#R – Lamaran

2069 Kata
Bermodal rasa yakin, cinta, dan kepercayaan dari Natasya, setelah tiga hari berlalu Hasan mengantarkan Natasya pulang ke rumahnya di teman oleh ayah dan ibunya juga, karena saat itu Hasan datang untuk melamar Natasya juga. Hanya saja, saat itu Maryam memilih tidak ikut dengan alasan jika dia takut bertemu para pengawal kakeknya, sedangkan Alina yang sudah pulang satu hari yang lalu memilih tidak ikut juga karena dia ingin menemani Maryam. “Aku takut Papah bertindak kasar sama kamu, apakah ini semua enggak terlalu cepat ?” tanya Natasya, yang tiba – tiba merasa khawatir saat mereka sudah sampai di depan rumahnya. “Sampai kapan kita harus main petak umpet terus Nat, aku cape, udah saatnya kita speak up untuk masalah hubungan dan perasaan kita, karena kita berhak memperjuangkannya” ujar Hasan, sambil memandang wajah Natasya ketika mereka sudah berdiri di depan pintu rumah orang tua Natasya, menunggu Angga dan Risa yang masih berada di mobil mereka, karena orang tua Hasan memang datang dengan mobil yang terpisah. Tidak lama setelah menunggu, Angga dan Risa datang. Hasan membiarkan kedua orang tuanya yang berdiri di depannya setelah dia mengetuk pintu. Tepat saat pintu terbuka, Hasan dan Natasya berjalan mengikuti Angga dan Risa yang sudah berjalan lebih dulu dari mereka. Namun, bertepatan saat Hasan hendak mendudukan tubuhnya di sofa saat mereka sudah sampai di ruang tamu, tubuh Hasan tertahan karena ada seseorang yang tiba – tiba menarik lengannya hingga dia jatuh ke atas lantai. “Anak berandalan ini yang selalu mengajak Natasya hingga dia tidak pernah pulang ! karena anak kurang ngajar ini juga pertunagan Natasya dan Alex harus di atur ulang !” ujar papah Natasya, sambil menatap Hasan penuh kekesalan. “Kamu !” Plak…  satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Hasan membuat suasana saat itu berubah hening setelah mendengar suara tamparan yang terdengar cukup kelas. Kemudian, Hasan menyentuh bagian pipinya yang saat itu terasa perih, setelah itu Hasan mendongak dengan senyum pedih saat dia melihat tatapan kebencian yang ayah Natasya tunjukan kepadanya. “Om tahu apa hal yang akan aku lakukan saat kelak aku di karuniai seorang anak perempuan ?” tanya Hasan, terdengar sangat tenang sambil bangkit dari posisinya yang saat itu masih terduduk diatas lantai. “Menyayangi dan mencintainya setulus mungkin, menjaganya dari jangkauan orang – orang yang bisa membuatnya terluka” lanjut Hasan, sambil tersenyum kecil dengan mata yang tidak lepas menatap mata ayah Natasya. Bugh …satu pukulan keras berhasil mendarat dengan sangat keras di pipi Hasan hingga membuat laki – laki itu terhuyung dan kembali terjatuh ke lantai. Tidak cukup sampai di situ, ayah Natasya langsung memukuli Hasan lagi, terlihat ada api kemarahan yang begitu besar yang terpancar dari mata ayah Natasya setelah laki – laki itu mendengar perkataan Hasan yang menurutnya terdengar kurangajar. “Pak, cukup Pak, kita bisa bicarakan ini baik – baik” ujar Angga, berusaha menghentikan ayah Natasya yang terus memukuli Hasan secara membabi buta dan saat itu Hasan hanya diam tidak berusaha menghindar atau melakukan perlawanan hingga membuat dia semakin babak belur. “Papah, berhenti …” teriak Natasya, sambil menggenggam tangan ayahnya yang saat itu sudah terkepal di udara dengan air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipinya. “Kak, kita pulang ya, kita ke rumah sakit, kita periksa luka – luka kamu” ujar Risa, yang sudah duduk di samping Hasan memangku kepala putranya yang saat itu sedang menutup mata tapi dia masih sadar. Hasan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, kemudian mata yang sejak tadi dia pejamkan perlahan dia buka, matanya menatap langsung mata Risa yang saat itu sedang menatapnya penuh ke khawatiran. Kemudian, Hasan membawa tangan Risa ke dalam tangannya. “Jangan, Papah gak boleh nyalahin Hasan, karena selama ini dia adalah orang yang selalu berdiri untuk melindungi ku di saat Papah gak bisa melakukan itu untuk aku, dia yang selalu datang saat aku menangis di pojokan karena takut Alex akan menemukan dan melecehkan aku, dia yang ada di dekatku setiap malam saat aku merasa sepi, karena kalian orang tua ku sendiri hanya sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah menghiraukan perasaan ku,” sesaat Natasya menjeda kalimatnya, matanya menoleh kearah Hasan yang saat itu masih diam di posisi berbaringnya di atas lantai dengan kepala yang masih di pangku ibunya. “… dan untuk masalah aku yang tidak pernah pulang karena selalu ada di apartemennya, bukan Hasan yang mengajak tapi aku yang selalu memohon kepadanya agar jangan mengentarkan aku pulang” ujar Natasya, sambil menangis pilu. Sesaat, keadaan menjadi hening, hanya ada suara isak tangis Natasya yang saat itu terdengar. Sementara Hasan, laki – laki itu masih terlihat diam meresapi rasa sakit di bagian tubuhnya setelah mendapat pukulan dan ayah Natasya. “Biarkan Natasya memilih pendamping hidupnya sendiri Pah, sudah cukup kita membuatnya menderita selama ini, aku baru sadar jika selama ini Natasya sudah banyak berkorban demi memenuhi keegoisan kita” ujar ibu Natasya, sambil memeluk putri kecilnya yang kini sudah bertumbuh dewasa. Sesaat, ayah Natasya terdiam sambil memandang putrinya, kemudian dia beralih menatap Hasan yang masih belum bergerak dari posisinya sedikitpun, laki – laki itu malah terlihat nyaman berbaring dalam pangkuan ibunya. “Apa yang bisa kamu berikan pada putri ku, jika kamu memang ingin menjadi pendamping hidupnya ?” tanya ayah Natasya, sambil memandang Hasan yang saat itu perlahan mulai bangkit di bantu oleh ayahnya saat sadar ayah Natasya sedang mengajaknya bicara. Sesaat Hasan tersenyum sambil memandang ayah Natasya penuh ketenangan. “Aku ingin memberi dia hidup, cinta, dan ketenangan” ujar Hasan, sambil mengalihkan tatapan matanya pada sosok Natasya yang saat itu masih menangis pilu dalam dekapan ibunya. “Kamu pikir anak ku bisa tetap bertahan hidup tanpa uang, untuk apa kamu datang jika kamu tidak bisa menjamin hidupnya tanpa kekurangan” ujar ayah Natasya, sambil memalingkan wajah dengan senyum kecut yang terbit dari bibirnya. “CV Query Technology, yang sekarang sedang dalam proses perubahan menjadi PT, dan Rumah Sakit Alina Sihiya di Yogyakarta, apakah itu cukup ?” tanya Hasan, sambil menundukan kepalanya. Sedangkan semua orang menatap kearahnya, terutama Angga, Risa, dan Natasya. Karena, sebagai orang terdekat Angga mereka tidak tahu saat ini Hasan sedang mengurus pengubahan status CVnya, selain itu mereka juga tidak tahu Hasan mendirikan sebuah rumah sakit di kota Yogyakarta. “Tapi, itu bukan milik ku, itu milik tuhan ku, jadi aku tidak bisa menjamin semua itu akan tetap menjadi milik ku selamanya” ujar Hasan, sambil mendongakan kembali kepalanya menatap mata ayah Natasya. Diam, itulah yang ayah Natasya lakukan setelah mendengar perkataan Hasan, matanya tidak lepas menatap mata Hasan yang saat itu sedang menatap kearahnya juga. Rendah Hati, berani, penuh kasih dan cinta, itulah yang ternilai dalam mata ayah Natasya saat ini. Padahal, selama ini ayah Natasya hanya memandang Hasan sebagai laki – laki yang hanya pekerja biasa, tidak memiliki harta yang cukup sehingga tidak pantas bersanding dengan putrinya. “Kapan kamu akan menikahi Natasya ?” pertanyaan itu berhasil membuat semua orang yang semula menatap Hasan beralih menatap kearah ayah Natasya. “Tiga bulan dari sekarang” ujar Hasan terdengar begitu yakin. Ada senyuman yang terbit dari bibir ayah Natasya saat dia mendengar jawaban Hasan. Kemudian, tanpa di sangka, pria berusia setengah baya itu langsung memeluk Hasan, membuat senyuman juga terbit dari bibir Hasan. Hanya saja, jauh di dalam lubuk hati Hasan yang paling dalam, dia masih merasakan sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang membuat hatinya masih merasakan setitik rasa gelisah di tengah kelegaan yang hatinya rasakan. Maryam, nama itu masih belum lenyap dari dalam pikirannya setelah dia mendapat telepon dan Alina, dan melukan pembicaraan bersama ayahnya. Tiba – tiba, Hasan mengalami batuk – batuk, masih dalam pelukan ayah Natasya, laki – laki itu memegang dadanya yang tiba – tiba terasa sesak. Melihat hal itu, Angga langsung menyentuh pundak Hasan, dan semua orang benar – benar terlihat panik saat melihat Hasan terlihat kesulitan nafas. “Ayo, kita ke rumah sakit” ujar Angga, sambil memapah Hasan, hendak membawanya ke rumah sakit. Melihat keadaan putrannya yang terlihat tidak baik – baik saja, Risa langsung berjalan mengikuti suaminya yang sedang memapah Hasan. Diikuti Natasya dan kedua orang tuanya, karena nyatanya bukan hanya Angga dan Risa yang merasa khawatir pada keadaan Angga yang tidak baik – baik saja, tapi Natasya dan kedua orang tuanya juga. *** Mendengar Hasan dibawa ke rumah sakit, Maryam dan Alina langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Bahkan, Maryam yang sudah Adrian larang agar jangan keluar dari rumah, tetap bersikukuh meminta ikut kepada Alina karena dia merasa khawatir pada keadaan Hasan. Saat tiba di rumah sakit, mereka langsung bergegas pergi menuju ruang IGD, dan langsung menerobos masuk ketika mereka tidak melihat siapapun di depan ruang IGD, karena saat itu mereka pikir semua orang ada di dalam. “Terima kasih, karena kamu sudah berjuang hingga sejauh ini, terima kasih untuk semuanya, hingga akhirnya restu Papah kita dapatkan sekarang” ujar Natasya, sambil menggenggam tangan Hasan yang saat itu masih berbaring. Sesaat laki – laki itu hanya tersenyum kecil, kemudian dia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Natasya. Hingga, tatapan laki – laki itu teralih menatap dua sosok gadis yang sangat dia cintai dan sayangi di dalam hidupnya. “Kalian ke sini ? sama siapa ? ayo ke sini jangan berdiri di situ” ujar Angga, sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Perlahan, Alina berjalan medekati Hasan dengan tatapan matanya yang tidak dapat didefinisikan, diikuti Maryam yang berjalan kea rah Hasan dengan tatapan yang saat itu lebih terlihat seperti memancarkan aura terluka. Melihat tatapan Alina, Hasan sadar adiknya itu pasti masih kesal kepadanya karena seperti yang Alina katakan Hasan sudah membuat Maryam menangis, dan melihat tatapan mata Maryam, Hasan merasa tidak menyukainya, tatapan yang membuat Hasan merasa terluka juga. “Kak Hasan gimana keadaannya ? apa sudah jauh lebih baik ?” tanya Maryam, yang pertama kali menyapa Hasan dengan senyuman yang terlukis dari balik cadarnya. “Kakak gak papa, hanya luka – luka kecil saja” jawab Hasan, balas tersenyum kepada Maryam. “Syukurlah jika Kakak baik – baik aja, tapi aku minta maaf aku udah janji sama Om Adrian untuk tidak berlama – lama, jadi aku harus segera pulang, semoga Kakak segera sehat” ujar Maryam, sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya pada Natasya sebagai bentuk hormat sekaligus sapaan. Setelah itu, Maryam benar – benar berlalu pergi meninggalkan Hasan dan yang lainnya setelah mengucapkan salam. Di dalam IGD hanya tersisa Natasya, Hasan, dan Alina yang saat itu masih diam. Kemudian, Alina berusaha tersenyum seramah mungkin kearah Natasya dan meminta izin untuk membiarkan dia dan Hasan bicara berdua saja. Natasya, tentu langsung pamit keluar dan membiarkan sepasang kakak beradik itu hanya bicara berdua saja. “Apa Kakak sadar kalau untuk yang ke sekian kalinya Kakak udah bikin Maryam terluka ?” tanya Natasya, sambil menatap Hasan dengan tatapan yang masih belum mampu dia definisikan. “Saat mendengar Kakak di bawa ke rumah sakit, Maryam langsung mengajakku untuk datang menjenguk, bahkan saat Om Adrian melarangnya dia tetap bersikukuh untuk ikut, dia bahkan masih terlihat khawatir pada Kakak, pada orang yang sudah menorehkan luka pada pertemuan terakhir mereka” ujar Alina, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar. “Tapi, saat dia datang pertunjukan apa yang dia lihat Kak, dia seakan datang dari tempatnya yang paling tenang dan masuk ke dalam lubang penuh ke sakitan saat melihat keromantisan Kakak dan Kak Natasya” lanjut Alina, masih dengan suaranya yang terdengar bergetar. “Alin, seorang adik khawatir pada Kakaknya, bukankah itu hal yang wajar ? sama seperti kamu yang sekarang khawatir pada keadaan Kakak” ujar Hasan, sambil tersenyum dan membawa tangan Alina ke dalam genggaman tangannya. Sesaat, Alina tersenyum kecil sambil menundukan kepalanya. Dia masih merasa tidak habis pikir karena Kakaknya yang dia tahu adalah orang yang cerdas ternyata tidak bisa memahami perasaan gadis yang bahkan sudah dia jaga sejak bayi. “Kak aku gak tahu Kakak pura – pura gak tahu atau emang beneran gak tahu, tapi aku harap semoga Kakak gak akan menyesal dengan keputusan yang Kakak pilih kali ini” ujar Alina, sambil tersenyum. “Aku pulang dulu ya, kasihan Maryam gak ada temannya, semoga Kakak segera membaik, aku sayang Kakak” ujar Alina, sambil bangkit dari posisi duduknya dan mendaratkan satu kecupan hangat di pipi Hasan. Tidak ada yang bisa Hasan katakan saat itu, dia hanya diam sambil memandang Alina yang perlahan berjalan pergi dari ruangannya. Saat itu, hati dan pikirannya kembali di rundung perasaan sedih, gelisah, dan takut, saat melihat Alina dan Maryam yang memilih pergi. Dia takut jika kedua adiknya itu akan pergi dan menjauhinya, karena bagi Hasan mereka adalah segalanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN