“Jangan melamun!” Andika menegur Julian yang sedang melamun.
Andika rekan kerja Julian sesama security, dan karena seumuran, walau baru kenal mereka cepat akrab.
Sejak pagi dia melihat Julian sering melamun, dan karena itu dia kali ini menegurnya saat kembali melihatnya melamun saat sedang makan.
Julian meletakkan alat makannya setelah ditegur Andika, lalu meminum air di gelasnya sampai kandas.
“Apa pernah kamu mengalami situasi dimana ada perempuan yang baru kita kenal tiba-tiba ngajak nikah?” tanya Julian.
“Sejauh ini aku belum pernah mengalaminya,” jawab Andika, dimana sekarang dia bisa menebak alasan Julian hari ini sering melamun.
“Aku baru mengalaminya, dan itu belum genap sehari setelah aku dan wanita itu saling kenal,” ucap Julian, membuat Andika tiba-tiba memukul lengannya.
“Apa dia cantik?” tanya Andika.
“Sangat cantik,” jawab Julian mengingat wajah Valen.
“Lalu bagaimana dengan bentuk tubuhnya? Apa dia kurus, berbobot, atau seksi?”
“Di sempurna,” ucap Julian sembari membayangkan lekuk tubuh Valen.
“Satu lagi. Apa dia kaya?”
“Sangat kaya,” jawabnya. ‘Kita saja bahkan digaji dia,’ batinnya.
“Sudahlah, lebih baik segera bangun dari mimpimu anak muda! Wanita seperti itu, pastinya cuma ada di mimpi,” kata Andika.
‘Wajar kalau dia ngak percaya,’ batin Julian.
“Sepertinya aku memang harus segera bangun, kembali ke kenyataan,” ucap Julian, membuat Andika mengangguk.
“Oh iya, hari ini kamu ada tugas tambahan mengawal Nona Bos ke tempat pembangunan hotel baru milik Nona Bos,” ujar Andika.
“Kalau aku mengawal Nona Bos, lalu siapa yang menggantikan pekerjaanku?” tanyanya.
“Ada si Reza, dia akan menggantikan pekerjaanmu,” jawab Andika.
“Kalau begitu sebaiknya aku selesaikan makan lebih dulu, sebelum Nona Bos pergi!” Julian melanjutkan memakan makanannya, tapi belum juga habis, Eleanor sudah lebih dulu datang menjemputnya.
“Sudah sana pergi daripada Nona Bos marah karena lama nunggu!” Andika menyuruh Julian cepat pergi.
“Oke, aku pergi dulu,” ucapnya dengan semangat yang tak seberapa, apalagi mengingat dia akan kembali berurusan langsung dengan Valen.
Akhirnya Julian pergi mengikuti Eleanor, dimana mereka langsung pergi ke tempat parkir khusus, tempat yang hanya diisi satu mobil milik Valen.
“Kamu bisa mengemudikan mobil?” tanya Eleanor sambil terus jalan.
“Asalkan bukan mobil balap, aku cukup yakin bisa mengemudikannya,” jawab Julian.
Eleanor tiba-tiba menyodorkan kunci mobil, “Hari ini cuma kamu yang akan pergi menemani Nona,” ucap Eleanor begitu tiba-tiba.
“Apa kami hanya pergi berdua?” Julian berharap hal itu tak terjadi.
“Ya, kalian hanya akan pergi berdua,” kata Eleanor, dimana kata-kata itu membuat Julian kecewa.
“Bagaimana kalau Nona Eleanor juga pergi bersama kami? Bertiga rasanya lebih baik daripada berdua,” ucapnya.
“Ada banyak pekerjaan yang hari ini juga harus aku selesaikan. Jadi aku tidak bisa pergi bersama kalian!” ucap Eleanor. “Lagipula Nona Eleanor nggak keberatan pergi berdua denganmu,” lanjutnya.
‘Aku yang keberatan,’ batin Julian, dimana ia cukup sadar posisi untuk tak mengucapkannya secara langsung.
“Pergilah, Nona sudah menunggumu!” Eleanor hanya membukakan pintu menuju tempat parkir khusus.
Setelahnya Julian berjalan sendiri menghampiri Valen, wanita yang saat ini sedang duduk di sofa tunggu, tak jauh dari mobilnya.
“Kamu datang tepat waktu,” ucap Valen begitu melihat Julian.
Melihat Valen berjalan ke arah mobilnya, cepat Julian mengambil inisiatif membukakan pintu untuknya.
Tanpa diketahui Julian, Valen tersenyum kecil lalu masuk ke dalam mobil.
“Nona Bos, kemana tujuan kita?” tanya Julian begitu duduk di belakang kemudi, dan karena itu mobil sport dua pintu, jadilah dia duduk bersebelahan dengan Valen.
Tujuan pertamanya, Valen ingin Julian mengantarnya ke butik langganannya.
Julian sendiri masih baru di kota tempatnya bekerja, jadi dia masih membutuhkan bantuan petunjuk jalan.
Awalnya dia ingin menggunakan aplikasi di ponselnya, tapi Valen ternyata tak keberatan menjadi navigator.
Dengan petunjuk yang sangat jelas, beberapa menit kemudian mereka tiba di butik, dimana suasana butik siang ini cukup ramai.
“Kamu ikut aku masuk ke dalam!” perintah Valen.
Karena tugasnya hari ini menemani Valen, dia harus pergi kemanapun wanita itu pergi.
Keluar lebih dulu, Julian membukakan pintu untuk Valen, kemudian berjalan mengikuti wanita itu.
“Apa kamu malu jalan di sebelahku?” tanya Valen berhenti berjalan, lalu berbalik arah melihat Julian.
“Apa itu tidak apa-apa?” tanya Julia.
“Jangan banyak bertanya, tapi langsung saja berjalan di sisiku!” jawab Valen tegas, sembari menarik lengan Julian, tak melepaskan lengan yang sudah dipegangnya erat.
‘Andika salah! Ini jelas bukan mimpi,’ batin Julian.
Mereka memasuki butik selayaknya kekasih yang bergandengan tangan, dimana kedatangan mereka disambut langsung oleh Nayla, pemilik butik sekaligus teman Valen.
Julian melihat Nayla yang memperhatikan penampilannya dari ujung kaki sampai kepala.
“Sempurna... Valen, apa ini model baru yang ingin kamu berikan padaku?” tanya Nayla.
“Apa dia mirip model?” tanya Valen.
Nayla mengangguk dengan pandangan tertuju ke arah wajah Julian. “Lebih tampan dari semua model yang pernah bekerjasama denganku. Jadi, apa dia benar-benar model?” tanyanya.
“Bukan,” jawab Valen. “Dia calon suamiku, dan besok kami akan menikah,” ujarnya.
“Wow... Kenapa begitu tiba-tiba? Apa kamu sudah mengandung Valen junior?” Tatapan Nayla tertuju ke perut rata Valen.
“Itu tidak akan pernah terjadi, dan seharusnya hanya dengan melihatnya kamu tau alasanku kenapa terburu-buru menikah!” Valen harus mengakui kalau ketampanan Julian jauh di atas rata-rata.
“Dia memang tampan, tapi sayangnya dia lebih dulu bertemu denganmu! Kalau saja aku yang lebih dulu bertemu dengannya, sudah pasti aku juga akan cepat-cepat menikahinya, supaya nggak ada wanita lain yang mendekatinya,” kata Nayla.
Semua pembicaraan itu didengar oleh Julian, membuatnya hanya bisa menggeleng kecil. ‘Aku ini ada, tapi sepertinya mereka nggak melihat keberadaanku,’ batinnya.