Pertimbangan dan sebuah kebetulan

1477 Kata
Dengan langkah yang cepat, ia pun sampai dirumahnya dan segera menyusun semua belanjaannya. Lalu ia pun memasak untuk makan siangnya, tak lupa juga sekaleng bir yang tak pernah tinggal setiap harinya yang selalu ia konsumsi. Akhirnya usai lah ia memakan makanannya dan ia pun menyalakan rokok dan meneguk bir kalengnya itu. “Hmm, siapa Wanita yang di toserba tadi? Aku baru melihatnya kali ini. Padahal aku yakin terakhir kali aku kesana wanita itu tidak ada. Aku baru kali ini melihatnya.”.. Rael berbicara sendiri. “Ngapain juga ku pikirkan?. Biar saja lah. Tapi, mengapa aku terbengong saat melihat wajahnya tadi ?. Aneh sekali rasanya. Lagipula tadi itu benar-benar memalukan sekali. Ah sudahlah, lebih baik aku tidur saja. Dan pada akhirnya, ia pun tetap pada kebiasaannya yaitu tidur dan mengurung diri. Tak terasa saat Rael terbangun hari pun sudah gelap, ia pun segera memasak mie instan dan mengisi perutnya sambil menonton TV. Dan terdengar berita tentang kasus perampokan disekitar wilayah Anggrek. Tempat kejadian perampokan itu adalah di jembatan penyebrangan Anggrek, tempat yang dimana Hans biasanya bersantai jika suntuk dirumah. Selesai makan, malam itu sepertinya sangat sejuk dan ia memutuskan untuk pergi keluar mencari udara segar meskipun malam itu terasa dingin. “Hmm, perampokan? Mengapa ditempat Favoritku sih.? Merepotkan saja. Ah tapi biarlah, selagi tidak ada yang bisa mereka ambil, kurasa aku akan baik-baik saja. Seorang pencuri akan merampas sesuatu yang berharga dari targetnya. Namun jika kau tidak memiliki benda atau sesuatu yang terlihat berharga. Dan aku memutuskan untuk tidak membawa sesuatu yang mungkin berharga untuk dirampok para pencuri itu. Aku hanya membawa Bir dan Rokok saja.” Rael pun pergi berjalan menuju Jembatan tempat ia biasanya bersantai. Pemandangannya lumayan bagus, tempat yang tepat untuk yang suka menyendiri namun takut dengan suasana sepi. Disini tidak terlalu sepi tapi juga tidak terlalu ramai, karena ini tempat orang berlalu lalang. Tepat di tepi jembatan Rael berdiri menikmati pemandangan dan beberapa kendaraan yang masih berlalu-lalang sembari menghisap rokoknya sebagai alat relaksasi dirinya. Namun saat melihat ke ujung jembatan, nampak olehnya dua orang pria yang terlihat mencurigakan. Intuisi dan kepekaannya dalam merasakan ancaman dan bahaya masih tajam seperti dulu saat ia berada di sisi gelap dunia sebagai “The Killer Stalker”. Meskipun sekarang itu hanya bagian dari masa lalunya, namun trauma dan kekhawatirannya masih tidak bisa terlupakan olehnya. “Engg..? Sepertinya itu mereka. Yah, tidak masalah jika itu memang benar. Lagi pula saat ini aku tidak membawa benda yang berharga. Bagiku, segala hal pasti bisa dipertimbangkan dan dinegosiasi sekalipun itu masalah nyawa.” Dan benar saja, dua orang yang dicurigai Rael tersebut mulai berjalan ke arah nya. Melihat kejadian itu, Rael sudah menduganya sejak awal kalau kejadian seperti ini akan terjadi. Namun ia tetap tidak bereaksi dan sengaja untuk tak menghiraukannya sembari membuka kaleng bir nya. “Fuh, sepertinya masalah akan datang.” Glek, glek. Suara tenggorokan yang sedang meneguk minuman. Dua orang itu pun sekrang sudah berada persis dibelakang Rael, salah satu dari mereka tiba-tiba mendekat dan merangkulnya. Tak hanya itu, Rael pun merasa sepertinya terasa sedikit sentuhan benda tajam dipinggangnya. Sepertinya posisi Rael saat ini sedang ditodong dan benar-benar tidak menguntungkan. Namun yang dilakukan Rael membuat para perampok itu heran. Rael terlihat mengeluarkan sebungkus rokok dan mencoba menawarkannya pada para perampok itu. “Ini..” “Apa maksudnya ini, bung?” tanya si perampok pada Rael. “Tidak perlu segan, ambil saja jika kau mau, karena Cuma ini yang ku punya. Oh iya, aku juga masih punya sekaleng bir lagi. Ini, ambilah.” Rael menydorkan sekaleng bir pada para perampok itu. Kedua perampok itu pun semakin bingung, karena baru kali ini mereka menodong orang namun orang itu bahkan tidak merasa takut sama sekali. “Merokok saja dulu, biar santai. Tidak perlu tegang atau sungkan.” Ucap Rael lagi. “Hey bung, tahu kah kau siapa kami ini dan sadarkah kau posisimu sekarang dalam bahaya?.” Tanya salah satu Perampok berbadan besar yang sedang merangkul Rael. “Hmm, mungkin saja. Karena... dulu aku pernah melakukan hal yang sama. Eng.. tidak, sepertinya lebih dari apa yang kalian lakukan. Jadi aku tidak heran, dan lagi sepertinya kalian adalah orang yang masih memiliki hati nurani.” “Kau seperti peramal saja. Apa maksud dari perkataanmu? Apa kau pernah merampok juga?” tanya si perampok. “Sepertinya begitu. Lagipula jika kalian membunuhku, kalian tidak akan mendapat keuntungan apa-apa juga kan. Malah kalian yang rugi karena akan menjadi buronan. Aku sama sekali tidak takut dengan hal-hal seperti ini, malah tujuanku datang kesini memang ingin mencari mati. Aku berharap bisa mati dengan cara yang tidak sengaja, jadi aku tidak merasa bersalah pada diri sendiri.” Jawab Rael sambil meminu Bir nya dan menawarkannya pada dua perampok itu. Alhasil, para perampok itu melepaskan Rael dan mengambil Bir yang ditawarkan Rael. “Bung, sepertinya kami sudah salah sangka. Kami mengira kau orang waras, ternyata kau ini sakit jiwa. Mana ada orang waras yang memiliki harapan sepertimu. Dasar gila. Yasudah, kami pergi dan terimakasih atas Bir dan Rokoknya.” para perampok itupun pergi begitu saja meninggalkan Rael. “Sama-sama.” Jawab Rael singkat. “Oh iya, aku mohon padamu untuk tidak berfikir akan bunuh diri. Dan tolong jangan berfikir untuk melompat dari jembatan ini.” “Oh, terimakasih nasehatnya. Demi kalian, aku tidak akan melompat.” “Dasar, kau memang orang aneh.” Para perampok pun pergi meninggalkan Rael. .. “Seperti yang sudah kuperkirakan, mereka tidak akan berani bertindak lebih jauh jika mereka tidak mendapatkan apa-apa dariku. Lagi pula mereka pun tidak beranjak dari sini, berarti mereka masih mengincar orang lain untuk di mangsa. Lihatlah keadaan disini seolah kondisi dan situasinya memihak kepada mereka. Mereka tahu kapan dan dari mana mereka harus mulai untuk bergerak agar keberadaan mereka tidak terbaca oleh target mereka. Untuk seorang yang berprofesi sebagai perampok rendahan mereka cukup cermat.” Rael masih bisa keberadaan kedua perampok itu yang jaraknya hanya sekitar 30meter dari tempat ia berdiri. Namun saat itu kondisi jembatan penyebrangan itu memanglah sangat sepi, hanya ada dirinya yang berada di ujung jembatan dan dua perampok itu di ujung satunya. Tiba-tiba terlihat seorang wanita yang hendak naik ke jembatan dan kedua perampok itu pun mulai mengambil posisi untuk melancarkan aksinya. “Hmm wanita itu sepertinya akan menjadi target mereka. Malang sekali nasibnya, mungkin ini memang hari sial wanita itu.” Dan benar saja, tak lama saat si wanita itu berada diatas jembatan para perampok itu pun mengikutinya dari belakang dan dengan cepat menyergap wanita itu. Sungguh pendekatan yang sangat halus hingga wanita itu hampir tidak menyadari keberadaan perampok itu. Terlihat para perampok mulai merampas paksa tas si wanita hingga si wanita pun berteriak minta tolong. Namun sayang tidak ada yang mendengar teriakan wanita itu karena keadaan yang sudah sangat sepi. Hanya ada seorang Rael di sisi lain kejadian tetapi Rael pun nampak tidak perduli. “Yasudahlah, sebaiknya aku pulang saja. Setidaknya aku tidak menjadi penonton yang menikmati pertunjukan kekerasan seperti itu. Aku memang tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi disekitarku selagi itu tidak ada kaitannya denganku. Aku lebih memilih untuk mengabaikannya. Mungkin pendapat orang-orang tentang diriku yang seperti ini adalah bahwa aku orang yang tak berperasaan. Mereka salah! Padahal aku adalah orang yang paling berperasaan, tentu saja aku berperasaan kepada diriku sendiri, aku bersimpati pada diriku sendiri. Dan menurutku tidak ada yang salah dengan itu.” Rael pun mematikan rokoknya dan membuang kaleng birnya, tetapi tiba-tiba saat ia melihat ke arah kejadian perkara, Rael sedikit tergugah karena sepertinya wajah wanita yang dirampok itu pernah ia lihat. “Apa aku mengenal wanita itu?” Rael mendadak berfikir sesaat. “Ah sudah sudah, tidak perlu diperdulikan. Jangan pernah melibatkan diri dengan orang asing.” Rael pun mengguman sendiri. .. “Tolooong!!! Lepaskan! Dasar perampok! Toloonggg!!... Bruaakk!!! (terdengar suara hantaman) “Teriak saja, tidak akan ada yang datang menyelamatkanmu karena mereka pun pasti juga takut kena rampok. Wahahaha.” Para perampok pun seperti sudah leluasa menguasai si wanita tersebut, namun wanita itu tampak memberi perlawanan hingga membuat kedua perampok itu harus sedikit kasar padanya. “Hey nona, lepaskan saja Tasmu. Serahkan saja barang-barangmu pada kami, dengan begitu kau setidaknya akan selamat.” Ucap si perampok yang berbadan agak kurus itu. .. “Eh? Kunci rumahku dimana ya?.” Rael tak sadar kalau kunci rumahnya terjatuh di jembatan tadi saat ia hendak mengeluarkan sekaleng bir dari jaketnya. “Ah, sialan. Kok bisa jatuh ya?.” Rael pun yang tadinya akan turun dari tangga pun berbalik badan untuk memeriksa kembali dimana kunci rumahnya terjatuh. Namun saat ia jalan menuju tempatnya tadi, terlihat kedua perampok sepertinya kesulitan menghadapi perlawanan si wanita itu yang memberontak. Lalu hal mengejutkan pun terjadi, Rael tak sengaja sekilas melihat wajah wanita itu dan ternyata...itu adalah wanita yang bekerja di toserba yang ia lihat siang tadi. Tidak mungkin Rael lupa sebab karena wanita itu lah yang membuat Rael sempat salah tingkah. “Eh! itu....Wanita pegawai Toserba?.” Rael pun kaget setelah menyadari itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN