Waktu, adalah kesempatan yang tidak pernah dapat di ulang, karena perjalanan waktu bergerak ke depan, tidak bisa mundur kebelakang. Seperti itulah ibaratnya kehidupan, terus bergerak menyisir takdir, hingga pada akhirnya takdir sampai pada ujung yang tidak dapat di ulang kebelakang.
Karena, jika ada kesepatan yang tuhan berikan untuk mengulang apa yang akan terjadi, Maryam akan lebih memilih untuk ketakutan dalam gelap bersama derasnya hujan, dan kencangnya petir, dari pada menghubungi Hasan yang membuat dia berakhir pada sebuah takdir yang membuatnya merasa malu dan hina.
“Selamat Mbak, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, semoga bayi dan ibunya bisa selalu sehat hingga proses persalinan,” jantung Maryam benar – benar mencelos saat Dokter kandungan menyatakan jika pada saat itu Maryam mengandung, atau lebih tepatnya mengandung di luar pernikahan.
“Saya akan berikan vitamin dan obat anti mual, semoga dengan itu Mbak bisa lebih baik” ujar Dokter, yang masih belum mendapat jawaban apapun dari Maryam.
Saat itu, tidak ada yang bisa Maryam lakukan selain diam karena pernyataan yang berhasil membuat merasa kaget. Pernyataan yang membuat Maryam ingin sekali menjerit kencang bahkan jika bisa membunuh dirinya sendiri, karena pernyataan itu membuat Maryam merasa benci dirinya yang tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan.
Kemudian, Maryam berjalan keluar menghampiri Mbak Lili yang saat itu mengantarkan Maryam, saat itu Maryam memang memintanya menunggu di luar, karena dia tidak ingin perempuan itu mendengar apa yang Dokter sampaikan padanya. Terlebih, saat itu Maryam sudah berbohong dengan mengatakan jika dia sering mengalami gangguan haid dan dia ingin memeriksa rahimnya, padahal saat itu Maryam sudah merasakan ada sesuatu yang ganjil pada tubuhnya.
“Non Maryam, Non tidak apa – apa, Mbak tadi kaget nemuin Non Maryam pingsan di kamar” ujar Mbak Lili, langsung bangkit dan menghampiri Maryam yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Dokter.
Selama beberapa saat, Maryam terdiam sambil memandang wajah Mbak Lili, kemudian tanpa di sangka air mata yang sejak tadi mati – matian berusaha Maryam tahan akhirnya tumbuh dihadapan Mbak Lili. Melihat Maryam yang tiba – tiba menangis, Mbak Lili langsung membawa Maryam ke dalam dekapannya, berusaha memberikan gadis itu ketenangan, tanpa mempertanyakan alasan apa yang membuatnya menangis, karena saat itu Mbak Lili paham bukan saat yang tepat untuk dia bertanya.
“Enggak apa – apa Non, Non Maryam pasti akan sehat selalu setelah ini, Mbak janji, Mbak pasti akan selalu membuatkan makanan enak dan bergizi untuk Non Maryam agar tidak sakit lagi” ujar Mbak Lili, sambil mengelus punggung Maryam.
Mendengar jawaban Mbak Lili, bukannya mereda tangis Maryam justru semakin deras, dia pasti akan mengecewakan banyak orang jika mereka tahu Maryam sudah mengandung saat statusnya belum menikah, bahkan ayah dari bayi yang sedang di kandungnya justru sedang merencanakan pernikahan dengan calon istrinya.
Mual – mual yang di alaminya, sakit kepala dan pusing yang sering Maryam rasakan, tubuhnya yang tiba – tiba melemah, pingsan yang terjadi padanya hingga membuat Mbak Lili khawatir dan membawanya ke rumah sakit bukan karena dia sakit, tapi karena dia sedang mengandung. Itu sebabnya, saat di perjalanan Maryam sadar, dia meminta Mbak Lili untuk tidak mengubungi siapapun, dan meminta Mbak Lili untuk membawanya ke Dokter kandungan.
“Maafin aku Mbak, maafin aku” ujar Maryam, sambil memeluk Mbak Lili dengan air mata yang saat itu belum juga mereda jatuh dari pelupuk matanya.
Mendengar Maryam yang tiba – tiba meminta maaf kepadanya, Mbak Lili tentu merasa heran, karena selama ini Maryam selalu bersikap baik kepadanya, tapi gadis itu dengan tiba – tiba meminta maaf. Namun, saat itu tidak ada apapun yang bisa Mbak Lili pertanyakan karena dia tidak ingin membebani Maryam dengan harus menjawab pertanyaannya.
***
Hasan, langsung bangkit dari posisi duduknya saat dia melihat Maryam dan Mbak Lili keluar dari Taxi. Wajahnya terlihat memancarkan kecemasan yang sangat mendalam, mungkin semua itu terjadi karena saat dia datang keadaan rumah sedang sepi dan tidak ada orang. Kemudian, dia manatap kearah Maryam, memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah seakan memprediksi keadaannya baik – baik saja atau tidak.
“Kamu dari mana ? kenapa mau pergi ke luar enggak hubungi Kakak dulu, kamu tahukan bagaimana berbahayanya diluar, tolong jangan buat Kakak selalu terjebak dalam perasaan takut” ujar Hasan, dengan suara yang terdengar melembut diakhir kalimatnya.
“Maaf Mas, tadi saya nemuin Non Maryam pingsan di kamarnya, jadi saya langsung bawa ke rumah sakit” ujar Mbak Lili, berhasil membuat Hasan langsung menoleh kearah Maryam dan memastikan keadaan gadis itu baik – baik saja.
“Maryam kamu sakit, kenapa gak telepon, ayo aku anter ke kamar” ujar Alina, sambil membawa Maryam menuju kamarnya, karena dia tahu jika dia membiarkan Hasan terus berhadapan dengan Maryam laki – laki itu akan terus menanyai Maryam dengan banyak pertanyaan.
Mendapat ajakan dari Alina, Maryam langsung mengikutinya, karena berlama – lama berada di dekat Hasan akan membuat puzzle kekuatan yang sudah dia bangun selama perjalanan dari rumah sakit ke rumah hancur berantakan. Karena, kehamilannya tidak boleh di ketahui oleh siapapun, apalagi oleh Hasan.
Perlahan, tangan Maryam mengelus permukaan perutnya yang masih rata, hatinya berdesir saat dia menyadari ada kahidupan yang kini sedang tumbuh di dalam rahimnya. Hal itu, tanpa sadar membuat mata Maryam berkaca – kaca bahkan tanpa sadar meneteskan air mata. Jika saja saat itu posisinya Maryam sudah menikah bersama Hasan, mungkin kehamilan Maryam akan menjadi sebuah kabar yang paling membahagiakan, sayangnya saat itu Hasan bahkan tidak pernah mengakuinya sebagai seorang perempuan dewasa, tapi hanya sebatas adik saja.
“Kenapa ? masih sakit ?” tanya Alina, sambil mengelus pundak Maryam ketika mereka sudah sampai di kamar.
“Enggak papa, Kak” jawab Maryam, sambil tersenyum sendu di balik cadarnya dan menatap Alina dengan tatapan yang terlihat sayu.
Sesaat, Alina ikut tersenyum saat dia sadar sosok Maryam juga sedang tersenyum kearahnya, kemudian Alina membawa Maryam ke dalam pelukannya karena saat itu Alina merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada Maryam lebih dari pada keadaannya yang sedang sakit, tapi Alina sendiri tidak tahu itu apa.
“Udah, sekarang tidur, kamu mau Kakak buatin bubur resep Bunda enggak, hmm ?” tanya Alina, sambil membaringkan tubuh Alina dan menyelimutinya.
Maryam tersenyum mendengar tawaran Alina, karena ketika dia sakit dia sangat suka memakan bubur buatan Alina atau Risa. Kemudian, sebuah anggukan dari kepala Maryam menjadi jawaban yang berhasil membuat senyuman juga merekah di bibir Alina. Namun, saat Alina hendak berlalu ke dapur membuat bubur yang dia tawarkan kepala Maryam, matanya tanpa sengaja melihat sebuah kalung dengan ukiran nama Filza yang tergeletak di atas nakas yang terletak di samping ranjang Maryam.
“Filza, ko kamu buat kalau pakai nama Filza, kenapa inikan bukan nama kamu dan bukan bagian dari nama kamu” ujar Alina, sambil mengambil kalungnya kemudian memperhatikannya dalam diam.
“Enggak tahu aku juga bingung, itu hadiah ulang tahun dari Kak Hasan” ujar Maryam, sambil ikut menatap kalung yang saat itu di pegang oleh Alina.
Sesaat Alina terdiam sambil memandang kalung yang saat itu dia pegang, dahinya terlihat berkerut seakan saat itu dia sedang memikirkan suatu hal atau sedang berusaha mengingat suatu hal yang memang sudah dia lupakan. Kemudian, tiba – tiba dia bangkit dari posisi duduknya sambil memanggil Maryam dengan cukup kencang hingga membuat Maryam merasa kaget.
“Kamu tahu arti Filza dalam bahasa Arab apa ?” tanya Alina, sambil kembali terduduk dengan wajah shocknya, menatap Maryam dan kalung itu secara bergantian.
Maryam yang tadinya sedang berada dalam posisi berbaring ikut mengubah posisinya menjadi duduk karena dia merasa kaget mendengar pertanyaan Alina. Maryam iku menatap kalung bertuliskan nama Filza yang saat itu sedang di pegang Alina, telinganya sudah siap siaga mendengar kalimat Alina selanjutnya yang dia yakin akan menceritakan arti nama Filza.
“Belahan jiwa, arti nama Filza dalam bahasa Arab itu belahan jiwa, dan Kak Hasan kasih kalung ini sama kamu, ko dia sosweet banget sih, pokoknya aku harus protes masa aku enggak di kasih juga sih” ujar Alina, sambil memberengutkan wajahnya kesal.
Kemudian, Alina langsung bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar dari kamar Maryam, sedangkan masih dalam posisi duduk Maryam terdiam merenung mencerna makna perkataan Alina baru saja. Belahan jiwa, arti tulisan di kalung pemberian Hasan masih sulit Maryam percaya, bagaimana bisa laki – laki itu memberikan Maryam kalung dengan makna yang sedalam itu. Tangannya, tiba – tiba menyentuh dadanya yang saat itu tiba – tiba berdebat, merasakan getaran yang terasa begitu membahagiaan, tapi membuatnya jatuh karena kenyataan.
Kemudian, Maryam ikut menyusul Alina yang sudah berlalu pergi ke luar kamar, dan saat itu halaman belakang menjadi tempat pertama yang Alina kunjungi karena dia yakin di sanalah Alina sedang melancarkan seluruh aksi protes karena tidak mendapat hadiah kalung sepertinya dari Hasan. Namun, saat dia melihat handphone Hasan yang tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu dalam keadaan berdering, Maryam langsung menghampirinya, dan saat melihat nomor itu adalah nomor asing Maryam memberanikan diri untuk mengangkatnya.
“Jam 22.30 adalah waktu penentu, saat cucu Tuan Aland kau kirim ke kentor, maka orang ini akan selamat, tapi jika tidak maka besok pagi kau akan melihat bangkai orang ini tergeletak di depan rumahnya,” sesaat Maryam terdiam mematung. Dia yang menjadi incaran tapi Adrian yang menjadi korban, laki – laki itu akan terbunuh jika dia tetap pada pendiriannya.
Maryam langsung mematikan sambungan telepon tanpa memberikan jawaban, tubuhnya langsung terduduk diatas sofa karena masih merasa kaget mendengar ancaman dari sambungan telepon. Kemudian, Maryam langsung mengirim nomor telepon tersebut dari nomor Hasan ke nomornya, masih ada cukup waktu yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan nyawa Adrian bagaimana pun caranya, karena sampai kapanpun Maryam tidak akan rela membiarkan Adrian mati demi melindungi dirinya.
Kemudian, Maryam langsung kembali ke kamarnya, tidak lama setelah itu muncul Alina dengan wajah kesal dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasar. Saat itu Alina masih belum bisa menebak apa yang terjadi pada Alina hingga dia terlihat kesal, tapi tidak sampai sepuluh menit wajah kesalnya kini terlah berubah menjadi senyum cerah.
“Karena kamu hadir menjadi kekuatan Kakak saat berada di titik paling dasar, sedangkan Maryam adalah gadis yang tumbuh menjadi pelengkap dalam kekosongan Kakak, dia seakan hadir membawa cerita baru dalam hidup Kakak Alin, jadi Kakak memberikan kalung bertuliskan Filza itu kepadanya” ujar Alina, kembali menyampaikan apa yang tadi sempat Hasan sampaikan kepadanya.
“Apa mungkin Kak Hasan sebenarnya cinta ya sama kamu, bayangin aja belahan jiwa coba itu makna tulisan kalungnya” ujar Alina, sambil menatap langit – langit kamar.
Filza yang berarti belahan jiwa, Maryam tidak pernah mengira tulisan Filza itu memiliki makna seistimewa itu. Hanya saja setelah dia mengetahuinya, Maryam merasa hatinya menghangat, meskipun mungkin makna belahan jiwa yang Hasan maksudkan tidak seistimewa yang Maryam pikirkan, karena nyatanya kini Hasan sudah memilih belahan jiwa sejatinya yang akan menemani dia hingga hari tua, yaitu Natasya.