"Loh kok udah pulang?" Atala memasang senyum mendapati keheranan yang disuarakan oleh ibunya. "Udah engga ada kerjaan kok, Ma," jawabnya. Ia melepas sepatu yang dikenakannya dan menaruh tasnya dengan sembarang di atas meja makan, duduk kemudian sambil memperhatikan Mamanya yang sibuk memasak sesuatu. "Engga ketemu sama Pelita?" tanya Mamanya. Atala kemudian terdiam, pikiran tentang dirinya yang akan mengaku pada Pelita tentang penyakitnya membuat Atala tidak bisa merasa tenang. Satu sisi dirinya merasa takut, namun di sisi lain dia tidak ingin bersikap egois dengan memaksakan Pelita ada di pernikahan bersama dirinya yang bahan tidak yakin akan bertahan hidup berapa lama lagi. "Ma, gimana kalau pernikahan Atala dan Pelita tiba-tiba dibatalkan?" Hanya satu detik sebelum kemudian sua

