Chapter 32

740 Kata
Sarapan yang telah disantap sudah habis tanpa sisa di atas piring dan hanya ada garpu sendok yang disilangkan usai makan. Rasa makanan hotel tidaklah jauh dari makanan biasa yang dijual, hanya dengan embel-embel bahan sangat berkualitas saja yang membuat harganya jadi agak mahal. Kecuali hanya sarapan, itu disajikan secara gratis kepada semua reservan hotel sebagai bentuk fasilitas sesuai dengan budget yang telah dikeluarkan. Restoran yang berada di lantai dua hotel lumayan ramai dengan berbagai macam orang. Kebanyakan seperti Adimas dan Ara, pasangan suami-istri yang sedang menikmati liburan di Jogja. Ada juga orang pacaran dan juga beberapa mahasiswa yang sedang melakukan study khusus di Jogja. Perut sudah kenyang, Ara pun mengelap bekas makanan yang menempel di ujung bibirnya menggunakan tisu. "Pancake coklatnya enak, Mas. Aku suka sama rasanya, ada pisang topong pisangnya juga. Tapi hotel di sini banyak juga ya sajikan makanan daerah," katanya lalu membuang tisu ke tempat sampah di samping meja makan. "Kayaknya ini memang hotel yang bagus. Selain bintang empat kamar hotelnya, reservasinya juga bintang empat. Nasi goreng di sini juga rasanya kayak mamang di pinggir jalan. Mas juga suka," timpal Adimas menyuapkan satu sendok terakhir nasi goreng ke dalam mulutnya. Ia mengunyah lama sebelum dia telan ke tenggorokan. "Kita siap-siap ke Magelang, ya. Perjalanan ke Candi Borobudur paling lama satu setengah jam dari sini." Adimas melihat arlojinya, menatap angka di jarum sudah menunjukan pukul 06.45 WIB. Rencananya mereka akan tiba di sana paling lambat jam sembilan. Itu pun jika jalanan tidak macet. "Nanti habis itu kita main ke Keraton Jogja atau ke Pantai aja biar enak. Yang penting gak pakai baju hijau, kita harus tetap mengikuti anjuran dan gak melanggar pantangan daerah sini." "Iya sih, soalnya daerah pantai selatan kentel banget sama hal-hal mistis. Tenang aja, kita pakai baju putih hari ini jadi Insya Allah aman pas ke sana. Udah lama juga gak main ke pantai dan berkunjung ke pantai selatan," kata Ara menunjukan baju mereka yang berwarna putih nan serasi. "Iya," Adimas menyunggingkan senyumannya. Pakaian mereka memang serasi karena itu baju pemberian orang sebagai hadiah di pernikahan mereka. "Cepat siap-siap, kita gak mau kena polusi kalau jalanan macet, bukan?" Piring-piring kotor mereka tetap biarkan saat pelayan restoran hotel datang untuk mengambil. Mereka kembali ke kamar lalu usai kunci mobil dan tas diambil, keduanya pun berangkat menuju ke Magelang yang menempuh waktu satu setengah jam perjalanan dari Kota Yogyakarta. Liburan ke daerah Jawa Tengah maupun Yogyakarta memang menjadi pilihan yang tepat. Udara di sana masih segar dihirup-bukan berarti kota Jakarta hanya penuh dengan polusi. Hanya suasana di Jawa lebih menenangkan, suasana ramainya tak sehiruk meriuk di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Bukan berarti kota besar di setiap provinsi akan sepi, karena masyarakat kota biasanya akan rindu suasana yang tenang dan segar. Perjalanan mereka masih disambut beberapa hutan yang masih tumbuh pepohonan yang rindang. Selagi tidak ingin membuat suasana menjadi bosan karena terdiam, Adimas terus berinisiatif memulai percakapan dengan berbagai topik. Suasana yang semula ceria menjadi sedikit berbeda tatkala ia pun menyadari bahwa ada mobil yang terus mengikutinya sejak awal. Bingung di matanya, tak tahu kenapa bisa ada seseorang yang mengikutinya. Okelah kalau tidak sengaja, namun bagaimana bisa selama dari awal-Jakarta hingga Yogyakarta bahkan ikut ke Kota Semarang-mobil di belakangnya tetap setia mengikuti. Dan mereka berada di hotel yang sama dengannya dan Ara. "Ada yang tidak beres," gumam Adimas masih memperhatikan dari kaca spion mobil. "Eum, Ara. Nanti kamu tetap berpegangan sama Mas ya selama di Candi Borobudur nanti. Soalnya naik ke puncak itu tangganya tinggi-tinggi, Mas takut kamu jatuh," Adimas memberitahu istrinya dengan maksud supaya tak terjadi sesuatu dengan perempuan itu. Firasat dokter ahli Kejiwaan tersebut mengatakan bahwa ada niatan buruk kepada istrinya. Benar atau tidaknya firasat tersebut, Adimas berharap jika mereka tidak membuat sesuatu yang berbahaya. Tangan yang biasa bersentuhan dengan pasien tersebut akan siap memukul wajah orang-orang yang berniat buruk kepada keluarga kecilnya. "Aku bisa pegang pinggirannya, Mas. Jangan khawatir," balas Ara belum menyadari maksud Adimas, namun suaminya tetap kekeuh. "Gak bisa! Kali ini Mas gak mau kamu jatuh. Kalau perlu nanti Mas gendong kamu sampai ke atas." "Kenapa harus digendong? Lebih baik aku pegangan tangan Mas saja daripada digendong. Takut malah jadi pusat perhatian lagi." Menyerah, Ara ikut pada opsi pertama yang dirasanya aman. "Bagus," Adimas senang. "Sebentar lagi kita sampai. Kamu bisa lihat beberapa jalanan yang dilewati ada candi-candi lain yang dibangun. Ukurannya kecil daripada Borobudur." Sambil mengemudi dan melihat ke arah belakang, Adimas mencoba bercerita atau berbagi informasi yang ia tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN