“Ya, kita lupa haha.” Sekar dan Lilis cekikikkan disusul Ayu juga.
Aku hanya bisa berdeham saja. Ya … memang karena fakta juga. Aku memang tidak punya pacar.
“Lalu kamu ada acara apa, Mit?” tanya Lilis.
Sembari membuka buku tas gendongku, aku pun menjawab, “mau main sama temenku.”
“Si Reni?” Ayu menebak. Matanya setengah melotot padaku. Entah tak percaya atau kenapa aku tidak tahu. Seharusnya Ayu bereaksi biasa saja sebab dia juga tahu siapa Reni.
Sekar dan Lilis juga.
Aku pun mengangguk. “Iya, emangnya kenapa?”
“Enggak,” jawab Ayu singkat, “ya udah kita pergi bertiga aja. Ya kan temen-temen?” Ayu melihat pada Sekar dan Lilis. Keduanya serempak mengangguk.
Di tengah obrolan fokus kami berempat, kemudian kami berpaling. Mulai berpindah haluan ke obrolan para lelaki.
Mereka yang kini sedang heboh. Seolah kelas ini tidak punya banyak telinga yang tidak terusik oleh kerasnya suara tawa mereka.
Raut wajah Ayu pun juga mulai berubah. Sebab sekarang para lelaki tengah menggoda si Rizky.
“Gaya eung yang udah punya pacar baru. Bucin mulu. Baby, aku nanti tunggu di kantin ya, aku nanti tunggu di parkiran ya. Romantis bener deh. Kok beda perlakuannya sama ke mantan dulu? Hahaha,” celetuk si Idas.
Lelaki itu memang kalau ngomong suka enggak pikir-pikir dulu. Seperti sudah hobby dia ngomong nyindir orang lain tuh.
Mata Ayu terlihat berbinar. Kuyakin sekali dia mengedip.
Yah, tuhkan bener. Sekar dan Lilis memandangiku. Mereka berdua juga ikut merasakannya.
Ayu juga terus menyeka air matanya. Lalu kuusap punggung Ayu agar dia tidak meras terdiskriminasi oleh sindiran Idas tadi.
Aku pun menoleh pada Rizky. Lelaki itu sedang asyik dengan handphone-nya. Kutahu tadi dia melirik ke arah kami. Apaan coba?
“Sabar, Yu. Kamu pasti kuat. Percayalah, percintaan di sekolah hanya sebagian dari permainan cinta. Seperti kata lagu. Ini hanya ‘Cinta Monyet’,” kataku padanya.
Tapi Ayu masih hanyut dengan rasa sakit. Yang merasa terceramahi justru Sekar dan Lilis. Keduanya tertawa.
“Kau memang cocok jadi pendakwah cinta, Mita. Maka kau tidak cocok jadi pelaku cinta. Bersabarlah, nanti kau juga akan bertemu dengan cintamu.” Sekar meledek.
Lilis memukul Sekar yang duduk di sampingnya itu. seakan setuju dengan sindirannya padaku.
“Hey, itu tidak lucu.” Aku tidak suka dengan ucapan Sekar barusan.
Pendakwah dan pelakon? Ah yang benar saja.
Tapi Lilis terlihat suka dengan candaan Sekar, dia sampai menangis haru karena merasa itu kocak.
Aku hanya membelalakkan mataku, tidak kuladeni mereka berdua sampai guru pun masuk ke kelas. Kami pun memaksakan diri untuk berkonsentrasi seperti biasa. Walaupun seringnya terdistraksi dengan bermacam-macam pikiran di kepala.
Setelah mata pelajaran berlangsung dan istirahat tiba, seperti biasa. Jajanlah pilihan kami selanjutnya.
“Bisa professional juga ternyata ya,” sindirku pada si Ayu.
Dia cengengesan sambil merangkul Lilis yang berjalan di sampingnya.
“Move on dong, harus berhasil. Benerkan, Lis?”
Lilis mengangguk. Kukira posisinya akan terancam jika ia mengelak. Lilis tahu kalau si Ayu tukang mukul. Dia takut ditabok olehnya. “Bener, Yu. Kamu enggak boleh minder.” Lilis mengacungkan kedua jempolnya, lalu kembali berucap, “biarpun Putri lebih cantik, entar pastinya akan ada lelaki yang tulus sama kamu.”
Secepat kilat Ayu melepaskan rangkulannya pada Lilir. “Kukira itu bukan kata-kata penyemangat. Melainkan sebuah bentuk kejujuran,” katanya dengan mata yang menyipit.
Aku dan Sekar seketika tertawa bareng. Tapi tidak lama, sebab seseorang dari arah berlawanan mendekati kami.
Dia Malik. Malik bersama teman-temannya sedang berjalan, bergerombol. Terlihat sekali kalau dia banyak temannya. Pastinya itu karena Malik adalah sosok yang menyenangkan.
Malik seperti seorang Leaders yang memimpin di depan. Yang kusuka dari dia juga adalah parasnya yang selalu tersenyum pada semua orang.
Malik tak pandang bulu dalam berteman, terlihat dia hanya selektif saja. Dia juga seperti tidak punya beban hidup.
Dia benar-benar calon imam yang bisa kuberi nilai 9,5. Perfect tapi tak sempurna, sebab hanya Allah-lah yang Maha Sempurna. Aaaa.
Aku pun pura-pura tak melihatnya. Berasa malu sebab ada teman-temannya juga. Terlebih karena teman-temanku belum tahu kalau aku kenal sama Malik.
“Woy, itu Malik Al-Shaleh, kan? Akhirnya bisa ketemu dia secara dekat gini.” Sekar meracau.
Lilis dan Ayu juga terlihat terpana melihat Malik. “Bener, dia selebragm ramah itu. Ketampanannya tiada tara sih dia.” Lilis terlihat mengidolakan Malik banget.
Ya, memang. Lilis selalu me-Like setiap postingan Malik juga. Aku pun tahu itu. berbeda denganku yang hanya sesekali saja. Malu soalnya. Hihi.
Ayu terlihat bengong. “Ah, dia siapa? Selebgram?”
Kami bertiga melongo padanya. Lah, kukira si Ayu tahu. Beneran dia tak tahu? Masa sih?
“Ayu, dia itu Selebgram terkeceh se-Bandungen. Baik orangnya. Video-video yang dia bikin juga enggak lebay. Malah terkesan bermanfaat. Apalagi untuk mata kita-kita, iya kan?” Sekar tertawa. Dia tidak bisa menutup mulutnya yang lebar itu.
“Dia ganteng banget. Kok aku bisa enggak tahu dia sih? Padahal tiap hari aku aktif di i********: loh.” Ayu masih loading.
Sampai Malik dan teman-temannya begitu dekat dengan kami. Dia tersenyum padaku. Aduh, jadi gerogi gini.
“Hai, Mit,” sapa Malik.
Sontak ketiga temanku terkejut.
Aku hanya mengangkat tangan tanda say Hello padanya. Teman-teman Malik juga menyorotiku. Malu sekali.
Untungnya Malik tidak bertanya soal jas hujan yang kupinjam. Mungkin dia juga tahu kalau jas hujan itu perlu kukeringkan lebih dulu sebelum kukembalikan pada pemiliknya.
Malik dan teman-temannya sudah berlalu pergi. Kali ini aku yang ditarik-tarik oleh teman-temanku.
“Mit, kamu kenal sama dia? Kenapa sih enggak kasih tahu kami?” Sekar paling sewot.
Lilis yang belum bisa menutup mulutnya dengan mata belotot yang hampir keluar, dia pun juga sama.
“Apa yang waktu itu nanya kamu di kantin juga dia orangnya? Ah, aku ngelihat punggung dia doang waktu itu. Aku kira siapa.”
Aku pun hanya tersenyum. Ternyata Lilis melihat aku dan Malik yang mengobrol waktu itu.
“Kantin?” Ayu masih mencerna obrolan kami. Dia pasti ingat sesuatu. “Ah, aku tahu. Waktu aku lagi galau kan?” tanya Ayu. Aku, Lilis dan Sekar yang masih berjalan menuju kantin pun mengiyakannya. Ayu lalu menepuk bahuku dengan keras. Cukup sakit. “Pantesan si Mita waktu itu cengar cengir sendiri. Ternyata ….” Mata Ayu menyipit melihat wajahku.
Aku hanya terkekeh melihat tingkah laku mereka bertiga.
“Mit, kamu kenal di mana sama dia? Atau jangan-jangan kamu udah kenal duluan sebelum Malik terkenal se-Bandungen?” Lilis memang kocak kalau bertanya.
Baru saja aku ingin menjawab bagaimana pertemuan kami. Tiba-tiba Ritta dan Eva berjalan mendahului kami.
“Baru kenal sama Selebgram aja udah lebay. Gue aja kenal sama Gubernur enggak tuh. Biasa aja.” Ritta berlaga.
Eva juga sama. “Heem, aku juga kenal sama Presiden juga biasa aja.”
Keduanya cekikikkan. Aku pun urung untuk menceritakan bagaimana pertemuanku dan Malik berawal.