Hari libur yang biasanya dimanfaatkan orang-orang untuk berlibur ke tempat wisata, justru kini tidak berlaku untuk sementara bagi keduanya. Masih sibuk dengan catatan, Adimas nampak mengkaji ulang hal-hal yang menjadi kebiasaan sang istri yang cukup aneh baginya. Alisnya bertaut, tidak mengerti pada tiga kalinat terakhir yang menjadi pusat perhatiannya kini.
"Menanam kaktus dan teratai, bermain game horor jika ada waktu, dan membaca buku komik Detective Conan atau serial videonya seminggu sekali dengan memegang posternya." Lagi-lagi Adimas masih bingung, sungguh aneh tapi nyata. "Ini beneran kebiasaan kamu atau sekadar ngidam saja?"
"Kaktus dan teratai pernah aku tanam di kosanku saat di Korea Selatan, sayangnya harus mati karena aku sudah lulus dan pulang ke Indonesia. Kalau game horor itu kebiasaan sebulan sekali—juga karena temanku yang di Korea suka mengajakku ke warnet saat weekend. Terakhir, aku memang penggemar Detective Conan, Mas. Bahkan di rumah sebenernya udah ada 96 volume komik yang aku beli, belum series spesial dan lainnya juga," jelas Ara hampir saja membuat mata Adimas mencelos keluar, nyaris tidak percaya akan yang didengarnya.
Oke, benar kata Dana, tidak semua wanita itu memiliki kegemaran atau kesukaan yang sama. Contohnya istri Adimas ini, penampilan feminim dan wajah manisnya ternyata memiliki jiwa gamer dan pecinta komik. Bukan wibu, hanya Conan saja.
Kertas yang kiranya sudah mencangkup apa yang mereka ingin tahu dan ingin ada perubahan sudah selesai dikerjakan. Ada rasa puas menyeruak di dalam diri Adimas maupun Ara, rasa yakin jika ada kertas ini mereka bisa menghindari konflik yang tidak perlu. Setelahnya, Adimas pun menempelkan kertasnya di dekat pintu kamar.
Ara mengusap perutnya yang sudah mulai agak membuncit. Ukuran perutnya masih seperti buncit wanita pada normal lain. Ia mencoba bahagia bagaimanapun caranya, tidak ada pilihan karena jika sampai stress berat menimpanya akan berdampak buruk pula pada calon anak yang ia kandung. Adimas sudah menghentikannya untuk tidak mengonsumsi obat-obatan dulu, berganti menjadi kegiatan yang sekiranya bisa membuat perasaan perempuan tersebut menjadi lebih gembira.
"Mas ...," panggil Ara dengan nada kecil dapat di dengar saat Adimas keluar dari kamar mereka. "Itu... jadi begini... aku mau sesuatu boleh?" Wajahnya nampak ragu untuk meminta.
Sementara Adimas mendekat dan duduk di sampingnya untuk siap mendengarkan. "Kamu mau apa, hm? Asalkan bukan hal aneh— yeah, tahu kan maksud Mas? Bukan yang menjerumus ke hal lalu-lalu, kalau makanan nanti Mas coba cari."
"Mau rendang sapi."
"Oke—"
"Tapi buatan Mas."
Adimas mematung beberapa detik. Tenggorokannya sedang mencoba menelan salivanya mendengar kata 'memasak rendang'.
Masakan buatannya? Saat di kosan saja kerjaannya makan mie ayam, paling mentok dia bisa masak sambal goreng tempe dan tempe serapahan. Eum, tidak juga sih, tiga bulan lalu ia baru diajarkan membuat ayam kecap bersama Sinta namun masakan mereka berakhir gosong karena api lupa dimatikan dan kelebihan waktu.
"Kenapa? Kamu gak bisa ya?" Kalau Adimas tidak bisa, ada rasa kecewa dalam diri Ara pada lelaki itu. Sungguh, entah kenapa ia merasakan itu, ada hal yang bukan dari dirinya ingin meminta ini dan itu namun hanya satu permintaan saja yang terucap. "Semisal gak bisa, gak—"
"Aku akan belanja daging dan masak rendang buat kamu," potong Adimas dengan cepat tidak mau membuat kecewa istrinya yang sedang mengalami fase ngidam.
Ara tidak bisa menahan rasa senangnya lantas tersenyum begitu lebar hingga gigi-giginya tampak jelas. Kenapa ini? Kenapa rasanya seperti memenangkan tiket lotre padahal Adimas baru saja mengiyakan permintaannya. Mungkinkah karena faktor dari bayinya? Tunggu— baru sadar kalau sebetulnya ia sedang ngidam. Iya, tidak salah lagi kalau pertama kali baginya mengalami ngidam.
Permintaannya kira-kira sulit tidak ya bagi Adimas? Karena terlihat wajah sang suami sedikit kebingungan akan sesuatu. Mungkinkag sedang memikirkan resep? Ara bisa membantu untuk mencari resep membuat rendang di Internet.
"Kamu kenapa? Apa sulit untuk membuat rendang?" tanya Ara membuat lelaki di depannya menggeleng dan tersadar dari lamunan.
"Bukan, bukan. Tidak sulit membuatnya, hanya saja— resep! Aku nanti akan mengambil resep dari mendiang kakakku," terang Adimas membuat alis Ara saling bertautan. Ah, sepertinya ia salah memberi kalimatnya. "Maksudku, ada resep makanan dari mendiang kakak di rumah. Jadi kemungkinan setelah belanja daging, aku akan ke rumah Mama dulu mengambil catatannya di sana."
Hanya anggukan kecil, apa yang Adimas lakukan akam Ara setujui saja. Sepertinya resep mendiang Adara ini sangat berharga bagi lelaki itu, itulah sebabnya Adimas tidak mengatakan akan mengikuti resep dari internet.
Adimas bersiap-siap dahulu sebelum pergi membeli daging dan ke rumah lamanya. Dengan jaket coklat dan kacamata minus, Adimas sudah siap lalu pamit keluar dan mengendarai mobil untuk ke sana. Sementara Ara harus tetap di rumah dan beristirahat dulu jika merasa lelah.
Jalanan tengah lenggang untuk saat ini di ibukota negara yang biasanya padat penduduk. Menjelang bulan puasa, sudah banyak yang mendapatkan cuti awal dan pulang ke kampung halaman. Kemacetan masih terjadi di beberapa titik, namun tidak sepadat seperti biasanya, apalagi masih saja turun hujan dan menyebabkan banjir kecil di jalanan. Untungnya rumah baru maupun lamanya tidak berada di daerah rawan banjir.
Tiba di rumah lama, ada Sinta yang sedang menyiram tanaman di halaman. Wanita tersebut menyambut Adimas dengan senang dan mendekat begitu ia keluar dari mobil.
Adimas segera masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya. Ia membuka pintu dan terlihatlah kamar lamanya yang memang masih sama, tata letak barang-barang di dalam sana tidak ada yang diubah sedikit pun.
Ia membuuka laci meja yang ada di samping tempat tidurnya. Tangannya mencari buku kecil berwarna navy dengan kertas berwarna kuning yang ia tempel dengan isolasi bertuliskan 'For 3D'—bermakna Adara, Adimas, dan Dana. Ketiganya memiliki nama yang berunsur D. Ia membuka catatannya untuk memastikan isinya masih lengkap dan sama. Benar, masih utuh, Adimas segera mencari resep untuk memasak rendang sesuai petunjuk mendiang kakaknya.
"Duh.. ini semoga aja bumbu dapurnya gak ketuker-tuker. Terakhir kali dimarahin Mama tuh karena salah ambil kencur jadi jahe," Adimas menggaruk kepalanya saat sedang memahami petunjuk di dalam resepnya. "Bahan utama santan, daging. Lalu... ada bawang merah, bawang putih, kunyit juga, ditambah cabe. Aduhlah, ini kakak masak rendang kenapa bahannya banyak banget."
Belum apa-apa Adimas sudah mengeluh karena membaca resep masakan. Bahkan pusingnya melebihi saat membaca nama-nama obatan ketika kuliah dulu, karena memang ia tak terbiasa dengan memasak namun demi Ara ia akan berjuang membuat rendang yang enak.
Bukunya ia tutup dan tubuhnya berjalan meninggalkan kamar. Ia harus segera membeli bahan-bahan yang kiranya belum ada di kulkas maupun di dapur. Terutama daging sapi yang hanya bisa ia beli di pasar tradisional ataupun supermarket yang lengkap seperti Hypermart atau sejenisnya. Kalau belanja banyak sekalipun sepertinya bisa, misalnya membeli beberapa stok s**u ibu hamil. Sedikit melakukan pemborosan demi sang istri sepertinya tidak masalah bagi Adimas, toh ia ingin semua kebutuhan nutrisi ibu dan bayinya terpenuhi dengan sangat baik setiap hari.
Adimas menarik napasnya sebelum mulai meninggalkan depan rumah lamanya untuk pergi ke supermarket membeli bahan-bahan tersebut.
***