Chapter 24

1250 Kata
"Perjanjian?" Tampak keadaan diperumit oleh Jevran yang baru saja berkumpul dengan keluarganya. Tentu saja ia menolak dengan keras perjodohan ini dikarenakan sudah bertunangan beberapa bulan yang lalu dengan sang kekasih bernama Vania, tidak bisa momen bahagia itu dirusak oleh siapapun. Oleh karena itu, Jevran ingin menggunakan kekuatannya sekarang untuk bisa membalaskan dendam. "Jika Papa mau memberikan semua perusahaan utama beserta cabang luar kota, aku bakal terima pernikahan ini. Tapi, anak teman Papa jadi istri kedua dan bukan istri utama atau pertama. Bagaimana?" Itu mustahil, Ryno tidak akan mungkin memberikan perusahaan kepada Jevran sementara semuanya sudah akan jatuh ke tangan Jovan secara sah. Tidak bisa dipercaya bagi Jovan bahwa inilah perjanjian yang dimaksud. Licik juga, Jovan pikir kalau Jevran masih berotak polos bisa memiliki rencana selicik ini. Tentu saja Jovan tidak akan membiarkan apa yang akan menjadi kekuasaannya direbut oleh lain termasuk oleh saudaranya sendiri. Keserakahan menjadi sifat utama yang tertanam dalam dirinya. Reflek kakinya berdiri, lalu menghampiri Jevran dan mencengkram kerah baju putih itu. "Maksud lo apa setan?! Lo serakah juga ya, gak ada balas budi sama Papa Mama dan seenaknya gini, Hah?!" "Jovan, ingat kalau ada rahasiamu yang belum aku katakan kepada Mama dan Papa. Rahasia besarmu dan aku bisa saja mengatakan ini kepada seseorang yang bisa aku hubungi. Ah, dua rahasia lebih tepatnya menurutku," Senyum licik Jevran tak berhenti mengembang di wajahnya. Ia cukup puas melihat saudaranya terlihat frustasi seperti ini. "Persetan sama rahasia! Gak ada yang bakal percaya sama omongan busuk lo itu! Sejak kecil, lo tuh saudara paling egois dan paling jahat yang pernah gue kenal selama ini," seru Jovan berupaya membalikkan fakta yang masih berjalan kebohongannya sampai detik ini. "Baiklah. Bakal gue kasih tau," kata Jevran pelan, lalu menatap kedua orang tuanya dengan senyum manis yang ia berikan. "Kalian tidak tahu 'kan, saat aku dalam masa pembuangan di rumah Oma, alasan yang sebenarnya adalah untuk mengalah demi menutupi kejahatan Jovan? Iya, sebenarnya Jovanlah yang sudah membuat gadis itu menemui Tuhan bersama calon anak itu— ah, tidak, calon keponakanku lebih tepatnya. Kalaupun kalian sudah tahu akan hal ini, aku, akan memberitahu kepada orang tua mendiang gadis itu ke rumahnya." "Jangan gila kamu, Jevran. Kami sudah sejak lama menyelesaikan urusan antar kedua keluarga setelah tahu bahwa gadis itu bunuh diri. Ketika kamu pindah, kami telah memberikan sejumlah uang sebagai jaminan dan untuk membuat sejahtera keluarga tersebut, jadi kamu tidak perlu lagi bertemu dengan mereka karena itu akan sia-sia saja." Ryno tidak akan membiarkan pula aib keluarga besarnya kembali terbongkar oleh publik. Ia bekerja keras mendapatkan reputasi bagus hingga ke luar negeri, dan kalau sampai Jevran mengacaukannya maka bukan hanya dicoret dari daftar keluarga beserta warisan saja namun juga Ryno tidak segan membunuh anak kandungnya sendiri. Jevran sendiri tak getar. Toh, ia melakukan apa yang dirasanya benar dan tidak salah sama sekali. Keluarga ini sudah semakin gila semenjak ia tidak tinggal di sana. Papanya yang dibudak oleh Jovan, sang Mama yang haus akan kecantikan dan juga kekayaan yang bergelimangan, dan saudara yang tidak lebih dari seorang yang lebih gila daripada orang paling gila di dunia ini. "Tidak, Papa tidak akan dapat memberikan perusahaan kepadamu. Ini sudah melewati batas, Jevran. Kamu tidak bisa serakah dengan meminta seluruh perusahaan jatuh ke tanganmu seorang. Ingatlah ada saudaramu, Jovan, juga salah satu pewairs perusahaan," tukas Ryno sekali lagi dengan nada bicara lebih tegas daripada sebelumnya. Karena sudah tidak mungkin Ryno membatalkan perjanjian dengan Jovan, akan menjadi sebuah bencana karena ada campur tangan keluarga Nayla. Sudah pasti, keluarga perempuan itu lebih kuat daripada keluarganya. Jevran pun melepaskan tangan sang kembaran yang terlalu erat mencengkram kerah bajunya, "Well. Kalau gitu aku tidak akan menerima perjodohan ini. Entah untuk alasan bisnis atau lainnya, aku pun tidak akan pernah menerimanya. Jika Papa sekali lagi mencoba memaksaku, aku bisa meminta bantuan Oma untuk hal ini dan kupastikan kalau sekali lagi kalian bermacam-macam, aku akan membuka kedok Jovan yang lain yang mungkin tidak pernah kalian berdua tahu akan hal ini." Sudah malam dan merasa pengap di ruangan itu, Jevran pergi meninggalkan ketiganya di sana yang masih menatapnya dengan penuh rasa campur aduk. Terutama Ryno, ia gagal membuat putra bungsunya untuk mengikuti permintaan kecilnya. Tidak, tidak bisa. Anak keluarga yang akan melakukan perjodohan ini sungkan untuk mendengarkan sebuah penolakan. Tetapi, Ryno tidak mungkin meminta Jovan untuk menggantikan Jevran, apalagi Nayla itu lebih mengerikan. Sama mengerikannya seperti seorang Presiden dari Korea Utara. Dibalik tampang manis Nayla, terdapat amunisi yang siap diluncurkan jika keluarga Ryno macam-macam dengannya. Sepertinya, Ryno harus menyusun rencana lain. Agaknya tidak sekarang ia harus mengatur hal-hal tersebut karena sebentar lagi pernikahan Jovan dan Nayla akan dilakukan. Benar-benar tak kuasa dirinya sekarang. Diperbudak oleh anaknya sendiri dan juga keluarga calon menantunya yang merupakan salah satu keluarga mafia terbesar di dunia—masih berhubungan dengan keturunan mafia Italia. "Ah, sial! Anak itu harus kuberi pelajaran segera." ***   Belum terbiasa bagi Ara untuk merasakan mual di pagi hari. Morning sickness. Hal lumrah yang dirasakan ibu hamil muda, belum lagi Ara kadang pusing dan mood merasa sangat sensitif. "Mas, kaus kakinya... hoekk." Ara harus kembali ke wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Hanya karena satu kaus kaki masih bergantung di sofa dan bau benda itu sebetulnya tidak terlalu menyengat, namun bagi Ara baunya begitu busuk dan menyebabkannya terus menerus muntah. "Maaf, Ara. Mas lupa untuk memasukkannya ke ranjang tempat baju kotor. Aduh, mau minum obat?" Adimas membawa istrinya ke belakang rumah saja, lalu menenangkan kondisinya. Wajah Ara menjadi sedikir pucat dari biasanya. "Hari ini kita ada pemeriksaan USG, masih mau ke sana atau dijadwalkan ulang saja?" Namun Ara justru menggelengkan kepala. "Enggak, Mas. Kita tetep ke sana, aku pasti mendingan kalau ngehirup minyak kayu putih dan minum air putih." "Mas taruh kaus kakinya ke tempat mesin cuci dulu, kita siap-siap ke rumah sakit ya. Mama kamu masih belum pulang dari Semarang dan Ibu aku juga lagi ke Tanggerang untuk jenguk Om aku. Jadi, hari ini aku yang akan antar kamu ke rumah sakit," kata Adimas. "Bukannya Mas masih ada pekerjaan?" tanya Ara. "Bisa dikerjakan setelah kita pulang dari rumah sakit, gak pa-pa kalau antar istri sendiri periksa kandungan. Toh aku juga ingin tahu jenis kelamin calon anak aku yang kamu kandung, apakah laki-laki atau justru perempuan." Setelah kondisi Ara sudah membaik, mereka berdua pun bersiap dan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin. Karena usia kandungan Ara sudah semakin membesar, pastinya sudah bisa ditebak apa jenis kelaminnya. Tidak ada tetangga curiga kalau usia kehamilan Ara tidak sesuai dengan umur pernikahannya sekarang, karena sebagian besar mereka merupakan wanita karir yang jarang bersosialisasi dengan sekitar. Tiba di rumah sakit dan mendapatkan gilirannya, baik Ara maupun Adimas merasa gugup masuk bersama untik mengetahui kondisi kandungan perempuan itu. Dokter yang menyambut keduanya merupakan salah satu teman sejawat Adimas dan juga doktee yang dulu menyatakan bahwa Ara sedang hamil. "Duh, mesra banget kalian berdua. Jadi iri saya," goda dokter Rania. "Bisa saja." Adimas terkekeh. Dokter Rania mempersilakan Ara untuk berbaring di ranjang. Bajunya sedikit ditarik ke atas dan perutnya diolesi dengan gel dingin. Alat USG menempel di perut, dan layar monitor di sampingnya memperlihatkan pergerakan kecil. "Lihat, sudah membesar daripada bulan lalu. Sepertinya anak kalian akan menjadi anak tampan," kata dokter Rania, menunjuk pada monitor dengan nada gemas. "Anak tampan? Anak.. tampan?" Mata Adimas mengerjap pelan. "Iya, tampan, selamat ya dokter Adimas. Calon anak kalian berjenis kelamin laki-laki." Entah reaksi apa yang harus ditunjukan, Adimas bersyukur mengetahui jenis kelamin calon anaknya. Sebaliknya, hal lain di rasakan Ara. Ada rasa cemas datang tanpa sebab. Mungkin... ketakutan jika anaknya lahir memiliki wajah yang mirip dengan Jovan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN