Chapter 25 - Pencarian

2203 Kata
Diva bangun ketika tubuhnya hampir saja jatuh ke lantai. Gadis itu menguap sambil beringsut bangun. Matanya mengerjab karena disorientasi, memperhatikan ruang sekitar yang nampak gelap gulita. Kenapa kamar Diva gelap? Mati lampu? Batin Diva. “Bi Inah!” panggil Diva. Namun suasana terlalu hening mencekam. Membuat Diva sedikit takut. Meneguk saliva kasar, Diva berusaha memanggil pembantu rumah tangganya lagi. “Bibi ...!!” seru Diva. Satu detik kemudian Diva ingat jika ia tidak ada di rumah saat ini, akan tetapi masih ada di sekolah. Lebih tepatnya lagi di ruang ganti tim basket putra. Meraba saku dan ransel, Diva mencoba mencari keberadaan ponselnya. Beruntung saat itu Bari menelpon. Cahaya dari layar ponsel yang menyala membuat membuat Diva dengan mudah menemukan benda berbentuk pipih tersebut. Naasnya, peringatan tanda bahwa baterai ponsel Diva akan habis juga tiba-tiba menyala. Belum juga sempat Diva menggeser layar berwarna hijau dan meminta bantuan pada Bari, ponsel Diva sudah mati total. Remaja itu pun panik. “Aduuh ... kenapa harus habis sekarang baterainya,” keluh Diva sambil menepuk-nepuk ponsel tak bersalah tersebut. Berharap dengan cara itu mendadak baterainya terisi kembali. Sia-sia saja. Ponsel Diva sudah mati total. Dan mustahil hidup jika tidak di charge. Diva berusaha menenangkan diri, mencoba mengingat-ingat di mana letak saklar lampu. Setelah berhasil mengingatnya, Diva berdiri, meraba-raba sampai tembok hingga ia menemukan saklar tersebut. Cetik! Lampu pun menyala terang. Akhirnya bisa membuat Diva bernapas sangat lega. Menoleh ke arah mesin cuci, Diva ingat jika ia belum menjemur baju-baju tersebut. Segeralah Diva membukanya dan mulai menjemur satu per satu kaus tim basket yang tadi dia cuci. Diva menjemurnya di samping mesin cuci di mana sebuah jemuran stainless berukuran tanggung berada. “Akhirnya selesai juga,” hembus napas Diva lega. Yang lagi-lagi membuat ia teringat sesuatu yang penting. “Astaga! Diva kan harus ke rumah Bari!” tukas Diva sambil menepuk dahi. Pantas saja tadi Bari menghubunginya. Ia pasti sudah menunggu dan mau menjemput Diva. Menuju pintu keluar, Diva heran karena pintu tidak bisa dibuka. Ia mencoba menekan handle beberapa kali namun sia-sia saja. Itu terkunci. “Tolooongg!! Ada orang di sana?” BRAK BRAK BRAK! Diva menggedor-gedor pintu berwarna hijau muda tersebut. BRAK BRAK BRAk “Tolooong! Diva ada di sinii! Bukain pintunyaa!” teriak Diva. Menit demi menit berlalu. Diva terus menggedor pintu dan berteriak, berharap seseorang masih ada di luar, mendengar suaranya dan mau membantunya. Namun jelas, apa yang diharapkan Diva tidak terjadi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Jadi di sekolah sudah tidak ada orang. Atau kalau pun ada, mereka pasti ada di gedung yang berbeda. Karena biasanya para guru masih tinggal lebih lama di sekolah jika memutuskan untuk lembur membuat soal-soal ujian praktek atau latihan olimpiade. Intinya, meski Diva berteriak sekencang apapun, pasti tidak akan ada yang mendengar sama sekali. “TOlOOONGG!! To—“ Teriakan Diva terhenti karena lampu tiba-tiba mati. Penglihatan Diva jadi gelap total, membuat ia meraba-raba tembok kembali untuk mengecek saklar lampu. Saat sudah menemukan saklar tersebut, Diva memencetnya beberapa kali. Akan tetapi sepertinya aliran listrik benar-benar sedang padam. Jadi Diva pun tidak dapat melakukan apapun. Berusaha bersikap tenang, Diva mulai berjalan perlahan menuju letak jendela berada. Setelah menemukannya, Diva pun langsung berinisiatif membukanya. Sayang, sepertinya hari ini adalah hari si-al Diva. Sebab jendela ruang tersebut mendadak macet tidak bisa dibuka. Diva sudah mencoba sekuat tenaga mendorongnya ke atas tapi itu benar-benar susah. Sepertinya karena lama tidak dibuka, engsel jendela jadi aus dan karatan. Padahal tadi siang masih baik-baik saja. Diva mulai berteriak lagi, mencoba menggedor jendela, mengintip dari balik kaca, namun hanya kegelapan yang ia dapati. Sedikit membuat Diva ngeri karena terlintas dalam benak puluhan film horror yang pernah ia tonton. “Gimana ini ...,” gumam Diva. Ia mulai berjongkok memeluk diri sendiri. Suasana yang teramat sepi membuat Diva lambat laun jadi ketakutan. "Aaroon!! Aarooon kamu di mana? Diva takut!" seru Diva sekali lagi, teringat akan sosok Aaron yang bisa tiba-tiba muncul.   Di mana pria itu saat Diva membutuhkannya sekarang?   Gadis itu sama sekali tidak tau jika saat ini Aaron sedang berada di bioskop dengan para hantu penunggu pohon beringin sekolah Diva.   Kesendirian dan ketakutan itu membuat Diva terisak. Ia menahan suara tangisnya semaksimal mungkin karena mendengar suara tangis sendiri di gedung sekolah yang kosong terdengar menyeramkan di telinga.   "Aaroon ... Bari ... Samudra ... siapapun ... Tolong Diva," mohon Diva bergumam kecil.   ***   Sementara itu, di rumah Bari ...   "Jadi, mana kado ulang tahun Nayla?" gadis cilik berusia 10 tahun itu menodong langsung pada satu-satunya kakak lelaki yang ia punya.   Bari tersenyum sejenak, tapi kemudian ia menatap layar ponsel dan mengetikkan pesan untuk Diva.   Sudah puluhan pesan ia kirim tapi Diva sama sekali tidak menjawab. Membaca pun tidak. Hal itu tentu saja membuat Bari khawatir. Pasalnya tidak seperti biasa Diva mengabaikan chat Bari seperti ini. Bahkan teleponnya sejak 3 jam yang lalu pun tidak diangkat oleh Diva.   "Abang kenapa sih? Nayla tuh tanya kado, kok malah dikacangin sambil lihatin HP," gerutu Nayla kesal.   "Oh, Nayla tahu, Abang pesan kado lewat TokoWedia ya? Dan sekarang Abang sedang coba lacak barangnya udah sampai mana? Aduuuh, makasih banyak lho, Bang!"   "Apa sih? Emang Abang kayak kamu yang apapun lebih suka belanja online?" tukas Bari. Ia berdiri kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian Bari keluar. Ia membawa dua buah paperbag dan menyerahkannya pada Nayla.   Nayla pun membuka paperbag tersebut dengan cepat. Matanya berbinar-binar karena mendapatkan satu set seri buku yang sedang sangat populer saat ini. Karya Jihan Alezander.   "Kak Bariiii... Makasih banyaaak!" Terharu, Nayla memeluk Bari erat.   "Yeuuu, itu bukan dari Abang. Itu dari Kak Diva."   "Kak Diva? Lah terus Kak Diva di mana? Kok nggak datang ke sini?"   Bari tidak menjawab karena otaknya pun menanyakan hal yang sama. “Abang mau ke mana?” tanya Nayla saat melihat kakaknya mengambil jaket dan menuju pintu keluar. “Keluar bentar.” Nayla sudah tidak banyak protes. Selain karena ritual tiup lilin dan potong kue dengan keluarga sudah selesai, ia juga sudah mendapatkan kado buku-buku yang ia suka. Sekitar 30 menit kemudian, Bari sampai di rumah Diva. Ia memencet bel dan menemukan Bi Inah membukakan pintu. “Den Bariii, ayo sini masuk masuk,” ajak Bi Inah. “Eum, Divanya ada, Bi?” “Non Diva?” “Iya. Ini Bari telepon sama WA nggak di balas.” Dahi Bi Inah mengernyit. “Loh, Non Diva belum pulang Den.” “Hah? Belum pulang?” Bi Inah mengangguk polos. “Lagi main kali ke mana.” “Dia ada pamit sama Bibi?” “Tadi pagi sih, bilang bakal pulang malam soalnya mau ke rumah Den Bari ngerayain ulang tahun. Den Bari ulang tahun?” Bari menggeleng panik. “Oh, ya udah. Bari coba hubungi Diva lagi.” Nihil. Nomor Diva baik di aplikasi hijau maupun lewat telepon biasa keduanya tidak ada yang aktif. Hingga Bari memikirkan banyak sekali kemungkinan di mana Diva berada. Tim basket putra! Bari pun mulai menghubungi salah satu temannya yang tergabung dalam member tim basket, tapi temannya mengatakan ia tidak tahu menahu karena ia pulang awal. Akhirnya Bari meminta nomor seluruh anggota tim. Lantas ia menghubunginya satu per satu. Lagi-lagi nihil. Tidak ada satu pun di antara mereka yang sedang bersama Diva. Jawaban mereka pun serempak; terakhir melihat Diva saat pulang latihan basket tadi. Samudra! Tiba-tiba nama tersebut melintas dalam otak Bari. Ia pun bertanya lagi pada temannya dan meminta nomor laki-laki itu. “Gue nggak punya. Lo tanya aja sama Farrel atau Rino. Hanya mereka yang tau nomor Samudra.” Bari mengumpat. “Kenapa Den? Kok panik gitu?” tanya Bi Inah jadi ikutan khawatir. “Nggak apa-apa, Bi. Bari pergi dulu ya. Nanti kalau Diva udah pulang, Bibi kabari Bari ya.” “Iya. Iya, Den!” angguk Bi Inah. To : Rino Kasih gue nomor Samudra sekarang. Urgent! Tak lama kemudian pesan Bari terbalas. From : Rino Nomor apa, bro? Sepatu, baju, CD? Hehehehe. Ingin rasanya Bari membanting ponsel di tangan. Tapi ia menahan diri. To : Rino Gue serius. Diva hilang. Telepon Bari berdering. Rino menanyakan kebenaran berita tersebut dan mengatakan akan langsung menghubungi Samudra. “Kasih aja gue nomor Samudra, bang-sat!” maki Bari tidak santai. “Bukannya gue nggak mau. Tapi itu privasi, bro! Jangankan elo, anak-anak satu tim basket dia aja nggak ada yang dikasih. Nggak pantas rasanya gue ngasih asal nomor dia ke orang lain tanpa persetujuan Samudra sendiri.” Menggertakkan gigi, Bari mengumpat lagi dan lagi. Rasanya ia bahkan sudah mengabsen seluruh nama hewan di kebun binatang. *** Di sisi lain, Samudra baru memejamkan mata ketika ponselnya berbunyi. Ia mengangkatnya dengan malas-malasan. “Halo?” “Sam, Diva ada sama lo nggak?” Suara Rino dari seberang. “Nggak lah. Ngapain sama gue?” “Ini tadi temannya si Bari Bari itu telepon gue. Katanya Diva hilang.” “ ... “ Samudra diam. Tidak menanggapi. “Sam?” panggil Rino. Memastikan teleponnya masih terhubung. “Gue nggak tau. Mungkin aja dia lagi di toko boba,” jawab Samudra singkat. Kemudian menutup ponselnya. Kembali Samudra memejamkan mata, namun entah kenapa hatinya merasa sedikit tidak tenang. Laki-laki itu melirik meja belajarnya yang rapi, di mana sebuah botol air mineral yang tinggal separuh berada. Itu pemberian Diva siang tadi. Samudra mengusap wajah, kemudian berdiri dan mengambil jaket sekaligus kunci sepeda motor. Ia segera keluar dari apartemen. Tempat pertama yang dituju Samudra adalah rumah toko boba. Meski segan, ia bertanya pada si penjual apakah tadi remaja SMA bernama Diva datang ke sana. Awalnya si penjual bingung siapa Diva. Tapi setelah Samudra menceritakan ciri-ciri fisiknya, si mbak-mbak tersebut mengerti. “Oh, mbak yang suka pesan banyak tiap mampir ke sini,” ucap si penjual boba. Kemudian ia menggeleng. “Tapi hari ini dia nggak ke sini Mas.” “Oh, gitu ya? Makasih mbak,” pamit Samudra. Ia segera keluar dari toko. Samudra menyisir rambut dengan jemarinyaa sambil berpikir, jika tidak di sini lalu di mana? Samudra sama sekali tidak tau apapun soal Diva untuk tau bagaimana jalan pikiran gadis itu, atau tempat yang seperti apa yang biasa di tuju oleh Diva. Lama Samudra berpikir di depan toko boba sampai ia merasa harus mengecek mulai dari sekolahan. Terakhir kali ia melihat, Diva ada di ruang ganti tim basket pria. Memakai helm-nya, Samudra pun segera melajukan sepeda motornya ke jalan raya. Sedangkan di saat yang sama, Bari menyimpulkan hal yang sama. Karena jawaban siswa tim basket rata-rata sama, ia pun memutuskan untuk mulai mencari Diva di sekolah. Menghidupkan sepeda motor, Bari pun segera berangkatt ke sekolahan. *** Sudah sejak tadi siang Diva tidak makan apapun. Antusiasnya yang sangat besar karena bisa menjadi manajer tim basket putra dan lebih dekat dengan Samudra membuat Diva lupa akan segalanya. Bahkan untuk mengurus diri sendiri. Lama berteriak tadi, suara Diva mulai serak. Ia haus sebab air minum terakhir yang Diva minum adalah saat sarapan. Diva sama sekali tidak membeli satu untuknya sendiri ketika ia membeli banyak air minum untuk masing-masing anggota tim. Selain itu Diva juga sangat lapar. Perutnya terasa perih karena ia juga tidak makan siang dan sampai sekarang ia belum makan. Diva meringkuk sendirian sambil memeluk lutut. Saat Diva ingat ia mungkin bisa minum lewat keran air mesin cuci, Diva berdiri. Sedikit terhuyung menuju mesin penggilingan baju tersebut. Lampu yang masih mati total membuat Diva meraba-raba dalam gelap untuk mencari keran air. Berhasil! Diva menemukannya. Namun, air sama sekali tidak mengalir lewat lubang  mesin. Diva tidak tahu mengapa. Menghela napas, Diva kembali menuju jendela. Ia mencoba sekali lagi usahanya untuk membuka kaca tersebut, tapi sia-sia saja. Benar-benar macet! Jika sudah begini, bagaimana Diva bisa keluar dari tempat itu? Tubuh Diva merosot ke lantai. Ia duduk bersandar di dinding dengan badan yang sudah terkulai lemas. “Tolooong ... tolong Diva,” gumam Diva lemah sekali lagi. *** Saat sampai di sekolah, gerbang sudah digembok dari luar. Samudra menatap bangunan besar yang sangat gelap di depan sana. Gedung sekolah yang di siang hari nampak ramai oleh aktivitas tapi di malam hari begini terlihat sangat menyeramkan. Mengambil ponsel di saku, Samudra mencoba menghubungi nomor Diva. Satu nomor yang sering mengiriminya pesat chat tanpa Samudra balas sama sekali. Satu nomor yang pernah masuk ke dalam daftar kontak diblokir di aplikasi hijau miliknya. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan ... Samudta menghela napas. Kemudian menoleh ketika sebuah lampu kendaraan lain menyorot wajah Samudra. Itu Bari. “Diva mana? Diva nggak sama lo?” tanya Bari buru-buru turun dari motornya. Samudra menggelengkan kepala. Membuat tubuh Bari terasa lemas. “Kita cek aja ke dalam. Terakhir gue lihat dia ada di ruang ganti tim basket putra. Siapa tahu ada petunjuk di sana,” kata Samudra. “Ngapain Diva ada di ruang ganti cowok?” tanya Bari sedikit frustasi. “Tugas manajer tim,” jawab Samudra singkat. Kembali pandangannya menyapu gedung sekolahnya yang nampak besar. “Gue nggak yakin Diva ada di sini. Lo lihat aja ini gerbangnya udah di gembok,” tunjuk Bari. Samudra diam tidak menanggapi. Ia justru sudah mulai memanjat pintu gerbang. “Hei, ngapain lo?” Hup! Samudra sudah mendarat di dalam. Ia melirik singkat pada Bari. “Lo ikut nggak?” Meski awalnya ragu, tapi Bari akhirnya memutuskan ikut dengan Samudra. Setelah berhasil melompat dari gerbang, keduanya menghidupkan senter ponsel mereka. Mulai masuk ke gedung sekolah yang sangat gelap tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN