Sepulangnya dari mengunjungi rumah salah satu saudara di Tanggerang, Sinta, ibu Ara memutuskan untuk mampir dulu ke alamat tempat tinggal putrinya yang sudah menikah itu untuk dibawakan oleh-oleh titipan saudaranya yang baru pulang umrah. Karena kebetulan juga rumah Ara satu arah sebelum ke rumah lamanya, jadi Mira pun tidak akan repot menemukan letaknya karena kawasan perumahaannya cukup dikenal banyak orang.
Satu totebag ia jinjing di tangan kanannya berisikan buah kurma dan air zam-zam. Makanan serta minuman khas yang pasti akan dibawa oleh orang yang pulang umrah atau haji. Mira yakin jika Ara pasti akan sangat menyukainya.
Abang gojek yang ia pesan dan membawanya ke rumah sang putri pun sudah sampai di depan gerbang rumah. Sinta masih tertegun dengan rumah tersebut yang terlihat mewah dan tidak akan menyangka jika sang menantu—yang bekerja sebagai seorang dokter—bisa membeli rumah seperti ini. Sehingga masalah finansial tak perlu dikhawatirkan.
Sinta menekan bel gerbang rumah, bunyi nyaringnya membawa Ara yang tengah membersihkan bagian samping pun buru-buru mendekat. Ketika ia membuka pintu gerbang, rasa terkejut tak dapat dielak lagi. Ia segera memeluk wanita yang dirindukannya itu dan segera mempersilakannya masuk ke dalam.
"Mama gak bilang kalau mau mampir ke rumah dulu," kata Ara menghidangkan teh untuk sang mama.
Sinta terkekeh. "Biar kejutan. Mama emang sengaja gak mau bilang ke kamu kalau bakal pulang dari Tanggerang hari ini. Ya masa Mama gak boleh ke rumah anaknya sendiri?" timpalnya.
"Boleh, kok. Ara senang kalau Mama bisa ke sini, cuman Mas Adimas masih jadwal praktek di rumah sakit lain jadi belum bisa temui Mama," ungkap Ara, dan Sinta memahaminya. "Om Rio apa kabar? Dia udah sembuh apa belum, Ma?"
"Alhamdulillah udah. Karena kakak sepupumu, Kresna, baru aja pulang umrah sama orang tuanya buat mendoakan sekalian ibadah di sana," tutur Sinta yang membuat Ara mengangguk-angguk paham.
"Oh, iya, ini oleh-oleh dari mereka buat kamu. Dan karena Kresna gak datang ke pernikahanmu jadi dia cuman titip kurma sama air zam-zam."
Totebag berisikan dua hal tadi diserahkan kepadanya. Ara pun menerimanya, ia menghargai hadiah dari sepupunya tersebut dan merasa senang meskipun mereka kedua jarang berkomunikasi. Baik kurma maupun air zam-zam sangat menyehatkan tubuh, apalagi untuk ibu hamil.
"Mama mau ke kamar mandi sebentar ya," Sinta meminta izin, Ara memberi petunjuk letak kamar mandi di dalam rumahnya.
Mengerti dengan baik, Sinta pun segera menuju ke kamar mandi dan meninggalkan Ara di ruang tamu sendirian. Kamar mandi tersebut terletak di dekat dapur, malah sedikit berhadapan saja. Hanya ingin buang air saja lalu setelah selesai pun ia keluar dari kamar mandi.
Matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang bersembunyi di laci dapur, tempat biasa menyimpan bumbu dapur dan juga makanan instan. Langkah kakinya mencoba mendekat dan memastikan sesuatu yang ia tangkap melalui indra mengelihatannya yang masih berfungsi dengan baik. s**u ibu hamil? Apa ia tidak salah lihat?
Saat sudah separuh jalan, Ara memanggilnya dari ruang tamu. "Mama, Mas Adimas lagi diperjalanan mau ke sini. Ayo ke sini dulu, Ma."
Tidak jadi. Sinta mengurungkan niatnya untuk mengetahui lebih lanjut dan memilih kembali ke ruang tamu. Mungkin Ara bisa menjawab apa yang ingin ia tanyakan olehnya. Pasalnya, bukankah s**u ibu hamil hanya diminum oleh ibu hamil saja? Lantas, kenapa Ara meminumnya? Memangnya dia sudah dinyatakan hamil?
Pertanyaan demi pertanyaan masih berputar di pikirannya. Sinta ragu namun mencoba untuk menepis keraguan tersebut, dan akan percaya dengan putrinya sendiri saat dijawab nanti.
"Adimas mau pulang?"
"Iya, katanya prakteknya udah selesai." Ara menatap ponselnya saat melihat kembali chat dari suaminya.
"Dia praktek dimana aja?" tanya Mira penasaran.
Ara menjawab, "Dua rumah sakit deket sini kok, Ma. Salah satunya dia jadi dokter tetap di sana. Mumpung Mama di sini, mau makan apa? Nanti Ara belikan lewat delivery online. Kita biasanya masak cuman pas makan malam atau liburan."
"Terserah Ara, Mama ikut aja."
Tanggapan Sinta begitu santai, lantas Ara pun mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan melalui aplikasi online. Ia memesan di tempat makan yang masih cukup dekat jika menggunakan motor, namun di rumahnya hanya memiliki mobil saja dan itu sedang digunakan oleh Adimas untuk berangkat ke tempat kerja.
Mumpung masih ingat, Mira mencoba bertanya mengenai s**u ibu hamil yang ia lihat dari balik celah laci dapur. "Ara, tadi Mama lihat ada s**u kotak. Gambarnya kayak untuk ibu hamil. Memangnya sudah hamil ya Ara?"
Ara membeku, tangannya berhenti mengetik kata-kata untuk membalas pesan sang suami. Bagaimana bisa Mira melihatnya? Ia cukup yakin bahwa sudah meletakkannya di tempat yang aman.
"A-ah ..., itu s**u untuk ibu yang belum hamil, Ma. Program hamil, kata dokter biar ada asupan yang masuk dulu sebelum lanjut ke program kehamilan. Adimas dan aku udah setuju kalau misal mau punya anak langsung dan gak mau tunda-tunda, umur Ara pun sudah produktif untuk memiliki anak," balas perempuan tersebut seyakin mungkin agar Mira tidak curiga kepadanya.
"Oh, begitu ...." Mira mengangguk paham, menepis keraguan yang sebetulnya semua ucapan Ara hanyalah penepis saja. "Kamu yakin mau hamil dulu? Kalau belum siap, jangan dipaksa, Ra. Mama cuman takut itu berpengaruh ke bayinya juga."
"Ara sudah mantap, Ma. Tenang aja, ada Mas Adimas yang jaga dan dukung aku. Aku bersyukur memiliki suami seperti dia dibandingkan dengan mantanku yang kemarin."
Mira mengangguk setuju. Tanggung jawab Adimas terlihat lebih nyata dibandingkan Jovan. Memang Jovan selalu baik setiap berkunjung ke rumahnya saat belum LDR dengan anaknya, namun saat mendengar Ara stress diputuskan oleh lelaki itu disaat semua rencana pernikahan akan siap, pandangan Mira berubah banyak. Ia memilih lebih menghargai Adimas yang langsung sigap menentukan segala persiapan pernikahan.
Di dalam hatinya, Ara merasa gugup dan hampir saja ketahuan. Mungkin ini beruntung, semoga saja Mira tidak menyadari bahwa perut Ara sudah mulai agak membuncit karena janinnya pun perlahan tumbuh.
Mengalihkan pembicaraan, Ara bercerita tentang kehidupan awal-awal berumah tangga yang terasa canggung, bahkan sampai sekarang. Hanya saja tidak separah pada awalnya. Ia menceritakan setiap kebaikan dan tugas Adimas yang dijalankan dengan baik sebagai suami dan kepala rumah tangga.
Adapun Mira menasehati bahwa memang seperti itulah berumah tangga dengan seseorang yang awalnya tak kenal, dan hanya dekat dalam dua bulan saja. Namun, lambat laun pasti akan sangat dekat bahkan sampai bisa keduanya saling mencintai. Sudah sepantasnya seperti itu, rumah tangga tidak akan terbentuk jika tidak ada komitmen, kasih sayang, dan kepercayaan kepada satu sama lain.
Mira sudah membuktikannya sampai sang suami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Suaminya begitu mencintai ia dan Ara, namun waktu kebersamaan mereka sedikit saja. Mira tidak tahu jika sosok suami baginya dan sosok ayah bagi Ara akan meninggalkan mereka secepat itu.
"Kamu, jangan pernah sia-siakan seseorang yang sudah memperjuangkanmu. Termasuk Adimas. Dia termasuk pejuang meskipun kalian sudah menikah, sayangi dia dan cintai dia setulus hati kamu. Kelak, ketulusan itu akan bertimbal balik ke diri kamu sendiri. Ingatlah."
"Tentu saja, Mama."
***