Chapter 19

1112 Kata
— Sebelum pernikahan, sebelum Adimas memutuskan untuk memantapkan hati...   Hari di mana Ara kembali untuk mencoba bunuh diri...   Adimas masih menyenderkan punggung ke kursi kerjanya. Hari ini pasiennya tidak sebanyak biasanya, membuatnya sedikit merasa kelelahan. Ia membuka ponsel, menatap foto pernikahanya yang menjadi wallpaper di w******p. Sebuah senyuman terukir ... sekaligus mengingatkannya pada kejadian itu. Saat itu, Adimas mengingat bagaimana sang istri—sebelum mereka menikah, hampir melakukan bunuh diri lagi. Hampir... hampir saja ia lengah.   ***   Langit begitu gelap diselimuti awan mendung yang siap untuk menurunkan rintik-rintik air hujan untuk membasahi bumi. Matahari sedang bersembunyi dengan baik dibalik awan mendung yang sudah menampung air dan enggan memperlihatkan cahaya untuk sementara waktu. Beberapa rombongan burung juga mulai berterbangan secara bebas menuju ke tempat yang aman untuk berlindung supaya tidak kebasahan, Dengan jaket berbulu yang dibelinya dulu di Tokyo, Adimas mengeratkan jaket tersebut untuk melindunginya dari hawa dingin akibat diterpa angin semilir menjelang hujan. Setelah melihat ke kanan dan kiri jalan, dia sudah bersiap menyebrang usai dirasa jalanan sudah lenggang oleh kendaraan. Tujuannya kini adalah menuju ke kedai mie ayam di dekat rumah sakit --tempat dia dulu pertama kali koas. Karena di dekat kedai mie ayam tak ada ruang kosong untuk memarkirkan mobilnya, Adimas memutuskan untuk memarkirkannya di sisi lain jalan yang cukup luas dan aman. "Mang, satu ya kayak biasa." Adimas berujar membuat sang pemilik kedai menoleh dan mengangkat satu jempolnya. "Siap, Mas. Udah lama gak ke sini, padahal dulu langganan banget, hahaha." Sambil membuat pesanan Adimas, Mang Hasan --orang tersebut, mulai bercerita bagaimana Adimas sering ke sini. "Kayaknya kalau lagi akhir bulan suka minta dibikinin mie tapi gak pakai micin. Salut saya mah." "Namanya juga lagi menabung, Mang. Alhamdulillah sekarang uang tabungannya gak sia-sia juga," kata Adimas tersenyum menanggapi. "Udah buat apa aja, Mas?" "Alhamdulillah buat beli rumah." Mang Hasan ikut senang mendengarnya, memang Adimas ini sering bilang dulu lagi menabung kalau sedang makan di sini. "Seneng dengernya. Tapi kok bisa cepet Mas buat belinya?" "Dulu pernah bantuin temen ikut projek IT gitu, feenya lumayan buat ditabung sama beli keperluan selama praktek. Jadi memang udah nyicil dari awal," imbuh Adimas semakin membuat lelaki berkumis tipis tersebut merasa bangga. Adimas dan Mang Hasan ini memang cukup akrab saat dulu dia sedang koas selama 1,5 tahun. Sebagai langganan mie ayam tanpa bumbu micin di dalamnya, gaya hidup Adimas tidak melulu seputar organic food saja. Dia juga manusia biasa yang menyukai selera orang umum seperti mie ayam, bakso, sushi, pizza, dan lain-lain. Tak sampai 10 menit, mie ayam sudah disajikan secara hangat. Bahkan Mang Hasan sengaja menambahkan sedikit toping ayam di atas sana. Maklum, dia senang sekali jika sudah mendapatkan pelanggan di kedainya. "Udah nikah belum, Mas?" "Belum, Mang. Masih cari calonnya." "Harusnya udah nikah, Mas. Sayang banget loh bapak dokter satu ini ganteng padahal," Mang Hasan memuji sekaligus menggodanya. Adimas hanya tertawa canggung, dia tidak mungkin marah pada Mang Hasan yang sudah menyelamatkannya di akhir bulan dengan semangkok mie ayam lezat tiada duanya. Apalagi dengan es teh gratisnya setiap tanggal 30/31. Jadi sebagai bentuk jawaban, Adimas hanya menanggapi seadanya. "Masih sibuk juga, Mang. Belum kepikiran gimana cari calonnya." "Makanya segera nikah aja atuh. Kan sekalian ada yang ngurusin Adimas," lagi-lagi Mang Hasan terlihat menggodanya untuk segera menikah. "Mang sih bukan mau nasehatin, cuman sebelum hati bener-bener ketutup sama sibuknya pekerjaan, gak ada salahnya nikah. Kamu sebenernya siap aja nikah, cuman belum dapet yang pas. Ta'aruf aja kalau susah cari jodohnya." "Ta'aruf juga tetep harus cari calonnya, Mang. Kalau gak ada nanti saya Ta'arufan sama siapa kalau gitu," celetuk Adimas. "Oh iya, bener juga ya Mas." Mang Hasan tertawa sendiri dengan hal itu. "Ya intinya, saya doain supaya Adimas biar cepet jodoh. Nanti istrinya ajak ke sini ya Mas, biar tau mie ayam buatan saya." "Aamiin." "Silahkan makannya dilanjutin lagi. Mang mau ke warung depan buat nuker uang." "Oh iya boleh." Ditinggal sendirian di kedai tersebut, Adimas menyantap semangkuk mie ayam ekstra ceker tersebut dengan nikmat. Apalagi tak lama setelahnya hujan turun dengan derasnya sementara Mang Hasan masih berada di luar. Kalau ingat suasana seperti ini, Adimas teringat dengan momentnya bersama Monika saat SMA dan awal kuliah dulu. Mereka sangat suka makan ditemani hujan karena bau tanah yang tercium membuat keduanya lebih menikmati makanan mereka. Meskipun itu adalah salah satu kenangan yang ingin Adimas lepas, ternyata sulit untuk melupakannya. Kenyataan saat Monika berselingkuh di hotel dengan lelaki lain membuat Adimas sakit hati dan memutuskannya di hari itu juga. Di hotel. Tempat. Mantannya. Selingkuh. "Heh, ngapain mikirin mantan! Ogah, ah! Adimas ayo makan aja kenapa sih," serunya pada diri sendiri lalu melanjutkan sisa mie terakhir di mangkuk. Teh manis hangat menjadi penutup acara makannya sendirian tanpa Mang Hasan karena lelaki tersebut belum kembali sampai sekarang. Sepertinya terjebak hujan di warung dan belum bisa untuk balik karena tadi memang tidak membawa payung. Begitupun Adimas yang kesulitan untuk kembali ke mobilnya. Ting! Bunyi yang berasal dari ponselnya terdengar meski suara hujan begitu keras. Adimas merasa bahwa sebetulnya dari tadi sudah banyak pesan yang masuk namun dia masih asik makan. Pesan paling atas berasal dari Ibunya, disusul dibawahnya ada pesan dari grup ikatan dokter dan barus ke tiga berasal dari Ara. Seharusnya Adimas membuka pesan yang paling atas atau paling bawah, bukan? Namun dia entah kenapa memilih untuk membuka pesan dari Ara terlebih dahulu. Arabella Q (Pasien) Dokter, beri aku obat Dahi Adimas berkerut bingung. Apa maksudnya? Kemudian tidak lama setelahnya ada pesan baru lagi yang berasal dari pengirim yang sama. Arabella Q (Pasien) Aku ingin mati saja. Obat terakhir tersisa 7, dan aku meminum semuanya. Berikan aku obat. Tolong.. Mantanku mengirimkan video kami saat berhubungan. Dia ingin menyebarkannya ke situs illegal Kalimat terakhir membuat Adimas geram sekali. Sungguh, kenapa ada lelaki sekejam mantannya Ara yang tega mau melakukan hal itu? Bagaimana cara lelaki itu merekam jika kondisinya saat itu sedang mabuk? Adimas tidak habis pikir, ternyata ada yang lebih b******k daripada Monika. Adimas Apa kamu di rumah? Saya akan ke sana Tenangkan dirimu, oke?   Arabella Q (Pasien) *send location   Jarinya memencet lokasi dimana keberadaan Ara. Saat dia memperhatikannya dengan seksama, rupanya Ara sedang berada di lokasi pertama mereka bertemu dulu. Tentu saja itu membuat mata Adimas membulat sempurna. Dia dengan cepat bangkit dan meneriaki Mang Hasan yang ada di warung yang tak jauh dari sana. Adimas berkata bahwa dia meletakan uangnya di bawah mangkok tanpa meminta kembalian dan berlari menerjang hujan untuk sampai ke mobilnya. Uang pecahan seratus ribu tersebut dia berikan secara cuma-cuma pada Mang Hasan. "Astaga, aku takut dia kenapa-napa lagi," gumam Adimas yang gelisah di dalam mobil. Mang Hasan yang baru tiba di kedainya sendiri berteriak mengucapkan terima kasih pada Adimas, dan respon Adimas mengangkat jempol lalu meninggalkan tempat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN