Julian duduk di sofa yang ada di butik, menunggu Valen dan Nayla yang sedang memilih beberapa gaun. Keduanya tampak serius, membuat Julian enggan mengikuti mereka.
Terlalu lama menunggu, Julian ketiduran dalam posisi bersandar di sofa, membuat Valen dan Nayla yang melihat kejadian itu tersenyum kecil, merasa lucu dengan posisi tidur Julian.
“Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa mengenali pria seperti Julian!” paksa Nayla supaya Valen bersedia bercerita.
“Dia sebenarnya security di kantor,” ucap Valen membuat Nayla melotot lebar.
“Seriusan itu Julian security di kantormu!” seru Nayla tak percaya.
Valen mengangguk. “Baru dua hari ini dia bekerja di kantor,” ucapnya. “Sepertinya dia sedang butuh uang, jadinya kerja apa saja dilakukan.”
“Bagaimana riwayat pendidikannya?” tanya Nayla penasaran.
Tiba-tiba Valen tersenyum penuh arti, lalu berkata, “Dia junior kita, dan kabar buruknya semua nilainya lebih baik dari kita.”
“Puk...” Nayla tiba-tiba memukul ringan lengan Valen. “Kenapa nggak nawarin pekerjaan yang lebih cocok untuknya?”
“Tunggu aku dan dia menikah, baru aku akan memberikan pekerjaan itu padanya,” ucap Valen.
“Oh iya, ngomong-ngomong tentang pernikahan kamu dan Julian, apa itu pernikahan yang sebenarnya, atau kalian hanya_”
“Pernikahan kontrak,” ucap cepat Valen memotong ucapan Nayla.
“Berapa lama?” tanya Nayla.
“Satu tahun,” jawab Valen.
“Bagus. Setelah satu tahun berlalu ada kesempatan bagiku mendekatinya,” ucap Nayla sambil tersenyum kecil.
Mendengar itu Valen menatap tajam Nayla, tapi temannya itu pura-pura tak tau, dan memilih melihat ke arah lain.
‘Jelas-jelas dia suka, tapi pakai acara nikah kontrak segala,’ batin Nayla.
“Perbaiki gaun ini! Aku akan memakainya di hari pernikahanku!” ucap Valen menunjuk salah satu gaun pernikahan berwarna putih yang ada di butik Nayla.
“Nggak sekalian kamu beli ini setelan jas untuk pengantin pria?” Tunjuk Nayla pada setelan jas berwarna senada dengan gaun pengantin pilihan Valen.
“Kalau begitu sekalian perbaiki stelan jas ini supaya pas untuknya!” ucap Valen.
Nayla menyuruh karyawannya membawa gaun dan setelan jas yang dipilih Valen ke ruang kerjanya.
“Sepertinya aku perlu mengukur ulang ukuran tubuhmu, juga mengukur ukuran tubuh Julian,” ujar Nayla.
“Aku bangunkan Julian, kamu tunggu saja di ruang kerjamu,” ucap Valen.
Nayla terkekeh pelan melihat Valen cepat menghampiri Julian, dan setelahnya ia pergi menuju ruang kerjanya, menunggu kehadiran calon pengantin yang besok akan menikah.
Sementara itu, Valen memukul ringan lengan Julian, mencoba membangunkan pria itu dari tidurnya.
“Bangun!” ucapnya.
Julian yang memang mudah dibangunkan, cepat dia membuka mata hanya dengan satu sentuhan dan ucapan singkat Valen.
“Nona, Maaf saya ketiduran!” Julian bangkit berdiri, siap menerima perintah.
“Ikut denganku!” ucap Valen singkat, dan begitu saja pergi.
Tanpa banyak bicara Julian mengikuti tepat dibelakang Valen, sampai akhirnya mereka tiba di ruang kerja Nayla.
“Kamu duluan, baru setelahnya giliran Julian.” Nayla menarik Valen mendekat, dan mulai mengukur ukuran tubuhnya.
Nayla sudah sangat profesional, tak perlu lama-lama dia sudah selesai mengukur tubuh Valen, lalu berlanjut mengukur tubuh Julian.
Sengaja dia berlama-lama saat mengukur tubuh Julian, membuat Valen menatapnya tajam, tapi Nayla acuh tak acuh, seolah tak tau apa yang dilakukan Valen.
“Sudah selesai, dan nanti setelah pernikahan kontrakmu sama Valen selesai, persiapkan dirimu untuk menjadi suamiku yang sesungguhnya!” kata Nayla.
“Malam ini harus sudah selesai!” ucap Valen, dan cepat dia menarik lengan Julian, menariknya keluar dari ruang kerja Nayla, membuat pemilik ruangan tersenyum sangat puas.
“Benar-benar disayangkan pria sepertinya lebih dulu dipertemukan dengan Valen, tapi firasatku mengatakan mereka kelak akan menjadi pasangan yang mengguncang Dunia,” lirih Nayla, dan untuk menyelesaikan permintaan Valen, ia hanya butuh satu jam untuk menyelesaikannya.
***
Di dalam mobilnya, Valen menatap Julian dengan intens.
“Ehm...apa Nona ingin menanyakan sesuatu ke saya?” ujar Julian.
“Jawab jujur! Apa kamu tertarik sama Nayla, temanku yang barusan?” tanyanya.
“Nona Nayla kelihatannya baik, dan saya cukup tertarik menjadi temannya,” jawab Julian, dan tanpa disadarinya, Valen puas dengan jawaban itu.
“Jadi cuma sebatas teman?”
Julian mengangguk, membuat Valen senang, walau dia sendiri tak tau kenapa merasa senang.
“Lalu bagaimana dengan tawarannya tadi, sepertinya dia serius ingin menjadikanmu sebagai suaminya?!”
“Nona, tak seorangpun di Dunia ini yang tau tentang masa depan juga tentang takdir kehidupan. Jadi sebaiknya kita tak perlu membahas sesuatu yang belum tentu terjadi,” ujar Julian.
“Jawaban yang cerdas,” lirih Valen, dimana setelahnya ia tak lagi membahas apapun yang berhubungan dengan Nayla.
“Nona, Ngomong-ngomong ini kita mau kemana lagi?” tanya Julian yang sejak tadi hanya putar-putar di jalanan tak tentu arah.
“Pergi ke alamat ini, dimana kamu akan bertemu dengan orangtuaku!” ucap Valen santai, tapi Julian yang mendengarnya sama sekali tak santai.
“A...apa benar ini saya harus bertemu dengan orangtua Nona?” tanya Julian.
“Benar, dan tentu saja kamu harus bertemu mereka sebelum kita menikah!” ucap Valen.
‘Astaga! Ini terlalu mendadak,’ batin Julian, tak siap bertemu dengan orangtua Valen.
Orangtua dari Bosnya, tentu itu orang besar yang jauh lebih berpengaruh.
Bertemu dengan mereka, apalagi dengan statusnya saat ini, Julian merasa melompat ke dalam jurang masih jauh lebih ringan daripada bertemu orangtua Valen.
Namun sayangnya bubur sudah diaduk, tak lagi ada jalan mundur, dan hari ini ia pasti bertemu dengan orangtua Valen!