“Dari siapa pun kamu enggak perlu tahu, Mit. Hehe.” Pesan itu dari Malik. Sudah, gituh doang.
Balas enggak, ya?
Ya balaslah masa enggak. Hihi.
Lagi-lagi juga pesan dari si Ayu kudiamkan sejenak. Sebentar ya Yu, aku lagi ada urusan. Hehe.
Aku mulai mengetik. Pesan dari si Dinosaurus kembali berdatangan. Sekiranya ada tiga pesan dari dia. Uhhh, sungguh tidak sabaran sekali dia. Aku tidak suka.
Tapi di saat-saat seperti ini, sebenarnya asyik juga sih ada teman chat-tan. Ya walaupun di dunia maya, tanpa wujudnya yang nyata.
“Eh kok gituh. Biarkan aku tahulah siapa yang udah kasih nomor aku ke sembarang orang. Takutnya dia juga jadiin nomor aku sebagai jaminan di pinjaman online. Kan serem. Hehe.” Sedikit ngelawak? Ya begitulah kiranya. Biar tidak canggung.
Secepat kilat Malik langsung melihatnya. Dia sedang mengetik. Aku tidak ingin beranjak dari kolom chat-nya. Kutunggu dan sudah terlihat jawaban darinya.
Ish … cape-cape nunggu ternyata balasannya emot tawa muncrat doang. Enggak ada perbincangan lain gituh? Apa gituh? Malik? Hey? Padahal aku sudah ngelawak loh. Cape deh.
Ah, aku malu harus basa-basi duluan. Jadi kutinggal saja tanpa membalas apa pun lagi. Lanjut k****a DM dari si rese itu, si Dinosaurus.
“Kamu sibuk, ya?” Pesan lanjutannya yang saat aku tidak jadi mengetik.
Lalu kedua setelah itu. “Ya udah kalau lagi sibuk. Maaf ganggu,” katanya dengan emot permohonan maaf, yang dua tangan menyatu itu.
Padahal artinya tos sih itu, tapi lumrahnya sudah kita pakai sebagai permohonan maaf. Tanda kesopanan biasanya.
Dan yang ketiga. “Boleh minta nomor WA?”
Seketika mood-ku langsung tak karuan. Wajahku pun jadinya datar.
Enggak salah dia minta nomor whatsaap-ku? Aku kasih jangan ya? Membingungkan banget.
Kasarnya bisa-bisa membagongkan. Ups! Itu bahasa para lelaki ya. Bukan aku. Aku hanya mempraktekkannya saja. Eh para lelaki juga hanya sebagian. Ya walaupun rata-rata lelaki suka ngomong kasar.
Tanpa sadar aku menggaruk-garuk kepalaku sendiri. Bukan karena ada kutu sih, ini hanya gerakkan manipulatif saja.
Ah biarlah. Toh enggak kenal juga. Lama-lama dia bisa jadi berani deh entar. Terlalu rese emang. Aku pun kembali pada curahan si Ayu.
Klik!
Chat panjangnya mulai kembali terlihat. Sudahlah. Semua sudah jelas, pastinya tentang Rizky. Batin si Ayu yang bergejolak sebab si Rizky sudah menyalakannya dengan api.
Otomatis panas tuh kan.
Ceritanya dia galau berat. Cara ampuhnya harus dimatiin biar air yang sudah panas itu kembali mendingin.
Kudengarkan sampai Ayu merasa sedikit tenang. Kurespon dengan kata-kata yang berusaha tidak menghakimi dirinya karena di kondisi Ayu yang sedang tidak logis ini. Dia akan lebih rentan terhadap kritikkan. Jadi sebisanya aku hanya menempatkan diri menjadi pendengar yang baik saja.
Fighting, Ayu!
Tenang, ada aku. Mita Maharani. Sudah Maha, Rani lagi. Haha.
Kudengarkan sampai ke vn-vn-nya. Alias voice note cempreng sambil sesenggukkan itu.
Sepertinya aku juga perlu tanya ke si Rizky deh. Aku juga bingung sih kenapa tuh anak. Enggak jelas banget. Kok tiba-tiba bisa oleng gituh ya? Padahal dulu dia enggak suka ke lelaki yang tukang selingkuh. Katanya Rizky enggak mungkin seperti itu. Eh faktanya ternyata dia juga sama.
Apa mungkin si Rizky itu mulai-mulai goyah? Dan ini adalah langkahnya untuk menuju ke sana. Hingga nantinya dia juga masuk ke dalam rentetan daftar nama para lelaki yang bergelar PLAYBOY.
Tapi di mana ya daftar nama itu disimpan? Hehe. Mita ngada-ngada saja nih.
Bisa dibilang mungkin seperti itu.
Selesai mendengarkan curhatan si Ayu, kira-kira jam dua belas malam lewat satu. Pas sekali. Aku ngantuk, dia pun kukira juga sama.
Malam ini terasa aneh menurutku. Menuntunku tidur. Berasa ada Malik di depanku. Ya namanya juga lagi mikirin dia. Jadi bayang-bayang Malik tidak hilang. Masih menetap. Namun, tidak terbawa mimpi.
***
Keesokan paginya.
Wajahku masih kutekuk. Masih marahlah sama orang-orang rumah.
Sampai si Ayu pun sudah ada di depan rumah.
Suara cemprengnya sudah terdengar.
“Mit? Mita? Oh Mita. Ayo berangkat!” teriak Ayu sudah pede sekali.
Aku pun pamit. Pamit dengan wajah yang tampak tidak normal. Cemberut, dan pura-pura tidak melihat sekitaran. Acuh. Tapi aku masih bisa tahu kalau kak Salwa dan adikku—Nazwa saling berbisik. Ah, tak peduli juga.
Setelah tangan kedua orang tuaku kusalami, aku pun segera pergi dan menutup pintu rumah.
Si Ayu terlihat sudah siap meluncur bersamaku. Tinggal aku naik ke jok motornya dan duduk manis di belakang.
Cap cus deh. Berangkat ke sekolah. Rutinitas seperti biasa.
Hari ini hari sabtu, jadi aku dan Ayu memakai baju Pramuka. Baju wajib. Soal kegiatannya, kami termasuk siswi yang apatis terhadap organisai. Ehehehe. Maklum.
Otot tangan dan otot kaki kami sepertinya tidak setuju dengan rutinitas para calon aktifis yang seneng banget gerak sana gerak sini. Semangat kami soalnya mudah sekali melorot. Tahu ah, sudah watak mungkin. Berat banget dirubahnya.
“Yu, ingat! Kamu harus bersikap biasa ya. Kamu enggak boleh lemah.” Aku mengingatkannya kembali.
Ayu mengacungkan jempolnya. “Siap Bestie. Thank for support system-nya.” Ayu tertawa sendiri.
Apa yang lucu? Tidak ada. Yang lucu hanya bahasa inggris yang diucapkan Ayu barusan. Dasar emang. “Aku akan berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat masih memikirkan si mantan s****n itu.” Ayu melengos seperti siap bertempur. Bertempur dengan dirinya sendiri tentunya.
Tapi apa katanya barusan? Mantan s****n? Weleh weleh. Beneran tuh s****n? Atau masih sayang?
Mari kita lihat bagaimana si Ayu berusaha.
Kami melangkahkan kaki kami ke dalam kelas. Di sana sudah ramai. Ada yang lagi nulis, ada yang nge-gossip, ada yang main handphone, dan dua sekretaris centil yang lagi duduk di meja guru sambil cekikikkan. Biasa, cari perhatian. Enggak sopan emang. Tapi biarkan saja, aku pun suka gituh kok. Hihi.
Ada yang ketawa ketiwi, dan ada pula yang molor di pagi hari. Mungkin malamnya bergadang kali ya. Iya bergadang sampai jam tiga dan kelewat salat. Biasanya sih begitu. Tapi aku tidak mengurusi ibadah orang, ibadahku sendiri saja belum optimal.
Aku dan Ayu masih oke berjalan menuju bangku kami. Menyimpan tas dan duduk dengan rapi. Sekar dan Lilis menyapa.
“Hei, besok kita lari yuk? Ke mana gituh? Jajan-jajan biasa juga boleh. Biar enggak penat di rumah mulu. Kalian mau gak?” Sekar menunjuk ke arah kami berdua.
Lebih tepatnya mungkin bukan menyapa, melainkan to the point ngajak main.
Aku belum mengiyakan. Si Ayu yang sudah menyerobot duluan, kegirangan banget dia.
“Asyik, boleh tuh. Ayolah ke mana aja. Yang penting Happy,” katanya, “yuk Mit. Aku jemput kamu ke rumah. Mau enggak?” tawar Ayu padaku.
Aku terkekeh. “Enggak bisa deh kayaknya.” Kutolak tawaran mereka karena aku sudah ada janji.
“Kenapa?” Lilis melihatku dengan tatapan penuh curiga. “Ah, jangan-jangan kamu mau pergi sama cowok ya?” Lilis mendekatkan wajahnya padaku. “Jujur!” Lilis memaksa.
Aku pun melongo. Melihat ketiga wajah temanku yang sekarang seperti pak polisi yang meminta keterangan dari sang tersangka.
Enak saja. Mereka kira aku akan berbohong dengan apa yang tidak bohong? Tidak, aku tidak bohong sebab aku belum menjawab. Lilis memaksaku jujur dengan apa yang ingin kujawab sekarang.
“Idih, apaan sih kalian? Cowok dari mana aku?” Ya, terlalu jujur. Biarlah.
Karena memang aku cowok dari mana? Andaikan ada jasa sewa cowok, boleh dong aku sewa. Satu saja. Tapi untungnya tidak ada sih. Nanti para cowok lebih seneng jadi cowok sewaan dibanding cowok kontan. Kan enggak banget.
Terdengar dua orang centil pun tertawa. Ritta dan Eva. Saat kami lirik mereka, keduanya terdiam. Bisa kutebak. Mereka pasti diam-diam mendengarkan. Dasar Cecak Putih.