#R – Keputusan Terakhir

1771 Kata
           Mengambil sebuah keputusan sangat jarang Maryam lakukan, karena selama dia hidup, dia di kelilingi oleh orang – orang baik yang membantu Maryam memilih mana yang terbaik untuknya tanpa harus dia pinta. Jadi, saat keadaan memaksanya untuk mengambil sebuah keputusan, Maryam tentu harus memperhitungkan semuanya hingga benar – benar matang.            “Kamu ngelamunin apasih dari tadi kayanya melamun terus, udah orang sakit istirahat” ujar Alina, yang saat itu baru saja masuk ke dalam kamarnya sambil membawa air putih.            Maryam tersenyum menyadari kehadiran Alina, selama dia hidup, gadis itu selalu ada di sampingnya, apalagi setelah Intan meninggal, Alina jadi lebih sering menginap untuk menemani Maryam. Hal itu, membuat Maryam sangat – sangat merasa bahagia, karena meskipun dia hidup tanpa ada orang tua, tapi dia tidak pernah kesepian karena ada mereka yang juga tulus menyayangi Maryam.            “Kak Hasan udah pulang Kak ?” tanya Maryam, berhasil membuat Alina langsung menoleh kemudian menggelengkan kepalanya.            Maryam hanya mengangguk – anggukan kepalanya, kemudian dia pamit keluar dengan alasan ingin membuat s**u sendiri, Maryam tidak menggubris perkataan Alina yang sudah menawarkan diri untuk membuatkannya s**u, karena saat itu tujuan utama Maryam bukan hanya sekedar membuat s**u, tapi membahas Adrian bersama Hasan.            “Semua berjalan seperti dugaan ku Hasan, Papah sudah mulai kehilangan kepercayaan sama kamu, apalagi belakangan kamu sering meriscedlu jadwal yang sudah kita tetapkan, atau tiba – tiba membatalkan jadwal kita saat mengurus persiapan pernikahan, Papah bahkan sudah mengancam jika kamu seperti ini terus maka pernikahan kita di batalkan dan aku benar – benar harus menikah bersama Alex,” Maryam berdiri di balik tembok yang menjadi penghalang antara ruang tamu dan ruang keluarga, telinganya dia pasang dengan sejeli mungkin untuk mendengar percakapan yang terjadi antara Natasya dan Hasan.             “Tolong, ambilah keputusan yang paling baik untuk hubungan kita, jika memang kamu memilih untuk bersama Maryam, maka tetaplah memilihnya jangan pedulikan aku, karena aku pasti akan baik – baik saja, kamu gak boleh berbohong, ketika hati kamu memulih Maryam tapi kamu malah memaksa bertahan bersama ku, hal itu justru akan membuat kita semakin terluka” lanjut Natasya, sambil menundukkan kepalanya.            Hasan, yang saat itu sedang duduk dihadapan Natasya masih memilih diam mendengarkan semua yang ingin gadis itu katakan. Jika saja saat itu Hasan diperbolehkan untuk jujur, dia sendiri merasa tidak mengerti dengan hatinya, dia tidak tahu apa yang hatinya inginkan, hal itu kadang sering kali membuat perasaannya bertanya – tanya, apakah menikah bersama Natasya adalah keputusan yang sangat dia inginkan.            “Nat, saat aku jatuh serta di tuntut kuat oleh keadaaan dan waktu untuk kembali bangkit, merangkak menjalani kenyataan yang saat itu terasa begitu sakit, kamu datang mengulurkan tangan, memberikan aku kehangatan hingga rasanya aku bisa kembali mengenal sebuah warna selain hitam, tapi Maryam, hadirnya dia, membuat ku mengerti jika hidup itu akan selalu di mulai, dan dari mana kita memulai semua tergantung pada kita sendiri, mata bening Maryam saat dia masih begitu kecil, membuat aku sadar jika kita hanya perlu percaya dan menjalani, adanya Maryam membuat aku merasa jika aku sudah menemukan tempat aku pulang, jadi tolong jangan pernah mempertanyakan mana yang harus ku pilih diantara kalian” ujar Hasan, sambil menggenggam tangan Natasya.            “Jika memang aku dan dia memiliki tempat berbeda di hati kamu, bolehkah aku egois dengan meminta lebih banyak ruang di hati kamu dari pada dia ?” tanya Natasya, sambil mengangkat kepalanya dan menatap Hasan tepat di bagian matanya.            Lagi – lagi, Hasan kembali terdiam seakan memikirkan permintaan Natasya yang seharusnya bisa dia jawab dengan cepat. Namun, saat itu Hasan seakan tidak yakin bisa memberikan hatinya lebih besar kepada Natasya dibandingkan Maryam, sosok gadis yang selama ini dia anggap adiknya tapi tidak tahu apakah anggapan itu memang benar – benar dari hatinya atau hanya sekedar dari lisannya saja.            “Jangan meminta hal sepele seperti itu kepada calon suami Kakak, karena saat Kak Hasan mengatakan dia akan menikahi Kakak, maka pasti dia sudah memantapkan dirinya untuk menjadi milik Kakak, jangan pernah membandingkan posisi Kakak dan aku di hati Kak Hasan karena posisi Kakak pasti akan lebih utama, itulah yang aku tahu karena Kak Hasan sendiri yang cerita padaku,” Hasan dan Natasya, langsung sama – sama menoleh saat mereka mendengar seseorang yang tiba – tiba masuk ke dalam perbincangan mereka.            “Kak Hasan itu sangat mencintai Kakak, jadi jangan pernah meragukannya lagi, karena mencintai Kakak adalah hal sudah pasti” lanjut Maryam, sambil tersenyum dibalik cadar hitam yang saat itu dia gunakan.             Hasan menatap Maryam dengan tatapan bertanya – tanya, karena nyatanya apa yang Maryam katakan adalah sebuah kebohongan. Hasan tidak pernah sekalipun menceritakan apapun tentang Natasya kepadanya, karena nyatanya Maryam melakukan hal itu karena dia tidak ingin terus menerus menjadi dinding penghalang dalam hubungan Hasan dan Natasya, terlebih ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya, meskipun janin itu miliknya dan Hasan, tapi Maryam tidak akan pernah membiarkan Hasan mengetahuinya apalagi sebelum dia menikah dengan Natasya.            “Aku dan Kak Alina pasti akan sangat senang punya Kakak ipar seperti Kakak” ujar Maryam, sambil tersenyum kemudian memeluk Natasya hingga membuat Natasya kebingungan karena sikap Maryam.             Meskipun rasanya sakit, tapi Maryam lebih memilih menelan rasa sakit itu dari pada dia harus menanggung rasa bersalah jika sampai suatu hari dia membuat gagal pernikahan Natasya dan Hasan akibat kenyataan dia mengandung anak Hasan. Maryam memilih membiarkan dia yang terluka, dari pada dia yang melukai dua hati manusia yang saling mencintai. ***            Hasan, tiba – tiba terbangun karena kaget saat Alina datang dan membangunkannya dengan kencang. Gadis yang baru terbangun dari tidurnya itu merasa kaget saat tidak menemukan keberadaan Maryam disampingnya serta di seluruh bagian rumah. Alina semakin dia buat kaget sekaligus khawatir saat koper Maryam sudah tidak ada, ditambah lemari pakaian Maryam juga sudah kosong.            “Maryam hilang Kak, dia gak ada, pakaian di lemarinya juga pada Gak ada” ujar Alina, dengan wajah panik dan air mata yang tanpa sadar jatuh dari pelupuk matanya.            Mendengar Maryam yang tiba – tiba hilang, Hasan langsung mengubah posisinya menjadi duduk, selama beberapa saat dia terdiam karena saat itu dia masih setengah sadar. Matanya melirik kearah teh yang saat itu masih terasa hangat yang saat itu tersimpan diatas meja, kemudian Hasan langsung menyambar kunci mobilnya dan berniat mencari Maryam karena dia yakin Maryam masih belum pergi terlalu jauh.            “Kamu gak bisa pergi ninggalin Kakak, Maryam, gak bisa” gumam Hasan, sambil fokus mengendarai mobilnya.            Sementara itu, memilih pergi dari rumah tanpa meminta izin, itulah yang Maryam lakukan, setelah bicara dan meluruskan perselisahan diantara Hasan dan Natasya, Maryam memilih pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari luka yang kini sudah sering dia terima saat melihat kebersamaan Hasan dan Natasya, serta luka yang akan dia terima di kemudian hari saat waktu dimana Hasan dan Natasya harus menikah tiba.            “Biarlah dia hanya hidup bersama ku, karena aku tidak ingin kehadirannya menjadi beban untuk ayahnya yang mungkin tidak menginginkan kehadiran dia” batin Maryam, sambil menatap langit malam.            “Aku adalah orang yang kamu cari, Maryam Aisyah Putri Alaric, cucu dari tuan mu, jika memang kamu ingin aku pergi maka jemput aku tempat jam 23.00 di depan persimpangan rumah dan jangan pernah sakiti orang yang saat itu kamu sandra” ujar Maryam, melalui sambungan telepon saat dia mencoba menghubungi orang yang menyandra Adrian setelah dia mendapatkan nomornya dari handphone Hasan secara diam – diam.            Meskipun mulanya menghubungi mereka sangat susah karena tidak kunjung diangkat, tapi setelah Maryam mengirimnya pesan dan mengatakan siapa dirinya, akhirnya mereka mau mengangkat telepon dari Maryam.            “Aku akan dengan sukarela ikut bersama kalian asalkan saat aku datang kalian melepaskan dia” ujar Maryam, yang langsung diangguki oleh mereka.            Setelah itu, Maryam hanya perlu menunggu hingga jam menunjukan pukul 23.00, beruntung saat dia berniat keluar Hasan ketiduran di ruang keluarga dengan leptop yang masih berada di pangkuannya. Selama beberapa saat, Maryam terdiam memandang wajah lelah Hasan, kemudian kakinya melangkah ke dapur, membuatkan laki – laki itu teh hangat.            “Terima kasih Kak, aku mencintaimu, dan aku akan menjaga anak ini dengan sebaik mungkin” ujar Maryam, sambil tersenyum getir memandang wajah Hasan yang saat itu masih terlihat lelap dalam tidurnya.            Maryam tersenyum getir dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya saat dia teringat pada momen beberapa jam lalu atau lebih tepatnya saat dia berpamitan pada Hasan yang sedang ketiduran di ruang keluarga. Malam itu, akan menjadi malam terakhir dimana Maryam bisa melihat wajah Hasan karena setelah itu dia akan benar – benar menghilang.            “Silahkan turun Nona, kita sudah sampai, dan orang yang ingin anda temui sedang diobati di dalam” ujar seseorang yang menjemput Maryam dari depan persimpangan rumahnya dan membawa Maryam pada sebuah rumah yang terbilang cukup mewah.            Setelah mengucapkan terima kasih, Maryam melangkahkan kakinya masuk. Kakinya berjalan menyusuri rumah yang saat itu memiliki design interior yang unik, sampai akhirnya Maryam tiba di sebuah ruangan yang sedang di huni oleh seseorang yang sudah sangat lama tidak dia temui dan sedang diobati oleh seorang Dokter.            “Non Maryam sedang apa di sini ? ini bukan tempat Non Maryam” ujar Adrian, setengah berbisik dengan wajah kaget terlihat dari wajahnya yang saat itu penuh dengan luka saat dia melihat Maryam.            “Om Adrian, terima kasih ya selama ini sudah menjaga aku dengan sangat baik, Ayah pasti bangga sama Om karena sudah menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin, aku senang pernah bertemu dengan Om, tapi sepertinya pertemuan kita sudah cukup sampai di sini, karena besok pagi aku akan pergi dan tinggal di tempat Kakek di Jerman” ujar Maryam, saat dia sudah berdiri tepat dihadapan Adrian.            “Aku sudah memutuskan Om, aku akan tinggal bersama keluarga Ayah, di sini Om jaga diri baik – baik” ujar Maryam, sambil tersenyum kemudian dia pamit pergi karena saat itu salah satu pengawal sudah meminta Maryam pergi untuk beristirahat karena besok akan melakukan penerbangan.            Setidaknya Jerman akan menjadi tempat yang cukup jauh untuknya bersembunyi, bersembunyi dan mengobati lukanya sendiri, Jerman akan menjadi tempat paling aman untuknya menata kehidupannya yang baru bersama anak yang saat itu sedang dia kandung. Meskipun Maryam sendiri belum tahu bagaimana cara dia menjelaskan tentang keadaannya yang sedang mengandung pada seluruh keluarga ayahnya, tapi Maryam bertekad akan selalu melakukan yang terbaik hingga kelak anak yang ada dalam rahimnya bisa lahir dan tumbuh sehat, dengan atau tanpa pengakuan dari seluruh keluarganya.            Setidaknya, menyembunyikan keberadaannya dari Hasan, adalah pilihan yang Maryam ambil demi kebaikan bersama. Selain itu, nasab anak yang di kandungnya akan ikut dengannya tidak dengan Hasan, semua itu karena fakta anak itu hadir di luar pernikahan.            “Kamu akan tumbuh dan hidup dengan baik – baik saja selama masih ada aku yang melindungi mu, kita akan hidup untuk saling menguatkan, saling menopang dan menghadapi semuanya bersama”  batin Maryam, sambil mengelus permukaan perutnya yang masih rata.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN