Chapter 27

1141 Kata
Adimas baru saja memarkirkan mobilnya setelah pulang dari pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit jiwa. Fiyuh, ia baru saja mendapat pasien yang diluar kendali saat diperiksa. Bersama dokter senior yang sudah lama praktek di sana, beliau dengan cepat meminta perawat untuk menyuntikan obat bius ke pasien supaya cepat tenang. Ia jadi ingin menceritakan apa yang dialami pasien tersebut. Kasusnya mirip dengan Ara dan para pasien serupa yang merupakan korban pelecehan seksual. Namun mirisnya, dia seumuran dengan pasien yang dia temui sebelumnya. "Ar— lho, kamu kenapa?" tanya Adimas ketika melihat wajah sang istri begitu tegang. Seperti sedang hampir terciduk sesuatu, namun entah apa itu jelas Adimas belum mengetahuinya. Ara belum menjawab, dan masih bergeming. Membuat Adimas berinisiatif membawanya ke sofa yang ada di sana. "Duduk dulu, jangan berdiri di dekat jendela. Rilekskan pikiran kamu dari hal-hal negatif. Saya ambilkan minum dulu, ya?" tawarnya. Adimas segera membawa segelas air putih, dan diminumkan kepada istrinya. Ia mengusap-usap tangan itu dengan lembut. Sesekali memijatnya supaya lebih rileks lagi. Sungguh, ada apa dengan Ara? Apakah dia habis bertemu seseorang seperti Jovan? Ah, tapi Adimas sudah melarangnya untuk keluar dari rumah sebelum ia pulang. "Sekarang, kamu boleh cerita jika mau." Mata Ara langsung menatap Adimas dengan gemetar. Ia memang terlihat sangat ketakutan. "M-mas.. Mama.. Mama.." "Mama kenapa? Hei, gak pa-pa, bilang ke Mas. Kenapa dengan Mama? Semua baik-baik aja, kan?" tanyanya sekali lagi. "M-mama.. hampir saja tahu kalau aku hamil. Tidak, maksudnya.. maksudnya—" Satu telunjuk Adimas mengunci ucapan Ara, membiarkan perempuan itu diam sejenak. Ia langsung paham maksud dari kalimat patah-patah tadi. Ara hampir ketahuan. Ketahuan hamil. Memang belum saatnya Ara mengumumkan kehamilannya di keluarga besar Ara, karena usia pernikahan mereka saja masih sangat baru. Wajar, jika ketahuan usia kandungan yang sebenarnya, maka cibiran pedas tak bisa dihindarkan lagi. Dan, jadi tadi Sinta ke sini? Wah, mendadak sekali, dan datang di saat Adimas sedang berada di jam praktek di rumah sakit. Kalau Mama yang dimaksud adalah ibu mertua Ara atau ibunya Adimas, yaitu Mira, sudah tentu Ara tidak akan setakut ini. "Sudah ya, sudah. Sini," kata lelaki itu, membawa tubuh Ara masuk ke dekapannya. Ia membelai surai itu dengan lembut. "Tidak apa-apa. Lain kali kita berhati-hati dulu. Belum saatnya ibu kamu memang tahu hal ini, kamu jangan sedih dan takut lagi, ya? Mas akan selalu untuk menguatkan kamu." "I-iya, Mas." "Nah, sudah ya? Jangan sampai nangis dong. Sini, Mas usapin air matanya yang udah jatoh. Masih cantik, tapi lebih cantik kalau kamu tersenyum." Aigoo, Adimas manis sekali. Ia baik hati mengusap kedua pipi Ara dengan ibu jarinya—saat pipi perempuan itu sudah ada air mata yang mengalir. Ia juga menarik ujung bibir Ara supaya ditarik ke atas membetuk lengkungan senyuman. "Tuh, cantik. Sudah, ya? Padahal saya mau ceritakan pasien yang saya dan dokter Ghio tangai hari ini." "Apa.. tidak apa-apa menceritakan keadaan pasien yang Mas tangani? Bukankah itu melanggar hak privasi pasien?" "Kalau saya menyebut namanya, itu masuk dalam pelanggaran hak kerahasiaan pasien. Saya akan ceritakan secara garis besarnya. Ini kasus umum yang banyak terjadi, sudah menjadi rahasia umum di masyarakat, namun masih ada yang beranggapan bahwa selalu dan selalu saja pihak perempuan menjadi pusat kesalahan." Dari penjelasan Adimas, Ara dapat menangkap maksud dari pesan tersirat itu. Kasus perempuan yang dilecehkan. Kemudian, sebagai pendengar yang baik juga, Ara mencoba mendengarkan apa yang ingin diceritakan oleh sang suami. Ia berganti, sudah sering kali suaminya lah yang menjadi seorang pendengar, gilirannya sudah tiba. "Kasusnya sama, dilecehkan. Dia mengalami trauma dan tekanan mental dari lingkungan sekitar hingga keguguran. Lebih parahnya, saat kehilangan bayi, ia disalahkan oleh kedua belah pihak keluarga. Hingga akhirnya, dia bisa dikatakan 'gila' dan dibawa oleh keluarga ke rumah sakit jiwa. Dia selalu bilang untuk tidak menyalahkannya, tidak menyuruhnya mengugurkan bayinya, tidak menyuruhnya menikah dengan lelaki itu. Ia ingin mati, ia ingin menyusul bayinya saja, dan enggan hidup bersama orang tuanya yang telah membuat dia seperti itu." Mendengar hal itu hati Ara menjadi teriris, miris sekali. Kenapa mereka sekejam itu? Apa salah dari perempuan itu? Ia hamil, lalu disuruh digugurkan, dan saat bayinya benar-benar mati, semua menyalahkan atas kematian bayi itu. Benar benar gila. "Ini Mas bukan bandingkan penderitaan seseorang. Banyak pasien di sana yang serupa. Bedanya, perempuan ini.. benar-benar ditinggal. Orang tuanya memberikan uang yang besar untuk biaya perawatan, dan berkata bawa mereka tidak mau menjenguk anaknya lagi. Sempat Mas dengar, mereka bahkan hendak menjual anak satunya lagi demi uang. Belum sempat Mas menegur, dokter Ghio menyuruh saya untuk segera menangani pasien itu yang sudah memberontak dan hampir mencekik salah satu perawat yang ada di sana." "Lalu, kondisinya sekarang bagaimana, Mas? Dia tidak mungkin dikurung, kan?" Tatapan Adimas menjadi sayu. Ia menggeleng kecil, bukan jawaban yang diinginkannya. "Terpaksa kami ikat, dan diletakan di ruangan tertutup. Nanti, ada petugas yang rajin memberikannya makan sesuai jadwal makan. Kami tidak setega itu jika hanya membuatnya terus tenang tanpa diberi makanan dan obat." "Syukurlah kalau begitu..." Ara menjadi lega, sungguh. Sesama wanita, bagaimana ia tidak bisa merasakan hal yang sama? Biarpun mereka berada pada kesehatan jiwa yang berbeda, namun perasaan tersakiti bisa dirasakan olehnya. "Apa yang seharusnya masyarakat pahami atas kejadian yang sudah berulang kali terjadi ini? Menghindari korban dari tindakan abusive dan tidak memaksanya untuk menikah dengan pelaku. Lantas apa mereka gak memikirkan kalau korban saja mati-matian menghindari pelakunya? Sama saja mencoba mendekati penyebab rasa sakit. Sungguh, saya masih miris atas tindakan tersebut. Kalau perempuannya memang tulus tidak keberatan tidak masalah, berarti dia setuju. Gimana ceritanya, setiap perempuan memilih hak memilih tapi gak diizinkan untuk menyuarakan haknya. Apa salahnya jika dia membiarkan hidupnya menjadi single parent tanpa dipandang sebuah aib? Padahal, dia bukan aib, dia korban, korban yang sesungguhnya. Kalau misal hukum di negara kita mengizinkan aborsi untuk korban pemerkosaan, pasti aborsi tidak menjadi hal yang illegal. Sayang, di sini kami para dokter juga ingin memberikan hak hidup pada calon janin di rahim sang ibu, Ara. Ini sungguh-sungguh." Begitu banyak Adimas menjelaskan secara runtut. Hampir tak ada yang terlewat sedikitpun. Lazimnya, inilah yang harusnya disebarkan ke orang-orang! Bagaimana bisa seorang perempuan—makhluk lemah, dianggap seperti seorang b***k pada akhirnya? Apa tidak tahu bila tak ada perempuan, maka dunia ini tak ada keturunan. "Jadi, kamu jangan nangis lagi, ya? Sudah dong. Saya bukan penyebab rasa sakit kamu, saya juga tidak ingin ada sakit lagi yang saya lihat ke mata kamu. Baik-baik, cerita saya ini hanya ingin menyampaikan rasa dan pesan yang sama, bahwa setiap perempuan harus dijaga kehormatannya. Jika sekali mereka dirusak, hanya ada dua pilihan tergantung oleh sekelilingnya; semakin diinjak, atau mencoba dibangkitkan. Hanya itu, itu saja." "Maaf tadi bikin kamu cemas, Mas. Hanya memang aku terlalu takut untuk ketahuan akan rahasiaku oleh Mama. Sampai hampir kena serangan panik tadi." "Syukurlah saya datang diwaktu yang tepat. Lebih baik kita ke dalam saja. Kamu mandi air hangat supaya lebih jernih pikiran, Mas siapkan air hangatnya, ya. Kamu ambil saja pakaian ganti." "I-iya, Mas. Paham."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN