Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di kawasan Candi Borobudur dan tak lama pun tiba di parkiran tempat wisata tersebut. Adimas membelikan istrinya sebuah topi yang cantik dikenakan, dan ia juga membeli sebuah topi lain untuk dirinya sendiri supaya menghindari sengatan sinar matahari yang sudah mulai terasa menyengat di kulit.
Menuju ke Candi pun tak semudah itu. Setelah membeli tiket masuk wisata lokal, mereka harus berjalan kaki sejauh satu kilo meter untuk mencapai tujuan mereka. Tadi sempat mengantri panjang karena banyak pengunjung dari kota lain yang juga tengah berlibur di sana.
Adimas pun sempat mengabadikan saat Ara tengah berjalan dan menyapa beberapa anak kecil lucu di sana dengan kamera ponselnya. Wajah manis dan kebahagiaan tertampak di sana membuat Adimas tak ingin kehilangan hal itu. Ia ingin terus melihat Ara tidak lagi tiba-tiba merasakan keputus-asaan dan menyalahkan diri sendiri. Selalu dan selalu, tiada hari tanpa kata 'maaf' yang meluncur di bibir itu.
Metode Adimas tidak berjalan semulus itu. Memiliki seorang istri yang pernah mengalami depresi berat dan hampir bunuh diri, kerja keras Adimas terasa dua kali lipat. Belum lagi ada titik terang kelanjutan atau follow up kasus Adara dari kawannya.
"Mas! Sini," panggil Ara mengibaskan tangan dengan maksud supaya sang suami mendekat.
"Kenapa, Ara? Kamu mau sesuatu?" tanya Adimas.
"Tadi aku ketemu ada anak orang asing. Lucu banget. Aku pengin foto sama dia, tapi dia ada di puncak dan gak tau bakal lama di sana apa enggak," ujar Ara yang masih memandang puncak borobudur untuk mencari keberadaan gadis kecil barusan dijumpainya.
Permintaan itu tidaklah sulit, tangan Adimas membawanya untuk menaiki tangga demi tangga menuju ke puncak. Meskipun anak tangga cukup tinggi, Ara kuat, perutnya yang belum mrmbesar tidak menghalangi ia ke atas sana.
Sudah di puncak candi, matanya memandang sekitar untuk mencari gadis kecil tadi. "Kemana ya dia?" Masih terus mencari, ia tidak menyerah.
Gadis kecil yang ia temui mengingatkannya kepada salah satu anak di Korea Selatan bernama Nam Yoora, anak kecil yang ia sering jumpai dan ia ajak makan bersama di kedai ramyeon kecil langganannya. Wajah dan tingginya mirip, ia belum sempat menyapa atau memastikan apakah betul itu Yoora apa bukan.
Jika dia itu bukan Yoora pun, rasa rindu Ara padanya bisa terobati. Ara pun jadi rindu saat berkuliah di Negeri sejuta idol tersebut.
"Udah ketemu, Ara?" tanya Adimas sedari tadi memperhatikan istrinya yang masih saja mencari keberadaan sosok kecil-yang katanya menggemaskan sekali-dilewatinya saat berada di bawah tadi.
Gelengan kecil diperlihatkan, "Belum. Kayaknya dia udah pergi tapi aku gak tau kemana perginya. Padahal dia manis banget." Secercah kekecewaan ia tunjukan. "Tapi kalau memang dia gak ada, ya sudah. Aku juga gak mungkin memaksakan untuk harus bertemu dia. Aku jadi merindukan Yoora, gadis kecil dari Korea yang dekat denganku dulu."
"Kalau kamu rindu, kapan-kapan kita ke Korea jika kamu mau. Tapi setelah anak kita lahir dan berumur cukup untuk terbang naik pesawat," kata Adimas.
"Itu juga kalau aku masih belum bekerja juga, Mas. Karena jika aku udah kerja, ada kemungkinan sulit antara kita bisa memiliki waktu luang. Kamu dokter, dan aku lulusan artitektur. Dua pekerjaan ini saja bisa sangat sibuk, aku khawatir anak kita kedepannya jadi kurang perhatian. Sampai dia sudah sekolah, aku tidak mau menyewa baby sitter," jelas Ara, memperlihatkan kekhawatiran yang masih jauh di masa depan.
Adimas merangkulnya. "Hei, udah dong. Jangan khawatir berlebihan gitu. Gak baik untuk kesehatan ibu hamil. Kita bahas ini nanti ya. Suka gitu deh, awalnya bahas apa nanti ujung-ujungnya jadi bahas ini lagi kan. Daripada kamu masih sedih cari anak itu, apa kamu gak mau foto-foto mumpung di sini? Mumpung lagi gak terik mataharinya karena ketutupan sama awan."
Di tangannya, Adimas sudah memegang kamera bermerk Canon yang dibawanya dari Jakarta. Sebetulnya, kamera ini dibeli dengan patungan dengan Adara dulu. Meskipun sudah lama, kualitas foto yang dihasilkan masih bagus.
Melihat ada tempat bagus untuk berfoto, ia pun segera menyuruh Ara berdiri di sana lalu berpose cantik sebelum kameranya menekan tombol untuk menjepret sebuah gambar.
Cantik. Satu kata yang bergumam di dalam hati Adimas melihat senyum manis Ara di sana. Bagaimana bisa perempuan semanis dan cantik ini disakiti? Orang lain pun akan sependapat dengan Adimas untuk melindunginya alih-alih menyakiti.
Memotret Ara beberapa kali, keduanya bergantian dan tidak lupa berfoto berdua. Sesekali mereka meminta bantuan orang asing untuk memoto keduanya yang begitu dekat hingga terasa canggung. Meskipun tidak lama kemudian mereka kembali biasa saja, dan melanjutkan berjalan kaki mengelilingi candi sebelum akhirnya turun.
Untuk bisa keluar dari kawasan candi, mereka harus melewati pasar yang ada di dalam kawasan---tempat dimana banyak yang menjual oleh-oleh baju dan kerajinan tangan bertuliskan Magelang, Candi Borobudur, dan Yogyakarta.
Sempat tertarik oleh beberapa yang dijual di sana, Ara pun akhirnya membeli. Ia hanya membeli yang sekiranya bisa awet dipakai dan bahannya bagus. Jika mudah patah atau cepat pudar warnanya, akan menjadi sedikit kesia-siaan yang akan disesalinya di kemudian hari nanti. Lalu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke tempat parkiran untuk langsung pergi ke Pantai Parangtritis di bagian selatan Yogyakarta.
Sama seperti dari hotel ke candi, perjalanan dari Candi Borobudur ke Pantai Parangtritis membutuhkan waktu satu setengah jam lamanya. Karena hampir tengah hari serta terik matahari semakin menyengat, Adimas mengajak istrinya makan terlebih dahulu dan mencari tempat makan yang cocok di sekitar sepanjang jalan.
Tiga puluh menit makan di Rumah Makan Padang di separuh jalan karena Ara ingin makan rendang dan bumbu pedas padang. Rasanya sedikit berbeda, dominan manis selayaknya makanan dari daerah selatan membuat rasa pedas rendang justru menjadi lebih manis.
Setengah perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini dengan perut kenyang. Adimas memutar lagu-lagu lawas dari penyanyi Nike Ardila. Perlu kalian ketahui, keluarga Chandrasurya ini sangat suka dengan penyanyi tahun 80'an itu.
"Dulu katanya, ayah suka bercanda pengin punya anak perempuan mirip mendiang Nike, tapi ternyata Kak Adara memang agak mirip pas masih kecil." Tiba-tiba Adimas menginfokan hal yang menurutnya tidak penting, namun ingin ia ceritakan. "Tapi pas udah gede, kakak malah tambah cantik, mukanya dikira bukan anak ayah sama ibu karena beneran beda banget, termasuk dengan saya maupun Dana."
"Lucu banget ayahnya Mas, tapi Kak Adara memang cantik pas aku lihat fotonya. Heran juga kenapa bisa mirip sama mukaku."
"Mmm, mungkin istilahnya memang kembar? Di dunia ini bisa saja mendapat kembaran meski beda orang tua dan beda negara. Itu juga tidak seratus persen mirip persis, setiap kembaran kan pasti ada perbedaannya, bahkan untuk pasangan kembar identik sekalipun. Benar, kan?"
Benar juga. Ini hanya secuil kebetulan wajah Ara mirip dengan mendiang Adara meskipun dikatakan mereka hampir dikatakan pinang dibelah dua.
"Kalau dibilang kaget ya kaget. Pas pertama kali bertemu sama kamu, Mas kira lagi ketemu kakak sendiri, ternyata beda orang. Hampir aja--beda di suara aja kalian berdua. Kakak suaranya memang halus, tapi kalau sedang bernyanyi bisa agak bass," jelas Adimas menirukan bagaimana mendiang kakaknya bernyanyi dan membuat Ara tertawa kecil melihat tingkah suami begitu lucu.
"Gitu deh kira-kira kalau kakak nyanyi. Sempet juga saya tertawakan karena jenis suaranya itu, dan akhirnya malah dicubit keras. Ya, meskipun suara bassnya itu sempat saya tertawakan, dia selalu juara lomba menyanyi," Adimas melanjutkan.
Diceritakan begitu saja sudah membuat Ara penasaran lebih jauh mengenai mendiang kakak iparnya. Tetapi ini sudah lewat beberapa tahun semenjak kakak dari sang suami meninggal, terlambat bagi perempuan itu. Dan waktu pun tidak dapat diputar karena jika itu terjadi maka bisa jadi baik Ara maupun Adimas tidak akan pernah saling bertemu atau Ara tahu kebohongan Jovan.
Adimas kembali menceritakan hal lain sambil terfokus pada jalanan yang tidak terlalu ramai itu. Kadang diselingi guyonan garingnya, dapat diterima baik oleh Ara yang kadang-kadang seleranya juga sama. Kadang bergantian Ara yang bercerita mengenai kehidupan kuliahnya dulu yang cukup seru di negeri orang dengan teman-teman baru dari berbagai belahan dunia. Sesekali ia menanyakan beberapa penyakit umum kepada sang suami, yang tidak berkaitan dengan kejiwaan karena tahu sebelum mengambil spesialis, pasti Adimas sudah mempelajari penyakit umum terlebih dahulu sebelum ke spesifiknya.
Tetap memperhatikan ke arah jalanan depan, Adimas melihat di depannya terdapat mobil yang berkecepatan tinggi setelah menyalip. Gerakan mobil tersebut aneh, kadang menjadi sedikit lebih lamban atau justru bertambah cepat. Puncak keanehannya membuat Adimas tak dapat menghindari kemalangan di depan matanya sendiri.
Mobil di depan yang sedikit lebih jauh tiba-tiba melambatkan kecepatannya secara drastis--- lebih ke arah hendak mengerem, membuat Adimas terkaget saat hendak menyalipnya dan akhirnya ia membanting setir ke arah kiri, dan menabrak pembatas jalan sebagai bentuk penghindaran. Namun, Kecelakaan tidak dapat dihindarkan. Adimas merasa bodoh karena salah arah untuk menghindaer yang berimbas pada istrinya. Ara terluka parah karena mengalami benturan yang sangat keras--dia berada di sisi ditabrak ke pembatas beton jalanan. Dan Adimas pingsan dengan kepala sedikit mengeluarkan darah.
Kejadian itu membuat beberapa mobil menghentikan lajuannya dan menghampiri mobil Adimas. Pasangan suami-istri yang ditemukan dalam keadaan berdarah di kepala, dan Ara terlihat mengalami patah tulang dibagian kiri karena darah yang mengalir di sana sangat banyak.
"Cepat bawa mereka ke rumah sakit terdekat!"