"Kamu gak perlu repot dulu Mas buat siapin nama untuk anak kita, masih lama. Aku baru hamil sepuluh minggu loh."
Agaknya kali ini Adimas menghiraukan ucapan Ara dan sibuk dengan layar laptopnya yang menampilkan hasil pencarian 'Nama Anak Laki-Laki Baik dan Keren, Modern, dan Indah' di Google. Terlalu antusias membuatnya seperti ini, ia ingin nama anaknya memiliki arti yang bagus dan ada nama belakang dirinya juga sebagai identitas keluarga kecil.
Beberapa kali mengunjungi website namun belum ada yang cocok di hatinya. Kebanyakan memberi nama yang terlalu keren hingga menggunakan bahasa asing. Kalau disandingkan dengan 'Chandrasurya' akan terlalu kontras.
"Ah, ketemu!" Jemarinya menjentik pelan, menemukan kombinasi dua nama lain yang akan menjadi nama sang anak kelak. "Rangga Aditya Chandrasurya, ksatria yang bersinar seperti sinar rembulan dan matahari." Bibirnya tersenyum kecil, nama yang pas dan cocok.
"Bukannya Aditya itu udah mengartikan matahari? Chandrasurya juga artinya sinar bulan dan matahari, Mas," sela Ara melihat terjemahan nama tersebut.
"Anak kita akan menjadi sinar rembulan yang indah nantinya, dan dua matahari adalah definisi dari aku dan juga kamu. Matahari adalah bintang di angkasa, dan ada bintang lainnya yang menjadi matahari di galaxy lainnya. Ini tergantung situasi dan posisi. Namun, di sini matahari bersatu untuk menerangi jalan seorang calon ksatria hebat di masa depan," jelas Adimas menutup jendela tab internet.
Badannya diputar menghadap ke perut istrinya. Ia mengelus pelan lalu menempelkan telinganya di sana, membuat Ara merasakan sensasi aneh sekaligus geli melihatnya.
Semakin hari, Adimas semakin manis. Pernikahan yang baru akan genap satu bulan ini belum pernah merasakan perselisihan atau perdebatan. Mereka lebih memilih diam menahan kesal hingga amarahnya reda sendiri. Apalagi Ara sebagai ibu hamil. Tingkat kesensitifannya meningkat.
"Kalau nanti empat bulanan, mau diadain syukuran untuk kehamilan kamu? Atau nanti sekalian tujuh bulanan aja?" tanya Adimas.
"Sekalian aja, Mas. Tapi takutnya warga sini jadi curiga sama usia kehamilan kamu," terang Ara.
"Nanti Mas yang bilang kalau bayi kita ini bobotnya sudah seperti usia bayi sembilan bulan. Kita akan mengadakannya sekitar usia kamu delapan bulan setengah, biar nanti warga sekitar mengira kalau usianya tepat tujuh bulan." Ara mengangguk. Terserah suaminya saja, ia akan selalu mengikuti apa yang direncanakan lelaki itu karena ia yakin itu sudah pasti terbaik untuknya maupun Adimas sendiri.
Setelah berbincang sebentar, Adimas harus bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Karena ia praktek siang sehingga harus segera tiba di rumah sakit sesegera mungkin. Ia mengecup kening Ara sebelum meninggalkan rumah, lalu pergi ke tempat kerjanya tersebut.
Rumah sudah sepi, Ara memeriksa ponselnya dan ada beberapa pesan masuk termasuk dari grup yang berisikan istri para dokter. Ia jadi ingat dulu salah satu teman Adimas yang sangat cerewet pernah mengatakannya, dan ia masih belum bisa pergi ke luar tanpa sang suami atau persetujuannya.
Setelah lama scroll, Ara menemukan nomor asing yang mengirimkannya tiga buah foto. Ia merasa tidak pernah mengenal siapa orang itu dengan display name 'El'. Siapa itu El?
Maka, Ara pun menekan dan melihat foto yang dikirimkan oleh El. Ia membelalak tatkala foto-foto tersebut berisikan sosok Jovan dan Nayla yang sedang beradu mesra di hari pernikahan. Dan foto terakhir.... malam pertama? Mereka gila dengan mengabadikan momen privasi tersebut hanya untuk pamer padanya? Huh, tidak lucu.
Dan pesan singkat yang baru saja masuk membuatnya semakin tidak mengerti.
El
Bagaimana?
Hidupmu semakin hancur?
Ara tidak mengerti kenapa sang mantan yang sudah hidup dengan orang lain masih saja mengganggunya. Bahkan sepertinya Jovan benar-benar ingin memastikan bahwa hidup Ara memang harus menderita. Sudah gila, dan semakin gila.
Okey, Ara tidak boleh mengalami serangan panik. Ia segera menghapus foto-foto tersebut dari galeri ponselnya dan mengirimkan pesan balasan.
Me
Have a nice day
Semoga pernikahanmu bahagia
Hilangkan iblis dalam dirimu
Huh, aku bahagia, jauh bahagia
Tidak perlu mengatakannya lagi
[Blocked]
Memblokir nomor itu menjadi hal yang tepat. Setelah ini Ara akan mengganti nomor ponselnya supaya tidak diteror lagi. Ada apa dengan hampir semua mantan? Bukan hanya mantannya saja, namun mantan orang lain suka sekali mengganggu setelah meminta putus terlebih dahulu.
"Mantan semakin aneh."
***
DAY6 COMEBACK
Sebagai seorang Myday jalur teman kuliahnya, Ara begitu bahagia melihat salah satu grup kesukaannya yang dari Korea tersebut akan merilis lagu segera. Kabar ini ia lihat ketika sedang berbelanja di supermarket di dekat rumahnya.
Penampilannya tidak terlalu mencolok. Hanya tampilan kasual saja. Kaos oversize, celana tak terlalu ketat, masker hitam melekat, dan juga sandal biasa yang nyaman dikenakan. Ia lebih mirip seorang anak remaja daripada wanita berusia 26 tahun. Ditambah wajahnya masih terlihat manis meskipun sebagian besar ditutupi oleh masker.
"Pengin beli albumnya, tapi gak terlalu berguna aslinya. Lebih baik uangnya dipakai untuk beli keperluan lain. Lagian, aku ini udah nikah, kelihatan lucu kalau misal tetep jadi Myday di usia segini," gumamnya lalu menyimpan ponsel ke dalam saku dan kembali lanjut mendorong trolli.
Ini pertama kalinya ia berbelanja sendirian tanpa ditemani oleh Adimas dikarenakan ada kesibukan yang tidak bisa ditunda oleh sang suami. Ia sudah memastikan bahwa kondisinya dalam keadaan baik termasuk suasana hati dan psikisnya. Ada obat yang bisa jadi penenang yang diam-diam ia bawa jika anxietynya kambuh secara mendadak.
Troli belanjaan didorong menuju etalase lain. Ia membeli keperluan dasar dan beberapa cadangan makanan ringan. Mana tau Adimas suka ngemil, sebagai istri yang baik Ara membelikan beberapa makanan kesukaan suaminya itu.
"Eh, Ara!" Seseorang menepuknya dari belakang. "Kamu apa kabar? Ya ampun, udah lama kita gak ketemuan loh sejak lulus S1 dulu."
Ara menoleh dan terkejut melihat teman akrabnya saat kuliah di Bandung dulu ternyata ada di sana. "Afira? Ya ampun.. kabarku baik. Kamu tinggal di sini juga ya? Nomor kamu gak bisa dihubungi waktu aku mau berangkat ke Korea."
"Aduh, maaf ya Ra. Ponselku kecopetan waktu itu, akhirnya aku ganti nomor baru. Bentar, kamu ke Korea? Serius? Kuliah atau kerja?"
"Kuliah, Afi. Udah lulus, baru lulus kemarin."
"Woah, keren." Afira nampak takjub mendengarnya, ia tahu betul temannya ini memang sangat hebat. "Sekarang, kamu pindah? Kapan nih kamu nikah sama Jovan? Aku nunggu undangannya loh."
Ara tersenyum kikuk mendengarnya. Sayang sekali bahwa ia dan Jovan tidak menikah seperti ekspetasi kawannya ini. "Maaf ya, Fi. Aku sama dia udah putus dua bulan yang lalu. Dan sekarang, aku udah nikah sama orang lain dan pindah tinggal di sini."
Afira tercengang. "Maaf, Ra. Aku beneran gak tahu kalau kalian...." Perempuan itu memegang lengan Ara. "Terus, sekarang kamu nikah karena dijodohin? Soalnya tiba-tiba banget kayak tahu bulat kabarnya. Masih kaget beneran nih aku dengernya."
"Aku nikah sama suamiku sekarang karena kita sama-sama mau komitmen. Jovan bukan jodohku dari Tuhan. Tuhan kasih tahu aku bahwa dia bukan lelaki yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup, bersyukur sekarang aku menikah dengan suamiku, dia ternyata jauh lebih baik."
Kata-kata Ara tidak dimengerti oleh kawannya. Namun begitu, Afira menghargai keputusan Ara untuk memilih pendamping hidup. Ia pun senang karena setelah sekian lama bisa bertemu dengannya.
"Ya sudah, aku senang kalau kamu bahagia sama suamimu sekarang. Aku mau pergi ya, udah ditunggu sama anak sama suami di rumah. Kapan-kapan main ya ke sana? Rumahku nomor 115 yang depannya ada ayunan kecil," kata Afira pamit lalu ia pergi dan mendorong troli menuju ke arah kasir.
Banyak yang belum tahu kalau ia dan Jovan sudah putus. Mungkin Ara harus kembali memberitahu orang-orang agar ia bisa segera lepas dari bayang-bayang masa lalunya.
Jovan, tidak lebih dari sebuah memori berwarna yang berubah menjadi hitam.