Apa yang dia baca, manusia hanya memiliki satu takdir yang tidak bisa diubah, yaitu kematian. Momok yang begitu mengerikan bagi banyak orang, sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk menghindari kematiannya sendiri. Namun, tidak sedikit pula berusaha untuk mengubah kematian orang lain lebih cepat daripada mereka.
Kematian, datang tanpa diminta. Jika Tuhan berkata bahwa kita mati saat lahir, maka akan terjadi demikian. Manusia mengalami kematian dengan berbagai cara; kecelakaan, penyakit, atau tanpa keduanya. Cara Tuhan melakukan semuanya tidak ada yang tahu, hanya Dia-lah yang berkehendak.
Ara pernah bertanya kepada Tuhan, kenapa Dia mengambil seseorang yang sangat ia sayangi. Sang Papa. Lelaki yang begitu menyayanginya dan tak pernah menyakitinya. Senyum hangat yang sudah—sangat—lama tak pernah disapa, Ara sungguh merindukan sosok tersebut. Selama Ara merindukannya, ia akan pergi ke makam mendiang sang Papa di dekat rumah lamanya.
"Maafkan Ara, baru sempat mengunjungi Papa." Tangan kecilnya mengusap batu nisan yang sudah terlihat tua. Rindu ini bergejolak, menyerang dalam ruang dadanya begitu hebat. "Bagaimana kabar, Papa? Pasti di sana Papa sedang melihatku dan tersenyum bahagia, bukan?"
Sudah lama Ara tidak seperti ini. Ingin bercerita segalanya, segala yang sedang membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya, menahan serak di tenggorokan saat sesak di d**a begitu menceruah. Namun, Ara tidak boleh menangis untuk saat ini, apalagi di depan sang Papa. Beliau akan ikut menangis di sana bila ia menangis, mereka saling terkait. Terutama emosi.
"Papa, maafkan Ara tidak bisa menjaga kehormatan yang sudah lama kau katakan. Ara terlalu bodoh, perempuan yang bodoh. Membiarkan seorang lelaki merebut kehormatan itu dan sekarang Ara dibuang olehnya." Tangan Ara meremas tanah sambil mengigit bibirnya. "Ara mengecewakan ya? Papa pasti sangat kecewa. Maafkan Ara sekali lagi, Pa."
Meskipun terlihat bodoh berbicara sendirian di depan makam, Ara tidak peduli. Ia masih tidak berani bercerita kepada Sinta karena terlalu pengecut. Jadi, hanya inilah segala isi dadanya dikrluarkan, hanya dengan makam sang Papa.
Ke sana tanpa tangan kosong, Ara selalu membawa bunga tabur dan air doa untuk di sebarkan di atas makam. Ada sebuket bunga mawar—bunga kesukaan papanya—yang tanpa absen ia bawa selalu.
"Sebelum Ara pergi, ada yang ingin Ara sampaikan. Saat ini Ara sudah menikah dan sedang mengandung cucu Papa. Tapi ... ini bukan anak suami Ara, melainkan mantan Ara yang sudah merenggut kehormatan berharga ini. Semoga Papa tetap menerimanya, jangan membencinya ya, Pa? Jangan menghukum atas dosa yang tak pernah ia dapatkan, kalau Papa mau menghukum, hukum saja Ara."
Tangis Ara pecah. Bulir kristal itu sudah berjatuhan dari pelupuk mata dengan isak kecil. Kepalanya tertunduk menghadap tanah. "Papa... maaf... maafkan Ara...,"
"Ara?" Suara tak asing memasuki indera pendengarannya, namun semua tidak terasa sampai karena Ara masih saja meruntuki dirinya sendiri.
Bahkan Ara tidak mendengar panggilan dari Mira yang kebetulan juga sedang ada di makam. Wanita paruh baya itu memegang pundak menantunya dan duduk mendekat. Barulah saat itu Ara sadar bahwa sang mertua tepat di sampingnya.
"Ibu?" Air matanya diusap, sebekas air mata masih ada di pipinya. "Maaf jika penampilanku sedang kacau."
Mira tersenyum, "Ibu paham. Apa dia Ayahmu?" Ia menunjuk pada makam di depan Ara, perempuan itu mengangguk. "Benar Ibu, ini makam mendiang Papaku. Sudah lama sekali aku tidak ke sini dan membawakannya bunga."
"Papamu tidak akan kecewa memiliki anak cantik sepertimu, Ara. Kebohongan tidak selalu tertuju pada hal yang tidak baik. Kamu menyembunyikan sesuatu darinya, tapi dia sudah mengetahuinya lebih dulu. Sama halnya Ibu, Ibu sudah tahu kamu berbohong pada awalnya, tapi ibu tahu keadaan dan tidak marah. Ibu sangat menyukaimu dan tidak pernah menyesal memiliki menantu yang baik dan tulus seperti Ara," kata Mira.
"Ibu, sampai detik ini aku belum berani mengatakannya pada Mama bahwa aku sedang hamil dan mengandung anak mantanku. Rasanya takut sekali. Daripada takut mama akan sangat kecewa, lebih baik—mungkin—sebaiknya selamanya kusembunyikan fakta siapa bayi ini dari orang-orang termasuk Mamaku." Mata Ara sudah bengkak, pandangannya terasa kosong.
Mira mengusap pundak Ara lembut, menyalurkan energi dan semangat melalui sentuhannya. Sudah lama ia tak mengusap rambut anak perempuan, Ara benar-benar seperti reinkarnasi Adara."Kalau belum siap, jangan katakan sekarang. Nanti, pada saat waktu dan situasi yang tepatlah semua bisa kamu ungkapkan. Sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Lambat laun, Mamamu pun akan tahu entah kapan waktunya. Itu tergantung kamu kapan bisa jujur ke beliau," jelas Mira dengan nada yang sangat lembut dan tidak menekan.
"Terima kasih atas kata-katanya, Ibu." Sekarang, kepala Ara tegap kembali. Tangannya kembali mengusap batu nisan mendiang sang papa. "Aku ... secepatnya aku akan jujur ke Mama. Bukan satu atau dua tahun ini, belum, sampai diriku sangat siap berkata yang sebenarnya. Jika harus sampai aku beruban, aku akan coba siap." Ara menatap Mira dengan pandangan memohon. "Ibu, maukah Ibu berjanji padaku? Berjanjilah jangan katakan siapa bayi ini ke Mamaku atau keluargaku selain Ibu, Dana, maupun Mas Adimas. Aku janji, aku pun akan selalu bersikap baik kepada suamiku dan mencoba lebih baik lagi menjadi seorang istri."
"Tanpa kamu minta, Ibu akan menjaga rahasia kamu. Karena yang berhak mengatakan sebenarnya kepada mamamu adalah diri kamu sendiri. Keluarga ibu akan tutup mulut, kamu tidak perlu khawatir."
Ketika jiwa keibuannya muncul, Mira langsung membawa Ara ke dalam dekapannya dan memberikan kehangatan. Ia merasa kasihan dengan menantunya ini. Meskipun awalnya sedikir kecewa, namun sebagai sesama perempuan, Mira memahami apa yang sedang diderita oleh Ara.
Mira tahu betul, yang dirasakan Ara pernah dirasakan oleh putri sulungnya bernama Adara. Mereka sama-sama korban pelecehan seksual dan hamil anak dari hubungan itu. Namun, ia pun tak sepenuhnya menganggap Ara korban, karna konteks di sini mereka suka sama suka walau pun Jovan tidak bertanggung jawab sama sekali dan meninggalkan perempuan lemah ini. Tetapi, ini semua pun bukan kemauan Ara pada awalnya.
Jika waktu dapat diputar, Mira ingin menyelamatkan putrinya tersebut agar tidak lagi bunuh diri, menyadari sejak awal bahwa akar penderitaan ini berasal dari lelaki b***t yang suka meneror putrinya itu hingga saat sudah terjatuh pada jurang ketakutan, semua terlambat untuk menyelamatkan. Bayangan saat Adara tergantung di kamarnya dalam keadaan sudah tak bernyawa membuatnya ingin kembali menangis. Ah, kenapa rasanya sekarang yang dipeluk justru seperti seorang Adara?
Adara? Apakah kamu sedang menyatu dalam diri menantuku Ara? Apakah kamu juga merindukan Ibu?
"Ibu, Ibu juga akan menyayangi anakku? Meskipun dia bukan darah daging Adimas?" Ini menjadi pertanyaan kesekian kalinya yang Mira dapatkan, dan jawabannya akan selalu sama. "Iya, Ara. Dia sudah menjadi bagian keluarga kamu, bagaimana bisa Ibu akam membencinya? Dia seorang anak, tidak ada dosa di dalam dirinya ketika lahir bahkan jika kedua orang tuanya bertindak jahat."
"Aku masih takut, Bu..."
"Jangan takut, Ara. Dunia tidak selalu dominan dengan orang-orang jahat. Tuhan selalu membuatnya seimbang. Karena dunia sudah mulai tua, orang jahat terlihat banyak dan orang yang benar-benar baik tidak semerta-merta menunjukkan kebaikannya, karena mereka tahu banyak orang jahat yang terlihat baik untuk tujuan tertentu saja,"
"Sekarang waktunya kamu bangkit dan melawan orang jahat itu. Jangan takut kamu akan kalah, kebenaran dan kebaikan akan selalu menang. Jika kejahatan menang, itu hanya sementara, sampai Tuhan membalikkan keadaan."
Mira ingin Ara mencoba melawan ketakutannya, membuang segala rasa khawatir yang masih tersimpan di dalam pikiran dan hatinya. Sudah waktunya Ara melawan keduanya dan melawan ketidakadilan yang diterima.
Tidak perlu menuntut mantan Ara yang sudah menghamili dia, cukup terus berbuat kebaikan maka Tuhan akan membalikkan penderitaan dan menaruhnya pada orang yang tepat.