Malik tak kunjung membalas pesanku. Aku pun kemudian membuka pesan dari si Dinosaurus itu. Biarlah nanti pesan dari si Ayu k****a di akhir saja. Hehe.
“Hai? Masih on, kah? Enggak baik loh seorang perempuan jam segini masih melek. Nanti kalau bangunnya kesiangan, keduluan Ayam bisa-bisa rezekinya dipatok orang loh. Kamu lagi galau? Jika diberikan izin untuk boleh mendengarkan keluh kesahmu, mau banget kok. Kamu bisa anggap aku temanmu. Kita sama-sama akun yang sejenis. Yang malu untuk menampakkan wajah. Tapi kita itu ada. Kita bukan akun horror. Benar, kan?”
Aduh, apaaan sih nih orang? Enggak jelas banget.
“Maaf sebelumnya, apakah Anda adalah jasa tempat curhat? Apa feedback yang akan Anda berikan pada saya jika saya curhat pada Anda?” Sengaja kuformalkan balasanku. Itung-itung menjahilinya saja.
Lagian so soan nawarian tempat curhat. Di tengah ia bukanlah orang yang aku kenal. Di balik akun ini pun aku tidak tahu dia sebenarnya siapa.
Aku pun mengusap wajah. Terasa berdosa rasanya. Mita, kamu enggak boleh su’udzon sama orang. Ah, habisnya gimana dong. Wujud orangnya pun aku tidak tahu.
Aku juga lupa untuk membalik pertanyaannya. Kuketik susulan saja. “Oh ya, emangnya perempuan doang yang enggak boleh bergadang? Apa kabar dengan kaum Adam?” Pesan sudah terkirim.
Tak butuh waktu lama. Dia langsung melihatnya dan dia juga cepat membalas.
Dia sedang mengetik.
Dan Tring! Balasannya sudah langsung bisa k****a. Cepat amat ya.
“Ternyata kamu judes ya. Kukira enggak.” Emot nyengir dia tampakkan. Lah ni orang, komentarin orang sekenanya.
Tapi, apa emang ya nada balasanku judes?
Aku pun mengoreksi setiap kata yang kulontarkan padanya. Ah dipikir-pikir enggak deh, kalau iya pun gak apa juga. Lagian aku juga enggak kenal dia siapa.
“Kalau udah tahu judes kenapa berani nge-chat?” tanyaku asal.
Tidak ada jeda menunggu. Dia sepertinya stay dengan kolom chat kita berdua.
“Aku suka kamu. Habisnya kamu bikin aku penasaran,” balasnya.
Yahahaha. Seketika hidungku kembang kempis. Kok jadi senyum-senyum sendiri. Tapi tidak. Jangan gituh Mita. Dia enggak serius.
Kalau dia tahu fisik kamu yang enggak cantik, pastinya dia juga enggak bakal chat kamu kok. Kamu harus sadar. Hey, Mita!
Aku pun tidak membalasnya lagi. Takutnya dikira betah ngeladeni dia. Fast respon terkadang bisa diduga karena adanya ketertarikan. Padahal tidak gituh juga.
Mana mungkin aku tertarik? Aku tahu ini akun cowok, tapi kan aku dan dia berkomunikasi di dunia maya. Masing-masing dari kita juga enggak kenal siapa sosok di balik akun masing-masing. Biarlah.
Aku pun beralih ke chat-nya si Ayu. Panjang bener dah.
Si Ayu curhat. k****a runtut dari atas sampai bawah. Ya Rabbi Ya Illahi. AYU!
Geram aku jadinya. Dia kirimin aku screenshot-tannya sama si Putri. Apakah memang harus masih tetap dibahas kah itu terkait perselingkuhan si Rizky?
Wah si Ayu udah bener-bener oleng sih menurutku. Masa dia terus tanya-tanya sama si Putri kronologinya gimana? Dari mulai si Rizky ngedeketin si Putri dan sampai mereka jadian, hah?
Ayu, kalau kayak gini kamu jadi rendahan. Ayu juga bilang ke aku katanya tidak ada jalan lain selain ngeinterogasi si Putri sebab si Rizky ogah ditanya-tanya. Ya iyalah. Memang mau digimanain lagi hubungan mereka? Mau dibenerin? Pastinya enggak bisa.
Lama-lama si Ayu jadi bloon nih.
“Mit, aku bener-bener sakit hati. Gila si Rizky! Parah banget. Selama ini aku ditipu oleh janji-janji dia, oleh sikap manisnya dia. Ternyata kata-katanya itu tuh tidak hanya dia lontarkan padaku saja. Pada mantannya juga, pada si Putri juga. Dulu si Rizky saat masih sama aku dia juga sering chatan sama mantannya itu. Si Linda. Jadi apakah selama ini si Rizky di depan aku tuh pake topeng Mit? Dia nyamar jadi lelaki baik? Ah … aku stress banget Mit.
Aku enggak nyangka banget. Kamu tahu kan si Rizky baik banget. Kok aneh gini sih Mit? Kamu juga pasti sepaham kan dengan aku? Mit aku enggak bisa tidur. Aku juga males makan. Dari pulang sekolah aku juga belum makan. Remuk banget hatiku Mit. Gini ya rasanya putus cinta? Bener-bener bikin otak panas. Pengen meledak tahu. Bantalku aja udah basah banget. Aku enggak bisa berhenti nangis.” Pesan tambahan dari Mita setelah dia tahu kalau aku sudah membaca pesan darinya.
Udah enggak waras anak ini. Eh hehe, tapi aku enggak berani bilang langsung kalau si Ayu sudah kehilangan kewarasannya.
Aku hanya balas dia seperti ini.
“Iya Yu, aku ngerti. Kamu yang ngerasainnya. Tapi kamu harus tetep sayang sama diri kamu. Jangan sampai enggak makan dong. Enggak baik. Oh ya, emangnya buat apa kamu ngumpulin bukti? Kamu enggak berharap balikan sama si Rizky, kan? Bisa ikhlasin aja gak? Hehe. Rizky ternyata bukan lelaki yang selama ini kita sangka. Dia lelaki pengecut. Aku yakin kamu bisa dapet yang lebih baik dari dia. Oh ya, jangan lupa istigfar. Astagfirullahal adzim. Ayo ikutin!” Aku sedikit bercanda padanya.
Kalau diseriusin nanti suasana galaunya si Ayu semakin mendayu-dayu. Mellow banget deh jadinya.
Secara bersamaan, kedua orang itu memberiku pesan lagi. Tapi pesan yang justru aku nanti-nanti tak kunjung membalas. Melihatnya balasan dariku saja belum. Mungkin Malik sudah tidur kali ya.
Kulihat dulu si akun Dinosaurus itu sebelum menyimak pesan si Ayu dengan penuh pengkhayatan.
Busyet ini kata-katanya. Haha.
“Hei, akun @mit.amit.a. “Dia itu menyapa atau meneror sih ini? “Nama akunnya sih geli. Tapi lagi-lagi aku suka. Kok diubah sih?” tanya dia.
Kepo bener nih orang. Memangnya ulat bulu? Geli katanya. Terus pake bilang suka juga lagi.
Jadi maksudnya dia apa? Ya kalau suka kenapa harus tanya? Memangnya dia berharap dengan aku ganti nama akun aku punya dasar makna filosofinya gituh? Makna dari pembaharuan tersebut? Kan enggak, Dino.
Dino cerewet amat ya ini. Padahal setahuku Dinosaurus tuh adalah makhluk besar yang diem-diem bae. Terkecuali di film anak-anak. Mereka bisa bicara dan bahkan ketawa ketiwi bareng temen-temennya.
Akunku memang awalnya @mita_saja. Tapi kuganti jadi @mit.amit.a biar enggak terlalu terekspost nama asliku. Aku tahu kesannya seperti kata amit-amit, hahaha. Tapi biarlah.
Aku tahu kenapa dia membahas itu segala. Mungkin hanya ingin aku membalas pesannya saja. Tak ada hal lain yang bisa dibicarakan? Sepertinya dia hanya suka mengusik saja deh.
Yang follow aku duluan dan yang nge-follback sesudah aku follow mungkin hanya orang-orang tertentu saja, yang suka dengan keunikkan. Yang enggak, pasti lewat. Apalagi akunku memang bukan akun yang menarik. Lebih terlihat seperti akun hampa yang sering update story kata.
Aku tak ingin menjadi orang lain. Tak perlu memaksakan diri juga. Inilah gaya akun yang aku suka. Penuh kata-kata berkmakna yang kurangkai sendiri. Bukan so ahli dengan kata-kata puitis. Tapi ini juga akan menjadi pengingat.
Aku pernah post kata-kata penyemangat, dan ketika aku sedang down dan tidak semangat alias terpuruk banget. Aku bisa lihat lagi apa yang sudah aku sebar ke dunia maya. Nantinya rasa maluku pun kembali berasa.
Sudah sebar kata-kata seperti itu, kok aku tetep masih banyak ngeluh? Enggak bolehlah. Diharuskan setiap kali down, break dulu dan tancap gas lagi. Semangat lagi.
Ingat, ada orang yang lebih kurang daripada aku. Meskipun ya … fisik adalah hal utama yang membuatku insecure. Masih belum bisa memanage-nya.
Saat aku ingin mengetik untuk membalas pesan si Dinosaurus itu, tiba-tiba pesan dari Malik datang. Aku jadinya lebih penasaran. Jadi kutinggalkan dulu si Dinosaurus.