mulai merasa perut harus segera diisi dengan makanan. Terutama dengan Ara yang sedang hamil muda, tidak boleh melewatkan makan tiga kali sehari demi kesehatan sang janin juga. Ara bingung apakah ia harus memasak atau membeli makanan di luar. Kalau memasak, tak ada bahan masakan. Sedangkan memesan di luar, takutnya Adimas tidak setuju. Lagi pun, tadi beberapa makanan dari prasmanan di bawa tapi pasti sekarang sudah dingin.
Akhirnya Ara mendekati lelaki yang sedang duduk di tepi kasur dan memainkan ponselnya. "M-mas ... Mas mau makan malam apa?" tanyanya dengan suara sedikit ragu-ragu, "mau makan di luar atau—"
"Kita pesan online saja. Kamu jangan terlalu kecapaian, Ara. Kalau mau masak sendiri, mulai lusa aja ya? Belum beli bahan masakan dan bumbu sama hal-hal dasar dapur lain, jadinya buat sementara kita makan lewat delivery online. Gak masalah 'kan?" Adimas pun takut jika perkataannya ini justru tidak sejalan dengan keinginan perempuan tersebut.
"Kalau Mas mau, aku juga mau. Tadinya memang mau pesan dari luar, cuman mau makan yang dari prasmanan tadi udah keburu dingin," terang Ara.
Adimas mengangguk paham lalu segera membuka salah satu aplikasi yang biasa untuk memesan makanan online. Ia tahu beberapa kesukaan Ara sehingga memesan makanan itu dan ia juga tak keberatan jika memakan menu yang sama.
Pesanannya tiba dalam 45 menit kemudian setelah ia melakukan pemesanan. Keadaan makanan masih hangat sehingga Adimas meminta Ara untuk segera makan bersama sebelum makanannya dingin. Melihat makanan yang tergeletak di atas meja makan adalah kesukaannya, Ara tidak bisa menyembunyikan senyuman yang sudah mekar di bibirnya.
Makan di meja makan dengan jendela yang tak tertutup oleh tirai dan memperlihatkan sinar rembulan yang masuk ke dalam membuat makan malam mereka terlihat begitu romantis tanpa sadar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, hanya tatapan mata yang menjadi kontak komunikasi keduanya. Rasa canggung masih belum bisa dihindari, sejauh mereka yang baru saja meresmikan status di KTP dan juga agama serta negara.
Beberapa kali pun mereka terciduk saling melempar senyuman dan akhirnya malu sendiri. Ah, sungguh menggemaskan jika dibayangkan, mereka masih belum bisa mengungkapkan perasaan masing-masing karena masih ambang.
Setelah makan malam dan membuang sampah bekas wadah makanan tadi, sekitar satu jam keduanya melakukan aktivitas masing-masing sebelum tidur.
Di rumah ini terdapat tiga kamar, satu difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang—miripnya adalah gudang, kemudian satu kamar lagi digunakan apabila ada tamu yang datang dan menginap. Keputusan keduanya tetap tidur satu ranjang dengan guling sebagai pemisah. Dan mereka tidur dengan arah yang berbeda.
Sebelum terlelap dalam tidurnya, Ara memutar lagu yang memiliki melody tenang agar tidurnya bisa cepat nyenyak. Menjadikan Adimas lebih tahu salah satu kebiasaan istrinya, yaitu memutar lagu sebelum tidur.
i bam geunare banditbureul
dangshine chang gakkai bonaelgeyo
eum saranghandaneun marieyo
na uriye cheot ipmajchumeul tteoollyeo
geureom eonjedeun nuneul gamgo
eum gajang meon goseuro gayo
nan padoga meomuldeon
morae wie jeokhin geulsshicheoreom
geudaega meolli
sarajyeo beoril geot gata
neul geuriweo geuriweo
yeogi nae maeumsoge
modeun mareul
da kkeonaeeo jul sun eopsjiman
saranghandaneun marieyo
eotteoke naege
geudaeran haenguni on geolkka
jigeum uri hamkke itdamyeon
a eolmana joeulkkayo
Musik yang indah. Bukan hal yang besar memang namun setidaknya ia ingin mengetahui hal-hal kecil berharga mengenai Ara. Yang ingin dia tahu lebih banyak agar masa depan rumah tangganya tidak terjadi kesalahpahaman ataupun tidak saling peka.
Jam segini Adimas jarang bisa tidur nyenyak, ia terbiasa tidur hampir mendekati pukul 12 malam setelah menyelesaikan pekerjaannya. Biasanya, ia masih mempelajari beberapa kasus, dimana perannya sebagai dokter muda masih harus banyak memahami penyakit dan gangguan yang sedang dialami oleh pasiennya.
Adimas merindukan masa Co-As, dulu ia menjadi mahasiswa yang cukup rajin, datang paling awal dan pulang paling akhir. Mempelajari hampir semua kasus pada setiap poliklinik yang ia sedang masuki. Meskipun ia cukup mengesankan dokter senior di poliklinik anak-anak, namun tetap saja tekadnya masih berada di Spesialis Kejiwaan.
Bisa dibilang juga Adimas dan teman-teman lainnya yang merupakan lulusan terbaik, terutama dia yang merupakan lulusan S2 dan meraih gelar sebagai dokter Spesialis tercepat. Berkuliah dan bekerja dalam satu waktu membuat lelaki tersebut memang tak sempat memikirkan hubungan asmara. Dikarenakan juga kisah diselingkuhi oleh mantan kekasih saat SMA membuatnya berhenti untuk berpikir seputar cinta dan fokus pada perkuliahan.
"Sebelum mencari siapa pasangan yang kamu cintai, Tuhan akan memberikanmu pasangan yang tepat terlebih dahulu. Jika ditakdirkan, kalian berdua akan saling mencintai seiringi berjalannya waktu. Percayalah, takdir tidak ada yang tahu. Maka, buatlah takdir kita asalkan tidak bertentangan juga dengan kehendak Tuhan."
Kenapa ... perkataan Adara terdahulu selalu datang tanpa sebab sebagai sebuah nasehat untuknya? Apakah ini berarti meskipun raga kakaknya sudah menyatu dengan tanah, namun jiwanya selalu menemani Adimas saat dalam keadaan bingung dan ragu akan sesuatu?
Adimas sedikit pusing memikirkannya, ia harus tidur malam ini karena besok harus kembali bekerja. Lagi pun, Ara sudah benar-benar terlelap. Jangan sampai ia membuat suara apapun yang bisa menganggu tidur sang istri.
Untuk keraguan yang tiba-tiba saja datang tanpa sebab di hatinya, ia harap besok sudah lenyap. Jangan sampai keresahan dan keraguannya ini bisa menganggu kehidupan barunya yang baru saja ia bangun hari ini. Tidak perlu meminta yang lebih kepada Tuhan, cukup segala yang dikhawatirkan secara jauh dihilangkan untuk saat ini. Biarlah dia menata apa yang harus ditata.
***