Pertempuran dan Pertemuan tak terduga

1163 Kata
“Sial. Mengapa dia malah disini? Nyari mati kayaknya.” “Dasar, mengapa wanita itu bisa ada disini? Bukannya beritanya sudah tersebar kalau jembatan ini rawan dan berbahaya jika sudah larut. Jadi bagaimana ini? Apa aku harus menolongnya?.” Rael pun bimbang dan bingung melihat keadaan saat itu, ia bukanlah tipe orang yang mau repot karena orang lain. Terlebih wanita itu tidak ada sangkut paut dengannya, jadi Rael merasa ia tidak berkewajiban untuk menolong wanita itu. Meski Rael sudah bebas dari lubang hitam yang gelap, namun tanpa ia sadari sifat Anti-pati dan ketidakpeduliannya itu sudah melekat dan menjadi bagian dari dirinya. Rael pun menemukan kunci rumahnya yang terjatuh lalu ia berbalik badan dan tidak menghiraukan wanita itu. “Tolooong!!.. sekali lagi suara wanita itu terdengar dan membuat Rael menghentikan langkahnya. Akhirnya ia pun segera bergegas dan berlari menuju ketempat wanita itu dan para perampok itu berada. “Siaall!!, merepotkan sekali!. Tubuhku malah bergerak sendiri, idealismeku jadi tercoreng hanya karena teriakan wanita itu. Ah, sudahlah. Anggap saja kesialan wanita itu tertunda. Aarrghh..” Rael mempercepat langkahnya dan tibalah ia didepan wanita dan para perampok itu. “Hey hey, tolong lepaskan dia bung.” “Ha? Ada apa denganmu bung? Bukannya tadi kau sudah pergi dari sini?.” Ucap si perampok kurus. “Duh, bagaimana ini? Mengapa aku jadi bingung? Sialan, sudah sampai sini aku malah tidak tau harus berbuat apa.” “Hey kau pulang saja, nak. Tidak usah ikut campur jika kau ingin selamat, kami tidak ada niatan meyakiti wanita ini. Kami hanya ingin barang-barang berharganya saja.” Namun terlihat wajah si wanita itu seperti menahan sakit karena cengkraman tangan siperampok sangatlah kuat. “Aw..sakit. lepasin.” “Serahkan saja dulu barang-barangmu, setelah itu kami akan melepaskanmu. Bukannya itu mudah?.” “Enggak!.” Tak disangka Rael mendadak menyerang pria yang mencengkram si wanita, perkelahian antara Rael dan para bandit itu pun terjadi. Meskipun berhadapan dengan salah satu bandit berbadan besar, tapi Rael seperti tidak kesulitan melawan si preman badan besar itu. Dan terlihat sekilas wajah ketakutan dan kengerian dari si bandit gendut itu yang sedang tergeletak di tanah. Sementara itu si preman berbadan kurus sedang mengekang si wanita agar tidak lari. Tetapi melihat rekannya sedang terpojok karena dihajar oleh Rael, si bandit kurus pun spontan membantu dan tanpa sadar melayangkan pisau ke arah Rael. Tapi Rael yang sempat menyadari pun seperti tak sempat lagi mengelak. spontan si bandit berbadan besar pun langsung menarik Rael agar tidak terkena tikaman telak. Namun tetap saja Tangan kanan Rael terkena tusukan pisau itu hingga terlihat darah segar pun bercucuran dari lengan Rael. “Ray, mengapa kau menolongnya?!.” “Hoy kuma, mengapa kau menusuknya?! Teriak si bandit berbadan besar pada rekannya itu. “...Ma..maaf aku tidak bermaksud, aku hanya marah karena kau sedang terpojokkan oleh anak ini.” “Sudah ku katakan padamu jangan pernah melukai orang dengan senjata. Senjata hanya untuk menakut-nakuti mereka saja.!” Rael yang mendengar percakapan antara perampok itu pun sedikit bingung. “Eh? Mereka....? Kok?.” “Aku mengerti, tetapi ada kalanya seorang teman hilang kendali ketika temannya disakiti.” Ujar si perampok berbadan kurus itu. Ucapan si perampok barusan membuat hati Rael tergugah dan ia sempat terdiam sejenak. “Ah yasudahlah,. Hey bung, mengapa kau datang dan menampuri urusan kami?. Bukankah tadi kita sempat membicarakan ini? Kita sama-sama tinggal dalam kegelapan, jadi seharusnya kau tidak mencampuri dan menyenggolku.” “Anu, bukan begitu. Sebenarnya aku datang untuk menjemput wanita ini, karena kami janji ada kencan. Alasanku sejak tadi berada jembatan ini karena aku sedang menunggunya, jadi makanya aku menghalangi kalian dan aku pun marah.” Ujar Rael yang sepertinya sudah bersusah payah memikirkan alasan yang pas untuk bisa kabur. “Kencan?. Mengapa kau tidak bilang? Jika sudah begini, aku jadi tidak enak padamu. Jadi kalian berpacaran.” Pertanyaan si preman besar itu pun membuat Rael dan si Wanita itu saling menatap satu sama lain. “Ahaha, iya tentu saja. Jika bukan pacarku, untuk apa juga aku harus bersusah payah dan repot-repot mennunggunya ditempat semenakutkan ini. Jika tadi orang lain, yah aku tidak peduli sama sekali.” Ucap Rael dengan santai seperti tiada dosa “Ah? Kau kejam sekali. Jadi kau mau menolong wanita ini karena dia pacarmu? Jadi andai dia saat ini bukan pacarmu? Gimana ?.” “Yah sudah jelas kan, aku tidak akan menolongnya. Itu sangatlah repot menurutku.” “Dasar, kau ini pria kejam. Hey nona, apakah memang begini sifat pacarmu ini?.” Tanya si preman gendut pada Wanita itu. Si wanita pun mendadak tersipu dan seperti salah tingkah. “Hey, ayolah.. mohon kerjasama nya. Aku sudah membelamu sejauh ini, tolong cukup ikuti dan teruskan saja skrip sandiwara ini agar cepat selesai.” Rael sudah panik, karena ia takut kalau si wanita tidak pandai melengkapi sandiwara yang baru saja dibuat Rael secara tiba-tiba. “I..iya, dia memang begitu terhadap orang lain. Tetapi sebenarnya dia sangat peduli padaku.” Ucap wanita itu dengan nada Lirih. “Hey bung, bagaimana ini? Semua sudah terlanjur runyam seperti ini. Andai sejak awal kau memberitahu, mungkin ini tidak akan terjadi. Kami merasa tidak enak padamu, aku menghargai kebaikanmu yang sudah memberi kami bir dan rokok. Jadi rasanya terlalu jahat jika kondisinya seperti ini, kami benar-benar menyesal dan kami minta maaf. Hanya itu yang mampu kami lakukan.” Ucap si preman gendut yang tampaknya sangat menghargai Rael secara tiba-tiba. “Tidak apa-apa. Kalau begitu kami pulang dulu, sudah larut malam juga. Kalian juga segeralah pulang, udara malam ini sangat sejuk, sudah pasti sangat nikmati bila tidur dicuaca seperti ini.” “Hey bung? Apa itu tidak sakit?.” Tanya si preman kurus yang heran melihat Rael seperti tidak merasa sakit karena luka tusukan pisau dilengannya. “Eh? E.. iya tentu saja sakit. Yasudah kalau begitu, sampai jumpa.” Rael pun meraih tangan wanita itu dan mereka terlihat bergandengan tangan agar para perampok itu tidak tahu kalau mereka hanya berpura-pura. “Hati-hati ya, segeralah pulang kerumah. Jangan kelamaan berpacaran diluar rumah, sekrang lagi musimnya perampok berkeliaran dimana-mana. Jadi waspadalah kalian.” ucap Si perampok kurus. “Hee? Kau lagi ngomongin dirimu sendiri ya?.” “Eh? Tidak kok, aku sedang membicarakan kita berdua.” Ujar si kurus dengan polos. “Haish... Sekarang saat aku melihatmu, aku sudah tak lagi heran mengapa banyak rampok yang masuk penjara.” “Ha? Kenapa? Karena apa?.” “Ya karena mereka sama denganmu, terlalu bodoh.!.” Pffftt “Tapi Ray, aku lihat kau tadi memasang ekspresi wajah yang aneh saat dia berhasil menumbangkanmu. Anak itu sepertinya punya ilmu bela diri.” “Entah bagaimana saat tadi aku melihat matanya, aku merasa bukan sedang berhadapan dengan manusia....Terlalu menngerikan. Aku bisa merasakannya dan bukan hanya bela diri, tetapi aku merasakan aura pembunuh. Tatapan matanya hampa seperti orang mati.” “Oh pantas saja kau mendadak jadi baik pada mereka, karena kau takut. Iya kan?.” “Hoi!...” Membentak “A..apa Ray? So..sorry aku hanya..” Ekspresi pucat dan ketakutan. “Tidak. Kau benar.” “Fyuh..” ..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN