Avril, wanita Cantik yang sangat ramah

1470 Kata
Situasi pun beralih ke Rael dan si Wanita yang sedang berjalan menuju ke arah selatan. “Apa-apaan ini? situasi aneh macam apa ini? Lihatlah tangan kami masih bergandengan, apakah wanita ini menjadi jijik padaku?.” Batin Rael. Namun si wanita itu pun tidak berkata apa-apa dan hanya melirik curi-curi pandang saja melihat Rael. “Ah, sepertinya disini sudah aman. Sudah jauh dari mereka.” “Te..terima kasih banyak sudah menolong. Maaf sekali aku sudah merepotkan.” “Ya memang, baguslah jika kau sadar kalau kau merepotkan.”. “Ah tidak apa, tak masalah. Aku hanya kebetulan ada disitu, jadi tidak terlalu repot.” “Tidak terlalu?.” Wanita itu pun heran dengan jawaban pria yang sudah menyelamatkannya itu. “Anu, tanganmu tidak apa-apa?. Ayo kita ke klinik dulu, lukanya cukup dalam.” .....“Hah? Wanita ini bercanda? Hey, kau tidak lihat darah ini terus mengalir dan kau masih bertanya apakah tidak apa-apa? Lalu, bagaimana aku harus menjawabnya?”.... “Ah, tidak. Tidak juga, yah tidak perlu dipikirkan. Kalau begitu, aku pulang dulu” “Tunggu!, Ayo ikut ke rumahku, tidak jauh kok dari sini.” “Eh? Untuk apa?.” “Hah? Untuk apa? Ya untuk mengobati luka mu itu. Aku merasa tidak enak sebab kau terluka karena menolongku, setidaknya beri aku kesempatan untuk memberikan pertolongan pertama jika kau tidak ingin dibawa ke klinik.” ...”Orang ini...agak sedikit aneh, apakah dia ini beneran orang?”...-batin si wanita itu. “Oh, yaudah kalau gitu.” “Tapi tunggu..” Wanita itu merogoh tas nya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. “Oh?.” .. “Sini, berikan tanganmu. Biar ku balut dulu, setidaknya supaya darahnya tidak terlalu banyak yang keluar. Apa kau tidak merasa pusing setelah berdarah yang cukup banyak seperti itu?.” “Ya sedikit.” Rael pun mengulurkan tangannya dan wanita itu membalut tangan Rael yang terluka itu. “Sudah. Jangan banyak bergerak dulu.” “Iya.” “Masih kuat jalan? Jika tidak, biar aku carikan..” “Tidak.. tidak perlu. Aku tidak apa-apa, lagi pula ini bukan hal yang harus dikhawatirkan” Jawab Rael sambil memalingkan wajahnya. “Hmm, oh iya kita belum berkenalan. Namaku Avril.” Ucap Wanita itu sambil tersenyum. “Oh, baiklah.” “He?...” Avril terheran dan menatap ke arah Rael yang hanya menjawab singkat. “Ada apa?.” “Jawabanmu itu aneh, seharusnya kau juga memperkenalkan namamu setelah aku memberitahu namaku.” “Oh? Begitu ya? Anu, panggil saja aku Rael.” “Namamu bagus, salam kenal Rael. Kalau begitu ayo mampir kerumahku dulu, kebetulan rumahku tidak jauh dari sini.” “Ah, ya....kalau begitu boleh saja.” “Oke. Ayo.” Mereka pun mulai berjalan menuju kerumah Avril yang mungkin berjarak sekitar 130meter saja dari tempat mereka saat ini. Disepanjang perjalanan Avril tampak sesekali mengajak Rael berbicara namun Rael hanya menjawab seadanya dan membuat obrolan mereka menjadi mati dan agak terkesan kaku. Rael yang sempat terfikir bahwa ia mungkin sedikit menyukai Avril karena sepertinya wanita ini tipenya. Memiliki tinggi badan 170cm dan rambut yang terlihat lembut serta paras yang cantik membuat Rael sedikit tidak percaya bahwa wanita secantik itu hanya bekerja sebagai pegawai di toserba. “Rael?..Halo?.” Ucap Avril yang melambaikan tangannya diwajah Rael karena terlihat pemuda itu terbengong. “Oh?” “Kita sudah sampai, ayo masuk.” Avril mengajak Rael masuk kerumah dan terlihat ada empat buah kursi di teras rumah Avril. Rumahnya cukup bagus, sepertinya keluarga itu tampak hidup dengan berkecukupan. Rael pun langsung mengambil posisi duduk lalu meletakkan tangannya di meja. “Hey, ayo masuk. Ngapain diluar?” “Tidak apa, disini terasa nyaman” “Ya tapi kan gak enak loh, masa iya tamunya duduk diuar?” ujar Avril Rael hanya diam dan hanya menatap Avril dengan pandangan kosongnya itu. “Yaudah kalau gitu, mau minum apa? Aku buatkan teh atau kopi?” “Air putih saja” “Mengapa air putih?” “Iya, soalnya aku tidak terlalu suka minuman yang berasa. Tapi teh mungkin tidak apa-apa deh” “Fyuh, dasar aneh. Baiklah kalau gitu tunggu sebentar ya aku buatkan teh sekalian mengambil kotak P3K” ucap Avril yang masuk kedalam rumah untuk menyiapkan minuman. (5 menit kemudian) “Maaf ya agak lama” “Tidak, Cuma 5menit saja” jawab Rael dan Avril pun nyengir. “Kenapa? Ada yang lucu?” “Ahaha tidak kok, hanya saja kau ini sepertinya orang yang sedikit aneh” ..”Sudah ku duga”.. Lalu muncu muncul seorang wanita dari balik pintu dan berjalan menuju ke arah Rael dan Avril. “Eh? Mama, sini mah. Ini Rael yang tadi didalam ku ceritain. Dia yang udah bantuin aku dari para perampok berbahaya tadi sampai tangannya terluka begini.” “Eh, perkenalkan saya mamanya Avril. Terimakasih banyak sudah menolong Avril sampai kamu terluka begitu, Nak. Terus itu lukanya bagaimana? Lebih baik ayo segera kita bawa ke klinik saja? Soalnya luka itu terlihat cukup dalam dan harus dijahit kan?” “Ti-tidak apa-apa, terimakasih atas perhatiannya. Ini tidak terlalu parah seperti yang kelihatannya kok, saya baik-baik saja.” “Iya tapi kan harusnya diperiksa dulu karena takutnya ada infeksi yang kita gak tahu loh” tambah Mama Avril. “Tidak, tidak apa-apa. sekali lagi terimakasih” Mama Avril pun mendekati Rael dan mencoba memeriksa lukanya lalu ia sedikit heran. Sekilas pria itu tampak kurus, namun saat memegang lengan Rael ia merasa sepertinya ada hal yang sedikit mengejutkan. “Aneh, lukanya terlihat cukup dalam tapi darahnya sudah mulai berhenti mengalir secara perlahan. Saya sempat bingung awalnya, mungkin karena otot lenganmu yang kuat jadi lukanya juga tidak menimbulkan banyak kerusakan di jaringan kulit dan urat. Seperti itu mungkin. Hmm” “Hmm? Benarkah? Diagnosa anda seperti seorang dokter saja” ucap Rael “Hehehe, kebetulan saya memang seorang dokter. Tapi saya sarankan, sebaiknya Rael pergi ke klinik atau rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan medis supaya tidak terjadi infeksi dan menghindari bakteri,” “Hmm baiklah, mungkin nanti saya akan mencoba saran anda. Terimakasih” “Sama-sama, jangan banyak bergerak dulu ya. Avril sedang mencoba membalut lukamu. Saya permisi masuk dulu ya” ucap Mama Avril “Baiklah” Jawab Rael singkat .. “Sudah. Sepertinya perbannya sudah cukup rapi dan rapat. Jangan banyak bergerak dulu ya.” “Iya” “Oh iya, dimana rumahmu?” tanya Avril “Di komplek Teratai” “Hmm tidak terlalu jauh ya” ucap Avril sambil tersenyum dan tampaknya bingung mau bahas apa karena Rael sepertinya orang yang tidak banyak bicara. Sesaat semuanya senyap dan mereka hanya saling lirik satu sama lain sambil Avril sesekali tersenyum tipis. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Terimakasih banyak” ucap Rael. “Tidak, terimakasih karena sudah menyelamatkanku dan malah kau sampai terluka begitu. Sekali lagi terimakasih Rael,” “Iya, tak masalah.” “Kau akan pulang sendiri? Jalan kaki?” “Iya, mengapa?” “Aku pesankan layanan taxi online saja ya, takut kau nanti kenapa-kenapa lagi. Bahaya juga” “Tidak perlu repot, lagipula tempatku tidaklah jauh dari sini.” “Apa benar tidak apa-apa?” “Iya, benar. Kalau gitu, sampai jumpa lagi.” “Iya, hati-hati ya.” Rael pun pergi begitu saja dari kediaman Avril dan ia pulang sendirian dengan berjalan kaki, berjalan tanpa memikirkan apapun selain ingin segera tiba dirumah lalu beristirahat. “Sepertinya aku akan telat menikmati waktu bermalas-malasanku malam ini. Ritual memanjakan diri dengan snack dan film horror pun sepertinya harus ku tunda dulu. Luka ini terasa perih juga ternyata, sekarang kepalaku malah sedikit pusing.” “Tapi tak apalah, akhirnya bisa istirahat setelah ini. Sepertinya lelah sekali hari ini, padahal libur kerj dan harusnya kumanfaatkan untuk bermalas-malasan. Tak terpikir olehku akan ada peristiwa merepotkan seperti ini. Tapi sepertinya aku harus sedikit bersyukur karena hari ini aku setidaknya sudah mengenal seseorang yang membuatku tertarik secara tiba-tiba, jadi aku tak perlu lagi repot-repot mencari tau hanya karena rasa penasaran. Baiklah, setelah ini aku akan menikmati jam yang tersisa untuk memanjakan diri.” .. Saat dalam perjalanan, Rael merasa ada sesuatu yang berada disekitarnya. Sepertinya ia merasakan kehadiran seseorang yang mungkin sedang mengikutinya. Ia pun memperlambat langkahnya dan melirik ke kiri dan ke kanan lalu sesekali mencoba melihat kebelakang. Namun sesering ia memperluar pandangannya, ia tidak melihat apapun. Ia melanjutkan perjalanannya dan tibalah ia di jembatan tempat peristiwa tadi. Ia sengaja lewat jembatan itu untuk memancing si penguntit yang mengikutinya, ia sangat yakin kalau ada orang yang sedang membuntutinya. “Engg...” ....”Syut!!.. Clak!!” suara benda tajam yang dilempar menuju ke arah Rael, namun dengan sigap Rael menghindarinya. .. “Sepertinya tebakanku benar, reflekmu juga masih cukup bagus,” suara seorang pria yang perlahan wujudnya muncul dari kegelapan. “Siapa?!” tanya Rael dengan nada datar. “Haha, kau tidak mengenali suara ini?” “Eng!! I-ini...Suara...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN