Kembali, ia lanjutkan perjalanan menuju ke lokasi Ara. Karena lokasinya jauh dan terjebak macet, baru satu jam kemudian Adimas berhasil melewati semuanya, dan dia mengambil payung yang ada di kursi belakang sebelum keluar menghampiri Ara.
Sesampainya di sana, Adimas melihat Ara sudah berdiri di pinggir jembatan sambil kehujanan dan menggenggam ponselnya erat-erat.
Adimas mencengkram lengan Ara ketika perempuan tersebut akan naik dicelah pinggiran. "Ara, stop! Kamu kenapa? Ada apa? Jangan seperti ini, saya mohon sangat." Pinta lelaki tersebut.
Isak tangis Ara semakin kencang meskipun air matanya sudah berbaur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku gak bisa hidup. Sebentar lagi, hidupku akan hancur karena mantanku. Dia.. dia- dia mau mengirimkan video yang waktu itu kepada semua teman-temanku," tangis Ara menunduk dan mencengkram besi pinggiran jembatan dengan kuat. "Harga diriku... hancur."
Ara berusaha memaksakan diri untuk terjun dari jembatan tersebut karena pikirannya sudah tidak jernih lagi. Melihat hal tersebut, tentu saja Adimas tidak mempedulikan payungnya karena dua tangannya sudah melingkar ke pinggang Ara sambil menahan dua tangannya.
Dia juga membawa perempuan tersebut menjauh dari sana dan meminta bantuan orang-orang agar Ara tidak kabur atau pergi ke tempat berbahaya di saat hujan seperti ini.
Adimas kembali untuk mengambil payungnya dan ponsel Ara yang jatuh tadi saat memberontak ketika dibawa. Tenang saja, kali ini Adimas meminjam payung orang sekitar agar dia tidak kedinginan diguyur air hujan lagi.
Tidak lama setelah Adimas kembali, rupanya Ara pingsan karena lelah memberontak dan kepalanya yang diterpa langsung oleh hujan membuatnya pusing. Tubuh itu juga mulai menunjukan gejala terkena hipotermia. Adimas panik bukan main, dia meminta beberapa orang membawa Ara ke mobilnya untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Mereka setuju dan melaksanakan apa yang Adimas minta. Ara pun diberikan jaket miliknya agar badannya tidak kedinginan. Sulit untuk menggantikan pakaiannya karena Adimas tidak memiliki pakaian kering sebagai pengganti.
Begitu tiba di UGD, Adimas meminta perawat untuk secepatnya menangani perempuan tersebut sesuai prosedur penanganan. Selepasnya, dia mengurus bagian administrasi Ara di sana.
"Permisi, Pak. Ini Mba nya gimana?" tanya salah satu warga yang membantu Adimas membawa Ara yang pingsan tadi.
"Biar saya aja yang urus. Terima kasih untuk Bapak dan Ibu yang sudah membantu saya. Saya akan pesankan taksi untuk kalian pulang sekaligus membayar ongkosnya," ujar Adimas.
"Terima kasih, semoga Mba nya cepat sembuh ya."
"Aamiin."
Lepas Adimas memesankan taksi untuk tiga orang tersebut, dia kembali menunggu di depan ruangan Ara yang sednag ditangani oleh beberapa perawat. Dia begitu cemas dan tidak menyangka Ara akan seperti tadi.
Tidak lama menunggu, dokter keluar dan memberitahu kondisi Ara sekarang. "Dia memang terkena hipotermia sedang. Untung saja dibawa cepat, suhu tubuhnya hampir mencapai titik rendah. Kalau terlambat bisa berakibat berat dan mengalami kematian." Penjelasan dokter tersebut dapat ditangkap baik olehnya.
"Dan ada luka bekas cutting yang ditemukan di lengan kanannya. Kita juga sudah mengobati luka tersebut untuk mencegah infeksi," imbuh dokter itu lagi.
Adimas yakin jika itu luka karena self-harm, Seberapa parah kondisi Ara? Dia benar-benar mencemaskannya. Dia tidak mau sampai kejadian dimana dia melihat Kakaknya, Dara, di tubuh Ara terulang kembali.
"Terima kasih. Apa sudah boleh saya temui?"
"Dia masih belum sadar tapi sudah boleh ditemui."
Dokter sudah mengizinkannya untuk menemui Ara, sehingga tanpa menunggu lagi Adimas masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tubuhnya membeku melihat Ara yang sudah berganti pakaian menjadi seragam pasien rumah sakit dan mulutnya serta hidungnya sudah diberi masker oksigen untuk menghangatkan sistem pernapasannya. Bibir yang semula membiru sekarang sudah kembali normal.
Adimas duduk di samping ranjang tidur perempuan itu dan menatapnya tanpa ekspresi. Kejadian tadi membuat lelaki itu juga sedikit shock --apalagi saat Ara benar-benar memberontak untuk nekat bunuh diri.
Wajah yang terasa dingin itu diusap sambil pasrah. "Seharusnya tidak ada yang menyakiti kamu. Kamu adalah perempuan yang patut dibanggakan, bukan dilecehkan." Ia bergumam, meski Ara mendengarnya atau tidak.
"Dulu, saya punya seorang kakak. Dia persis seperti kamu. Pintar dan baik. Usia saya dan dia terpaut 6 tahun seperti Dana, dan kakak saya tidak pernah berbuat jahat sampai--," sejenak, Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkannya, "dia justru dijahati oleh orang lain. Masa depan yang dia tata sedemikian rupa dihancurkan oleh satu orang. Kakak saya sampai depresi, tidak makan berhari-hari dan paling mengenaskan--"
Suara dalam pita tenggorokan Adimas sudah seret untuk berkata, dadanya terasa sesak namun dia usahakan untuk melanjutkan ceritanya.
"Dia menghilang dan ditemukan tergantung. Kakak saya bunuh diri. Di depan mata saya, dia tergantung tak bernyawa dalam keadaan hamil tiga bulan. Hati saya hancur, saya tidak mau kamu juga seperti itu. Itulah sebabnya saya memilih menjadi Dokter, mengobati orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan apalagi kesehatan mental. Mengubur impian saya menjadi dokter bedah karena teringat kakak saya."
"Jadi, Ara.. kamu harus tetap hidup, oke? Ibumu pasti juga menginginkan kamu tetap hidup dan sehat. Ayo berjuang untuk itu, saya akan terus membantu kamu karena ini adalah kewajiban saya."
Tanpa sadar, tangan Adimas mengganggam tangan Ara dan memberikannya kehangatan dengan meniup-niup pelan ditangan tersebut. Ia juga menggosok-gosok tangan Ara supaya suhu ditangannya kembali normal.
Hari itu Adimas terus menunggunya sampai lupa untuk mengabari keluarganya sendiri maupun keluarga Ara. Dia menunggu sampai tertidur dalam posisi terduduk di kursi.
Dua jam setelah Adimas tertidur, Ara baru tersadar dari pingsannya. Kepalanya terasa pusing dan dia agak mengigil meskipun tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ia cukup terkejut dengan kehadiran Adimas yang menunggunya di samping dalam keadaan mata terpejam.
Rasanya ingin menangis, tetapi dia sudah mengeluarkan semua sisa air matanya. Apalagi keadaannya yang sedang lemah seperti ini tak bisa membuatnya berbuat apa-apa.
Karena punggungnya sedikit sakit saat tertidur dalam posisi tidak nyaman, Adimas mulai terbangun dan tersenyum melihat Ara sudah siuman.
"Sudah merasa baik? Atau masih ada yang sakit?" tanya Adimas memastikan sebelum memanggil perawat untuk mengecek keadaan Ara.
Ara menggeleng. "Tidak, aku sudah lebih baik. Terima kasih telah menolongku lagi. Aku.. jadi malu dan merepotkan dokter.." Pernyataan yang terdengar begitu pasrah.
"Ara, saya sudah bilang berulang kali. Ini menjadi kewajiban saya menolong orang-orang. Kamu tidak perlu malu, anggap saya ini sebagai teman atau saudaramu yang akan terus melindungi kamu. Kita sudah kenal selama satu minggu ini, tidak perlu canggung lagi untuk meminta tolong pada saya," jelas Adimas sebagaimana dia tulus menolongnya.
"Ara, saya.. ingin berbicara dengan kamu setelah sembuh dan mengunjungi kamu ke rumah. Lebih baik seperti itu saja. Saya akan hubungi kamu jika akan ke rumah. Oh iya, apa kamu ingat nomor Ibu kamu? Karena ponsel kamu mati dan basah karena hujan, saya perlu menelpon beliau,"
Ara perlu melepas sejenak masker oksigennya dan menghidup udara sesungguhnya. Mulutnya bergerak membacakan nomor sang Mama yang sudah hapal di luar kepalanya dan Adimas segera mencatatnya di ponsel pribadinya.
Setelah Ara menyebutkan angka-angka tersebut, ia kembali memakai masker oksigen dan dibantu oleh Adimas karena dia masih sedikit lemah.
Panggilan terhubung dan Mira, sang Mama Ara, berhasil menganggat panggilan Adimas. Lelaki tersebut menjelaskan dimana Ara sekarang dan meminta Mira untuk datang ke lokasi yang disebutkannya jika tidak keberatan.
Sebagai seorang Ibu, Mira langsung setuju dan meminta Adimas untuk menjaga Ara sebentar lagi selagi dia bersiap menuju ke sana. Mira senang akhirnya dia mendapatkan kabar dimana Ara selepas tadi pagi menghilang karena kabur dari rumah tanpa membawa apapun selain ponsel.
"Ibu kamu segera datang. Saya juga sudah mengirimkan pesan pada keluarga saya mengenai kepulangan saga yang telat," tuturnya lalu memasukan ponselnya kembali ke saku celana.
Satu jam kemudian Mira datang dan memeluk putrinya dengan senang. Dia tak sendiri, ada Ina dan paman Ara yang ikut datang ke sana. Mira mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Adimas dan tidak tau harus membalas apa.
Tanpa mengharapkan imbalan apapun, Adimas hanya menanggapi dengan senyuman dan dia berkata sudah membiayai perawatan Ara hingga sembuh. Dia berpesan pada Mira untuk membuat Ara selalu berpikir positif untuk saat ini dan sebaiknya menghindari ponsel sementara waktu hingga keadaannya kembali pulih.
Dia juga bilang akan memeriksa keadaan Ara langsung ke rumahnya nanti dan menghubunginya melalui Mira terlebih dahulu.
Selesai urusannya di sana, Adimas permisi untuk pulang karena hari sudah semakin malam dan dia juga tidak ingin mencemaskan ibunya. Keluarga Ara kembali berterima kasih sebelum Adimas benar-benar menghilang dari balik pintu.
Sesampainya di rumah dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi, Sinta menghampiri putranya dan bertanya darimana saja Adimas hingga pulang terlambat seperti ini. Adimas menjelaskan secara perlahan-lahan dan tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, jadi memang dia mengatakan hal sejujurnya pada Sinta mengenai keadaan Ara.
Melihat anak keduanya ini begitu mengkhawatirkan perempuan tersebut seperti ke Dara, Sinta tidak pernah melihat wajah Adimas seperti ini --nampak berbeda daripada sebelumnya.
"Hatiku gak yakin, Bu. Tapi kenapa akhir-akhir ini selalu memikirkan keadaan Ara, pasien Adimas sendiri seperti mengkhawatirkan Kakak?" Adimas mengeluarkan isi hatinya yang gundah.
"Ada perasaan tertarik kamu terhadapnya. Kamu ingin melindunginya dengan segenap hati dan tidak ingin siapapun menyakitinya," ucap Sinta membuat Adimas tidak yakin akan hal itu. Siapapun juga bisa mencemaskan orang lain dan ingin melindunginya.
"Segera perkenalkan Ibu dengan dia, Adimas. Mantapkan hati kamu sekali lagi, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Kalau iya, mari kita lakukan pernikahan tanpa adanya pacaran. Ini mirip dengan Ta'aruf tetapi dalam waktu yang ditentukan kamu dan dia sudah mengenal lebih dekat satu sama lain," Sinta menepuk bahu Adimas dengan lembut. "Ibu yakin kamu memang tertarik padanya. Tidak ada salahnya kan? Jika dia jodohmu, dekatkan."
Wanita tersebut berjalan masuk terlebih dahulu daripada Adimas yang masih berdiri dan memahami perkataannya. Jika secepat ini untuk mengenal Ara dan menikahinya, bukankah terkesan terburu-buru sekali?
Sedetik kemudian ia melukiskan sebuah senyuman indah di wajahnya. Nampaknya memang kali ini dia akan segera menuruti keinginan Ibunya agar dia segera menikah. Maka dari itu, mungkin akan cepat prosesnya namun tidak tergesa-gesa.
"Baiklah, Bu. Adimas akan memperkenalkan Ibu dengan dia setelah dia keluar dari rumah sakit. Pilihan Ibu, pilihan Adimas juga."