#R – Teror Dari Para Pengejar

2143 Kata
Menyibukan diri dengan bekerja tanpa kenal rasa lelah, itulah yang sedang Hasan lakukan untuk bisa melupakan sejenak semua permasalahan yang sedang dia hadapi, sebuah masalah yang sebenarnya bisa dia pecahkan hanya dengan cara jujur pada diri sendiri, hanya saja hingga sejauh ini Hasan masih belum mengerti jika dia tidak jujur pada dirinya sendiri, padahal itu adalah inti dari masalah yang sedang dia hadapi. Sampai akhirnya, bunyi suara dari ponselnya membuat perhatian Hasan yang semula fokus menatap layar leptop beralih menatap kearah ponselnya. Di sana, terdapat sebuah pesan yang di kirim oleh orang yang tidak di kenal, dan ternyata orang tersebut mengirim sebuah video. “Dia akan mati jika kamu tidak memberikan apa yang kami inginkan,” Hasan langsung bangkit dari posisi duduknya dan membawa leptop setelah dia melihat video dan membaca pesan yang baru saja di kirim pada ponselnya.  Kemudian, dia langsung bergegas menuju suatu tempat untuk memastikan seseorang baik – baik saja. Namun, saat Hasan hendak melajukan mobilnya dering dari ponselnya kembali terdengar, Hasan langsung mengangkatnya saat dia melihat nomor Natasyalah yang sedang mencoba menghubunginya. “Kamu lupa ya, hari ini kita ada jadwal fithing baju sama cek gedung,” Hasan langsung menepuk dahinya sendiri saat dia baru saja menyadari jika dia melupakan jadwalnya hari ini bersama Natasya. “Nat, aku minta maaf, bisakah jadwalnya di resecedlu lagi, aku harus pergi ke rumah Maryam dan memastikan keadaannya baik – baik saja, karena barusan ada yang menerorku” ujar Hasan, merasa ragu. Saat itu tidak ada jawaban lain yang Natasya berikan selain kata iya, dan Hasan sadar saat itu dia pasti sudah membuat Natasya kembali merasa kecewa. Namun, saat itu Hasan merasa ada hal yang jauh lebih penting yang harus dia selesaikan daripada memikirkan tentang Natasya, Hasan sadar calon istrinya adalah perempuan yang pengertian, nanti dia pasti akan bisa memahami siatuasi apa yang saat itu dia hadapi. *** Hasan berjalan dengan sedikit tergesa – gesa setelah Mbak Lili membukakan pintu untuknya, kakinya langsung melangkah menuju kamar Maryam, karena sejak awal tujuan kepergiannya dari kantor ke rumah Maryam adalah untuk memastikan keadaan gadis itu baik – baik saja atau tidak. “Kak, kenapa gak ketuk pintu dulu, gak sopan” ujar Risa, saat dia melihat putranya yang baru saja datang dengan wajah penuh ke khawatiran.  Sesaat Hasan terdiam, kemudian dia berbalik pergi begitu saja setelah dia melihat keadaan Maryam yang saat itu sedang tidur dan dalam keadaan baik – baik saja. Melihat ada sesuatu yang aneh dengan putranya, Risa langsung berjalan mengikuti kepergian Hasan, dia harus memastikan keadaan putranya benar – benar baik – baik saja, karena Risa tahu putranya adalah tipe orang yang sangat sulit berbagi cerita kepada siapapun apalagi cerita tentang kesulitan dan kesakitan hidupnya. “Kak, kenapa ?” tanya Risa, sambil mendudukan tubuhnya tepat di samping Hasan yang saat itu sedang duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan mata terpejam. Mendengar suara ibunya mendekat, Hasan langsung membenarkan posisi duduknya, kemudian dia tersenyum penuh ketenangan. Melihat hal itu, Risa ikut tersenyum sambil memandang wajah putranya yang saat itu menunjukkan gurat – gurat kelelahan. “Kenapa ? ada apa ? cerita sama Bunda Kak, jangan menanggung semuanya sendirian, kamu harus ingat fungsinya keluarga adalah untuk saling membantu, jangan mempersulit diri kamu sendiri” ujar Risa, sambil menggengam tangan putranya. Hasan tersenyum sambil memandang wajah Bundanya, kemudian dia memeluk tubuh Risa dengan penuh kelembutan, setidaknya pelukan Risa selalu menjadi tempat ternyaman bagi Hasan untuk berbagi semua beban yang sedang dia pikul tanpa harus dia ucapkan. Sementara Risa, menydari sikap Hasan yang aneh semakin merasa yakin, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Hasan. “Aku hanya takut terjadi sesuatu pada kalian, aku hanya ingin kalian selalu berada dalam keadaan aman” ujar Hasan, dalam pelukan Risa. “Apa yang kamu khawatirkan Kak ?” tanya Risa, sambil mengelus bahu punggung Hasan berusaha memberikan putranya ketenangan. Hasan, hanya menggelengkan kepalanya. Dia tentu tidak akan pernah mau menceritakan apa yang saat itu sedang dia pikirkan, karena dia takut hal itu akan menggangu pikiran bundanya. Kemudian, Hasan bisa merasakan ada seseorang juga yang tiba – tiba ikut bergabung memeluk dari belakang tubuhnya, dan dari harumnya saja Hasan bisa tahu siapa yang saat itu sedang memeluknya. “Udah berapa hari gak tidur ?” pertanyaan itu menjadi kalimat pertama yang sosok dibalakang tubuh Hasan katakan saat dia menyandari Hasan kekurangan istirahat. “Uang gak di bawa mati, Kak, waktunya tidur ya tidur, kerja ya kerja, jangan dzolim sama diri sendiri” ujar Alina, sambil melepas pelukannya dari tubuh Hasan, diikuti Hasan yang juga melepas pelukannya dengan Risa.  Hasan tersenyum mendengar ledekan adiknya, begitun dengan Risa yang ikut tersenyum saat dia melihat interaksi kedekatan Hasan bersama adiknya. Terkadang, dia sering kali membayangkan apa yang akan terjadi pada Alina jika saat itu tidak ada Hasan bersamanya, karena selama pertumbuhan Alina, Risa sadar sudah banyak hal yang Hasan korbankan. Melihat Alina tumbuh dengan baik, membuat Risa merasa jika dia pantas berterima kasih kepada putranya, sebagai orang yang paling banyak berjuang. “Kalau Kakak ngobrol sama Maryam, dia mau enggak ya ?” tanya Hasan, sambil menatap lurus kearah depan setelah Risa memutuskan pergi ke dapur untuk membuat teh. “Aku gak tahu Kak, karena saat ini aku sendiri gak paham apa yang sebenarnya terjadi pada Maryam, karena belakangan ini dia jadi lebih tertutup dan pendiam, padahal biasanya dia selalu cerita apapun kepada ku” ujar Alina, sambil menghela nafasnya. Hasan menghela nafasnya, saat itu dia semakin yakin jika ada sesuatu yang harus dia bicarakan lebih serius bersama Maryam, dia tidak peduli Maryam akan marah nantinya karena dia tidak menuruti keinginannya untuk pergi, karena nyatanya Hasan sendiri tidak pernah bisa pergi jauh dari Maryam. Suara pesan masuk yang berasal dari hanphone Hasan membuat dua manusia yang sedang duduk di sofa itu beralih menatap kearah ponsel Hasan yang sedang tergeletak. Nomor tidak di kenal, itulah yang baru saja mengirimnya sebuah pesan, dan Hasan yakin pesan itu adalah pesan peringatan dan ancaman seperti yang beberapa jam lalu baru saja dia dapatkan. “Serahkan cucu bos ku atau orang ini aku habisi dan gadis itu aku bawa secara paksa !!” Alina langsung menoleh kearah Hasan tepat setelah dia tanpa sengaja membaca pesan yang baru saja masuk pada ponsel Hasan. “Siapa yang akan di bunuh Kak, ada apa ini sebenarnya ?” tanya Alina, sambil menatap Kakaknya khawatir. Namun, saat itu tidak ada jawaban yang Hasan sampaikan, laki – laki itu langsung bangkit dan pergi ke halaman belakang. Dia tidak bisa membiarkan Maryam dalam ancaman, sehingga saat itu Hasan langsung mencoba menghubungi nomor Adrian yang sudah hampir satu bulan menghilang tanpa jejak dan kabar, berharap saat itu nomornya sudah bisa dihubungi. Beberapa kali Hasan mencoba untuk menghubungi Adrian, tapi nomor telepon laki – laki itu masih tetap berada dalam keadaan tidak aktif. Kemudian, Hasan mencoba menghubungi nomor yang sejak tadi mengirimnya pesan terror, saat itu dia harus benar – benar memastikan semuanya secara jelas, karena dia tidak ingin tindakan dia nantinya akan membahayakan orang – orang yang menyayanginya. “Dimana ? Dimana kalian menyandra dia, aku yang akan datang membawanya pulang dengan keadaan selamat” ujar Hasan, saat panggilan telepon sudah berhasil terhubung.            “Aku tidak butuh nyawa dia ataupun nyawa mu, yang ku butuhkan adalah Nona Maryam, karena kami harus segera membawanya ke Jerman !!” jawabnya, membuat Hasan harus kembali memutar otak.  “Bawa cucu tuan Aland malam ini ke kantor, jika tidak dia akan benar – benar mati.” “Sembunyikan dia, jangan biarkan mereka membaw … bught … uhuk ..uhuk”  Samar – samar Hasan bisa mendengar suara seseorang yang berteriak, dan Hasan sangat yakin jika itu adalah suara Adrian. Mendengar suara itu, Hasan merasa gamang, apa yang harus dia lakukan, membawa Maryam pergi jauh atau menyelamatkan Adrian lebih dulu. “Lepas Mas Adrian, kalian salah bila berpikir dengan menyandranya kalian bisa mendapatkan Maryam, karena sampai kapanpun Maryam tidak akan pergi bersama kalian !” ujar Hasan, terdengar begitu tegas. “Kalau nyawanya tidak berarti, maka siap – siap saja jika kesabaran kami sudah habis mayat orang ini akan kami kirim ke rumahnya.” Hasan, hanya mampu mendengus kesal saat sambungan telepon tiba – tiba dimatakan secara sepihak, dia benar – benar tidak tahu harus mulai bergetak dari mana untuk menyelamatkan Adrian dan melindungi Maryam, karena menurut Hasan keadaan ini terlalu rumit. “Kenapa dengan Om Adrian ? apa yang terjadi dengannya ? dia baik – baik saja kan ?” Hasan, langsung berbalik saat dia mendengar suara seseorang yang tidak asing masuk ke dalam indra pendengarannya. Selama beberapa saat laki – laki itu terdiam sambil memandang sosok dihadapannya, kemudian dia berusaha berpikir untuk mencari jawaban paling tepat untuk dia sampaikan kepada Maryam. “Jawab aku Kak, apa yang terjadi pada Om Adrian, dan jangan coba – coba untuk membohongi ku” lanjutnya, sambil menatap Hasan dengan tatapan penuh keseriusan. Hasan, benar – benar tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Maryam, karena jika Hasan menceritakan semua yang sebenarnya pasti akan membuat Maryam sangat mengkhawatirkannya. Namun, jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya Hasan bingung apa yang harus dia katakan. “Dia baik – baik saja, dan dia pasti akan segera pulang,” hanya itulah jawaban yang bisa dia sampaikan, karena mengatakan apa yang sebenarnya adalah pilihan yang tidak akan pernah Hasan pilih. “Katakan dengan sebenar – benarnya, atau aku akan mencari tahunya sendiri” ujar Maryam, sambil memandang Hasan penuh keseriusan. “Siapa yang menyandra Om Adrian dan kenapa dia di sekap ?” tanya Maryam, sambil menatap Hasan penuh keseriusan. Selama beberapa saat, Hasan terdiam kemudian dia menyerahkan sebuah rekaman video dimana isi video itu adalah rekaman Adrian sedang di sekap di sebuah ruangan dengan tangan terikat. Terdapat beberapa orang bertubuh kekar yang mengelilinya, dan satu hal yang perekam tanyakan kepada Adrian dan tidak pernah Adrian jawab adalah mengenai keberadaan Maryam. Jadi, karena Adrian tidak pernah mau mengatakan dimana keberadaan Maryam dia di pukuli oleh mereka, berharap dengan cara itu Adrian akan segera menyerah dan mengatakan dimana keberadaan Maryam. “Mereka mengancam akan membunuh Mas Adrian jika dalam waktu dekat kamu tidak mau pergi ke Jerman” ujar Hasan, membuat tubuh Maryam yang saat itu sedang merasa lemas menjadi semakin lemas. Kemudian, tanpa banyak bicara Maryam langsung berbalik hendak pergi. Melihat hal itu, Hasan tentu saja mencegahnya, karena Hasan tahu apa yang saat itu ada dalam pikiran Maryam dan apa yang akan dia lakukan. Saat itu, Maryam tentu melakukan pemberontakan, dia tidak ingin mengulur waktu lebih lama, karena semakin lama dia datang akan semakin lama pula dia membuat Adrian menderita. “Kamu mau kemana ?” tanya Hasan, sambil mendahului langkah Maryam. “Ke kantor Papah dan cari om Adrian di sana, aku yakin om Adrian ada di sana, aku akan membawanya pulang dan mengobati luka - lukanya” ujar Maryam, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar dan matanya juga sudah mulai berkaca – kaca. “Mas Adrian gak ada di sana, dan kantor ayah kamu yang selama ini di kelola Mas Adrian sudah di ambil alih oleh orang kepercayaan Kakek kamu, jadi Kakak mohon tetaplah dirumah, kita pikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan Mas Adrian” ujar Hasan, sambil mencekal lengan Maryam. Sesaat, Maryam terdiam tapi air mata justru mengalir semakin deras dari pelupuk matanya saat dia jika keadaannya sedang membahayakan, dan keadaan itu membuat salah satu orang yang di hormatinya berada dalam bahaya. Saat itu, Maryam merasa jika dia tidak bisa diam saja, dia harus bergarak cepat untuk meyelamatkan Hasan. “Berhenti, jangan lakukan apapun yang saat ini kamu pikirkan, ingat pada Mas Adrian, dia sudah berjuang hingga sejauh ini, dan baru saja dia meminta Kakak untuk selalu menjaga kamu dan jangan membiarkan mereka membawa kamu, jadi tolong jangan pergi kemanapun, biar Kakak yang akan mengurus semuanya” ujar Hasan, membuat tangis Maryam benar – benar tumpah. Risa dan Alina yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Maryam dan Hasan akhirnya berjalan mendekat, Risa langsung membawa tubuh Alina ke dalam dekapannya, sedangkan Alina hanya mampu mengelus lengan gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. “Dimalam saat kamu menelpon Kakak ketika hujan besar, lampu rumah padam, dan ada dua orang yang megintai rumah, sebalumnya Mas Adrian juga sudah menelpon Kakak, jadi saat itu Kakak langsung buru – buru ke sini” ujar Hasan, menceritakan semuanya. “Cepat pergi ke rumah Non Maryam, ada orang yang sedang mengintai rumah, saya tidak bisa melakukan apapun untuk sekarang karena mungkin sebentar lagi saya akan tertangkap, karena tuan Aland berhasil menemukan kantor Almarhum Tuan Al, dan kini anak buahnya sudah datang untuk mengambil alih perusahaan” Hanya itulah pesan yang Adrian katakan, bahkan saat itu dia langsung bicara saat telepon sudah terhubung dan langsung mematikannya setelah dia selesai bicara. “Jadi, bersabar dan berdo’alah agar semuanya baik – baik saja, Kakak pasti akan mencari cara agar kita bisa menyelamatkan Mas Adrian, jadi kamu tenang” ujar Hasan, pada sosok Maryam yang saat itu masih terisak menangis dalam pelukan Risa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN