Samuel menatap rumah yang ada di depannya ini, yang ia rasa sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah kedua orang tuanya itu, karena kesibukannya yang membuatnya jarang mendapatkan waktu, untuk sekedar singgah di rumah kedua orangtuanya ini. Dengan menarik kopernya, Samuel berjalan ke arah pintu utama untuk masuk kedalamrumah. Ia memencet bel selama beberapa kali, dan tidak lama kemudian keluarlah seorang gadis, dengan menggunakan piyama tidur Doraemon, serta rambut yang acak-acakan seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Siapa sih yang bertamu pagi-pagi kayak gini?" Gerutu Rachel yang membuat Samuel terkekeh pelan. "Nggak tau apa, ini weekend dan harinya buat tidur seharian." Ucap Rachel lagi sambil menguap, karena belum sadar dengan keberadaan Samuel yang ada di depannya. Karena rasa kantuk yang masih melandanya, membuat kesadarannya belum terkumpul semua.
Samuel tersenyum melihat Rachel sang adik yang kembali menguap di depannya. Satu telapak tangannya langsung terangkat dan mengacak rambut Rachel dengan gemas. Dan tentu hal itu langsung membuat Rachel menepis tangan sang kakak.
"Jangan pegang-pegang. Enak aja pegang-pegang kepala gue, mending sana deh pergi. Kalo mau bertamu entar aja pas sore, lo balik lagi." Ucap Rachel lagi-lagi kembali menguap.
"Oh jadi sekarang mau usir kak Sam nih?" Tanya Samuel yang membuat dahi Rachel berkerut.
"Sam? Samyang? Siapa sih ah mending pergi sana, ganggu orang lagi enak-enak tidur aja." Ucap Rachel dengan sedikit membuka matanya.
"Okay. Kalo gitu, kak Samuel balik ke apartemen aja sekarang. Nanti kalo Papa dan Mama, tiba-tiba marah itu bukan kesalahan kakak."
Rachel yang mendengarkan perkataan Samuel barusan, mulai mencerna baik-baik perkataan tersebut. Seketika rasa kantuknya hilang saat tahu orang yang ada di depannya ini adalah Samuel, kakak satu-satunya yang sangat ia rindukan dan kakak yang sangat menyayanginya.
"KAK, SAM!"
Rachel langsung mendekat, dan masuk kedalam pelukan Samuel, ketika ia sudah bisa mengatasi rasa kantuknya. Ia sangat merindukan pria yang ia peluk ini yang sangat sibuk dengan pekerjaannya dan kadang punya waktu untuk pulang ke rumah. Terhitung sudah 3 bulan lebih mereka tidak pernah bertemu dan tentu rasa rindu itu sudah menumpuk.
"Aku kangen banget tau sama kakak," ucap Rachel ketika pelukan mereka terlepas.
"Kakak juga kangen sama kamu Rachel, adik kakak yang paling manja kalo sama kakak." Ucap Samuel mencubit hidung Rachel yang membuat sang empunya mendengus kesal.
"Ih kakak sakit tau. Nanti hidung aku nggak mancung lagi," ucap Rachel dengan eskpresi wajah cemberut.
"Iya deh maafin kakak. Kalo gitu kita masuk kedalam yuk, masa cuma di depan pintu terus." Ucap Samuel.
"Ya udah ayo," Ucap Rachel semangat dengan kedua tangan yang menggandeng Samuel kedalam rumah.
"Dek, kamu cuma sendiri doang di rumah?" Tanya Samuel ketika mereka telah berada di ruang tengah.
"Iya kak,"
"Asisten rumah tangga, sama pengawal pada kemana semua? Kakak tiba-tiba baru sadar nggak ada yang jaga di depan." Tanya Samuel penasaran.
"Mereka nggak kerja kak, suruhan dari Papa. Tiap weekend selalu di liburin mereka tuh sama Papa."
Samuel menggangguk sebagai jawaban kalau ia mengerti.
"Kamu belum sarapan kan?" Tanya Samuel yang langsung mendapatkan cengiran dari Rachel.
"Belum kak, kan aku baru bangun. Terus kalo nggak di bangunin sama kak Sam juga, mungkin aku belum bangun."
"Yaudah kalo gitu kamu mandi dulu sana, nanti kakak buatin sarapan buat kamu." Ucap Samuel yang langsung di iyakan oleh Rachel dengan antusias.
"Okay. Aku mandi dulu kalo gitu kak Sam." Dengan antusias Rachel langsung berlari ke arah tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Samuel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh adiknya itu. Sebelum menyiapkan sarapan untuk adiknya, ia menuju ke kamarnya yang sudah terhitung beberapa bulan tidak ia tempati untuk menaruh kopernya. Setelah itu ia menuju ke arah dapur.
Sebelum memulai membuat sarapan, Samuel menggulung kemeja yang ia pakai sebatas siku. Dan setelah itu ia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan khusus adik tersayangnya. Ia akan membuat sandwich sebagai sarapan adiknya, karena Rachel paling tidak suka sarapan makanan berat di pagi hari.
Lima belas menit berlalu, Rachel menghampiri Samuel yang telah selesai menyiapkan sarapan, dengan wajah lebih fresh karena baru selesai mandi. Ia mengambil duduk di kursi yang langsung menghadap ke Samuel.
"Kakak tau aja sih, kalo aku lebih suka makan sandwich ketimbang nasi di pagi-pagi begini." Ucap Rachel mulai memakan sepotong demi potong sandwich.
"Iya dong, kamu kan adik kakak satu-satunya. Masa kakak nggak tau makanan apa yang biasa kamu makan kalo pagi begini." Ucap Samuel dengan bangganya.
"Kak Sam the best deh pokoknya," Rachel mengancungkan kedua jari jempolnya di hadapan Samuel. Senyuman Samuel terukir dan membuat ia mengacak rambut Rachel dengan gemas.
"Yaudah sekarang kamu lanjutin makan kamu, terus nanti kita jalan-jalan keluar mumpung lagi weekend." Ucap Samuel memberikan penawaran.
"Jalan kemana kak?" Tanya Rachel terlihat begitu senang ketika mendapatkan tawaran jalan-jalan dari sang kakak.
"Kemanapun, yang penting adiknya kakak senang." Mata Rachel langsung berbinar senang.
"Mmm... kita ke Mall aja deh kak, aku mau beli baju, tas, sama sepatu."
"Tumben kamu pengen ke Mall?" Tanya Samuel merasa heran. Biasanya jika ia mengajak Rachel jalan-jalan ketika ia ada waktu luang dari pekerjaannya. Tempat yang biasa di kunjungi mereka berdua palingan kedai eskrim dan juga taman.
"Pengen aja si kak, sekali-sekali gitu aku pengen belanja."
"Yaudah nanti kita kesana,"
Rachel tentu sangat senang karena permintaannya di setujui oleh kakaknya.
***
Saat ini Rachel dan Samuel telah berada di pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Rachel kelihatan begitu semangat, ia menarik tangan Samuel untuk masuk ke salah satu tempat yang isinya serba pakaian semua. Samuel hanya bisa pasrah di tarik oleh adiknya masuk ke tempat tersebut. Melihat adiknya bahagia merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.
Samuel sangat bersyukur karena setelah apa yang Rachel alami selama ia berada di sekolah menengah atas dulu, adiknya itu bisa ceria lagi setelah memasuki perguruan tinggi. Apalagi saat mengetahui sahabat adiknya dari kecil satu kampus dengannya. Walaupun Rachel masih belum mau ada orang lain yang tahu, jika ia adalah anak kedua dari pengusaha ternama Nicholas Frans Ganendra.
"Kak gimana yang ini, bagus nggak?" Tanya Rachel menyadarkan Samuel yang sedang melamun.
"Kakak ih," kesal Rachel karena kakaknya itu tidak merespon perkataannya.
"Apa aja yang di pakai sama adik kakak yang cantik ini, pasti cocok kok." Ucap Samuel jujur. Karena memang kenyataannya begitu, hanya saja karena sewaktu SMA dulu Rachel bergaya culun, membuat siswa dan siswi yang ada di sekolah adiknya itu mengganggap Rachel jelek. Padahal aslinya tidak seperti begitu.
Ini semua karena Rachel yang sengaja menyembunyikan identitasnya dan berpenampilan culun dulu, mungkin jika ia tidak melakukan itu, maka tidak akan pernah kejadian seperti waktu di sekolah menengah dulu. Rachel selalu di bully habis-habisan semasa ia sekolah dan bahkan bullying yang ia terima sangatlah keterlaluan, hingga berakhir ia harus di bawa ke psiakter dulu karena mentalnya jadi terganggu karena hal itu. Rachel selalu diam-diam menyakiti dirinya ketika pulang sekolah dulu hingga akhirnya orangtuanya tidak pernah mau jika Rachel tidak ada yang mengawasi, walaupun sekarang tidak terlihat adanya tanda-tanda apa yang sering Rachel lakukan dulu yaitu menyakiti dirinya lagi. Tapi tetap saja mereka memilih untuk berjaga.
Tapi semuanya berubah setelah lulus SMA, Rachel merubah penampilannya dan ia berakhir ia selalu menjadi sorotan di kampus. Bahkan ada yang sudah pernah terang-terangan menyatakan perasaan cinta padanya, tapi Rachel menolaknya dengan cara galak. Tapi bukannya menyerah, mereka tetap kekuh ingin mendapatkan perhatian dari Rachel.
"Kakak gimana sih, di tanyain malah ngelamun lagi." Kesal Rachel dengan Samuel yang kembali melamun entah melamun kan tentang apa.
"Eh iya maaf dek, kakak lagi banyak kerjaan soalnya." Alibi Samuel memilih berbohong tentang apa yang sedang ia pikirkan.
"Yaudah kalo kakak lagi banyak kerjaan, kita pulang aja sekarang." Tawar Rachel, ia memaklumi kesibukan kakaknya di dunia bisnis itu seperti apa.
"Udah kamu belanja aja, lagian ini kan weekend. Kakak juga jarang-jarang bisa ajak kamu jalan-jalan seperti ini."
"Kak Samuel emang kakak aku yang paling the best pokoknya. Rachel jadi tambah sayang kan jadinya sama kakak." Ucap Rachel dengan tulus.
"Yah harus dong, kamu harus tambah sayang sama kakak. Kan kakak juga jadinya semakin sayang sama adik kakak yang nggak kerasa udah gede aja sekarang." Ucap Samuel, ia mencubit kedua pipi Rachel yang membuat Rachel menampilkan ekspresi cemberut.
"Ih kakak kebiasaan deh, suka banget cubit-cubit pipi aku." Decak kesal Rachel yang membuat Samuel terkekeh.
"Soalnya kamu suka buat kakak gemas, waktu kamu kecil aja kakak sering tuh cubit pipi kamu kayak gini."
"Tapi sekarang udah beda kak, kan aku udah gede sekarang. Masa di samain kayak aku masih kecil sih," cemberut Rachel.
"Iya deh iya. Terus sekarang kamu mau ambil baju yang kamu pegang atau nggak?" Tanya Samuel.
"Mmm... menurut kakak, di antara kedua baju ini, mana yang paling bagus?" Tanya Rachel meminta pendapat dari kakaknya.
"Dua-duanya bagus, apalagi kalo di pakai sama kamu."
"Idih jijik aku dengarnya kak. Aku bukan kak Elena, pacar kakak yang bakal langsung blushing kalo kakak bilang kayak gitu." Ucap Rachel bergidik ngeri.
"Yeh makanya cari pacar sana, biar nggak jomblo dan nggak apa-apa ngerasa jijik muluh." Ucap Samuel sengaja ingin mengejek adiknya itu.
"Au ah gelap," respon singkat Rachel itu membuat Samuel terkekeh.
"Jadi sekarang kamu mau beli nggak nih bajunya?" Tanya Samuel.
"Beli aja deh, aku ambil dua-duanya aja. Lagian kakak sendiri yang bilang kalo dua-duanya bagus."
"Ya udah sekarang ayo kita bayar." Ucap Samuel.
"Kakak aja ya, aku malas buat ngantri ke kasir. Aku nunggu kakak disini aja,"
"Loh kok gitu? Tapikan di sana banyak orang adikku sayang.".
"Kan kakak ganteng, gunain tuh biar cepat bayarnya nggak pakai antri segala."
Samuel menghela nafas, bisa-bisanya adiknya itu berpikiran seperti itu.
"Kamu tunggu disini, kakak mau bayar belanjaan kamu ini ke kasir." Rachel menggangguk mendengar perkataan Samuel.
Setelah menunggu dalam waktu sepuluh menit kemudian, Samuel kembali dengan paper bag di tangan kirinya.
"Sekarang kamu mau kemana lagi?" Tanya Samuel pada Rachel yang saat ini sedang sibuk memainkan ponselnya.
Rachel memasukkan ponselnya kedalam tas selempang yang ia bawa dan melihat ke arah Samuel.
"Kita ke pizza HUT aja kak. Aku tiba-tiba kepengen makan Pizza, udah lumayan lama juga aku nggak makan pizza bareng kakak."
"Nggak mau belanja lagi? Kan kamu baru belanja baju ini doang. Tas sama sepatu yang kamu bilang tadi belum kita beli loh." Tanya Samuel memastikan jika Rachel benar-benar tidak mau berbelanja lagi.
"Nggak ah, ini aja kak. Entar nggak ke pakai lagi kalo belanja yang banyak."
"Okay kalo gitu kita tempat pizza sekarang."
Mereka berdua berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu, dan menaiki mobil untuk menuju ke tempat pizza HUT berada. Sekitar dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di salah satu tempat pizza HUT. Setelah memarkirkan mobil, Samuel dan juga Rachel berjalan beriringan masuk ke dalam pizza HUT tersebut.