Chapter 23.

1500 Kata
"Mas sudah bilang sama kamu kalau kamu belum bisa kerja dulu, Ra." Keputusan final Adimas tidak bisa diubah, sudah sejak awal memang ia meminta Ara untuk tidak bekerja di perusahaan atau tatap muka karena gangguan kecemasan Ara masih ada. Setelah melahirkan pun, Adimas masih harus benar-benar memastikan apakah istrinya sudah pantas untuk mulai bekerja atau belum. Sejujurnya Ara merasa sedih karena ia masih belum bisa diperbolehkan bekerja, namun ia yakin kalau Adimas melakuman ini juga demi kebaikannya. Memang tempramen Ara masih berubah-ubah, kadang bisa sangat sensitif atau bisa kembali normal. Maka dari itu, usia kehamilan semakin membesar ini Ara masih dijaga oleh Adimas dan keluarga lelaki itu. Beberapa kali Sinta mengunjunginya bersama Dana dan juga Alika. Hanya saja, jika ia tidak melakukan kegiatan selain pekerjaan rumah akan membuatnya sedikit bosan. Melakukan aktivitas menatap ponsel dan sosial media saja tidak cukup. Minimal kegiatan yang disukainya sejak dulu seperti belajar dan lain-lain. "Maafin Mas ya, Ara." Tangan Adimas membelai lembut surai hitam istrinya. "Mungkin sampai anak kita berusia dua tahun kamu baru boleh kerja. Memang lama, Mas juga berpikir untuk perkiraan kalau sewaktu-waktu kamu terkena baby blues juga. Ini Mas baru perkiraan, semoga saja enggak ya." Dikarenakan beberapa waktu yang lalu Ara terus membicarakan baby blues padahal ia sendiri belum melahirkan anaknya, maka dari itu Adimas kembali berpikir mengenai kegiatan yang harus dan tidak haru dilakukan oleh Ara. Baby blues sendiri merupakan gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. Jika kondisinya memburuk maka akan menyebabkan Postpartum Depression (depresi pasca-melahirkan) (Sumber : Google) Adimas pun sering mendapatkan pasien serupa saat bekerja di rumah sakit atas rujukan dari dokter kandungan. Pasien yang masih di rawat, terutama ibu-ibu muda, mengalami baby blues karena belum berpengalaman mengurus anak. Ada yang parah, bisa benar-benar ingin mencelakai bayi mereka sendiri lalu mengalami depresi yang lebih berat. Biasanya faktor pasangan menginginkan bayi dengan jenis kelamin yang diinginkan namun terjadi sebaliknya sehingga sang ibu merasa dicampakkan dan berimbas ke diri sendiri dan juga sang anak. Itu tidak baik. "Kalau belum boleh kerja ... aku boleh jadi penulis dulu gak, Mas?" tanya Ara. "Penulis?" Ara mengangguk. "Iya, penulis. Aku ada banyak draft naskah novel remaja dan dewasa yang belum selesai digarap. Mungkin.. sebagai pengganti aku belum bisa kerja di kantoran karena kondisi kayak gini, aku bisa lampiaskan emosiku melalui tulisan aja. Kamu, izinin aku gak?" Matanya berharap dan memohon. "Iya boleh," Adimas mengizinkan. "Aktivitas ini menurut Mas bagus dan gak akan beratkan kamu. Tapi sekali lagi, sekalipun menulis kamu gak boleh merasa stress atau ada beban, ya?" Ara menunjukkan kelingkingnya dan diangkat di samping kepalanya. "Aku janji gak akan merasa beban saat menulis nanti. Makasih, Mas." "Sama-sama, Ara. Mas senang kalau kamu senang. Jangan lupa minum vitaminnya ya, besok habis USG di dokter Adella nanti Mas jemput biar kita bisa pulang bareng. Jadwal Mas cuman sampai jam sepuluh aja," kata Adimas. "Usiaku segini, apa aku udah bisa bilang ke Mama perihal kehamilanku? Gimana mengenai kalau aku melahirkan nanti dan Mama curiga kalau aku hamil sebelum kita nilah? Duh, jadi overthinking lagi. Kan kalau kehamilanku udah sembilan bulan dan melahirkan, yang Mama pikir kan itu usianya masih tujuh bulan," kata Ara lagi-lagi kepikiran sesuatu dan menjadi cemas berlabihan. Adimas memegang bahu Ara yang gemetaran dan bibir bawah yang digigit. "Hei, tenang dulu, Ara. Melahirkan saat kandungan berusia tujuh bulan itu masih wajar kalau berat anak kita udah seusia janin sembilan bulan. Ada temanku yang nikah muda dan pas hamil tujuh bulan udah melahirkan, dan bayinya sehat kok. Kita mungkin berdosa membohongi Mama kamu, tapi kalau ini bisa membuat kamu merasa lebih tenang dan menghindari kecemasan, Mas akan meminta bantuan teman di dokter kandungan untuk bisa bekerja sama. Ini jika kamu pun yang meminta dan menyetujui secara langsung nanti." "Kalau ketahuan... aku takut, Mas. Entah kenapa tidak seperti ibu hamil lain yang moodnya sensitif, tapi perasaanku selama hamil semakin seolah tidak bisa terkendali. Aku.. benar-benar takut." "Ssshhtt, jangan takut. Ada Mas di sini, ada Ibu dan juga Dana yang akan kuatkan kamu. Gak ada yang salahkan kamu, ini sudah terjadi dan saatnya berubah menjadi manusia yang lebih baik. Daripada kamu terus memikirkan masa lalu yang kelam, lebih baik pikirkan rencana masa depan yang indah supaya kamu bisa tahu dunia tidak sepahit itu." ***   Hari paling tidak menyenangkan bagi hidup Jovan adalah bertemu dengan kembarannya sendiri. Sang kembaran, Jevran, tampaknya baru kembali dari pertemuan pekerjaan penting di kota dan kini keduanya hanya saling bertatapan di dalam ruangan milik sang Papa. Sudah dihidangkan dua cangkir kopi dan camilan kecil di sana oleh OB kantor. Iya, Jovan kembali memaksa Ryno untuk melakukan pertemuan di kantor saja daripada di rumah. Pikiran Ryno terus menelisik apa yang sedang ada di otak putra sulungnya itu, tidak bisa ditebak apa rencana tersembunyi Jovan. Jika pun masalah warisan, Ryno sudah mengatur semua sesuai Jovan. Dan Jevran sendiri tidak masalah jika tak mendapat warisan dari Ryno, ia sudah diberi warisan dari Oma berupa rumah mewah di Lombok dan tanah seluas dua hektar di Kalimantan. Ia sudah bodo amat dengan tingkah kembarannya yang sudah kelewatan. "Apa yang mau Papa bicarain?" tanya Jevran to the point. "Mama masih diperjalanan? Jalanan tidak macet, sudah seharusnya dia sudah tiba setengah jam yang lalu." Ia memeriksa arloji di tangannya. "Mamamu sedang membeli sesuatu, jadi sedikit terlambat untuk datang ke sini. Jangan terlalu formal seperti itu, Jevran. Kamu seperti klien Papa saja jika gaya bicaramu demikian. Kita sedang kumpul keluarga, bukan rapat," kata Ryno menepuk-tepuk bahu Jevran dengan sedikit kekehan. Tidak demikian bagi Jevran, sejak pindah ke rumah Oma ia terbiasa berbicara seperti itu. Memang cara didik sang nenek dengan keluarga yang seharusnya jauh berbeda. Jika keadilan sudah tidak ditegakkan untuknya sejak kecil, ia tidak akan heran kalau kedepannya baik Ryno atau Lavania hanya terus menerus memberikan perhatian dan kasih sayang hanya pada Jovan seorang. "Tidak perlu basa basi, Jevran harus datang ke pembukaan klinik sore ini dan dihadiri beberapa dokter di rumah sakit." Ryno menghela napas berat, tepat saat Lavania datang dengan buket bunga dan membeli makanan kesukaan Jevran di jalan. Wanita itu juga tidak berubah di mata si bungsu dari keluarga Marvelio dan Erlangga tersebut, masih nampak anggun dengan rahang tegas nan angkuh. Sudut bibir di wajah wanita tersebut mengembang. "Apa kabar, Nak?" Senyum keibuan terpancar, namun Jevran hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Ada yang ingin Papa bicarakan antara keluarga kita, Jevran. Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini. Bagaimana rasanya bertemu orang tuamu? Maafkan kalau selama ini kami tak ada berada di sampingmu, karena kami hanya terlalu mengurus kembaranmu yaitu Jovan saja," kata Ryno. "Silalan, Jevran akan mendengarkan." Ryno dan Lavania saling bertatapan terlebih dahulu. Isyarat yang tidak diketahui baik Jovan maupun Jevran, keduanya terlihat ingin tahu apa yang kedua orang tuanya akan katakan. "Kami akan menikahkanmu dengan anak teman Papa dari perusahaan lain," ucap Ryno dalam sekali napas, ia nampak sedikit gemetar saat menyampaikannya. "Aku menolak," Dalam dua kata, Jevran tidak setuju dengan hal ini. "Papa, aku sudah bertunangan dan akan menikah bulan depan dengan tunanganku. Pernikahanku sudah disiapkan oleh Oma. Dan jika kalian mau, silakan hadir menemuiku." Uwow, Jovan tidak menyangka pembicaraan kali ini rupanya mengenai rencana perjodohan untuk kembarannya. Dan sang kembaran menolak? Sangat disayangkan bagi Jovan karena ia tahu siapa sosok yang akan dijodohkan dengan Jevran. Beberapa hari lalu ia menguping pembicaraan kedua orang tuanya masalah ini dan menstalk wanita itu. Padahal, keluarga yang akan dijodohkan dengan Jevran itu dari keluarga yang sangat berada. Kekayaannya berlimpah ruah. Entah siapa tunangan Jevran, Jovan yakin tidak akan sehebat wanita yang akan dijodohkan kepada sang kembaran. Ia sangat meremehkannya. Bayangan kalau tunangan Jevran adalah wanita biasa dengan harta pas-pasan dan wajahnya juga pasti biasa saja seperti Jevran sendiri. Pokoknya, tak ada yang hebat menurutnya selain kekasih dan tunangan hebatnya yaitu Nayla.  "Tidak bisa! Batalkan pernikahanmu dan terima perjodohan dari Papa ini," Ryno balik menegaskan. Jevran justru tertawa renyah sambil melipat kedua tangannya di depan tubuh. "Bolehkah aku mengatakan hal ini? Sejujurnya, selama beberapa tahun kalian mengacuhkan dan seolah menelantarkanku membuatku Oma lah orang tuaku. Aku datang dari jauh dan kalian berencana menjodohkanku disaat aku sudah bertunangan demi bisnis? Orang tua macam apa kalian berdua ini. Menyedihkan." "Jevran! Jaga bicaramu! Kamu sedang berhadapan dengan Papa." Hati Ryno tak kuasa menahan amarah mendengar sang bungsu berani menghinanya sebagai orang tua. "Kami sudah memikirkannya lama dan ini juga demi kebaikanmu!" "Demi kebaikanku? Tiga belas tahun lamanya aku tidak mendapat keadilan, dan kalian bilang ini kebaikan juga? Huh, kalau perlu membocorkan hal sebenarnya kalian pun akan membela anak kesayangan kalian yang dibanggakan dan dimanjakan itu," sindir Jevran sekaligus mengancam Jovan dengan kaitan masa lalu. Jovan menegang. Mata beriris coklat itu membulat sempurna, bibirnya terkatup rapat. Gawat, Jevran hampir membocorkan rahasia mereka berdua dari masa lalu. Jangan sampai ini terjadi, atau Jovan akan menyingkirkan Jevran dari muka bumi ini. Bibir Jevran tersenyum. "Kita buat perjanjian saja agar bisa damai. Kalau kalian setuju, aku akan sangat senang dan ini akan menguntungkan kalian bertiga. Bagaimana?" "Perjanjian?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN