Chapter 16

858 Kata
Sudah pukul enam pagi. Alarm dari ponsel Adimas berbunyi cukup nyaring hingga membuat lelaki tersebut langsung terduduk bangun. Ia tersentak selama beberapa detik kemudian menyadari Ara sudah tidak ada di sampingnya. Perempuan tersebut bangun lebih awal tanpa mengeluarkan suara yang bisa menganggu tidur Adimas. Kesadarannya sudah terkumpul kembali, Adimas bergegas pergi mandi di kamar mandi dalam kamar terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mandi sebelum akhirnya tepat saat ia keluar dari kamar mandi, Ara pun membuka pintu kamar mereka. "I-itu, sarapannya udah siap di meja makan. Aku tadi beli bubur ayam pas ada tukang bubur lewat depan rumah," kata Ara memberi tahu. "Baik. Sebentar lagi ya, Ara. Saya— maksudnya, Mas mau pasang dasi dulu, kamu makan duluan dulu," ucap Adimas terlihat sama gugupnya dengan Ara.  Ara ragu-ragu pada awalnya, namun setelah keberaniannya terkumpul, akhirnya ia menawarkan diri. "Aku bantu pasangin dasinya ya, Mas. Sekalian bagiku belajar buat jadi istri yang baik untuk kamu." Ara mendekatkan diri ke Adimas lalu mengambil dasi sebelumnya di gantungan baju. Dasi itu ia lingkarkan terlebih dahulu di dalam kerah kemeja yang Adimas kenakan kemudian memasangkannya. Hati lelaki itu berdetak tak biasa, ada gelora yang bergejolak di dalam d**a yang nyaris membuatnya terasa meledak. Sedekat ini dengan Ara, wajah perempuan itu hanya berjarak 30 senti darinya, sedang sibuk menata dasinya supaya rapi. Adimas takut jika degub jantungnya akan terdengar dan napasnya yang coba ia hembus normal. "Sudah." Ara sudah mulai menjauhkan badan. "Mas mau ada hal lain lagi di kamar? Aku ke ruang makan dulu buat jaga buburnya." Begitu Ara keluar dari kamar, wajah Adimas menjadi memerah. Ada apa dengannya? Ia benar-benar memang sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri. Rasa ini adalah rasa yang biasa dirasakan pada orang yang sedang merasakan indahnya kisah asmara. Ada euforia yang meletup dn jutaan kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Adimas harus menenangkan dirinya sebelum keluar dari kamar, tidak mau memperlihatkan wajah merah semu yang terlihat jelas di pipinya. "Ayo, Adimas. Ini pertama kalinya kamu merasakan namanya jatuh cinta, apalagi sama istri sendiri. Jangan norak ya? Kamu dokter loh, profesional, jangan sampai yang tadi bikin pikiran kamu kemana-mana dan gak konsen sama pekerjaan sendiri." Ia mencoba menasehati dirinya sendiri. Ia segera mengambil tas kerjanya yang ada di dalam lemari lalu keluar dari kamar setelah rambutnya sudah disisir rapi dan kacamata minus yang bertengger di wajahnya. Meja makan sudah ada dua porsi bubur. Satunya pedas dan satunya tidak. Sepertinya Ara kebingungan saat membeli, antara Adimas menyukai makanan pedas atau tidak. Makanya ia membeli dua porsi, sementara dirinya tak mempermasalahkan makan yang mana saja. Adimas makan bubur yang pedas dengan lahapnya, rasanya enak dan cukup mengenyangkan. Kalaupun lapar lagi, ia bisa makan di kantin rumah sakit. Sesudah menghabiskan makanannya, ia melihat jam dan bersiap untuk pergi bekerja. "Ara, karena kamu sedang hamil, saya ingin kamu di rumah melakukan aktivitas yang bisa membuat kamu tenang atau bahagia, ya? Mas tidak bisa memberikan obat lagi setelah mengetahui kalau kamu sedang hamil, itu bisa beresiko dengan bayi kita. Nanti kalau bingung bisa chat Mas aja, boleh ajak Mama buat ke sini atau Dana atau sepupu kamu, saya izinkan," jelas Adimas sebelum buru-buru pergi karena ia bisa terlambat ke rumah sakit. Sosok Adimas sudah menghilang dari balik pintu, dan tersisa perempuan itu sendirian. Tidak bisa memberikan obat lagi ... ia pun merasa tidak bisa kembali ketergantungan pada obat-obatan. Saat ini, kesehatan mental dan juga kesehatan janinnya yang menjadi prioritas. Sudah banyak yang diperbuatnya untuk menghindari hal-hal yang bisa memicu stressnya kambuh. Salah satunya adakah memblokir nomor Jovan dan seluruh media sosial lelaki tersebut. Bahkan Ara sampai membuat akun lain dan deact akun utama supaya Jovan pun tidak akan mengetahui jejaknya. Ia stress dan benar-benar hampir gila karena lelaki tersebut. Sampai Jovan menyadari kesalahannya, Ara tidak akan pernah memberitahu tentang anak mereka yang sedang ia kandung, bahkan hingga napas terakhir berhembus oleh takdir Sang Pencipta. Di lain sisi, Adimas yang sudah sampai di rumah sakit dan tengah duduk di dalam ruangannya, menatap layar ponsel—memperlihatkan sebuah foto manis dirinya dan Ara di hari kebahagiaan mereka. Baru saja kehidupan sesungguhnya dimulai, kenapa Adimas jadi takut kalau mantan Ara akan kembali dan merebut istrinya? Ia tahu bahwa seorang yang pernah berselingkuh akan sulit untuk menjadi setia. Nayla, perempuan itu juga membuat Adimas merasa tidak asing dengan wajahnya. Rahang tegas dan ekspresi angkuh itu memperlihatkan bahwa ia bukanlah perempuan biasa, dan berasal dari keluarga berada. Tapi ... keluarga siapa ya? Bukan, itu bukan wajah seorang pengusaha biasa. Apalagi, gaya busana dan barang aneh yang dipegangnya bukanlah sembarangan barang. "Kenapa...?" Adimas memegangi kepalanya. "Haruskah aku terus memikirkan hal yang tidak pasti setelah meyakinkan diri ini sebelumnya? Kenapa rasanya aku takut ... takut kehilangan Ara, dia sudah menjadi salah satu harta berharga setelah aku kehilangan harta berhargaku yang lain beberapa tahun yang lalu." Rasa sakit di kepala kembali menyerang. Bahkan, sebagai dokter Spesialis Kejiwaan, Adimas pun masih sering mendapatkan memori buruk akibat traumanya di masa lalu. Memang seorang dokter Spesialis Kejiwaan tidak boleh memberikan empatinya pada sang pasien, namun ia tidak bisa tidak memberikannya. Dalam lubuk hatiny yang terdalam, ia hanya berharap bahwa dokter sepertinya bisa memberikan solusi sesuai yang diharapkan oleh pasien-pasiennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN