Surat Perjanjian Nikah Kontrak

1063 Kata
Menyelesaikan pekerjaannya di hari pertama, Julian mengemas barang-barangnya, lalu mengganti seragam kerjanya dengan pakaian santai. Seharusnya dia langsung pulang, tapi Julian teringat jika persediaan makanan di rumah sewanya habis. Jadi, sebelum pulang dia lebih dulu pergi belanja, membeli semua yang dibutuhkannya. Ia tak kekurangan uang setelah menyewa rumah dan membeli banyak perabotan baru. Tabungannya masih cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dua tahun ke depan, tergantung seberapa hemat ia menjalani hidup. “Setidaknya kota ini lebih baik dalam hal angkutan umum dibandingkan dengan kota lama yang baru aku tinggalkan,” ia melihat angkutan umum jumlahnya cukup banyak, membuatnya tak perlu lama menunggu kedatangan bus angkutan umum yang kedatangannya memang sedang ia tunggu. “Kenapa juga harus turun hujan?” keluhannya dengan suara lirih nyaris seluruhnya tak terdengar oleh orang di dekatnya. Saat ini sudah masuk musim penghujan, dan cerobohnya Julian, ia tadi lupa membaya payung, padahal sudah sejak semalam payung itu sengaja diletakkan di dekat pintu rumah. “Sesekali nggak apa main hujan,” gumamnya. Bus akhirnya tiba di tempat tujuan, dan walau hujan masih lumayan deras, Julian tetap keluar dari Bus, berlari cepat menuju minimarket terdekat. “Untungnya dekat dengan minimarket.” Julian membersihkan dulu tetesan air di jaketnya sebelum memasuki minimarket. Begitu memasuki minimarket, ia langsung membeli apa saja yang dibutuhkannya. “Lumayan lengkap.” Julian mendapatkan semua yang ingin dia beli, termasuk minuman kaleng bersoda yang menjadi favoritnya. Entah kebetulan atau takdir, saat ingin melakukan pembayaran, Julian melihat Valen dan Eleanor memasuki minimarket, membuatnya cepat membuang muka ke arah lain, pura-pura tak melihat mereka. Valen dan Eleanor sendiri, mereka baru menyadari keberadaan Julian di minimarket setelah pria itu selesai melakukan pembayaran, dan berjalan keluar. “Bukannya yang barusan itu Julian?” Valen bertanya sambil menoleh melihat ke arah Eleanor. “Nona benar, yang barusan itu memang Julian,” jawab Eleanor yang sejenak tadi mengagumi Julian dalam balutan pakaian santai. “Lumayan juga penampilannya yang barusan,” ucap Valen lirih. Sedangkan Julian yang telah keluar dari minimarket, dia berjalan pulang, dan payung yang baru ia beli menjadi pelindung dari tetesan air hujan. “Hah...hujan ini mengingatkanku pada banyak kenangan di masa lalu,” ucap Julian. Tak ingin larut dalam kenangan masa lalu, Julian memukul ringan kepalanya sendiri, lalu ia lanjut berjalan kelewat jalan yang dipenuhi genangan air. “Akhirnya sampai,” kata Julian yang begitu saja duduk di kursi teras rumah tempat tinggalnya. “Hah, semuanya basah,” keluhnya merasakan semuanya basah. Sepatu, jaket, dan celananya basah semua, padahal besok dia masih harus menggunakan sepatunya saat bekerja. Terpaksa malam ini bagaimanapun caranya dia harus mengeringkan sepatunya. Julian masuk ke rumah begitu merasa cukup istirahat, dan sepatunya diletakkan begitu saja di belakang kulkas. “Semoga saja bisa cepat kering!” Selesai dengan urusan sepatu, ia lebih dulu menata belanjaannya ke dalam kulkas, juga sebagian ditata di dapur, baru setelahnya mandi. “Dingin banget ini air,” gumamnya. “Lebih baik cepat mandi lalu bersih-bersih rumah.” Julian tiba-tiba saja ingin membersihkan rumah, padahal baru kemarin sore dia membersihkan setiap bagian rumah sewanya. Selesai mandi, dengan hanya memakai pakaian santai, Julian mulai membersihkan rumahnya. “Untung hujan sudah reda, jadinya bisa ini teras aku bersihkan,” ujarnya dan cepat ia mulai membersihkan teras. Belum juga selesai, perhatian Julian tertarik melihat mobil yang berhenti di depan rumahnya. “Mobil itu? Rasa-rasanya aku nggak asing dengan mobil itu,” gumamnya lirih. “Bukannya itu mobil Mbak CEO, si Bos yang sukanya memaksa bawahannya?” ujarnya, dan saat itu juga Valen dan Eleanor keluar dari mobil. “Untuk apa mereka datang ke rumahku?” Julian cepat meletakkan alat bersih-bersih, lagipula tinggal di bagian ujung jauh yang masih kotor. “Jadi di sini kamu tinggal?” ujar Valen begitu tiba di depan Julian. “Iya Nona, ini rumah yang saya sewa." Julian mempersilahkan Valen dan Eleanor masuk, lalu mereka duduk di sofa ruang tamu yang sangat minimalis. Kedua mata Valen bergerak kesana-kemari, mengamati setiap jengkal keadaan di dalam rumah yang ditempati Julian. Bersih, rapi, dan tidak ada bau aneh. Dia cukup kagum dengan apa yang dilihatnya. Rumah yang disewa Julian memang jauh dari kesan mewah, bahkan luasnya tak lebih luas dari kamar miliknya. Tetapi Valen merasa nyaman saja berasa di tempat yang dijaga dengan baik oleh penghuninya. Sebenarnya Julian ingin menawarkan minuman, tapi melihat Valen masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ia memilih diam. Eleanor sejak tadi juga hanya diam. Dia kali ini hanya menemani Valen, dan tidak akan ikut campur dalam urusan teman sekaligus Bos-nya. “Ini surat kontrak pernikahan yang mengatur jalannya pernikahan kontrak kita selama satu tahun ke depan!” Valen menyodorkan map plastik yang di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas. “Kamu bisa membacanya, dan jika ada poin yang menurutmu kurang pas, kita bisa menduskusikannya sekarang!” ucap Valen. Julian mengangguk, dan begitu menerima map plastik yang disodorkan Valen, ia langsung membaca isinya. Ada cukup banyak poin, seperti dilarang ikut campur dalam urusan masing-masing, dilarang melakukan kontak fisik kecuali dalam situasi tertentu, ada juga poin larangan tidur di atas ranjang yang sama. Poin lainnya seperti menunjukkan kemesraan di depan keluarga Valen, merahasiakan pernikahan dari publik, lalu terakhir ada poin tentang keuntungan Julian selama menjadi suami kontrak Valen. “Saya nggak ada masalah sama seluruh poin dalam surat perjanjian ini,” ucap Julian begitu selesai membaca isi di dalam map plastik yang merupakan surat perjanjian pernikahan kontrak. Valen mengangguk puas. “Kalau begitu kamu bisa tanda tangan di tempat yang tersedia, dan sebagai saksi, Eleanor yang akan menjadi saksi.” Julian langsung tanda tangan, lalu dilanjut Eleanor yang posisinya sebagai saksi, dan terakhir giliran Valen yang melakukan tanda tangan. “Sengaja aku membuat salinannya, supaya kita sama-sama menyimpan surat perjanjian ini,” ucap Valen. Satu surat perjanjian disimpan Julian, dan satunya disimpan Valen, sangat adil. “Urusan hari ini sudah selesai, dan gunakan kartu ini untuk membeli pakaian yang pantas, yang nantinya akan kamu pakai saat pergi ke catatan sipil, mencatatkan pernikahan kita, sekaligus mengurus surat pernikahan kita!” Valen menyerahkan kartu Bank, dan setelahnya langsung pergi disusul Eleanor. “Oh iya, dua hari lagi kita akan menikah,” ucap Valen sambil menoleh, sejenak melihat Julian sebelum kembali berjalan menuju mobilnya. Dua hari lagi menikah? Sebuah ucapan sederhana, tapi cukup untuk membuat Julian terus-menerus terpikirkan ucapan itu, bahkan ia sampai lupa makan malam hanya karena terus kepikiran ucapan Valen. “Hah...sayangnya hanya pernikahan kontrak,” keluhnya, dan ia tak berani berharap lebih dari itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN