Tiga hari Adimas mendapatkan cuti dari rumah sakit karena ada libur nasional. Saat ini menjadi waktu yang bagus untuk menghabiskan banyak momen bersama keluarganya, ia ingin melepaskan segala beban yang ada dan merilekskan pikirannya.
Masih agak terasa berat sejak lusa lalu menangani pasien dengan gangguan Skizofrenia akut, hampir saja ia menjadi korban kekerasan sebelum pasien tersebut dirujuk paksa ke rumah sakit jiwa pusat. Untuk ukuran gangguan separah itu, Adimas hampir saja lengah karena memiliki banyak pikiran saat menjalankan tugas. Ia akui memang saat itu sedang tidak professional, namun setelahnya ia bisa memperbaiki keadaan seperti semula.
Ada rencana spesial yang ia akan bagikan kepada Ara mengenai liburannya kali ini. Memang keduanya sudah menghabiskan waktu cukup lama sebagai sepasang suami istri, terlebih saat Ara sedang mengandung dan baik Sinta maupun Mira—yang sudah tahu kehamilan Ara—menjadi agak protektif.
Liburan kali ini dipastikan untuk menyenangkan ibu hamil seperti Ara supaya bisa melepaskan stress. Mencoba alternatif menghilangkan sedikit demi sedikit depressi yang masih ada di dalam diri Ara. Karena obat-obatan belum bisa dipakai selama perempuan tersebut sedang menjaga sebuah nyawa di dalam perutnya.
Selepas dari dapur, Adimas berdiri di depan pintu kamar dan menatap ponselnya. Tertulis "Transaksi berhasil dilakukan" membuat senyumnya kian melebar. Ia harus segera menunjukkannya kepada sang istri dengan apa yang ia telah lakukan.
Pintu kamar dibuka perlahan-lahan, menampakkan sosok Ara yang mrngenakan piyama dan tengah mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Di dalam kamar, Adimas mendekati Ara yang sedang menyisir rambutnya basah sesuai keramas di sore hari. Duduknya sangat pelan, perlahan-lahan menggeserkan badan hingga jarak mereka begitu dekat—terpisah lima senti saja.
Hati Ara berdebar tatkala Adimas mendekat. Ketika pipinya bersemu dan ekspresi malu-malu karena penampilannya sehabis mandi tidak begitu rapi, ia masih memberanikan diri menatap sang suami.
"Ara, saya–."
"Mas."
Mereka mengucap secara bersamaan.
Canggung, lagi.
"Eum, kamu dulu," tawar Adimas.
Namun, Ara menolak. "Enggak. Mas duluan aja, aku bisa nanti. Kayaknya ada hal penting yang Mas mau sampaikan ke aku."
Adimas menarik napasnya dalam-dalam. Baiklah, karena Ara sudah mempersilakannya terlebih dahulu untuk menyampaikan sesuatu, jadi Adimas pun mencoba memastikan dirinya tidak terlalu gugup. "Ada yang Mas mau sampaikan, semoga kamu gak kaget dan senang mendengarnya."
"Apa itu, Mas?" Ara penasaran.
"Besok kita akan pergi ke Semarang dan Yogyakarta. Kita akan berlibur ke Borobudur dan ke tempat wisata lain yang indah untuk dikunjungi," kata Adimas lalu menyerahkan ponsel dan di sana diperlihatkan sebuah hotel yang sudah dibooking secara online.
"Mas serius?" Mulut Ara menganga kecil, lalu mengatup dengan rapat. "Kita ... ke Semarang? Ini sekalian ke Yogyakarta juga, gitu?"
Adimas mengangguk dan tersenyum. "Iya, Ara. Mas sudah bilang kita akan ke Semarang dan Yogyakarta. Kita berangkat pagi-pagi sekali, perjalanan menempuh tujuh jam ke Semarang dan ditambah tiga jam ke Yogyakarta. Kita akan ke Lawang Sewu atau Kota Lama, pergi ke candi, ke Malioboro. Sesuka yang kamu mau di sana."
"Apa kita pergi berdua saja? Maksudku, pasti menyenangkan jika membawa Ibu, Mama, dan—"
"Mas memutuskan untuk kita pergi berdua saja. Selain untuk liburan, anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda kemarin. Bulan madu yang sederhana. Kita pun butuh tempat yang lebih tenang untuk kamu, supaya kamu bisa kembali sedikit demi sedikit melepaskan yang mengganjal di hati. Tidak perlu memikirkan mereka, Mas sudah izin ke Ibu dan Mama, dan semuanya mendukung keputusan ini."
Adimas meraih tangan istrinya, membawanya ke d**a dan digenggam erat. Mata keduanya jatuh dalam satu pandangan, ketika bibir mulai mengunci rapat, hati yang ingin mengungkapkan sesuatu, namun semuanya tertahan, tidak mengizinkan untuk memberitahu sekarang.
Tatapan memohon dari Adimas sungguh sulit untuk ditolak. Mau tidak mau Ara menerimanya. Ia tidak menerima ini secara terpaksa. Lagi pun, rencana ini cukup bagus dan tidak seburuk itu. Niat Adimas begitu baik dan tulus sehingga orang lain pun akan sulit menolak hal ini. Padahal, ada yang ingin Ara katakan pada sang suami. Permintaan kecil ini akan ditolak pastinya dengan tegas oleh Adimas.
"Baik, Mas. Aku akan ikut ke Semarang dan Yogyakarta besok. Terima kasih."
"Tadi kamu mau menyampaikan apa?"
"Eng- gak jadi, soalnya aku pengin nonton Barbie Series gitu tapi udah gak pengin. Hehehe." Ara berbohong dan aktingnya membuatnya terlihat meyakinkan dengan ucapannya.
"Oh gitu. Mas kira ada apa."
Tidak mungkin bagi Ara untuk mengatakkan bahwa ia membutuhkan obat penenangnya dulu. Ia tahu resiko meminum itu akan berpengaruh pada kandungan karena obat tersebut termasuk obat keras dan menimbulkan berbagai efek samping yang tidak diinginkan.
Terdengar tidak mungkin bahwa Adimas begitu menyayangi bayi di kandungannya tersebut. Rasa kemanusiaan menjadi utama, dan sifat keayahannya yang ingin melindungi anak menjadi faktor lainnya
Usai perbincangan mengenai liburan tersebut, mereka segera mengemasi beberapa set pakaian yang akan dibawa ke sana. Barang lain yang diperlukan pun ikut dimasukkan kedalam travel bag, termasuk s**u ibu hamil Ara. Siap dengan semuanya, pagi buta sekitar pukul empat mereka berangkat menggunakan mobil pribadi melalui tol.
Perjalanan jauh tersebut cukup membosankan. Sepanjang jalan saat awal keberangkatan Ara tertidur pulas selama tiga jam lamanya karena masih ngantuk dan terbangun ketika sudah hampir setengah dari perjalanan, yaitu memasuki wilayah dekat Cirebon.
Mereka menepi sebentar di rest area untuk sarapan terlebih dahulu dengan menyantap makanan yang dibawa dari rumah ketimbang membeli di sana. Selesai sarapan, keduanya melanjutkan perjalanan menuju Kota Semarang yang masih jauh. Untuk menghilangkan kebosanan, Ara menyetel musik di dalam mobil dengan volume standar.
"Kamu suka lagu sedih kayak gini ya, Ra? Lagunya kayak lagu Ballad," komentar Adimas begitu mendengarkan salah satu lagu dari band Day6 berjudul You're so Beautiful.
"Mas tahu gak? Ini sebenernya lagu rock loh," balas Ara membuat Adimas terkejut mengetahuinya.
Jadi selama ini, ia sering mendengar sang istri melantunkan lagu 'Yeoposseo' ini bergenre rock? Duh, Adimas memang tidak pandai dalam mengenali genre musik, tapi orang lain pun akan berkomentar sama dengannya mengenai lagu tersebut.
"Hahaha, maafin Mas yang kurang tahu masalah genre lagu-lagu. Tapi lagunya bagus, cerita tentang apa memangnya?"
Ara mengulum senyumnya tipis. "Tentang seorang mantan yang merindukkan kekasih lamanya, lalu ia menyesal pernah menyakiti perasaan sang mantan. Eum, sebenernya itu dari video musiknya. Kalau arti lagunya kebalik, tentang cowok yang udah putus sama pacarnya tapi masih mengingat kenangan indah bersama sang mantan," jelas Ara menatal lurus ke jalanan.
Hati Adimas ikut merasakan lagu yang hampir selesai diputar itu. Lirik dan pembawaannya begitu mengena, apalagi kali ini Ara memutar versi Inggrisnya. Adimas melirik sekilas, ia yakin jika istrinya sedang merasakan apa yang diartikan dalam lagu ini, yaitu mengingat kenangan sang mantan.
"Mengingat kenangan indah mantan itu baik, tetapi kalau sudah ada orang yang menjadi pasangan hidupmu maka fokuslah ke dia saja."
"Bukan, sebenarnya aku sedang mengingat sahabat yang sudah berstatus sebagai mantan. Mantan manusia. Yaitu, Papaku." Ara membuang wajahnya ke arah luar, menampilkan jalanan tol yang hanya dipenuhi oleh ladang. "Terlepas lagu ini menceritakkan tentang kisah asmara, tapi aku justru merasakan rindu pada Papaku. Jika beliau ada di sini mungkin akan suka dengan Day6 karena selera musiknya cocok."
"Maaf bila Mas tadi sempat salah paham tentang apa yang kamu pikirin," sesal Adimas.
"Tidak apa-apa, bukan salah Mas," balas Ara.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan musik yang masih setia diputar oleh berbagai lagu. Meskipun Ara juga Kpopers, namun seleranya cenderung ke band ketimbang boygroup atau girlgroup. Seperti Day6, CNBlue, dan N.Flying. Kalaupun ada dari idolgroup pun hanya beberapa sesuai mood dan selera seperti Good Menu - Stray Kids, Simon Says dan Touch - NCT 127, dan Ya ya ya - MXM. Apakah seleranya random? Mungkin.
Empat jam menempuh lanjutan dari setengah perjalanan tadi, akhirnya mereka keluar dari Tol di Krapyak, Kota Semarang. Sebelumnya Adimas bertanya tempat mana yang ingin Ara kunjungi di Semarang dan Ara menjawab jika ia ingin ke Kota Lama dan mencicipi soto semarang.
"Udah lama gak ke sini,"
Adimas memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dan berjalan kaki bersama Ara mengelilingi Kota Lama tersebut. Banyak bangunan tua yang terlihat estetik dan digunakan sebagai spot foto yang indah dan mengagumkan.
"Kapan terakhir kali kamu ke sini, Ara? Tadi kamu bilang sudah lama tidak kemari," tanya Adimas.
"Terakhir kali aku ke sini saat liburan akhir semester dua bersama teman-temanku. Kami diajak menginap di rumah salah satu saudara temanku dan kami berkeliling kota menggunakan Bus Trans Semarang," jelas Ara yang diangguk-angguk paham oleh Adimas.
"Kalau diingat-ingat lagi saat itu aku masih tidak mengerti bahwa Semarang seindah ini. Awalnya sedikit susah karena aku orang sunda, tapi ternyata mempelajari bahasa Jawa cukup menyenangkan. Makanya aku memanggil Mas dengan panggilan itu daripada dengan 'Akang', sudah terbiasa dengan lingkungan pertemananku yang rata-rata dari Jawa Tengah dan Yogyakarta," lanjut perempuan itu.
Pantas saja Adimas yang sejatinya campuran suku Jawa dan Sunda namun tinggal lama di Jakarta pun baru tahu. Padahal sejak awal ibunya Ara, Mira, memiliki logat sunda yang kental sedangkan Ara sedikit beragam dan formal.
Melanjutkan perjalanan, Ara belum menemukan tempat makan soto yang enak. Ia padahal yakin dulu pernah menemukan penjual soto langganan temannya di sekitaran sini. "Duh di mana ya?" Ia menggumam sangat pelan.
"Kamu mau makan soto di mana? Kalau sekiranya belum ada yang sreg, kita bisa cari warung soto di tempat lain," kata Adimas.
Nata Ara kembali memandang sekeliling, tidak ada yang dicarinya sedari tadi. "Kayaknya dulu bapak yang jualan soto di sekitaran sini udah tutup atau pindah deh. Ya sudah kita cari tempat makan lainnya, gak harus di sini. Tapi, aku boleh keliling Kota Lama lagi gak, Mas?"
"Boleh dong. Tapi jangan kecapean ya?"
Ara mengangguk.
Sekali lagi keduanya berkeliling di wilayah tersebut. Beberapa kali mereka pun mengabadikan momen menggunakan kamera ponsel dan fotografer di sana. Hasilnya sangat cantik.
Lelah berkeliling, mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari soto semarang yang sekiranya lumayan ramai dan laris. Ia menemukannya di daerah dekat Paragon Semarang. Lantas, Adimas segera menepikan mobil di depan warung. Dua soto dihidangkan dengan cepat seusai mereka memesannya langsung dan menikmati hidangan khas Kota Semarang tersebut.
Ara merasa rasanya sangat memuaskan lidahnya. Keinginannya sudah terpenuhi untuk makan soto semarang langsung ke tempatnya. Memang dari kemarin—beberapa hari yang lalu ia ngidam makan soto semarang.
"Kamu mau beli wingko atau bandeng presto? Di dekat sini ada tempat oleh-oleh khas Semarang yang terkenal. Gak jauh dari Simpang Lima."
"Boleh, Mas. Kita beli untuk Ibu, Mama, Dana, dan beberapa tetangga sekitar rumah. Pasti ya gak enak kalau kita pergi liburan jika pulang dengan tangan kosong saja. Nanti di Jogja juga kita beli oleh-oleh yang lumayan untuk dibagikan."
Sudah puas makan makan, perjalanan dilanjutkan menuju ke tempat oleh-oleh. Ada satu tempat yang katanya ramai pengunjung dan makanan untuk oleh-oleh dihidangkan dalam keadaan masih hangat. Letaknnya di dekat Gramedia dan juga Simpang Lima. Sehingga, Adimas hanya perlu berjalan sedikit dan kemudian sampai di tempat tersebut. Mereka membeli buah tangan secukupnya, tidak terlalu banyak maupun sedikit, yang sekiranya bisa dibagi rata ke semua orang. Jika membeli terlalu banyak akan boros, mereka harus tetap menghemat uang untuk pergi ke tenpat wisata nantinya. Untung saja hotel tempat Adimas booking bisa di check in nanti sore.
Oleh oleh dari Semarang sudah dibeli, dan tidak ada lagi tempat yang ingin dikunjungi. Mereka pun sudah tidak lapar, dan ingin segera menuju Yogyakarta. Adimas pun melanjutkan perjalanan menuju ke Yogyakarta melalui tol supaya bisa sampai tujuan lebih cepat.
Karena lelah, Ara kembali tidur di dalam mobil. Kali ini lebih lelap daripada sebelumnya sampai Adimas menghentikan sejenak mobil di tepian dan harus menyesuaikan kursi supaya sang istri nyaman. Ia pun mengusap wajahnya supaya tidak merasa mengantuk. Perjalanan masih berlanjut, tanpa Adimas sadar bahwa di belakang mobil mereka terdapat mobil lain yang mengikuti mereka dari Jakarta.