Sudah sore, aroma masakan buatan Adimas tercium hingga ke ruang utama. Santannya begitu kuat disertau kunyit dan juga sereh yang menjadi salah satu bumbu yang dimasak. Sebentar lagi masakan tersebut akan matang, hanya menunggu dagingnya lebih mudah untuk digigit nantinya.
"Ara makan sama nasi juga, ya? Nasinya sudah matang dan bentar lagi rendangnya juga matang," papar Adimas yang kemudian melepaskan apron di depan dadanya.
Ara masih asik menonton serial India berjudul Ram ke Siya; Luv Kush yang sedang tayang di jam itu. Selera perempuan tersebut tidak dapat ditebak. Kadang menyukai Kpop, kadang India, kadang Western, kadang C-pop, dan lain-lainnya. Seharian ini—sambil menunggu Adimas mencari bahan-bahan hingga memasak rendang, Ara sibuk membereskan rumah dan menonton serial India mulai dari Uttaran, Chandra Nandini, Jodha Akbar, Mahabharata, hingga Ram ke Siya; Luv Kush ini.
"Ah, iya Mas? Tadi Mas bilang apa?" Fokusnya belum bisa terbagi, ia tadinya terlalu menghayati saat menonton tv beralih ke Adimas yang berada di dapur.
Tersenyum kecil, lelaki tersebut menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Seru banget nonton tv sampai gak kedengeran Mas bilang apa. Kamu gak mau makan? Tadi siang kamu cuman makan roti satu lembar aja sama selai coklat." Terlebih lagi Ara hanya makan sedikit juga saat sarapan tadi pagi.
"Belum lapar, Mas. Tapi kalau buat makan rendang buatan kamu kayaknya aku bakal makan banyak biar sekalian kenyangin perut," kata Ara.
Adimas mengacak kecil rambut perempuan itu. "Harus makan banyak. Mas gak mau sampai bayi kita ini kelaperan. Bulan depan kayaknya udah bisa cek jenis kelamin nih, kamu mau anak kita laki-laki apa perempuan?" tanyanya penasaran dengan apa jawaban dari Ara.
"Pengin sih anak kita laki-laki tapi...," Ara mengatup bibirnya, mau melanjutkan namun seolah enggan. Pada akhirnya ia tetap memberikan potongan kalimatnya yang menggantung. "Aku takut kalau wajah dia mirip dengan Jovan, aku takut nantinya justru karena itu aku gak bisa sayang sama dia. Takut sama dia atau gak mau mendekat. Lebih parah daripada baby blues—"
"Ssshht," Jari telunjuk Adimas menempel tepat di bibir Ara untuk membuatnya diam. "Kamu gak akan seperti itu, kamu akan sayang anak kita. Kata orang, kalau kita lebih sering melihat wajah seseorang saat hamil, anaknya mirip dengan orang itu. Walaupun sebagai dokter aku bakal bilang itu gak benar, tapi Mas percaya kalau anak laki-laki pun bisa mirip wajahnya dengan sang ibu. Kalaupun mirip sama Mas berarti itu anugerah dari Tuhan supaya kamu gak sedih dan melupakan Jovan."
Kepala Ara dibawa ke dalam sandaran bahunya, mencoba untuk dibuat tenang dan tak terlalu dalam banyak pikiran. Lagi, selalu ada topik pembicaraan yang membuat Ara menjadi sedikit cemas dan membawa nama Jovan kembali.
Adimas masih cukup sabar menghadapi trauma cukup dalam yang diderita istrinya, dan trauma tersebut bisa menyebabkan depresi atau kecemasan lain yang tidak baik bagi perempuan itu maupun janin dalam kandungan. Secepatnya, mau tidak mau pun Adimas harus bisa membuat Ara nyaman dan bahagia selama kehamilan ini.
Bukan berarti setelahnya Adimas akan membuat istrinya kembali depresi. Tidak, itu tidak akan terjadi. Ia hanya mencoba memastikan dulu mental dari seorang ibu hamil baik-baik saja. Hanya itu dulu, ia tidak bermaksud hal lain.
"Makasih, Mas. Maafkan aku, mungkin kedepannya aku bakal ngerepotin kamu lagi." Terdengar lebih tenang suara Ara di dekatnya.
"Sudah ya, kamu gak boleh banyak pikiran loh. Seingatku dari Mavin, ibu hamil harus terus senyum dan bahagia biar bayinya juga ikut bahagia," kata Adimas lalu membiarkan kepala Ara tegap kembali. "Aku mau angkat rendangnya, kayaknya udah matang nih. Kalau gosong nanti jadinya gak enak dan gak bisa dimakan deh. Hehehe."
Adimas pun bergegas menuju ke dapur yang disusul oleh Ara di belakangnya mengekor. Rendang yang sudah matang tadi disajikan di atas piring lalu diletakan di tengah meja makan. Aromanya begitu menggoda dan bisa meningkatkan nafsu makan.
Satu sendok kecil mengambil daging yang dipotong kecil-kecil tersebut, lalu didekatkan ke bibir Ara untuk dicicipi oleh lidahnya. Di seberangnya, ada lelaki yang berharap kalau masakannya tidak keasinan atau dagingnya matang pas. Ia sudah berusaha membuatnya sesuai buku catatan dengan maksimal.
"Enak, Mas."
"Beneran?" Adimas cemas.
Anggukan kecil ditunjukan. "Beneran. Enak loh rendang buatan kamu. Biasanya aku makan rendang di warung makan nasi padang suka kepedesan. Malah cabainya masih banyak yang rasanya kayak sambal gitu. Tapi rendang buatan kamu ini pas dan gak keasinan buatku. Dagingnya juga matang."
Adimas menjadi lega mendengar kata-kata itu. Ia pun mengambil daging dan ikut mencicipi. Seperti yang Ara katakan, masakannya memang enak dan layak dimakan. Ia menjadi bangga karena berhasil dalam satu kali percobaan memasak. Ternyata tidak seburuk itu mencoba hal baru demi sang istri.
"Ayo makan bersama-sama. Ini akan jadi masakan buatan sendiri buat istri yang Mas sayangi. Kalau kamu ingin apa-apa lagi bisa bilang langsung ke Mas, nanti Mas usahain bisa coba kabulin."
"Iya, Mas."