Rumah Adimas tidak sesepi itu semenjak lelaki tersebut sudah berpindah ke rumah baru. Tapi, gegara hal itu, Dana malah memanfaatkannya untuk bisa mengundang teman perempuannya bernama Alika ke rumahnya dengan leluasa.
Tenang saja, ada Sinta juga di sana. Wanita yang sudah menginjak usia berkepala empat tersebut mengenal baik Alika sejak SMA. Bisa dibilang anaknya dengan gadis itu sudah berteman cukup lama dan selalu membuat Sinta senang dengan kehadirannya. Dulu, sedikit susah bagi Alika main karena ada Adimas yang suka tidak mengizinkan perempuan lain untuk datang kemari.
Saat ini, Dana dan Alika sedang duduk manis di ruang tengah sambil menonton drama korea. Sinta sedang ada di dapur untuk masak makanan untuk makan sianv nanti.
Melihat Alika terkekeh saat menatap layar ponsel, Dana berinisiatif mendekat dan duduk di dekat cewek tersebut. Entahlah, apa Alika sedang melihat tweet dari indostruggle atau txt dari orang-orang di dalam aplikasi Twitter. Namun, yang terlihat seperti sebuah DM dari i********: yang menampilkan username dari orang yang tidak Dana kenal.
"Mau tahu tidak apa yang membuat seseorang terlihat lucu di mata orang lain meskipun dia tidak sedang melemparkan candaan?" tanya Alika membuat Dana dibuat penasaran.
"Apa?"
"Mantan yang bilangnya move on tapi ternyata belum. Bilangnya kita yang salah padahal sendirinya juga gak mau mengaku. Mantan yang egoisnya minta ampun pas pacaran, ehhh dia malah jadi sok baik. Sumpah, lo harus baca anjir! Ngakak banget mantan gue tiba-tiba baik dan muji gue setelah dulu pas habis putus dia menjauh dan blok nomer sama sosmed gue, malah sekarang gelagatnya ngajak balikan. Makan tuh balikan tukang selingkuh!"
Dana tertawa kencang mendengarkan penjelasan Alikas yang ternyata membahas sang mantan. Perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa, dan minuman di dekatnya malah tumpah secara tidak sengaja, tersenggol sikunya.
"Astaghfirullah, bakal dimarahin Mama. Bentar ya, Al, mau beresin ini dulu." Dana mengambil tisu di kamarnya lalu kembali sambil membersihkan sisa-sisa air yang masih berceceran di lantai. "Tapi, sumpah kenapa mantan lo bisa jadi super kocak gitu sih? Kesambet?"
"Ya mana gue tau! Dia tuh super aneh deh buat sekarang, tapi gue dendam soalnya dia dulu egois banget dan suka maksa ini itu. Pokoknya setan aja minder sama kelakuan dia," jawab Alika blak-blakan.
Dana menggelengkan kepala lantas tersenyum mendengar Alika bercerita dengan ekspresi sedang sebal namun terlihat lucu. Ayolah, sebetulnya Dana ini suka dengan Alika sejak lama, hanya saja dia terlalu pengecut untuk memberitahu perasaannya. Dana takut bila Alika tidak menyukainya balik dan akan menjauhinya jika setelah tau kebenaran ini.
Selesai membersihkan lantai dan membuang bekas tisu ke tempat sampah, ponsel Dana bergetar dan terdengar sebuah panggilan masuk dari Kakaknya. Tumben sekali—bagi Adimas—menelpon Dana, biasanya mereka lebih suka mengobrol langsung daripada bertelponan.
Layarnya ia geser begitu menyentuh ikon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia berdehem sejenak sebelum menyapa sang kakak. "Assalamu'alaikum, Kak. Tumben bener nelpon adikmu yang tampan rupawan seperti Arjuna," celetuknya percaya diri.
"Wa'alaikumussalam. Mana ada kamu jadi Arjuna, kelakuan aja kadang kayak Duryodhana atau Sisupala," balas Adimas disertai kekehan dan membuat Dana sebal. "Bercanda. Iya, adek kakak ini emang ganteng kok, kan keturunan Papa. Mama lagi apa di rumah?"
"Mama lagi masak buat makan siang. Terus di sini ada Alika juga lagi main ke rumah," ungkap Dana.
"Jangan bawa sembarangan perempuan masuk, takutnya kamu malah zinah di rumah sendiri. Bisa kena dosa tau,"
Dana mengelus dadanya. "Astaghfirullah, kakak ini berdosa banget. Aya naon sih, Kakak? Ya kali mau zina sama temen sendiri kalau Mama aja kerjaannya ngawasin Dana dari dapur. Dah, cepetan kasih tahu ini dalam rangka apaan telpon adik sendiri. Kan bisa mampir ke rumah kalau mau ngobrol. Mau konsul?" desaknya yang tidak ingin lama menunggu.
"Jadi gini, kamu kan dulu pernah pacaran—walau pas SMP doang sih. Dan kamu kan pakar segala pakar masalah percintaan, kakak mau tanya, kira-kira perempuan sukanya apa aja ya?"
Terdiam. Dana terkejut ketika Adimas malah menanyakan itu, hal yang biasanya ia akan mudah jawab kepada orang lain yang mengajukan pertanyaan serupa.
Detik kemudian tawanya pecah secara lepas, sampai air matanya keluar tanpa diminta. "Bentar— ini ngakak beneran asli. Kakak lagi kenapa tiba-tiba tanya gini? Cieeee, udah sayang sama istri sendiri jadinya mau kasih kejutan ya? Ihii, icir kiwir," ledeknya tak henti-henti membuat Adimas merasa malu dari seberang sana.
"Oke, oke. Sebelum kakak marah, aku bakal kasih tau apa yang biasanya perempuan suka." Dana meredakan tawanya atau dia akan kena semprot nanti. "Pertama, perempuan itu suka kalau kita peka. Iya, kakak pikir barang kan? Enggak, perempuan itu ada banyak sifat dan banyak kesukaan, dan gak semua perempuan punya kesukaan yang sama. Jadi kakak harus cari tahu apa yang mereka suka dari gelagat atau kode dari arah mata atau semacamnya."
"Kakak udah inget, terus, selanjutnya apa?"
"Kedua, perempuan suka diberi kasih sayang tapi jangan terlalu protektif alias gak boleh berlebihan. Gimana ya— banyak kasus cowok posesif kayak di cerita w*****d yang gak seindah itu kalau diterapkan di dunia nyata. Kelihatannya kek orang gila ntar," lanjut Dana lalu menjeda sejenak karena kehabisan napas. "Ini terakhir, Setia. Udah jangan pernah selingkuh aja intinya kalau jadi cowok. Nanti bisa hilang kepercayaannya sama cewek yang kita sayangi— kayak istri kakak."
Di luar dugaan sekali Dana memberikan jawaban apa yang Adimas tanyakan. Awalnya, dia pikir akan mendapatkan jawaban berupa deretan list barang yang disukai para wanita. Namun, ternyata yang disebutkan justru hal yang jauh lebih penting daripada barang-barang.
Kepekaan, kasih sayang, dan setia. Tidak salah, benar kan? Jauh dari apa yang mahal di dunia ini tidak akan bisa menggantikan tiga hal tersebut, di samping dari sebuah komitmen dan kepercayaan yang terbangun antar keduanya.
"Kakak pikir kamu bakal kasih jawaban yang aneh-aneh gitu, soalnya kan kelakuan kamu terlalu random," ujar Adimas. "Oke, kakak tutup dulu. Ada pasien baru sebentar lagi masuk. Makasih, ya."
"Adek, tadi kakakmu telpon ya?" Sinta, datang dari dapur menghampirinya dengan bau khas selesai memotong bawang merah. "Iya, Mama lagi masak terus habis itu telponnya cuman sebentar doang. Dia lagi lanjut kerja," timpal Dana.
"Oh, ya udah. Makan yuk?" Arah pandang Sintah berubah ke Alika. "Alika mau makan juga? Sebentar lagi selesai kok, Mama masak banyak buat kalian. Mama lupa kalau Abang kamu udah pindah rumah di deket rumah sakit, tadi masaknya sesuai kayak biasanya sih. Duh, jadi kangen padahal baru sehari."
"Cup, cup, cup. Hayuklah kita makan aja, Ma. Nanti Dana yang habisin deh kalau Alika makannya sedikit, dia tuh porsi makannya kek orang lagi diet."
***