Chapter 28

1250 Kata
Jovan dan Nayla kecelakaan. Apakah ini sebuah karma? Mungkin. Di saat semua khawatir, hanya Jevran satu-satunya orang yang nampak tak acuh dengan kondisi kembarannya. Ia sendirian yang tidak meluncur ke Paris, memilih untuk bekerja keras di rumah sakit sebagai dokter baru di sana. Kehadirannya pun pasti tidak dianggap sejak pertemuan mereka. Ryno memilih lebih membela Jovan ketimbang dengan Jevran, ketakutannya ada di Nayla yang memihak putra sulungnya itu. Apalagi setelah datangnya surat ancaman yang meminta Jevran untuk segera diusir dari rumah besarnya. Kondisi Nayla tidak terlalu parah, namun Jovanlah yang harus dikasihani. Selain kepalanya terbentur cukup keras dan tangan kirinya mengalami patah tulang, bagian bawahnya juga terjepit karena mobil mereka terguling. Dokter berkata bahwa kakinya masih berfungsi normal, hanya saja bagian panggul dan depan mengalami kegencetan yang cukup serius dan harus ditangani. Dokter mendekati Ryno yang sudah cemas tak karuan. Beliau berkata bahwa kemungkinan adanya cedera pada alat kelamin Jovan akan sulit membuatnya memiliki anak. Harus dilakukan pengobatan untuk bisa memulihkannya. "Sulit untuk memiliki anak. Tuan Jovan harus melakukan segenap perawatan. Butuh sekitar 3-4 tahun lagi untuk bisa memiliki keturunan," Kepala lelaki itu mendadak pusing. Kenapa jadi begini? Padahal kan antara keluarganya dengan keluarga Nayla sudah ingin menantikan cucu pertama. Sudah membayangkan betapa cantik/gantengnya anak Jovan dan Nayla, namun harapan Ryno harus ditunda sedikit lebih lama lagi. Bagaimana aku mengatakan hal ini kepada Tuan Amagadora? Pasti akan terjadi perdebatan. *** "Terima kasih, Dokter Jevran. Semoga kita bisa menjadi kawan sesama dokter," Adimas berjabat tangan ramah dengan salah satu dokter baru di rumah sakit. Hari ini ada penyambutan dokter baru. Adimas diminta sebagai salah satu perwakilan dan menyambut mereka dengan senyum ramah. Perhatiannya terfokus pada Jevran yang nampak mencolok daripada lainnya, ada aura luar biasa darinya sebagai dokter Spesialis Othopedi. Meski pun keduanya berbeda spesialisasi, tapi Adimas tidak akan sungkan untuk berteman dengan dokter lainnya. Ia juga berniat untuk berteman dengan dokter baru lainnya, karena mereka juga masih sama-sama junior di sana. "Sama-sama, Dokter Adimas," ucap Jevran balik. Dibalik senyum tipis tersebut, Jevran tahu jika sosok di hadapannya adalah suami mantan pacar sang kembaran. Ia tahu karena tidak ada hal yang Jevran tidak tahu. Hal yang paling disyukuri Jevran saat mengetahui faktanya adalah ketika Ara tidak mendapatkan pendamping hidup bermodel Jovan, baginya Ara sudah bagus memilih Adimas yang dikenal loyal dan merupakan seorang dokter yang baik serta ramah oleh semua orang tak terkecuali pada pasien. Iya, Jevran juga berharap kalau pernikahannya nanti dengan sang tunangan bisa sebahagia kehidupan rumah tangga Adimas yang terlihat harmonis. Tidak, Jevran bukan bermaksud terlalu mengawasi Ara yang sudah menikah. Sebagai bentuk memastikan bahwa keadaan perempuan tersebut baik-baik saja atau tidak ada teror yang di dapat dari Jovan. Meskipun belasan tahun ia tak bertemu dengan Jovan, sifat lelaki itu masih tetap sama seperti yang dikatakan suruhan Oma. Kedepannya pun Jevran akan menjaga Ara dari jauh karena ia tahu bayi yang dikandung perempuan itu adalah anak kakaknya, sekaligus keponakannya. Sebagai calon paman yang baik, mungkin dengan memberi perlindungan secara tidak langsung kepada Ara akan membuatnya sedikit lebih tenang. "Oh iya, karena saya baru pindahan ke kota ini, bagaimana kalau anda dan keluarga datang ke syukuran rumah saya? Anggap saja sekaligus mengeratkan hubungan kita," ujar Jevran. "Tentu, saya dengan senang hati akan datang bersama istri." Tidak bisa Adimas tolak undangan baik dari Jevran tersebut. "Katakan saja kapan waktu dan alamatnya. Jika tidak berhalangan, saya pasti akan langsung ke sana tanpa diminta lagi." Syukurlah, Jevran merasa lega. "Terima kasih, dokter. Tidak perlu membawa hadiah apapun. Oh iya satu lagi, saya juga akan mengundang dokter ke acara pernikahan saya. Di Hotel Crystal. Undangannya menyusul, karena masih ada yang belum dicetak. Katanya uangnya kurang sama kang cetak." Ada bumbu-bumbu lucu, Adimas terkekeh mendengar dokter baru satu ini. Sungguh, mereka menjadi cepat akrab bahkan pada pertemuan pertama. Dokter sekitar pun ikut terheran dengan keduanya yang seolah sudah berteman lama. "Baik, baik. Sekali lagi selamat Dokter Jevran sudah bergabung di keluarga besar Rumah Sakit Umum X, jika ada yang perlu dibantu bisa hubungi saya." ***   "Assalamu'alaikum. Ara, saya pulang."   "Wa'alaikumussalam, Mas, aku di ruang tengah."   Adimas dengan dua kresek hitam di tangannya buru-buru menuju ke ruang tengah, nampak Ara tengah bersantai sambil menonton kartun. Gelak tawa tak dapat dihindarkan saat adegan lucu nan menghibur muncul, Ara tak kuasa untuk berhenti sampai perutnya menjadi sakit akibat terlalu banyak tertawa karenanya.   "Itu ..., Mas bawa apa?" tanya Ara penasaran saat kresek hitam diletakan tepat di sampingnya.   "Ini bolu pandan sama brownies. Mas dapet ini karena dikasih temen. Tadi ada penyambutan dokter baru, terus ada dokter yang bagi-bagi hadiah gitu. Mas kedapetannya brownies sama bolu," jelas Adimas yang tengah membuka salah satunya.   Suara mulut mengecap-ecap jelas saat menatap brownies coklat yang terlihat begitu lezat. "Boleh aku makan, gak? Dari tadi pagi lagi pengin banget brownies cuman gak mau keluar jauh-jauh. Alhamdulillah kalau Mas bawain buat Ara." "Boleh dong." Adimas mengacak pelan rambut istrinya hingga sedikit berantakan. Gemas dengan pertanyaan yang tentu jawabannya adalah, "Boleh." Jantung Ara tak karuan saat tangan sang suami mengacak rambutnya. Kenapa ia jadi deg degan begini? Normalkah hanya karena sentuhan Adimas di kepalanya yang mengacak rambutnya, hatinya ikut teracak-acak? Ara belum siap. Setelah mendapat izin yang ia butuhkan, Ara buru buru dengan pipi memerah pergi ke dapur untuk mengambil dua piring dan pisau untuk memotong kue kue tadi. Satu piring untuk bolu pandan dan satu lagi untuk brownnies. Ara membagi kue tadi menjadi beberapa bagian dengan rapi, lalu mencicipi satu potong dari salah satu kue tadi. Rasanya enak dan cocok untuk lidahnya. Ia pun menyodorkan salah satu potong ke sang suami, "Mas mau makan satu?" tawarnya saat satu tangan sudah di depan mulut Adimas. Adimas terdiam. Ia sedikit terkejut dengan sikap Ara yang sangat manis hari ini, menawarkan dan mengulurkan tangan untuk memberinya satu brownies yang sudah dipotong tadi. Tidak menunggu lama bagi Adimas untuk mengigit brownies tadi yang masih dipegang oleh Ara. Memakannya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Pipi keduanya memanas, semerah tomat. Sangat menggemaskan melihat wajah malu-malu mereka yang menyadari apa dilakukan masing-masing. "M-mas makan sendirian saja. Kamu makan yang banyak ya, jangan lupa minum susunya," ucap Adimas membawa satu potong brownies lalu pergi ke kamar untik berganti pakaian dan meletakkan tas kerjanya. Ia seperti orang yang kabur karena menahan malu. Begitupun dengan Ara, ia membawa satu piring brownies tadi ke arah belakang dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar hebat. Ia tidak pernah merasa seperti ini saat di dekat Adimas, apalagi sampai merasakan pipinya yang terasa panas. Masa sih... dia sudah suka— ralat, mulau jatuh cinta dengan sang suami? Itu mungkin wajar, mereka adalah sepasang suami istri, tidak mungkin tidak saling mencintai. Kecuali, jika terlalu terpatri dengan cinta lama. Namun Ara sudah membuang rasa cintanya kepada Jovan dan berganti menjadi sebuah kebencian yang mengakar. Ara menghentikan tangannya yang bergerak memberi makan. Sebuah memori terlintas di pikirannya, kenangan ketika berpacaran dulu. Ia ingat jika Jovan sangat menyukai brownies rasa keju, bahkan sangat suka jika Ara membelikannya dua kotak. Kenangan lain muncul saat Jovan menyuapkan satu potong kepadanya dengan sangat manis. Bodoh, kenapa Ara harus mengingat semuanya yang sekarang terasa sangat pahit? Jika pun waktu dapat diputar kembali, takdir belum tentu berpihak padanya. Belum tentu Jovan berubah, belum tentu mereka akan menikah, belum tentu Ara bertemu dengan Adimas kembali. Semua yang sudah terjadi ibarat nasi yang sudah menjadi bubur. Yang harus dilakukan hanyalah memperbaiki kesalahan masa lalu dan menata masa depan lebih baik lagi. Takdir tidak bisa dipermainkan, semua yang terjadi tidak bisa diputar ulang. Hanya tinggal takdir masa depan bisa diubah. Kecuali satu takdir, yaitu kematian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN