Chapter 31

1499 Kata
Lajuan mobil masih tampak stabil selama di jalanan tol menuju Yogyakarta dengan beberapa mobil mendahului dengan kecepatan lebih. Pemandangan sekitar jalanan hanyalah hutan, wilayah sekitar dominan pegunungan dan bukan gedung-gedung menjulang cakrawala. Di belakang, dua kendaraan tadi masih mengikuti mobil Adimas dengan kecepatan tetap. Mobil berwarna hitam tepat di belakangnya berisi orang-orang berjas hitam dan berwajah sangar, mereka orang suruhan Jovan. Sementara di belakangnya lagi, mobil berwarna silver merupakan suruhan Jevran yang tahu bahwa kembarannya sedang melakukan sesuatu. Saat tahu jika kembarannya masih di rumah sakit mengetahui rencana tersebut, ia berpikir, "Otaknya terlalu aneh untuk ditebak. Udah jadi mantan masih aja gangguin Ara. Lo gak boleh macem-macem sama calon keponakan gue." Iya, Jevran merasa pikiran sang kembaran terlalu aneh dan tak bisa ditebak, kekanakan, dan tidak mau mengakui kesalahan jika sudah ketahuan. Kalau membunuh bukan perbuatan dosa, sudah pasti dari lama Jevran akan mencabut nyawa Jovan tanpa ampun karena sudah menyebabkan dirinya kesusahan dulu dan orang lain menderita. "Mobil suruhan Tuan Jovan masih di belakang Tuan Adimas dan Nyonya Ara. Saya masih membuntuti dengan penyamaran," kata salah satu tangan kanan Jevran yang duduk di samping kemudi. "Terus awasi. Mereka tidak tahu jika kalian orang suruhanku, laporkan hal mencurigakan dan buat sesuatu supaya Nyonya Ara baik-baik saja!" titah Jevran tegas. "Baik. Saya laksanakan." Sementara itu, Adimas masih terus memgendarai mobilnya untuk turun di Yogyakarta. Ada perubahan rencana, ia tidak jadi pergi ke Candi Borobudhur terlebih dahulu melainkan langsung ke hotel yang dipesan sebelumnya. Karena libur tersisa dua hari lagi, ia masih tampak santai untuk berkunjung dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan sebentar, mobil keluar dari tol dan melaju di jalanan biasa. Suasana Yogyakarta tampak ramai karena menjelang weekend, dan juga bulan Ramadhan sudah cukup dekat. Sudah hampir dekat, Adimas membangunkan Ara dari tidurnya meskipun tampak tidak tega karena sang istri sangat lelap dan masih senang di alam mimpi. Ara bisa melanjutkan tidurnya di kamar hotel mereka jika masih lelah selama di perjalanan. "Ara bangun," Adimas menepuk pipi perempuan itu kecil kecil. "Sudah dekat." Perempuan tersebut menguap dan tetap bangun mengekori Adimas menuju lobi hotel. Sesudah melakukan check in, keduanya bergegas ke kamar hotel yang berada di lantai 5 dengan travel bag milik mereka. Kamarnya luas, kasurnya berukuran queen size dan kamar mandi dalam yang juga luas. "Kamu nyaman dengan suasana kamar ini, Ara?" tanya Adimas. Ara mengangguk lalu duduk di tepian kasur. "Ruangannya besar, Mas. Apa tidak mahal untuk menyewa satu kamar ini untuk dua malam?" Ia bertanya balik padanya. "Tidak mahal kalau dibandingkan kamu bisa merasa nyaman dan senang selama liburan. Jangan memikirkan hal-hal aneh ya selama di Jogja? Kalau ada ap-apa bilang ya? Kalai kamu ngidam makan gudeg atau apa pas tengah malam sekalipun nanti Mas carikan di tempat terdekat. Hotel kita juga dekat dengan Malioboro, kita bisa beli oleh-oleh di sana," tukas Adimas mengelus lembut surai Ara saat ia terduduk di sampingnya. "Makasih, Mas." Ara tersenyum tipis, ia mengambil satu tangan Adimas untuk digenggamnya. "Kamu terlalu baik untukku. Menerimaku apa adanya, termasuk bayi yang kukandung. Aku akan terus mengatakan ini, 'Aku janji akan selalu berusaha menjadi istri yang baik untukmu'." "Setitik kebahagiaanku sekarang adalah kamu, Ara, dan juga anakmu— tidak, maksudku anak kita." Berbalik, Adimas mengusap punggung tangan sang istri dengan penuh kelembutan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, mengembang perlahan hingga ujung bibirnya terangkat dan kini gigi-giginya tertampak di sana. "Sudah, sudah. Istirahat dulu. Kalau mau tidur dulu juga gak masalah. Nanti malam kita keliling Jogja." "Iya, Mas. Aku istirahat dulu." Percakapan mereka didengar oleh kamar sebelah yang tengah memperhatikan tanpa menatap langsung. Alat penyadap. Tipis dan fleksibel. Menerobos masuk melalui celah bawah pintu. Belum Adimas sadari keberadaan alat tersebut, ia masih asik menata baju-baju dan mengecek pesan masuk di ponselnya. Dua jam setelah tiba dan Ara tidur lagi, akhirnya mereka pun mulai bersiap-siap setelah suara Adzan menyapa tepat senja datang dan suaranya dari masjid dekat hotel. Mereka melaksanakan ibadah rutin secara jama'ah dahulu sebelum pergi keluar. Sesudahnya, kamar hotel dikunci dan dibawa saja. Takut bila ada orang asing yang hendak ke kamar dengan mengaku-ngaku sebagai mereka meski keamanan hotel sudah ketat. Dan karena hotel juga memiliki dua kunci cadangan yang hanya bisa didapat oleh pemilik dan penjaga hotel tersebut. Sesuai perkiraan, mereka mengunjungi Malioboro yang letaknya dekat dengan Keraton Yogyakarta dan Pasar Bringharjo. Malam yang begitu gelap lantas tidak mengurangi keramaian di sana, orang nampak semakin memenuhi toko-toko dan pinggir jalanan. Ramai, agak engap, dan berdesak-desakan. Sejujurnya ia sedikit ketakutan berinteraksi dengan banyak orang di tempat umum. Tangannya terus menerus memeluk lengan Adimas dan enggan melepasnya sebelum berada di tempat yang lebih tenang baginya. "Mau makan gudeg sama sambal krecek? Di dekat sini ada warung pinggir jalan yang banyak jualin itu. Kalau mau makan bilang aja," tukas Adimas menunjuk ke jejeran warung makan lesehan di seberang jalan yang ramai pembeli. "Atau kalau maunya makan di restoran nanti kita cari." Ya ampun, Ara bingung. Dia tidak tau harus memilih apa soal makanan, selama ini bayinya yang banyak mengatur dirinya untuk banyak makan. Kalau tidak ngidam, Ara pasti sudah sedikit makan dan hanya banyak minum s**u saja. Karena memang ia tak banyak makan meskipun saat sedang hamil kecuali kalau lagi ngidam. Pada akhirnya Ara memilih untuk lanjut jalan-jalan dahulu di Malioboro dan membeli oleh-oleh berupa aksesoris, makanan, atau kaos atau pakaian lain khas Jogja untuk sanak saudara dan tetangga. Untuk mereka berdua, Adimas dan Ara memutuskan membeli satu pasang set batik yang bisa dikenakan saat kondangan. Dan satu pasang daster nyaman pakai yang dikenakan Ara di rumah. Dug! "WOI, SIAPA YANG DORONG GUE?!" Terdengar keributan tepat di belakang Ara. Ada seseorang yang jatuh dan tidak terima dirinya didorong oleh orang di belakangnya. Tentu saja, percikan api keributan tak dapat terhindarkan. Karena terkejut, Ara refleks bersembunyi di belakang Adimas dan dibawa menjauh karena keributan semakin besar. Pada akhirnya, mereka memilih makan di warung lesehan di pinggir jalan saja yang letaknya jauh dari tempat tadi. Mereka memesan gudeg dan sambel krecek sebagai hidangan makan malam hari ini. "Tenang dulu, Ara. Tarik napas dan hembuskan pelan-pelan ya. Jangan pikirkan masalah orang ribut tadi," ujar Adimas mengusap punggung Ara untuk menenangkan perempuan tersebut yang nampak masih terkejut dengan kejadian tadi. "Tadi aku kaget banget, Mas." "Wajar aja, mereka di belakang kamu. Sekarang sudah jauh jadi kamu tenang aja." Adimas membawa Ara menyender di bahunya. Malam ini masih mulai terasa dingin. Namun, tetap ada kehangatan yang dirasakan bagi Ara selama sang suami ada di sampingnya. Ada tempat baginya untuk bisa menggenggam dan menyalurkan rasa ketakutnya. Semuanya akan terasa berbeda jika dibandingkan Ara hanya sendirian. "Monggo, niki gudeg'e kalih sambel krecek." Mba pemilik warung lesehan menyajikan makanan yang dipesan oleh keduanya. Dengan logat jawa kental, pemilik warung juga menyapa ramah kepada pelanggan lain. Adimas membalas, "Matur suwun, Mba." Satu sendok dicicipi, rasa gudegnya begitu kental, ditambah dengan sambal krecek yang menyatu pas dengan lidahnya. Ara juga menyukainya. Memang makanan khas daerah akan sangat enak jika dimakan langsung di tempat asalnya. "Enak, Mas. Gak terlalu pedes juga," kata Ara selesai menyuapkan satu sendok makanan itu kesekian kali ke dalam mulutnya. "Mas juga. Ini gudegnya enak. Kalaupun Mas minta resepnya takut malah rasanya beda. Bikin ini soalnya agak lama," balas Adimas. "Biasanya Mas juga gak— kurang suka cecek (nangka), tapi ini malah jadi doyan banget gegara gudeg." "Loh, aku baru tau kalau Mas gak suka nangka." Ara terkekeh pelan meskipun tidak ada yang lucu atau lelucon dari Adimas. "Apa lagi yang Mas gak suka?" "Banyak sih," lelaki itu menggaruk tengkuk lehernya dan ikut tertawa. "Tapi Mas agak lupa apa aja, semua makanan bisa dimakan cuman beberapa gak sesuai lidah aja. Gak ada alergi kecuali alergi dingin." "Owalah, pantas saja pas itu keadaan lagi dingin dan Mas bersin-bersin terus. Ternyata alergi," gumam Ara namun suaranya masih bisa didengar oleh Adimas. Adimas mengangguk. Pembicaraan masih berlanjut dengan berbagai topik yang menyenangkan. Kadang Adimas melontarkan guyonan entah itu benar-benar terdengar lucu atau tidak, yang penting Ara bisa tertawa saat mendengarnya. Melihat canda tawa mereka, seseorang yang duduk membelakangi keduanya terlihat menelpon dengan orang lain dengan sangat hati-hati. "Nyonya sedang tertawa dengan suaminya sambil makan gudeg di belakang saya," Ia berbisik pelan. Hampir seperti gumaman yang tidak dapat di dengar oleh orang lain. "Tetap pantau, besok kamu kacaukan rencana liburan mereka. Saya tidak mau tahu, saya keluar dari rumah sakit dan harus ada kabar yang bagus untuk didengar," Pelan, namun terdengar tegas dalam satu waktu. Orang itu merinding dan tertekan. Dan orang lain lagi yang sedang makan di samping di tikar yang berbeda itu tersenyum kecil dan mengirimkan pesan suara melalui air podnya. "Tenang saja. Saya yakin akan menjaga hal ini sebaik mungkin. Mereka tidak akan berbuat macam-macam. Tuan baik-baik saja dengan Nyonya Nayla di sana, urusan di sini akan saya urus dengan sebaik baiknya." "Oke, bagus. Gue percayakan sama lo yang ada di sana. Rencana yang itu jangan sampai gagal. Kalau lo gagal, siap siap aja sama semua toko dan keluarga lo. Asal semua udah oke, gue jamin gaji dan kehidupan keluarga lo bakal aman." "Baik, Tuan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN