Chapter 18

1536 Kata
Pulang kerja, Adimas tidak langsung pulang namun membeli s**u ibu hamil untuk Ara di rumah. Usia kandungan Ara sudah menginjak dua bulan lebih, namun terlihat belum ada gizi yang cukup bagi ibu hamil tersebut— yang bukan berarti Adimas menganggap bahwa Ara tidak makan dengan baik. Nutrisi yang didapat masih kurang, harusnya ada asupan tambahan dari s**u dan protein lain. Mengingat Ara tidak mengidap Intolerant Lactose. Inginnya beli di apotek rumah sakit, tapi kalau membeli di sana sedangkan ia baru menikah kemarin takutnya menimbulkan kecurigaan bagi orang lain. Kalau dijawab, 'Buat persiapan aja kalau nanti saya dapat momongan' malah dikira yang enggak-enggak. Orang di rumah sakit kadang pikirannya tidak singkron dengan pembahasan yang ada. "Ara itu ... suka s**u rasa apa ya?" Dua kotak s**u ibu hamil usia muda ia pegang sambil bergantian melirik antara dua rasa yaitu stroberi dan vanilla. Ia lupa untuk bertanya apa s**u rasa yang disukai istrinya. Seingatnya—dari terakhir kali ia tahu, Ara menyukai rasa coklat. Bodoh, kenapa dia memegang rasa yang tidak disukai olehnya? "Permisi, Mas. Mau beli s**u untuk istrinya, ya? Apa perlu saya bantu?" seorang pelayan toko menghampirinya yang terlihat kebingungan. "Ini betul untuk s**u ibu hamil usia muda, kan? Sekitar kandungan usia dua bulan." "Betul. Ini sudah benar. Ada tiga rasa yang tersedia di toko kami, yaitu storberi, coklat, dan vanila. Kami juga menyediakan vitamin untuk ibu hamil dan juga makanan sehat, semua yang disajikan masih segar tanpa banyak bahan pengawet." Paham, Adimas langsung mengembalikan dua kotak tadi lalu mengambil s**u rasa coklat. Senyum di bibirnya terbit, sebelum tangannya menyerahkan kotak s**u tersebut ke pelayan. "Saya ambil yang ini. Tolong dibungkus ya Mba satu kotak. Sama itu— saya beli Vitacimin dua," ujar Adimas. Selesai beli apa yang ia mau, Adimas langsung kembali ke mobilnya dengan barang yang dibelinya. Ia membuka aplikasi gofood dulu untuk membelikan makan siangn untuk dirinya dan sang istri, sebelum tiba di rumah pastinya akan lebih cepat datang driver yang mengantarkan pesanan miliknya. Belum ia melajukan mobilnya, dari seberang jalan matanya menangkap sosok Jovan dengan Nayla sedang berciuman di lantai dua sebuah Café yang memperlihatkan dengan jelas sosok keduanya. Satu kata; GILA. Ini tempat umum, untuk berpelukan mesra saja orang akan berpikir ulang jika melakukannya di sana. Apalagi sebuah ciuman di pipi, terutama bibir dengan bibir. Apa tidak ada rasa mau di diri Jovan? Ini nusantara, bukan negara-negara di benua Australia, Amerika atau Eropa.   "Haa, pantas saja Ara putus dengan orang yang tidak tahu etika di tempat umum ini, ternyata kewarasannya hilang. Aku memang dokter, tapi dia bukan terkena penyakit atau apa, tapi memang sepertinya lingkungannya membuat lelaki itu bebas melakukan apa yang dia mau. Atau.. bisa jadi terpengaruh oleh gaya hidup bebas di luar negeri," gumam Adimas masih memegang kemudi stir mobil namun belum menginjak gas.   Keterkejutan Adimas belum berhenti sampai di situ saja melihat kelakuan dua sosok tersebut. Adegan tidak pantas diperlihatkan Jovan, seolah tidak mempedulikan kalau orang di bawahnya bisa leluasa menonton dan bahkan bisa ikut tergoda ingin melakukan hal serupa.   Hal gila apa lagi yang nanti akan Adimas perlihatkan dari mantan Ara yang b******k ini? Kalau ia saja sudah gila, lantas jika istrinya melihat akan sejauh apa reaksi yang diperlihatkan? Adimas tidak bisa dan tidak akan mau mengizinkan Ara melihat kelakuan kotor Jovan sekalipun lelaki itu sudah sah berstatus suami istri dengan Nayla.   Daripada terus menerus memikirkan mereka—yang pernah hampir mengacaukan pernikahannya kemarin, lebih baik Adimas segera meninggalkan depan toko dan pulang ke rumah. Pandangannya harus tetap fokus ke jalanan dengan tangan tetap mengendali kemudi mobil dan pikiran yang tenang akan membantunya untuk tidak hilang fokus. Ia harus tetap mematuhi peraturan lalu lintas dan menghindari segala bahaya kecelakaan karena melamun.   Setibanya di rumah— tepat saat abang Gojek mengantarkan makanan yang ia pesan, Adimas turun dan membawa kresek berisi apa yang dia beli di toko tadi. Ara berjalan bersamanya sambil membawa makanan yang ia beli melalui aplikasi online tersebut. Adimas belum berani menyerahkan s**u itu saat di luar rumah, dan berulah ketika mereka sedang ada di ruang makan Adimas menyerahkan s**u kotak tersebut kepada sang istri. "Ini apa, Mas?" tanya Ara terbingung begitu menerima bungkus itu di tangannya, "Aku kan tadi gak nitip apa-apa ke kamu. Makanan saja awalnya aku yang mau pesan lewat gojek." "Enggak perlu, itu aku udah pesenin. Dan yang ada di kresek plastik tersebut adalah s**u untuk ibu hamil. Kamu rajin minum ya? Biar dede bayi kita tetap sehat di kandungan Mamanya, kamu pasti selama awal kehamilan takut minum s**u karena gak mau ketahuan Mama kamu juga," jelas Adimas membuat Ara tertunduk dan mengangguk lemah. Benar apa yang dikatakan Adimas, ia memang takut untuk minum s**u ibu hamil meskipun sudah diberi saran oleh dokter semenjak pertama kali ketahuan sedang mengandung seorang anak. Ara takut jika nantinya Mira mengetahui kehamilannya akibat ulah Jovan—dikarenakan juga kecerobohan dan kebodohan darinya sendiri. Satu bulan itu pun Ara selalu menahan diri untuk mencoba tidak terlihat mual saat pagi hari—morning sickness. Ngidam? Ara tidak tahu gejala dan definisi ngidam yang aneh itu bagaimana, semua itu ia tahan dan tahan oleh dirinya seorang, sebelum pernikahannya dengan Adimas dilaksanakan. "Anu... Mas sebenarnya masih kecewa ya sama aku? Tentang anak ini yang ku kandung bukanlah darah daging Mas sendiri. Kelihatan sejak kita bertemu setelah kehamilanku terkuak," ucap Ara dengan nada rendah, tangannya mengelus pelan perut yang masih rata itu. "Kecewa itu sesuatu yang wajar, yang tidak wajar itu kalau menyalahkan orang salah sasaran. Selama Mas punya kepercayaan sama kamu, selama itu pula kamu jujurlah sama Mas apapun yang terjadi. Ara, status kita yang semula dokter-pasien berubah menjadi baru, suami-istri. Kita—orang asing pada awalnya, hubungan yang terikat karena pertemuan kala itu sama sekali tidak terduga. Karena simbolis wajah yang terukir begitu sempurna ini mengingatkanku pada mendiang kakakku, yang membuat diri ini ingin rasanya melindungi dengan hati yang penuh. Apa ini kasihan? Tidak, ini bentuk kasih sayang dan rasa ingin melindungi dengan tulus. Jadi, kumohon jujurlah padaku, percayalah. Mas ingin menjadi suami yang mengerti dan mengenali istrinya dengan baik." Sekujur tubuh Ara merasakan darahnya berdesir hebat oleh satu per satu kata yang mampu membuat hati dan mata yang menahan tangis ini untuk tidak mengalirkan bulir kristal yang siap membasahi pipi kapan saja. Tangannya meremas ujung kaos dengan guncangan hebat di dadanya. Kenapa...? Kenapa Adimas bisa sebaik ini? Manusia jenis apa dia sehingga hati dan pikirannya begitu luar biasa di mataku? Apa dia diutus Tuhan memang ditakdirkan untuk mengobati lukaku saja? Atau... justru sekaligus kiriman terindah yang bisa membuatku lupa siapa yang pernah menjadi lukaku? Jawaban atas pertanyaan itu, hanyalah dirinya dan juga waktu nanti. Ekspetasi bisa memberikan harapan yang sangat tinggi jika tak ada penghalang di depan mata, namun kita bisa terjatuh begitu sakit apabila tak ada pegangan—yang menyadarkan kita akan bagaimana proses dan jalan logis itu berjalan. Maka dari itulah, Ara pun tidak bisa berekspetasi banuak kepada Adimas karena traumanya oleh Jovan dulu. Gigitan di bibir terlalu keras hingga Ara tidak sadar telah melukainya dan berdarah kecil. Kepalanya mendongak dan menatap ke mata suami, "Mas... sebenernya aku—" "Ara, bibir kamu berdarah!" seru Adimas panik, ia segera mencari tisu untuk menyekanya. Usapan lembut pada darah di bibir sama sekali tidak terasa sakit, justru sebaliknya Ara merasakan tenang dengan perlakuan Adimas. Tatapan lelaki itu masih berfokus ke bibirnya, dan wajah penuh kecemasan masih terpatri di sana dengan jelas. Sebelah tangan Adimas menangkap pipi lembut Ara tanpa sadar. Merasa darahnya sudah berhenti, Adimas tersenyum tipis. "Nanti kita obati luka kamu di sana." Tangannya kemudian sibuk menata-nata meja lalu kembali berfokus ke istrinya. "Ara, tidak perlu merasa ragu kepada saya. Sebuah sumpah sudah saya ucapkan, saya pun sudah berjanji akan setia, mencintai dan menyayangi istri saya. Karena bagi saya, menikah sekali seumur hidup merupakan sebuah pengabdian dan kesetiaan yang dilakukan. Lelaki memang bisa goyah imannya, namun saya tidak mau," ujarnya. "Justru itu, aku takut malah aku yang melakukan hal sebaliknya terhadap kamu. Rasa percayaku kepada orang lain akan hubungan sudah hancur karena mantanku yang b******k itu, tapi bukan berarti aku akan tidak percaya kepada semua orang. Hanya waktu ... iya, waktu. Maukah kamu menunggu jika memang 'waktu' adalah jawaban agar aku bisa mempercayaimu, Mas?" Dalam hati Ara tersimpan rasa berat dan menekan yang begitu kuat, kalut untuk mempercayai sebuah hubungan setelah mendapatkan hubungan yang cukup serius sekarang. "Tentu, tentu saja. Kenapa tidak? Waktu adalah penyembuh. Semua luka yang telah diobati akan sembuh seiring berjalannya waktu. Mas akan menunggu selama apapun agar bisa mendapatkan kepercayaan penuh darimu. Mulai sekarang kamu bisa belajar sedikit demi sedikit terbuka dan percaya kepadaku dan keluargaku," ujar Adimas mengambil tangan Ara, menggenggamnya penuh arti lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut. Lalu, Adimas membawa Ara dalam rengkuhannya, membiarkan emosi dalam diri sang istri mereda dengan sebuah pelukan hangat. Usapan lembut di surai hitam pun tak pelas setelah ia mencium kepala sang istri dan merasakan wangi sampo Ara di sana. Jika perlu sebuah keegoisan, maka Adimas siap. Ia bahkan mampu egois supaya tak ada orang lain yang merebut Ara di sisinya, jika itu pun termasuk Jovan yang bisa saja datang kapanpun lelaki itu inginkan. Adimas tidak bisa mempercayai siapapun, rasa ingin melindungi san menjaga istrinya menjadi tinggi. Tidak boleh ada yang bisa memiliki keluarga kecil yang akan ia bangun selain dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN